Puisi-puisi Zakirman Tanjung

 


Petisi 181 Juta Jiwa Lebih 


izinkan saya menikmati kemerdekaan negeri ini, Pak!

saya hanya menghargai jasa pahlawan

kita sama-sama membenci penjajahan kan, Pak?

saya bukan gepeka, hanya penegak

kebenaran sering rebah, Pak

terinjak-injak

saya cuma cari makan

juga membajui Ibu Pertiwi

agar tidak usil dijahili jemari usil 


izinkan saya memiliki kemerdekaan negeri ini, Pak!

saya juga cucu-buyut moyang yang berjuang

kemerdekaan ini untuk kita kan, Pak?

bagi mereka telah cukup seliang lahat sebilah papan

barisan doa dari kita yang rela berkhusu’


izinkan saya mempertahankan kemerdekaan negeri ini, Pak!

sebab, masih banyak famili kita yang tertindas di kolong-kolong keserakahan dimulutmanisi janji-janji imitasi

saya bukan gepeka hanya pembela

keadilan sering diomongkosongkan

padahal kita membutuhkannya kan, Pak?


Izinkanlah saya berjuang, Pak!

ternyata kemerdekaan belum sempurna

di sana-sini masih buka praktek penjajahan

entah legal atau tak ada yang berani menjegal

gepeka = generasi penggugat kemerdekaan


Jakarta, 1994


Puisi ‘Petisi 181 Juta Jiwa Lebih’ telah dipublikasikan Surat Kabar Suara Pembaruan, Jakarta, Minggu 12 Februari 1995


====


Bulan Madu Negeri Pengungsian


kita kenyangi lapar ini dengan tawa

aku tak kuasa menatap bola di matamu

getir enggan beranjak

padahal kita begitu sering mengajaknya

mendustai kenyataan


malam  ini kuingin mengulum lembut bibirmu

sayang terlanjur pagi kau menelannya

“pengganti sarapan,” cetusmu memelas


kita susuri hamparan retak-rengkah

kau bergelayut di belulang pundakku

trenyuh sapaan kanan – kiri

padahal kita bukan petugas kemanusiaan


aku ingin mengajakmu menyanyi

cacing-cacing di perut kita duluan bersenandung

tertegun, kita bertatapan, menikmati

“aku ngidam lihat hutan pegunungan,” rengekmu mengiris hati


kubawa kau terlelap ke barak

di mimpi kita menceburi sungai siak

kau tersenyum memipil sebelah jantungku


Perbatasan Zaire – Rwanda, 1995


==


Surat Anak Pengungsi


saya ingin menangis, Kak

tapi tak punya airmata lagi

air liur pun kering-kerontang

kamp-kamp pada tandus

perang itu jahat ya, Kak!


Kak, Indonesiamu indah ya?

hutannya sejuk rimbanya teduh

masa-masa sekolah mengasyikkan

oow, Indonesiamu di ujung angan

Kak, kirimi saya sedahan pinus


lapar kami beritamu, tangis kami nyanyianmu

tercetak di koran-koran

tersiar di radio

kau tayangkan di televisi

Kak, kapan hujan akan turun?

kapan saya bias menangis lagi?


Ethiopia, 1989


==


Surat Tawanan Perang


kalau kau pernah merenung sesaat

longoklah kamp-kamp tandus dan gersang

tataplah negeri kami, rengkah tanah merah

genderang, biola dan pembantaian


kalau kau pernah masuk penjara

anak – binimu masih bisa melepas rindu

rasakan derita kami di sini

korban kebuasan nafsu duniawi


kalau kau pernah menanggung lapar

waktu berbuka dating menanti

sekadar tidur tak kami kata

bukan tangis narapidana


Palestina, 1988


(Ketiga puisi di atas telah dipublikasikan Surat Kabar Riau Pos, Pekanbaru, Minggu 4 Mei 1997)



Zakirman Tanjung atau pernah mempopulerkan diri dengan nama pena Zastra Certa (Zakirman Susastra Cancer Tanjung) dan Playboy Pattikawa, lahir 13 Rabi'ul Akhir 1389. Menulis puisi, cerita fiksi, opini dan surat cinta sejak masih di bangku SD tetapi baru mulai mempublikasikannya Agustus 1985. Pernah kuliah di Fakultas Sastra Universitas Andalas (BP 90184041) kemudian keluar setelah memecat rektor, memberhentikan dekan dan membebas-tugaskan dosen-dosen.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama