Catatan Zakirman Tanjung

INGIN belajar jurnalistik? Gampang, asal ada minat atau kemauan. Jurnalistik merupakan karya tulis yang bersifat pelaporan. Dalam pengertian dasar, contohnya bisa dilihat pada pemberitaan-pemberitaan yang dimuat suratkabar atau media pemberitaan lain seperti website.

Syarat dasar penulisan laporan / berita mesti memuat minimal enam unsur yang dikenal dengan 5W + 1H :

What: apa yang terjadi?
Who: siapa pelaku dan terkait dalam kejadian?
Where: di mana peristiwa terjadi?
When: kapan terjadinya?
Why: mengapa bisa terjadi?
How: bagaimana kejadiannya?

Suatu laporan / berita hendaklah ditulis secara komprehensif / menyeluruh agar pembaca memperoleh informasi yang lengkap alias tidak menyisakan tanda-tanya.

Cara belajar efektif adalah dengan metode ATM BRI (amati, tiru, modifikasi ~ belajar rajin dan intensif) atau dikenal dengan autodidak ~ sebagaimana yang kulakukan semenjak sekolah dasar (SD) dengan menulis puisi dan cerpen.

Tulisan-tulisanku awalnya kutulis pada buku tebal (isi 100 halaman), kemudian beredar dari teman ke teman yang ingin membacanya.

Sejarah kepenulisanku di suratkabar bermula sewaktu kelas III.C SMPN Pakandangan (kini bernama SMP Negeri 1 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman - Provinsi Sumatera Barat), Agustus 1985. Waktu itu guru bahasa Inggris kami, Pak Aniswar (kini almarhum) - yang mengetahui kemampuanku menulis - memperlihatkan sebuah artikel yang dimuat Koran Masuk Sekolah (KMS) Singgalang terbitan Kota Padang, judulnya: Nyontek Penyakit pada Siswa (aku lupa nama penulisnya).

Kemudian, Pak Aniswar memperlihatkan potongan halaman sebuah majalah terbitan Jakarta yang memuat tulisan dengan judul dan isi yang sama persis dengan nama penulis berbeda. "Man, coba tanggapi artikel yang dimuat KMS ini, siapa yang nyontek sesungguhnya?" pinta Pak Aniswar, sebab pada artikel di KMS penulisnya tidak menyebutkan sumber atau asal kutipan.

Saran Pak Aniswar kuturuti. Artikel tanggapan segera kutulis dan kuketik dengan menumpang pada mesin tik Tata Usaha SMP, kemudian kuserahkan kepada Pak Aniswar.

Beberapa hari kemudian, tulisan itu dimuat KMS yang merupakan bagian atau mengisi rubrik satu halaman tiap Selasa pada Harian Singgalang. Judulnya 'Nyontek Teriak Nyontek' oleh Zakirman, siswa Kelas III/C SMPN Pakandangan.

Semangat kepenulisanku pun terpicu. Pak Anis pun memotivasiku agar terus menulis dan mengisi rubrik yang tersedia pada KMS.

Maka, hampir setiap edisi KMS berikutnya memuat tulisanku; entah opini, puisi atau cerpen. Karena belum punya mesin tik, aku numpang di TU SMP atau di kantor kepala desa sepulang sekolah. Untuk mengirim ke redaksi, aku titip pada Pak Aniswar (semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan ini sebagai amal yang pahalanya tak putus-putus mengalir kepada almarhum, aamin!).

Tamat SMP, Juni 1986, aku melamar ke SMA 3 Padang dengan motivasi dekat dengan tiga redaksi suratkabar harian yang terbit waktu itu. Untuk berjaga-jaga, aku pun memasukkan lamaran ke SMA Negeri Sicincin (kini SMA Negeri 1 2x11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman). Sayangnya, waktu pengumuman calon siswa yang diterima, aku hanya berada pada posisi cadangan ke-62 di SMA 3 Padang. Maklum, Nilai Ebtanas Murni (NEM)-ku hanya 37,26 untuk enam bidangstudi.

Alhasil, akupun melanjutkan pendidikan di SMA Sicincin. Namun, aktivitas kepenulisanku tak surut, tetap menjadi-jadi. Bukan hanya KMS Singgalang yang kukirimi, tetapi juga Redaksi Haluan Minggu. Mulai Agustus 1986 tulisan pertama yang kukirim dimuat Haluan Minggu dengan nama samaran Zastra Certa (Zakirman Susastra Cancer Tanjung).

Kenapa memakai nama samaran? Karena waktu itu aku sempat mendengar, kalau sudah menulis di Singgalang, tak boleh menulis di Haluan. Kedua harian itu konon bersaing. Siasatku sepertinya berhasil.

Selain di KMS tiap Selasa, tulisan-tulisanku yang lain juga dimuat Haluan Minggu. Untuk menyiasati agar banyak tulisanku yang dimuat (tentunya dapat honor lebih besar) aku juga memakai nama samaran lain, di antaranya Mustika Zastra.

Untuk mengambil honor setiap tanggal 5 bulan berikutnya, aku membuat surat kuasa dari Mustika Zastra kepada Zastra Certa. Cara itu ternyata tokcer juga. Waktu itu, aku masih ingat honor satu tulisan berkisar Rp3.000 untuk artikel / cerita untuk anak dan Rp5.000 untuk cerpen dan rubrik PYMB (Pengalaman yang Masih Berbekas). Rata-rata setiap bulan aku menerima honor mencapai Rp60.000.-

Memasuki hari pertama semester genap Kelas I SMA, 2 Januari 1987, pihak sekolah mengumumkan kalau ada kiriman Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tentang kelanjutan pemberian beasiswa untukku. Besarnya Rp12 ribu / bulan untuk masa setahun. Aku bisa segera menguangkan termen pertama untuk enam bulan Rp72 ribu.

Hari Sabtu 17 Januari 1987 pagi, aku menemui Kepala SMPN Pakandangan Drs Syaifullah (sebagai penulis di KMS Singgalang beliau memakai nama Syaiful Ibrahim) dan menyerahkan uang itu kepadanya sembari memohon kesediaan beliau untuk membelikan mesin tik bekas di Kota Padang.

Beliau memintaku datang lagi Senin lusa-nya untuk menjemput mesin tik tersebut. Ternyata, beliau membelikan mesin tik baru seharga Rp100 ribu. Aku sempat kaget karena tak punya uang tambahan. "Tidak apa-apa. Anggaplah itu sebagai wujud simpati Bapak kepada Zakirman," cetus Pak Syaiful yang kemudian menjadi Kepala SMPN 6 Padang, Kepala SMAN Sungai Limau dan pengawas pada Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Pariaman.

Mulai Maret 1987 tulisan-tulisanku pun menghiasi halaman Surat Kabar Mingguan (SKM) Canang, juga terbitan Padang, dengan nama penulis Z Susastra Cancer Tanjung dan Playboy Pattikawa.

Ketika bersekolah di SMA, aku mengirim tulisan ke redaksi Singgalang, Haluan atau Mingguan Canang melalui Pak Zeta (guru SMPN Sicincin yang juga menjadi wartawan Singgalang plus agen ketiga surat kabar tersebut di rumahnya, tak jauh dari Pasar Sicincin). Tulisan-tulisan yang selesai kuketik, kumasukkan ke dalam amplop panjang, kutitip di rumah Pak Zeta (kini almarhum) yang beristrikan Bu Nurjani (guru SDN 1 Sicincin), selanjutnya oleh Pak Zeta atau Bu Nurjani dititipkan ke sopir mobil yang mengantarkan koran Singgalang atau Haluan setiap pagi, atau ke sopir mobil Canang setiap hari Kamis (semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan ini sebagai amal yang pahalanya tak putus-putus mengalir kepada almarhum, aamiiin!).

Tamat SMA, 1989, aku ikut Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dengan memilih program Psikologi UI dan Sosiologi Unand. Sayangnya, aku tidak diterima. Meski demikian, aktivitas menulisku jalan terus dengan mengirim via Pak Zeta. Ini kulakukan -- jika melalui pos musti pakai prangko plus karena naskah yang kukirim ada beberapa judul dalam satu amplop.

Gagal jadi mahasiswa, Kepala Desa Balai Satu, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung, memintaku menjadi Sekretaris Desa (Sekdes). Aktivitasku kemudian lebih banyak berada di kantor desa. Kondisi ini kemudian mendapat pujian Bupati Padang Pariaman, H Anas Malik, lantaran aku selalu membuka kantor setiap hari kerja, bahkan juga hari Minggu. Aku dianggap Sekdes teladan.

Padahal, aktivitasku di kantor lebih banyak menulis opini, cerpen, puisi atau -- surat cinta. Ini disebabkan tidak banyak penduduk yang datang berurusan. Maklum, penduduk Desa Balai Satu waktu itu hanya berkisar seribu jiwa.

Kemudian, karena suatu sebab, kepala desa tidak dapat menunaikan tugasnya. Maka, untuk kelancaran urusan masyarakat, aku meminta Camat 2x11 Enam Lingkung Drs Maryunas Mahyuddin menerbitkan surat yang menyatakan pengangkatanku sebagai pejabat sementara (pjs) kepala desa.

Juni 1990, aku kembali ikut UMPTN. Kali ini kupilih program studi Jurnalistik Unpad dan Sastra Indonesia Universitas Andalas (Sasindo Unand). Malam menjelang UMPTN aku menumpang nginap di tempat kost Yulfian Azrial. Bukannya menyiapkan diri, aku malah mengikuti Yum nonton film di bioskop hingga tengah malam. Esoknya, aku bangun kesiangan dan kelimpungan mencari lokasi UMPTN. Alhamdulillah... aku diterima pada pilihan kedua sebagai mahasiswa Sasindo Unand.

Maka, aku pun segera mengumpulkan masyarakat untuk dapat menghadiri rapat mendadak di kantor desa dengan agenda tunggal: pengunduran diriku sebagai pjs kades karena hendak kuliah. Malam itu juga kami memilih pejabat sementara kepala desa untuk penggantiku.

Kuliahku hanya berlangsung dua semester, 1990/1991. Aku memilih berhenti lantaran tak kuasa melihat penderitaan ibuku untuk mencarikan biaya kuliah anaknya ini. Dari minggu ke minggu wajah ibu yang kupanggil One kulihat semakin tua. Memang, aktivitas menulis tetap kujalani tetapi tidak mampu memenuhi kebutuhanku.

Berhenti kuliah, hidupku sempat amburadul. Aktivitasku menulis sempat terhenti lantaran mesin tik-ku sudah lama rusak. Barulah sekitar Mei 1992 One memberiku uang untuk membeli mesin tik baru.

Selain menulis cerpen, puisi dan opini, sejak SMP aku sebenarnya juga memiliki kemampuan di bidang jurnalistik. Dalam hal ini aku bahkan sempat mengirim berita untuk Suratkabar Harian Singgalang tetapi tak begitu kutekuni. Barulah sekitar Oktober 1992 aku coba lagi mengirim berita tetapi ke Mingguan Canang. Ternyata, berita itu dimuat tetapi tidak mencantumkan kode namaku (zast) pada akhir berita, hanya kode (*).

Hal itu kubicarakan kepada wartawan Canang yang bertugas di Pariaman, A Basril H alias Da Ujang. Ia menyarankan agar kalau aku mengirim berita lagi cantumkan kode berdua (zastra certa/AB) atau (zast/AB). Ternyata trik itu berhasil! Maka, berita-beritaku semakin banyak yang menghiasi halaman Mingguan Canang setiap edisi.

Sekitar enam bulan kemudian, Redaktur Pelaksana Mingguan Canang Yurman Dahwat memanggilku dan meminta agar aku mengajukan surat lamaran resmi menjadi wartawan. Dengan demikian, Pemimpin Redaksi (Pemred) Canang Nasrul Siddik Sutan Mangkuto punya dasar menerbitkan surat tugas untukku. Atas dasar surat tugas itu aku bisa diusulkan untuk mengikuti ujian masuk menjadi calon anggota (CA) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Yurman pun menyatakan kekagetannya lantaran pada surat lamaran aku menulis nama asli, Zakirman, sesuai ijazah.

Dengan berbekal surat tugas, aku mendaftar untuk ikut ujian PWI. Namun, pendaftaranku ditolak panitia. Penyebabnya, syarat untuk bisa ikut ujian harus sudah 3x perpanjangan surat tugas atau 3x 3 bulan. Mungkin melihat raut kecewa pada wajahku – serta panitia sudah lama mengenalku sebagai penulis – aku diberi kesempatan sebagai peserta cadangan. Dengan kata lain, aku boleh ikut ujian jika ada peserta yang tidak hadir.

Pada hari-H aku datang ke lokasi ujian PWI di Kampus STIE/KBP. Ternyata, hingga ujian segera dimulai, ada sekitar tiga bangku kosong. Aku pun dipersilahkan menempati. Alhamdulillah… sewaktu pengumuman tanda lulus di Gedung PWI Cabang Sumbar, aku malah dinyatakan sebagai peserta terbaik dari sekitar seratusan peserta.

Banyak pengalaman dan lika-liku yang kujalani selama bergabung dengan Mingguan Canang. Aku mengikuti Lokakarya Lingkungan Hidup bagi Wartawan se-Sumatera, 24 – 31 Oktober 1994, sebagai peserta terakhir yang ditawari Pemred – undangan itu telah lusuh ketika sampai di tanganku. Konon, wartawan yang lebih senior menolak mengikuti lokakarya itu lantaran pada undangan panitia menyatakan tidak menyediakan uang saku, kecuali penginapan dan makan.

Di lokasi lokakarya aku sekamar dengan Fadril Aziz Isnaini alias Infai Rajo Imbang dan berkenalan dengan sekitar 33 wartawan dari 8 provinsi di Sumatera. Suatu hal yang berkesan, waktu malam perpisahan aku melobi Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) Jakarta Atmakusumah Astraadmadja agar berkenan mengundangku mengikuti Program Penyegaran Redaktur (PPR), tetapi dengan beasiswa penuh lantaran aku yakin perusahaan pers tempatku bergabung tidak mampu membayar biayanya Rp1,5 juta/peserta. (Pada brosur kulihat ada tiga pilihan: membayar penuh, membayar 50% atau beasiswa penuh).

Ternyata, permohonan yang kusampaikan secara lisan itu mendapat tanggapan. Buktinya, Sabtu (5/11/1994) siang, Redaktur Pelaksana Mingguan Canang Yurman Dahwat mencariku ke lokasi wisuda ATIP di Gedung Wanita kawasan GOR H Agus Salim. Ia memintaku segera menemui Inyiak (sapaan kami kepada Pemimpin Umum dan Redaksi Mingguan Canang, Nasrul Siddik Sutan Mangkuto) lantaran aku harus berangkat ke Jakarta besok pagi. “Tiket Pesawat Mandala Padang – Jakarta sudah dibelikan Inyiak,” kata Yurman.

Waktu itu aku benar-benar kaget. Yurman pun mengaku tak tahu ketika kutanya mengapa Inyiak mengirimku ke Jakarta dan mendadak pula. Tiada pilihan lain, aku pun mendatangi box telepon koin untuk menelepon Inyiak, tetapi rusak semua. Pilihan terakhir, aku naik angkot menuju rumah Inyiak di Wisma Warta Ulak Karang.

**

Alhamdulillah… ternyata Inyiak masih di rumah. Beliau menyerahkan undangan dari LPDS untuk saya yang ditandatangani Atmakusumah. Barulah teringat olehku lobi Sabtu (30/10) malam kepada Direktur Eksekutif LPDS Atmakusumah Astraadmadja.

Dalam undangan tercantum, saya diundang mengikuti PPR II (angkatan kedua – red) di Gedung Dewan Pers Lantai 8, Jalan Raya Kebon Sirih Nomor 10 Jakarta Pusat, 7 November s/d 10 Desember 1994, dengan fasilitas beasiswa penuh dari Ford Foundation – Manila, Filippina.

“Karena dimulai Senin lusa, angku (kamu) harus berangkat besok. Tiket pesawat sudah ambo (saya – red) belikan,” kata Inyiak sembari menyerahkan selembar tiket Mandala Airlines seharga Rp990 ribu.

“Untuk bekal angku di Jakarta, ini ambo (saya) beri uang Rp100 ribu. Selanjutnya, ambo akan mengirimkan uang untuk angku melalui Perwakilan Canang di Jakarta, Pak Rusli Dahlan, yang beralamat di Cikini. Selama di Jakarta, angku menginap saja di Wisma Pemda Sumbar, Jalan Matraman. Berikan surat pengantar ini kepada petugas wisma.”

Menjelang dan selama mengikuti PPR II ini banyak kisah suka-duka yang kualami.

Masih terpana dan bengong, kuterima undangan, tiket dan uang dari Inyiak, lalu pamit pulang ke rumah. Sesampai di kampung menjelang maghrib, aku mengabarkan kepada One (panggilanku kepada ibu) bahwa aku akan berangkat ke Jakarta dengan pesawat terbang jam 12 siang besok dari Bandara Tabing, Padang.

Tak kurang, One pun tampak terpana dan bengong. Ia mengungkapkan semua pakaianku kotor. Oleh karena itu, One menyatakan segera ke sungai di belakang rumah untuk mencuci pakaianku dengan penerangan lampu minyak tanah.

One pun mempertanyakan apakah aku punya bekal untuk hidup di Jakarta. Aku pun menjelaskan, pemimpin redaksi memberi uang seratus ribu rupiah. Selain itu aku juga baru saja menerima wesel Rp225 ribu dari Redaksi *Suara Pembaruan* – Jakarta sebagai honor atas pemuatan cerpenku yang berjudul Pemilihan Bupati.

Minggu pagi, aku berangkat ke bandara dengan membawa satu tas pakaian lembab atau baru kering air setelah dijemur One semalaman. Ini untuk pertama kali aku akan naik pesawat terbang. Di ruang tunggu bandara aku bertemu Asisten I Setdaprov Sumbar Rajuddin Nuh, ia mengajakku minum kopi di cafe.

Mungkin karena keasyikan berbincang, aku pun jalan beriringan dengan Pak Rajuddin memasuki pesawat, kemudian duduk di sebelahnya di kursi VIP, paling depan di belakang kokpit. Tak lama, pramugari mendatangiku dan meminta memperlihatkan tiket. Ia pun menyatakan, kursi-ku nomor 29 D, jauh di bagian belakang. Tak ayal, terdengar suara bergaung dari sejumlah penumpang, “Hoooii… wartawan sasek (tersesat, salah menempati kursi – red).

Turun di Bandara Soekarno – Hatta setelah terbang 1,5 jam, sesuai pesan Inyiak, aku mencari dan menanyakan Bus Damri dengan trayek melewati Jalan Matraman. Entah karena melihat wajah udik-ku yang terlihat bengong, seorang sopir menyatakan, Damri ke Matraman sudah habis, yang ada hanya Damri jurusan Gambir. aku pun naik dan disodori tiket oleh knek seharga Rp3.500.

Lantaran baru pertama kali ke Jakarta sejak dewasa (sebelumnya pernah bermukim di ibukota RI ini selama dua tahun, 1974 – 1976), sesampai di Gambir aku kembali bengong. Seorang sopir taksi mendekat dan menanyakan tujuanku. Ketika kusebutkan Wisma Pemda Sumbar – Matraman, ia mempersilahkanku naik dan meminta Rp20 ribu. Aku pun protes dalam bahasa Minang karena terlalu mahal dan menawar Rp10 ribu. Sopir itu menyatakan, “Ini harga awak sama awak”.

Iyalah, daripada bengong, aku pun naik. Eh, ternyata jarak Gambir – Matraman begitu dekat. Rasanya tak cukup 10 menit sudah sampai. Mungkin karena sopir mengambil jalan pintas. aku pun merasa terkecoh justru oleh orang Minang sendiri.

Sesampai di Wisma Pemda ternyata persoalanku belum selesai. Ketika aku memperlihatkan surat pengantar dari Inyak yang antara lain berisi menitipkanku menginap di wisma itu selama 35 hari dengan pembayaran di belakang, petugas menyatakan semua kamar penuh. Aku pun tertegun!

Melihat ada tamu wisma yang kukenal, seorang teman sesama penulis di Koran Singgalang tahun 1980-an, aku pun menemuinya dan mengabarkan persoalan, teman itu malah meledek, “Matilah kau, ini Jakarta, Bung!”

Begitu juga dua orang lainnya yang kukenal yang terlihat duduk di kursi tamu, Asbon Budinan Haza (budayawan) dan Dr Mestika Zed (dosen IKIP Padang, kini UNP – red), ketika kutemui dan kukabarkan masalahku, pun tidak memberikan solusi.

Lunglai, aku melangkah meninggalkan wisma. Di pinggir Jalan Matraman aku kebingungan, akan ke mana? Sore sudah mendekati senja. Sebelum berangkat dari kampung, aku tak sempat pula menanyakan ke One alamat banyak famili di Jakarta yang bisa kudatangi.

Tiba-tiba terbersit di benakku nama seorang sahabat pena, Yuliarti (21 tahun), dan alamatnya teringat jelas: Jalan Gading Raya II Nomor …. Jakarta 13230. Tetapi, di kawasan mana itu? Aku kembali bingung.

Melihat ada polisi berdiri di depan posnya tak jauh dari wisma, aku melangkah mendekati dan menanyakan di kawasan mana Jalan Gading Raya. Polisi itu mengaku tidak tahu, tetapi dia memanggil rekannya yang duduk di pos. Hingga polisi keenam yang mengelilingiku, tak seorang pun yang tahu di kawasan mana Jalan Gading Raya di Jakarta. Barulah polisi ketujuh yang melangkah dari pos yang menyebutkan: Itu kan di belakang RS Persahabatan, Rawamangun.

Iya, ya… aku jadi ingat. Sebab, dulu, kami pernah menumpang di rumah itu selama setahun, One jadi pembantu di rumah itu. Waktu itu Yuli baru berusia tiga tahun. Yuli kembali kukenal tahun 1993, lalu kami bersahabat pena.

Sesuai petunjuk arah polisi ketujuh, aku melangkah ke Jalan Pramuka, menyeberang dan menyetop taksi. Sopir menanyakan tujuanku, lalu menanyakan di kawasan mana. Dengan santai kujawab, di Rawamangun, belakang Persahabatan. Ketika dia tanya, bayar berapa, kujawab: pakai argo saja, lalu menyandar di kursi belakang laksana seorang boss, maklum berat badanku waktu itu mencapai 76 kg dengan tinggi 165 cm.

Sialnya, sopir yang mengaku asal Makassar itu ternyata lebih cerdik dariku. Sewaktu hendak melewati perempatan di ujung Pramuka, dia bertanya lurus, belok kiri atau kanan? Bengong karena memang tidak tahu, kujawab ambil jalan pintas saja.

Setelah cukup lama mutar-mutar, argo pun terus bergerak melewati angka 25 ribu, barulah sampai di Jalan Rawamangun. Sopir kusuruh bertanya di mana jalan Gading Raya. Alhamdulillah…, pas selepas adzan maghrib barulah sampai rumah yang kutuju. Setelah kuketuk pintu, muncul empat anak lelaki. Aku memperkenalkan nama, menyatakan teman Yuli dan ingin menumpang menginap di rumah itu.

Keempat adik Yuli tampak ragu. Yuli bersama ayah ibunya tidak di rumah karena sedang pergi kondangan, menghadiri resepsi pernikahan kerabat. Aku pun menjelaskan kalau dulu, sebelum mereka lahir – kecuali yang paling besar, Ade – aku pernah setahun di rumah itu. Mereka pun mempersilahkanku masuk. Barulah sekitar jam 22.00 Yuli dan kedua orangtuanya pulang. Mereka menyambutku dengan hangat.

Senin pagi, Yuli mengantarku ke Gedung Dewan Pers. Setelah melakukan registrasi atau pendaftaran, staf LPDS menyatakan kegiatan PPR baru akan dimulai Selasa besok. Yuli pun mengajakku rekreasi ke Taman Monumen Nasional, lalu naik ke puncak Tugu Monas.

Kisah selama mengikuti PPR II tak kalah heroiknya. Sebagai peserta paling muda serta bukan sarjana dan belum jadi redaktur – dari 13 peserta, termasuk dua dari Viet Namh, staf LPDS menulis namaku di kokarde: Drs Zakirman.

Alhamdulillah… aku dinyatakan sebagai peserta paling aktif dan paling kritis. Sebaliknya, pimpinan dan staf LPDS juga mengeritik pakaianku yang selalu lusuh dan kumal.

Di PPR II LPDS, aku mengenal banyak tokoh pers nasional yang menjadi narasumber. Di antaranya Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama dan Pendiri Harian Bisnis Indonesia Amir Daud. Pak Amir malah menawari hendak memberikan memo kepada Pemimpin Redaksi Republika Parni Hadi agar menerimaku bergabung jadi wartawan dan staf redaksi di surat kabar yang dia pimpin.

Sayangnya, yang kemudian kusesali, tawaran itu kutolak dengan santun. Waktu itu, aku beralasan tidak sanggup hidup dan bekerja di Jakarta. Sepanjang siang dan malam tubuhku selalu banjir keringat, naik bus berdempetan. Ketika tawaran yang kutolak itu kuceritakan kepada pimpinan dan redaktur SKM Canang, mereka pun turut menyesalkan. Padahal, itu peluang bagus untuk berkarier di Jakarta!

Dengan sesama peserta PPR II aku pun dengan mudah menjadi akrab. Pada minggu kedua, aku meminta Wiwien Sri Soendari (Wiwien Maryanto, wartawati TVRI) agar melobi Menteri Pariwisata supaya menyediakan fasilitas untuk kami pergi ke Kepulauan Seribu.

“Kamu kan wartawan ibukota, Wien, tentu kenal dengan dengan Pak Menteri. Ayo dooong, kami yang dari daerah ini kan ingin juga mengunjungi Pulau Seribu. Permintaanku didukung oleh para peserta lain yang berasal dari Makassar, Surabaya, Maluku, Timor-Timur dan Viet Namh (di PPR II saya satu-satunya peserta dari Pulau Sumatera).

Alhamdulillah…. Hari Sabtu 2 Desember 1994 pagi kami sudah berkumpul di Pelabuhan Muara Angke. Wiwien berhasil memperoleh fasilitas untuk kami menunjungi Kepulauan Seribu berupa perahu nelayan bermesin tempel tetapi dari Menteri Kehutanan. Tidak apalah! Selain kami, peserta PPR II, juga ikut Syubah Asa (istruktur PPR II, pemeran DN Aidit dalam Film Pengkhianatan Gestapu), seorang Perwakilan WWF (LSM Lingkungan Internasional) dan seorang staf LPDS, Nunung.

Di Kepulauan Seribu kami dapat fasilitas menginap di wisma milik Departemen Kehutanan di Pulau Semak Daun, sekitar 200 meter dari Pulau Pramuka. Hari Sabtu itu kami sempat mengunjungi Pulau Putri (kawasan wisata internasional) dan Pulau Bira Besar. Di Pulau Bira, kami sempat diburu dan diusir para satpam lantaran mengambil dokumen foto plus video lapangan. (*)