Catatan Zakirman Tanjung
PERJALANAN menuju Nagari Sungai Buluah Timur dari Jalan Raya Padang - Bukittinggi yang kami tempuh kemarin, Kamis (29/1/2026), lebih jauh jika dibandingkan dengan sebelum bencana alam melanda kawasan itu, Akhir November 2025. Biasanya kami melewati jalur Simpang Kuliek sebelum Jembatan Pasar Usang atau jika dengan sepeda motor bisa via depan Kantor Camat Batang Anai melalui rajang (jembatan gantung).
Namun, Anggota DPRD Kabupaten Padang Pariaman Hasan Basri SPdI MPd yang sengaja mengajak saya (penulis) dari Kota Padang melaju terus dan baru belok kanan di Korong Simpang Apa, Nagari Sungai Buluah Utara untuk melewati satu-satunya jembatan yang tersisa menuju kawasan Lubuk Alung Timur dan Batang Anai Timur.
Setelah menyeberangi jembatan beton, jalan beraspal hotmix membentang mulus dengan garis tengah putih walau lebarnya tak lebih dari empat meter. Mobil belok kanan arah ke selatan menuju Nagari Sungai Buluah Timur. Sedangkan jika lurus atau belok kiri, jalan menuju Nagari Sikabu, Nagari Lubuak Aluang dan Nagari Salibutan.
Kira-kira lima kilometer, kami memasuki wilayah Nagari Sungai Buluah Timur. Jalanan tidak lagi beraspal hotmix, tetapi berbatu-batu dan kerikil kasar. Kata Hasan Basri, jalan ini sudah beraspal tetapi hancur diterjang banjir.
Usai pertemuan dengan Pemerintah dan Masyarakat Nagari Sungai Buluah Timur, Hasan Basri mengajak saya ke arah barat nagari untuk meninjau beberapa objek vital yang terkena bencana banjir dan longsor seperti jalan, jembatan, pemukiman warga di sepanjang bantaran sungai serta Sekolah Dasar Negeri (SDN) 05 Batang Anai.
Walau sudah mendekati pukul 14.00 WIB, aktivitas belajar dan mengajar masih berlangsung di SDN 05. Kedatangan kami diterima Lisa Rifendi SPd, guru olahraga yang ditugaskan pemerintah sebagai pelaksana tugas kepala sekolah. Lisa, perempuan kelahiran 23 Januari 1995, merupakan satu-satunya guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) di SDN 05 yang memiliki 94 murid Kelas I s.d VI.
Lisa mengisahkan, gedung sekolah yang dia pimpin terendam banjir kemudian dilanda tanah longsor yang berasal dari bukit tak jauh dari gedung itu, Kamis 27 November 2025 kira-kira pukul 09.00 WIB. Semua ruang kelas, ruang majelis guru dan kepala sekolah ambruk seketika, tertimbun tanah berlumpur. Untunglah hari itu kegiatan belajar-mengajar diliburkan karena cuaca ekstrim sehingga tidak ada korban jiwa atau luka.
Dengan satu gedung yang tersisa, ruang perpustakaan, Lisa menggalang bantuan berbagai pihak untuk melakukan pembersihan serta membangun ruang-ruang kelas darurat. Pada tahap awal berdiri dua ruang kelas darurat bantuan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selanjutnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI bekerjasama dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) membangun lima ruang kelas darurat.
Namun, menurut pengamatan penulis, ruang-ruang kelas darurat yang berlantai ubin eks ruang kelas lama tersebut belum dilengkapi mobiler seperti meja, kursi dan lemari.
Melihat kondisi miris tersebut, Hasan Basri yang mengaku alumni SDN itu menyatakan sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Pariaman untuk membangun kembali sekolah dimaksud.
"Kalau jalan tidak amblas, jarak dari SD ini ke Jalan Raya Padang - Bukittinggi hanya kira-kira satu kilometer. Namun, sekarang sudah dibangun jalan dan jembatan darurat yang dapat dilalui kendaraan roda dua seperti sepeda motor," ujar Hasan, anggota DPRD Padang Pariaman periode ketiga sejak tahun 2014. (*)
