Kelaparan? Never! (Padang Pariaman dalam Pandangan Perantau)

Catatan Baiq Nila Ulfaini *)



SELAMA 15 tahun tinggal di Padang Pariaman, saya melihat masyarakat pada satu dari 19 Kabupaten / Kota di Sumatera Barat ini sangatlah erat hubungan kekerabatannya. Tolong-menolong, kebersamaan, kekeluargaan serta rasa senasib sepenanggungan menjadi karakteristik positif yang mereka miliki.


Bagi para perantau asal Padang Pariaman dan Kota Pariaman (yang terakhir merupakan wilayah pemekaran Padang Pariaman tahun 2002), persatuan dan kebersamaan mereka dikukuhkan melalui adanya Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP). Para perantau sukses biasanya akan 'maelo' atau menarik keluarga lainnya untuk menjadi berdaya. Para perantau tersebut tidak hanya memberdayakan keluarga atau masyarakat di kampungnya, namun turut andil dalam menyumbang 'devisa' di nagari asal. Tidak aneh apabila kita dengar seorang perantau menyalurkan zakat sampai berpuluh milyar dan menyumbang untuk berbagai sektor.


Rasa persaudaraan yang kental juga terlihat antar masyarakat di setiap nagari, apalagi saat bulan puasa. Saya sering mendengar (dengan sedih) seorang teman yang dengan gembira bercerita;


"Hari ini buka puasa bersama keluarga di kampung." atau...


"Besok aku berbuka bersama mertua" atau...


"Minggu depan rencana buka puasa berama teman SMP!"


Wewww, bikin iri beeng! Keluarga dan mertua jauh di kampung, teman SMP saya pun cuman ingat beberapa orang... boro-boro mau reuni haha.


Tapi, ah... sudahlah, hidup tidak akan pernah sempurna. Kesedihan saya selama bulan puasa selalu tertutupi dengan kepulangan suami dari masjid dengan membawa samba (lauk) lengkap dalam rantang dari masjid, dengan contoh urutan sebagai berikut;


1. Rantang paling atas berisi sayur seperti gado-gado.

2. Rantang kedua berisi gulai ikan 

3. Rantang ketiga berisi ayam goreng balado dicampur kentang

4. Rantang keempat berisi nasi putih. 


Sebelum dibawa pulang, biasanya di masjid atau mushalla di nagari-nagari menyelenggarakan buka puasa bersama dengan kurma atau cindua/es buah/onde-onde. Ibu-ibu di sekeliling tempat ibadah umat muslim tersebut akan bergiliran membawa rantang untuk buka puasa bagi para lelaki di sana.


 Nah, kalau yang membawa rantang tidak sebanding dengan yang berbuka puasa, kelebihannya biasa akan ditawarkan kepada jamaah yang ada untuk dibawa pulang. Sehingga saya akhirnya pada bulan puasa akan selalu berbahagia dengan menu beragam, seperti pada gambar di bawah.



Jadi, apakah ada masyarakat yang kelaparan di bulan puasa? Saya bisa jawab dengan tegas "Tidak akan mungkin!"


*) Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman sejak 29 Maret 2021 promosi sebagai Kepala Sekretariat Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu Kabupaten Padang Pariaman), merupakan perantau asal Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama