Andri Satria Masri Gigih Berjuang di Tengah Terjangan Asap Rokok

Parikmalintang, CanangNews - Niat baik seseorang tidak selalu diterima baik oleh orang lain. Kalimat itu diungkapkan oleh Andri Satria Masri SE ME yang saat ini menjabat sebagai Inspektur Pembantu I di Inspektorat Kabupaten Padang Pariaman.

Kegigihannya dalam mengkampanyekan berhenti merokok sering dibalas dengan ejekan oleh rekan dan teman sejawat di lingkungan sekitarnya. Sebelum mengkampanyekan untuk berhenti merokok, pria 48 tahun ini juga sempat menikmati hisapan rokok yang dimulai ketika duduk di kelas 2 sekolah menengah atas.

 Ia mengaku, mencoba rokok hanya sebatas ikut teman dan pengaruh lingkungan sekitar. Namun, seiring berjalan waktu, ia merasakan dampak buruk akibat merokok, yakni merasakan sakit kepala sebelah yang berlebihan hingga tiga hari lamanya. Andri pun memutuskan untuk berhenti merokok semenjak tahun 2010 hingga saat ini.

“Keputusan berhenti merokok saya lakukan sejak tahun 2010 karena mengganggu kesehatan saya secara berkelanjutan, Awal berhenti merokok memang adanya keinginan untuk kembali lagi mengkonsumsi nikotin yang cukup kuat, Namun, demi pertimbangan kesehatan saya dan keluarga,  keinginan untuk berhenti merokok semakin kuat.”  ucap Andri saat ditemui di Gedung Inspektorat, Parikmalintang, Jum'at (20/3/2020). 

Setelah memutuskan berhenti merokok, lanjut Andri, banyak manfaat yang dapat dia rasakan seperti sakit kepala sebelah yang sering menyerang sudah mulai berkurang, badan terasa lebih segar dan yang paling penting ia dapat berkomunikasi dengan keluarga secara bebas tanpa adanya rasa takut dan kecemasan karena anak dan istri juga dapat menghirup nikotin yang menempel di baju pada saat merokok.

Karena banyak manfaat yang dia rasakan, ulas Andri, ia termotivasi mengkampanyekan kepada orang-orang terdekatnya untuk ikut berhenti merokok seperti keluarga, tetangga dan rekan kerja di Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman.

“Banyak kejadian buruk yang dialami akibat dari rokok oleh orang-orang terdekat saya. Seperti  tiga orang sahabat yang meninggal karena menghisap rokok dan ini lah yang membuat saya semakin menguatkan niat untuk mengkampanyekan agar orang-orang di sekitar berhenti menghisap rokok.” ujarnya.

Lulusan Magister Ekonomi Universitas Indonesia ini mengaku seringkali mendapatkan cemoohan bahkan sempat menjadi sasaran buly-an oleh orang sekitar terkait ajakan berhenti merokok yang dia lakukan di tempat bekerja. Himbauan bahaya rokok yang dapat merusak kesehatan, baik bagi perokok aktif maupun perokok pasif, serta dampak ekonomi mengkunsumsi rokok seringkali menjadi olok-olok kepadanya.

Kudo indak marokok batuak e nyo, Ungku wak marokok lai panjang juo umuah e nyo.

"Kalimat seperti itu sering saya terima, bahkan sempat menimbulkan perdebatan yang kasar serta protes keras hingga saya dituduh melakukan konspirasi dengan penjual obat ” ujarnya menceritakan kenangan dengan gelak tawa.

Namun, di balik buly-an dan cemoohan yang dia dapat, Andri Satria Masri yang pernah menjabat sebagai kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Padang Pariaman ini berhasil mengajak banyak aparatur sipil negara (ASN) di Padang Pariaman untuk berhenti merokok dan melaksanakan pola hidup sehat.
 
“ASN merupakan role model bagi masyarakat. Oleh karena itu, kita sangat menyayangkan ASN yang masih merokok. Sebab,  Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman telah membuat Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok.  Seharusnya seorang ASN taat terhadap perda tersebut,”  katanya mengakhiri perbincangan.

Sepertinya Andri Satria Masri sudah selayaknya diberikan gelar Duta Anti Rokok ASN Padang Pariaman. (TIJ HP/ZT)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama