" Demokrasi Tabuik " Tidak Merawat Permusuhan

Jhotek
0

 


Demokrasi Tabuik 
Oleh : Alfiandri Zaharmi
Mahasiswa Universitas M.Nasir Bukittinggi 

Setiap tahun di awal tahun Tahun Hijriyah, tepat di bulan Muharram di daerah terletak pada  pesisir pantai Sumatera Barat, bernama Pariaman. Puluhan ribu orang berkumpul untuk merayakan sebuah tradisi monumental bernama Pesona Hoyak Tabuik. Perayaan budaya yang berakar dari peringatan meningglnya cucu nabi Muhammad hasan dan Hosen, ini bukan sekadar arak-arakan megah. Di dalamnya, tersimpan sebuah filosofi mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya mengelola konflik dan persaingan. 

Jika kita meminjam kacamata budaya Pariaman ini untuk melihat sistem perpolitikan kita, kita akan menemukan sebuah konsep ideal yang patut liat dengan mata besar, Sebuah demokrasi di mana pertarungan, adu gagasan, hingga riuhnya gesekan adalah hal yang wajar di atas arena, namun memiliki batas akhir yang tegas dan melahirkan perdamaian tanpa dendam. 

Panasnya Panggung Kampanye

Dalam prosesi Tabuik, masyarakat Pariaman secara kultural terbagi menjadi dua kelompok besar: Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Menjelang puncak acara, kedua kelompok ini membuat menara Tabuik masing-masing dengan penuh kebanggaan, gengsi, dan semangat kompetisi. Saat prosesi Hoyak Tabuik berlangsung, suasana menjadi sangat panas. Kedua kubu saling berhadapan, bersorak, beradu yel-yel, bahkan tak jarang terjadi gesekan fisik atau "peperangan" kecil antar pendukung. Darah muda mendidih, emosi meluap-luap membela kelompok masing-masing. 

Momen ini adalah cerminan sempurna dari masa kampanye dan tahapan Pemilu ( Pemilihan Umum/Pilkada ). Gesekan adalah keniscayaan, Dalam demokrasi, perbedaan pilihan politik, debat panas, adu argumentasi, hingga fanatisme pendukung adalah hal yang wajar. Adu gengsi dan gagasan, Seperti halnya Tabuik Pasa dan Subarang yang bersaing, partai politik dan kandidat juga bersaing menampilkan program, baliho, dan narasi terbaik mereka. Gesekan dalam Hoyak Tabuik dan Pemilu maupun Pilkada  bukanlah sebuah kejahatan, melainkan bentuk partisipasi, antusiasme, dan dinamika sosial yang merayakan kebebasan berekspresi. 

Batas Akhir Sebuah Pertarungan saat Tabuik dibuang ke laut

Inilah bagian paling esensial dan magis dari tradisi Pariaman yang sering kali dilupakan oleh para elit politik dan pemilih di negeri ini. Ketika matahari mulai terbenam di ufuk barat, kedua Tabuik yang sedari melalu proses panjang ada 10 hari,dimulai  1 Muharram dan berakkhir 10 Muharram, tadinya dengan penuh persaingan dan ketegangan itu, diangkat bersama-sama menuju bibir pantai. Saat matahari mau terbenam, karya seni megah dan waktu berhari - hari prosesi nya itu dibuang ke laut hingga hancur ditelan ombak. 

Apa yang terjadi setelahnya?.Semua peperangan selesai. Anak Tabuik  Pasa dan Anak Tabuik Subarang yang sebelumnya saling beradu punggung dan berteriak, kembali berbaur. Mereka duduk di kedai yang sama, menyeruput kopi atau teh talua bersama, saling tertawa, dan kembali menjadi saudara. Tidak ada dendam yang dibawa pulang. Tidak ada yang menyimpan amarah untuk esok hari. 

Esensi Demokrasi yang Hilang

Inilah pelajaran terbesar dari Demokrasi Tabuik. Penyakit terbesar dalam sistem demokrasi modern kita saat ini adalah ketidak mampuan kita untuk membuang "Tabuik politik" ke laut setelah pemilu / pilkada  usai. Dalam banyak pengalaman elektoral, gesekan yang terjadi di masa kampanye justru dirawat dan dipelihara setelah pencoblosan selesai. Kita terbelah oleh residu kebencian, terjebak dalam sebutan-sebutan antar kubu, dan mengorbankan persaudaraan di dunia nyata hanya demi membela kandidat yang mungkin sudah bersalaman dan berbagi kekuasaan di atas sana.

Ada yang dapat kita petik dalam prinsip demokrasi tabuik mengajarkan kita tiga hal penting:

ü Berkompetisilah Secara Total: Saat masa kampanye, berjuanglah sekuat tenaga untuk kandidat atau gagasan yang Anda yakini.

ü Hormati Garis Akhir (Garis Finis): Saat KPU sudah mengetuk palu hasil pemilihan, itulah momen matahari terbenam. Kompetisi secara otomatis harus berhenti.

ü Buang Ego ke Laut: Buang segala fanatisme buta, kebencian, dan permusuhan. Lepaskan identitas antar kubu,  lalu kembalilah pada identitas utama kita sebagai sesama warga negara.

Demokrasi bukanlah alat untuk memecah belah bangsa secara permanen. Ia hanyalah sebuah festival, sebuah alat ukur untuk mencari pemimpin secara bergiliran. Mari kita  kearifan lokal Pariaman: bertarunglah dengan gagah di siang hari, namun pastikan saat senja tiba dan Tabuik telah dibuang ke laut, kita kembali pulang ke rumah sebagai saudara sebangsa yang tak lagi merawat dendam.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(50)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top