Perjalanan Menunaikan Ibadah Umrah Program Full Ramadhan 1444 H (4)

     Catatan Irvan Khairul Ananda 

 Jumat (07/04/2023)
Jumat ke-3 Ramadhan 1444 H 
Puasa Hari ke-16
Hari ke-8 di Makkah

SEJAK keluar masjid pukul 08.00 pagi tadi, lantai atas Masjid Haram sudah mulai penuh oleh jamaah yang menunggu Jumat-an. Padahal jumatan hampir empat jam lagi mau masuk. Begitu antusiasnya jamaah atau ummat Islam sedunia untuk melaksanakan ibadah. Apalagi kalau selama empat jam jelang jumatan tersebut diisinya dengan shalat-shalat sunat, membaca Al-Qur'an dan berdzikir serta berdoa. Allahuakbar...! 

Betapa puluhan ribu pahala yang akan diterimanya? Menurut Rasulullah ﷺ,  selagi mereka berada dalam masjid (di luar bangunan masjid atau teras atau plaza?) dan masih mempertahankan wudhu'nya maka malaikat turut mendoakannya.

Maka sia-sialah waktu bagi mereka yang melalaikannya, maksudnya mengisi waktunya di masjid untuk tidur saja atau hanya mengobrol ke sana ke mari. Astaghfirullah! Allahuakbar!

Di luar masjid dan sepanjang jalan menuju ke hotel, hanya yang berlebihan itu adalah jamaah menuju masjid berpakaian ihram. Mungkin mereka sudah dari tempat Miqot di Tan'im ataupun Jeranah, dan mungkin juga baru datang dari Madinah tempat Miqot nya di Bir Ali. Sedang yang sama-sama kami dari masjid dari subuh tadi mau pulang ke hotel tidaklah berapa. Betapalah nanti ketika masuk waktu solat Jumat akan membludaknya jumlah jamaah memadati dalam masjid setiap lantai dan di seluruh pojok plaza Haram.

Tampaknya perlu istirahat dan tidur sejenak di hotel karena terasa pegal-pegal kaki dan pinggang ini setelah melaksanakan tawaf tadi pagi setelah subuh. Di hari pertama tawaf Jumat (30/03/2023)  seminggu yang lalu memang sangat nyeri dan hampir lumpuh rasanya. Tetapi setelah hampir setiap hari laksanakan tawaf terutama setelah subuh tidaklah begitu berat. Mudah-mudahan saja sampai berakhir Program Full Ramadhan ini sehat selalu dan kuat selalu sehingga dapat melakukan ibadah dengan sebaik-baiknya.

Pukul 10.00 sudah selesai mandi sunat jumatan dan berpakaian koko putih. Berjalan menuju masjid ±600 meter, tapi sudah tidak bisa berjalan cepat buat hindari teriknya sinar matahari. Bus dan kendaraan kecil lainnya seperti taxi dan mobil pribadi sudah pada beringsut menuju batas masuk ke arah Haram. Bersamaan arah menuju masjid semuanya hampir berpakaian ihram. Dari jauh masih terlihat flyover dekat Rumah Raja (Ajyaad Gate) sebagai gerbang utama masuk ke lantai 2 masih dibuka lebar, namun sangat padat. Akhirnya dapat duduk di belakang jalur tawaf setentang Gate 87. 

Hampir dua jam duduk menunggu waktu jumatan, hanya sebentar saja dapat membaca Al- Qur'an surat ke-14 Ibrahim, lebihnya hanya berdzikir sambil terkantuk-kantuk dan kaki hampir kesemutan.

Pukul 11.53 berkumandang azan pertama.

Ruangan masjid lantai dua tersebut sudah sangat padat, beberapa jalur sudah disekat, jangankan untuk masuk bahkan untuk keluar saja sudah sejak tadi tidak diperkenankan lagi. Masih terlihat juga di lantai 2 ini jamaah yang bertawaf, begitu jua di kejauhan di Lantai Puncak Haram dalam terik matahari siang. 

Pukul 12.15 Khatib sudah berkhutbah dan untung bawa handsfree bisa mendengarkan khutbah dalam bahasa Melayu terbata-bata. Intinya khatib menyampaikan pentingnya soal bersabar, terutama di dalam bulan Ramadhan ini.

Antara Zohor dan Asyar,  Sabtu Hari Puasa ke-17

Ketika masuk ke Haram lewat gerbang Ajyaad Gate terus mencari tempat untuk shalat dzuhur siang ini, ambil jalan ke kiri, maksudnya nanti kalau mau exit Haram agak lebih mudah. Bergabung dulu ke pelataran tawaf Lantai 2 ini, lalu ikuti arah ke lampu hijau, belum sampai ke sana bisa ke kanan Ajyaad Gate. Ya, exit!

Akhirnya sampai di depan Gate 69. Dipandangi blok-blok yang sudah disiapkan petugas. Semua penuh sesak, tapi begitupun penuh sesak yang tidur tengkurap, telentang dan berbagai pose cukup banyak. Padahal jadwal masuk shalat dzuhur tidak berapa lama lagi. 

Hal yang jadi pikiran adalah, ketika nanti azan berkumandang lalu mereka-mereka yang tidur berbagai pose tadi langsung bangun dan solat sunat rawatib dzuhur? Apakah mereka tadinya tidak tertidur? Tidak lepas wudhu'nya? Tidakkah dia kentut halus, berdesis? Lalu terus saja untuk shalat? Kalau benar masih belum kepas wudhu'nya, Alhamdulillah! Tetapi yang sudah lepas lalu acuh tak acuh saja untuk ikut shalat berjamaah bagaimana hukumnya? Sudahlah mereka seperti itu, apakah tidak berpengaruh kepada keutuhan shaf shalat berjamaah? Beragama memang harus orang yang berakal! Tidak berpengetahuan, tidak berakal, lalu meramaikan tempat peribadahan, Mesjidil Haram? Bisa jadi warisan leluhurnya bahwa Ka'bah tersebut berupa Patung Lata da Huza? Tidak perlu bersih, berpengetahuan dan suci dalam berwudhul'? Hanya Allah ﷻ yang Maha Mengetahui!

Masuk ke dalam blok yang ramai tersebut. Berdiri agak lama menelisik di mana bisa nanti masuk di sela-sela jamaah yang sudah duduk berjam-jam sejak pagi. Dihitung panjang ruang shafnya, lalu berapa orang jamaah yang sudah ada. Mereka berpatokan gelar tikar sajadahnya yang lebar 80 cm. Apakah tubuh mereka masing-masing sama dengan lebar sajadahnya? Jelas tidak! Bidang bahunya saja dua jengkal, tak lebih tak kurang hanya 25 cm saja! 

Setelah selesai azan lalu masuk dalam barisan shaf tadi, langsung kiri kanan melotot. Seakan-akan benci dan tidak suka ada yang masuk di sela-sela mereka. Padahal sajadah sudah dilipat dua supaya singkron dengan tubuh sendiri. Tanpa menghiraukan lototan dan masam wajah tetangga kiri-kanan, terus saja solat sunat rawatib sebanyak 2x2 rakaat. 

Mereka yang di samping pun ikut rawatib! Terasa gerakan telapak kaki dan sikutnya ingin menyatakan bahwa dia tidak suka ada pihak lain menyela shaf nya. Malah kangkangan kakinya terasa diperlebarnya. Penampilannya berjubah, pakai selendang kebesaran, berjenggot, bisa saja melihat penampilan tersebut seorang pemuka agama di sini. Namun, sampai akhir shalat fardu dzuhur masih terkesan kemarahannya. Digulungnya sajadah yang sudah dilipat dua tadi, lalu dikesampingkannya. Digelarnya tikar sajadahnya! Seakan mengatakan: "Bakirok lah ang dari siko!"

Astaghfirullah!

Begitukah akhlak seseorang yang mencari ridho Allah ﷻ? Di dalam rumahNya, di Baitullah? Tidak beretika dan berakhlak? Tak sampai hati membelalaknya! Tak sampai hati mengatainya! Tapi sempat juga difoto dengan penampilan sebagai pemuka agama tersebut!

Apakah lantai Haram ini sudah sebagai kepemilikannya atau warisannya? Lalu orang lain atau pihak lain tidak boleh berdiri, duduk, shalat di sana? Padahal dia juga bisa shalat, berdiri, rukuk,  sujud dan duduk bertasyahud? Tidakpun sempit, tidak pun ter alahkan tempat duduknya.
 
Benar-benar tidak habis pikir atas kejadian ini? Kayaknya hanya yang penting individual saja dalam bermunajad dan berpasrah diri kepada Allah Azza Wajalla? Tidakkah peduli dengan orang lain sesama jamaah islamiyah? Takkanlah lancar hubungan dengan Allah ﷻ jika tidak peduli dan tidak berakhlak dengan sesama manusia, apalagi sesama jamaah di Masjidil Haram?

Kata mutawif, semua itu harus dinikmati dan diterima saja. Itulah Tanah Haram!

Menjelang waktu shalat asyar terpaksa mencari lokasi yang lebih nyaman untuk bisa membaca Al-Qur'an dan berdzikir. Apakah hanya dipentingkan beramaliyah saja kepada Allah ﷻ tanpa harus memperbaiki hubungan muamalah dengan pihak lain? Maksudnya berakhlak.

Rasulullah saja diutus Allah ﷻ ke permukaan bumi ini adalah untuk memperbaiki akhlak, baik antar sesama manusia, lebih-lebih kepada Allah ﷻ.

Ahad( 09/04/2023)
Puasa Hari ke-18
Hari ke-10 di Makkah

Alhamdulillah...
Pukul 02.00 dinihari sudah terbangun. Karena malam tadi belum shalat isya dan tarawih, maka turun dulu ke mushala hotel untuk shalat. Malam ini terasa letih sekali, kaki terlalu berat, jadi tidak ikut berjemaah ke masjid. 

Mungkin karena sore kemaren ditimpa hujan rinai. Pukul 17.00 sore Makkah diguyur hujan sebentar, semua yang tadi terbakar terik matahari jadi dingin dan sejuk. Mendekati pukul 18.00 sore turun hotel, rencana mau ke Haram, sisa hujan tadi masih menurunkan rinai. Bus dan raxi pada ngetem di depan gerbang terminal. Di bawah kolong jembatan layang dekat Tower Zam-zam sudah disekat, tidak bisa jalan lagi menuju Haram. Tampak dari kejauhan bahwa pelataran Haram sudah penuh. Sambil berdesakan di bawah rintik-rintik rinai sisa hujan tadi asykar berusaha menggelar plastik untuk duduk berbuka puasa yang tinggal beberapa menit lagi. Tidak banyak yang bisa duduk di sana, selebihnya berdiri. Beberapa petugas membagikan air mineral dan biskuit serta kurma. Lalu ketika adzan maghrib menggema dari Haram, maka berbuka puasalah kami di dekat sekat jalan tersebut sekadarnya. Lalu, karena padatnya, sebagian terpaksa shalat maghrib sambil berdiri saja, karena tidak ada ruang untuk rukuk dan sujud.

Jelang subuh ini masih sempat makan sahur dan mandi. Pukul 04.30 baru keluar hotel menuju Haram. Di jalanan sudah ramai jamaah menuju Haram. Langsung saja naik fly over menuju lantai 2 via Ajyaad Gate. Sampai di dalam Haram jalan ke kiri untuk mencari eskalator naik ke Top Haram atau Lantai 4. Alhamdulillah...di sini lebih longgar dan bisa memilih untuk mencari posisi duduk shaf. Ketika menghadap Ka'bah, maka Tower Zam-zam (Jam Gadang) berada di sebelah belakang. Sebelah kiri atas mencuat samar dua menara yang sedang dalam pengerjaan dan di hadapan juga ada dua menara yang sama. Sedangkan sebelah kanan, menjulang bangunan Rumah Raja.

Sebenarnya kalau agak lebih nyaman dan leluasa memilih tempat dan shaf untuk shalat subuh memang di Top Haram ini atau Lantai 4. Dan kita tidak menghirup udara pendingin atau kipas angin di sini karena lokasinya tidak beratap. Dan langsung menghirup dan menikmati udara bebas subuh ini.

Pukul 06.45 langsung keluar Haram setelah selesai shalat dhuha melalui eskalator yang ujungnya sampai di Gate 3 yang merupakan pintu yang besar dan baru. Kalau memandang dari luar melalui Gate 3 ini begitu juga Gate 4 dan Gate 5 kita akan langsung melihat Ka'bah. Dulu semuanya tertutup. Kalau tidak di dalam masjid, kita tidak bisa melihat dan memandang Ka'bah. Sejalan dengan periode keterbukaan KSA, mulai tahun 2019 yang lalu sudah diperlebar ketiga pintu atau Gate 3, 4 dan 5 ini, sehingga dari pelataran saja kita sudah bisa melihat dan memandang Ka'bah. 

Sampai di Toilet² Laki-laki langsung masuk untuk bersih-bersih dulu. Setelah itu menambah shalat dhuha di pelataran toilet ini.

Ahad (09/04/2023)
Puasa Hari ke-18
Hari ke-10 di Makkah

Shalat Dzuhur
Masuk pelataran depan Tower Zam-zam, adzan dzuhur sudah berkumandang. Hampir semua pintu masuk ke dalam Haram sudah disekat dan dijagai asykar. Yang terbuka hanyalah fly over di pinggir Rumah Raja tapi diarahkan ke arah Syafa. Dari sini di arahkan naik eskalator sampai ke Roof atau Top Haram. Panas bukan main sengatannya, tanpa atap, lalu mencari yang lindung, jauhnya berjalan dalam panas arah ke Marwa. Bukankah Siti Hajir setelah melahirkan di gurun pasir bolak-balik mencari air antara Syafa dan Marwa? Kalahkah kita? 

Lalu turun lagi di ujung Marwa dengan eskalator ke Lantai lll lintasan Sa'i. Iqomat telah berkumandang, langsung saja dzuhur di sini. Lapang dan longgar,  hanya sedikit peserta yang berpakaian ihram. 

Rasanya terlalu lama menunggu waktu asyar dari selesai dzuhur ini.  Nanti perut ini berulah, mau kentutlah, kencinglah atau BAB. Mau turun hampir semua pintu disekat oleh asykar.  Tertahanlah semua jemaah yang akan turun dan exit. Bermacam omongan terdengar dalam bahasa ibu mereka. Untunglah tidak terdengar yang berbahasa Melayu atau Indonesia.  Mungkin itulah budaya dan adab ketimuran, tidak serta merta melontarkan kata-kata. Apalagi sumpah serapah. 
Menunggu agak lama barulah pintu eskalator dibuka sehingga bisa keluar ke lantai bawah, keluar Gate 3. Lalu pulang ke hotel dan istirahat. 

Pukul 16.00 baru keluar hotel menuju Haram. Baru saja sampai batas pagar pelataran depan Tower Zam-zam iqomat berkumandang. Langsung saja digelar tikar dalam panas terik matahari petang untuk ikut berjamaah shalat ashar. Setelahnya menelusuri gang antara belakang Rumah Raja dengan Haram (Gate 3, 4, 5) sampai ke dekat Pintu Syafa. Biarlah di lantai bawah atau di pelataran saja, tidak ingin masuk ke dalam masjid, karena nanti selesai shalat maghrib akan cepat saja kembali ke hotel.

Senin, 10042023
Puasa Hari ke-19
Hari ke-11di Makkah

Sudah menapaki jalan di depan hotel, ternyata basah agak berlebihan. Tampaknya semalam Makkah diguyur hujan, mungkin agak lebat. Pantas tadi di lift ada jamaah ngomong, masjid licin, basah kena hujan. Sepanjang jalan ±500 meter yang kami tempuh benar-benar becek kena hujan semalam. Sampai pukul 00.00 tidak ada hujan, mungkin antara pukul 01.00 - 03.00 dinihari tadi. Mungkin dalam nyenyaknya lelap kami di Kamar 1107 Hotel Talat Ajyad. Pukul 04.00 terbangun dan bersih-bersih lalu menikmati makan sahur nasi campur supermi pakai dedak rendang paru. 

Adzan sudah sejak tadi dikumandangkan, mungkin tidak sampai ke Haram akan iqomat. Baru saja sampai pagar batas Pelataran Haram depan Tower Zam-zam atau Gate 1 King Abdul Aziz sudah disekat asykar. Tidak bisa lagi melanjutkan langkah. Lalu digelar sajadah dan bergabung shalat subuh berjamaah di sini saja. Selesai shalat menunggu sekat dibuka untuk bisa lanjut ke dalam masjid dengan tujuan Roof atau Top Haram untuk tawaf yang lebih nyaman dan lempang. 

Alhamdulillah..., lancar saja naik eskalator sampai ke Top Haram,  pukul 05.42 mulai start di setentang lampu hijau (sudut hajar aswad) dan dapat selesai 7 putaran pukul  06.45 (63 menit, rata-rata 9 menit seputarannya).

Bersegera saja mencari jalan untuk exit karena sudah mau BAB, jadi keluar di Gate 2 lantai dasar langsung bisa lempang ke Toilet/WC 2 laki-laki. Selesai semua dan berwudhu', lalu shalat dhuha di pelataran Toilet 2 tersebut, selesai pukul 07.30.

Langit Kota Makkah sejak tadi masih gelap, biasanya pukul 06.30 sudah terbit matahari dengan sinarnya yang terang. Tapi pagi ini agak lain, malah sudah turun rintik-rintik hujan.  Mungkin hujan berkah buat kesejukan jamaah sedunia yang sedang menunaikan ibadah umrah di puasa Ramadhan ini. 

Alhamdulillah...,  kami semua sehat-sehat dan baik-baik saja di sini! Mekkah Al Mukarramah Puasa Hari ke-19.

Dalam perjalanan pulang ke hotel, memang benar-benar turun hujan mulai pukul 09.30 pagi ini. Jamaah yang di jalanan pada berlarian, asykar yang di pertigaan langsung mengenalan jas plastik hujan. Kami berteduh sebentar di teras pertokoan di seberang terminal. Memang agak lebat, akhirnya ditempuh jua dengan bertudung sajadah yang agak tebal. Sampai juga kami di loby belakang hotel, hujan masih turun.

Senin (10/04/2023)
Puasa Hari ke-19
Hari ke-11 di Makkah

Hujan Tidak Sampai Siang.
Dikira hujan lebat di Kota Makkah antara pukul 09.00 -10.00 pagi tadi akan terus berlanjut sampai siang. Rupanya pukul 11.00 mentari kembali muncul menyinari jagat raya ini dan Makkah kembali terang-benderang. 

Berangkat ke Haram untuk shalat dzuhur berjemaah sudah kembali melintasi panas menyengat. Karena sudah kumandang adzan, maka tidak bisa lagi masuk ke dalam masjid. Jadinya kami shalat di gang antara masjid dan Rumah Raja atau di depan gerbang baru Gate 3, 4, 5, 6, 7. Gang ini penuh juga oleh jamaah karena mereka sudah tertahan di sini. 

Lama juga menunggu pintu atau sekatan masuk ke dalam masjid dibuka. Tampaknya lebih mengutamakan jamaah keluar masjid terlebih dahulu. Tetapi yang mau masuk ini makin menumpuk dan menghambat jalur masuk dan keluar juga. Beginilah pemandangan dan suanana jika sudah dekat mau shalat fardhu ataupun selesai shzlat fardhu.

Beberapa tahun yang lalu ketika umrah tidak seperti ini ramainya. Namun, kata orang, kalau umrah Ramadhan beginilah suasananya. Bagai ketika musim haji 

Kamis (06/04/2023)
Puasa Hari ke-15
Hari ke-7 di Makkah

Alhamdulillah...
Hari ini Kamis, merupakan hari ke-15 kami sekeluarga difasilitasi oleh Rizkia Mandiri Travel. Berarti sudah separuh kegiatan perjalanan umrah Program Full Ramadhan dilalui. Kami semua sehat-sehat dan baik-baik saja! Paling ada batuk-batuk sedikit karena panasnya kerongkongan. Ataupun sedikit influenza karena perubahan cuaca dan iklim. Tapi dengan membacakan Bismillahirrahmanirrahim lalu diusapkan air zam-zam Mudah-mudahan Allah Swt memberikan kesembuhan!

Dititipkan dan bergabung dengan Rangkayo Basa Travel dan Saudia Travel berjalan dengan baik. Mulai bergabung di Bandara Soeta Jakarta Rabu malam 22032023 tengah malam ketika jemaah dari Solok-Padang via Bandara Bim tersebut terlambat sampai lebih kurang hampir tiga jam. Walaupun baju batik dan salempangnya berbeda tapi dapat bersatu memasuki Qatar Air pukul 00.20 Kamis 23032023 dalam penerbangan Jakarta-Doha-Jeddah.

Perkenalan yang baru sebatas tegur sapa resmi dengan pimpinan rombongan atau tourleader Rangkayo dan Saudia sudah cukup untuk menjalin silaturahmi. 
Agak sedikit membingungkan hanyalah ketika sampai di Makkah pada hari ke-9 dalam penempatan hotel. Melihat situasi dan kondisi Makkah ketika itu sangat ramai dan membludak dikunjungi jamaah untuk berumrah dari berbagai negara. Mungkin saja terjadi crowditnya soal bookingan kamar hotel oleh muhasasah. 

 Sebenarnya tidak apa-apa. Namun, karena kita sudah berumur lanjut ini terasa agak berat. Bisa jadi memfasilitasi ketersediaan kamar dengan 3 bed agak lebih susah, karena umumnya hotel-hotel telah memblok kamar-kamarnya untuk 5 bed, 4 bed atau 2 bed. Apalagi hotel-hotel bintang 3 untuk rombongan jamaah umrah relatif murah. Kami pikir karena kami bertiga yang dititip ini agak sulit mencarikan kamar hotel yang punya 3 bed. Ya, tidak apa-apa,  memang tidak selalu mulus,  pasti akan ada rintangan dan masalahnya. Tourleader tentu tidak membiarkan begitu saja, mereka tampak berusaha bagaimana jemaah bisa nyaman untuk beribadah! 

Kami sangat menyadari sesuatu urusan akan ada plus-minusnya. 

Ketika beberapa kegiatan yang difasilitasi oleh mutawif, baik tentang peribadahan ke Nabawi dan Haram, serta Tour Lokasi Sejarah, terasa cukup menyenangkan dan cukup familiar. Tampak adanya tanggungjawab dan kepedulian mutawif dalam berbagai hal. Apalagi ketika ada jamaah yang tersesat jalan di Haram. 

Menjelang puasa Ramadhan ke-19 ini memang kami jarang bertemu, baik dengan tourleader maupun jemaah lainnya (Rangkayo Basa), sebab juga berbeda lantai hotelnya. Selain itu, kami juga jamaah mandiri sehingga di ruang makan pun berbuka dan sahur tidak kan ketemu.

Alhamdulillah,  semuanya berjalan dengan baik.

Hanya saja kami ndak pernah diajak oleh tourleader untuk ngopi-ngopi. 

(Ha ha ha...ini kelakar dan garah saja......kami tahu bahwa kami jemaah mandiri.)
Salam maaf kami.

Menjelang berbuka puasa Ramadhan hari ke-19
Hari bersama Rizkia Mandiri Program Full Ramadhan.

Selasa( 11/04/2023)
Puasa Hari ke-20
Hari ke-12 di Makkah

Kejar Shalat Subuh
Subuh ini, agak terlambat. Masih makan sahur juga sedikit dulu supaya jangan perut ini kosong. Rupanya turun ke lantai dasar hotel dari Kamar 1107 sudah terdengar azan subuh. Tak mungkin lagi kejar ke pelataran masjid atau jalan menuju masjid, apalagi ingin masuk ke Haram. Kami menggabung saja dengan jamaah lainnya di loby hotel. Masih terdengar suara imam Masjidil Haram sampai di sini lewat pengeras suara di dekat terminal. 

Mungkin juga ini sudah diatur Yang Maha Kuasa dan Maha Penentu! Baru saja selesai shalat subuh berjamaah ini, perut terasa mules dan berbunyi. Bayangkan tadi kalau ini terjadi di dalam Haram atau di jalanan. Toilet terdekat adalah WC2 Laki-laki di ujung Jalan ke Ajyaad mau masuk Pelataran Haram (Dekat Tower Zam-zam). Subuh-subuh begini akan berpacu juga mencari toilet yang kosong dengan jemaah lainnya.  Dipastikan saja akan antrian beberapa jamaah. Ini masih di hotel,  tentu akan lebih cepat mengejar toilet kembali ke kamar. Ambil kunci kamar ke recepsionis, lalu pencet tombol lift langsung masuk ke kamar 1107.
Jadi, sesuatu yang digerakkan atau terjadi pada diri sendiri atau pihak lain, bukanlah terjadi atau bergerak dengan sendirinya! Ada sesuatu maksud atau desain yang digerakkanNya, Allah ﷻ! 

Jelas untuk kebaikan! Pada detik dan saat itu, itulah yang terbaik langkah dan rizki diperuntukkanNya kepada diri ini. Tak perlu menyesali! Itulah Kuasanya Allah!

Setelah selesai semua di kamar, kembali bersegera ke Haram untuk bisa melaksanakan tawaf serta shalat dhuha sebagaimana biasanya.

Selasa (11/04/2023)
Puasa Hari ke-20
Hari ke-12 di Makkah

Tawaf Selesai Subuh
Beberapa trik untuk tawaf sunat (bukan tawaf Umrah Sunat yang pakai miqot) sudah dicoba misalnya selesai shalat maghrib. Jadi berbuka dan maghribnya di Haram, lalu langsung tawaf. Harus dilawan dulu keinginan makan nasi ke kamar hotel. Hampir satu jam selesai menjelang adzan isya. Kalau kembali pula ke hotel selesai tawaf maka tidak sempat lagi buru-buru untuk shalat isya yang berurutan dengan tarawih dan witir. Sebab selesai semuanya sekitar pukul 22.00. Masalahnya adalah setelah berbuka puasa buasanya perut mulai gelisah,  ada-ada saja: mau kentut, kencing atau mau BAB. Jadi untuk tawaf setelah shalat maghrib agak ada kendala baik dari segi fisik maupun tersedianya waktu antara maghrib dengan isya ini.

Bagusnya memang pagi setelah shalat subuh. Kondisi fisik masih oke, sudah istirahat tidur dan makan sahur dan bersih-bersih.  Tinggal lagi langsung mulai di titik start lampu hijau (sudut hajar aswad). Apalagi udara pagi masih segar, lepas, dan belum ada terik mataharinya. 

Jadi ketika shalat subuh sudah berada di dalam Masjidil Haram,  usai shalat langsung laksanakan tawaf.

Sulitnya adalah kalau shalat subuh belum di dalam masjid,  masih di hotel atau di jalan ke masjid, di pelataran masjid, maka untuk masuk ke dalam masjid sangat sulit. Semua pintu masuk ke dalam masjid disekat dan ditutup. Prioritas utama membuka pintu untuk keluar atau exit.  Yang diberikan kesempatan untuk masuk kadang-kadang jamaah yang berpakaian ihram di beberapa pintu yang terbatas. Agak lama menunggu, bisa lebih setengah jam atau satu jam setelah selesai shalat subuh baru dibuka sekat-sekat tadi. 

Kecuali untuk masuk di tanjakan ke Ajyaad Gate di samping kediaman atau Rumah Raja. Jalur ini langsung ke Lantai 2 tawaf. Pagi-pagi setelah shalat jelas tawaf di sini agak berdesakan dan sumpek. Mudah dijangkau bagi yang sudah shalat subuh di lantai ini. Kadang juga terlindas kaki kita oleh kursi roda pengemudinya. Orang tua dan tidak sanggup berjalan kaki untuk tawaf, bisa juga naik kursi roda, didorong oleh anak cucunya, bisa juga disewa atau upah kepada banyak pengemudi kursi roda di sini antara SR200 - SR250 untuk tujuh putaran atau keliling.

Rabu (12/04/2023)
Puasa Hari ke-21
Hari ke-13 di Makkah

Tawaf Sunat ke-12
Alhamdulillah....
Tadi terlambat bangun subuh, shalat subuhnya tidak ke Haram tapi di hotel saja. Semalam karena terlambat tidur dan istirahat. Pukul 00.30 terbangun, ingat bahwa dinihari ini dimulai shaulat malam atau tahajud tepat Hari Puasa Ramadhan ke-21. Sekitar pukul 02.00 dinihari selesai shalatnya 10 rakaat dengan dua-dua salam dan ditambah witir 2 rakaat+1 rakaat, sehingga berjumlah seluruhnya 13 rakaat. Tapi tidak seluruhnya terikuti, turun dan keluar hotel sudah terlambat, sehingga tarawih dapat terikuti hanya sebanyak 6 rakaat saja. Lalu pulangnya kembali tidur. Akibatnya subuhnya terlambat.

Setelah shalat subuh di mushala hotel langsung menuju ke Haram. Alhamdulillah..., sudah bisa masuk segera ke lantai 2 tawaf melalui Ajyaad Gate. Pukul 06.03 mulai start di Lampu Hijau dan pukul 07.04 berakhir 7 putaran sesuai dengan rukunnya. Alhamdulillah... masih diberiNya kesehatan dan kekuatan yang baik oleh Allah ﷻ dalam neningkatkan ibadah.
Alhamdulillah wasyukurillah.

Selesai shalat bakda tawaf dan shalat dhuha maka mau bersih-bersih lagi ke luar Haram,  mungkin menuju Toilet Wc 2 Laki-laki melalui Ajyaad Gate.

Rabu( 12/04/2023)
Puasa Hari ke-21
Hari ke-13 di Makkah

Menunggu Waktu Shalat Dzuhur,
Tadi sehabis tawaf subuh, hanya istirahat di pelataran WC2 Laki-laki.  Sebelumnya bersih-bersih dulu sehingga enak dan nyaman istirahatnya. Mungkin juga sempat tertidur beberapa saat, karena sudah terasa panas matahari menimpa wajah. Rupanya sudah hampir pukul 11.00 siang, sudah tidak mungkin kembali ke hotel.

Kembali bersih-bersih ke toilet dan membasahi badan agar lebih segar. Setelah itu langsung menuju Ajyaad Gate untuk masuk Haram Lantai 2 Tawaf, agar bisa mencari duduk untuk shaf yang lebih nyaman.  Sudah penuh juga oleh jamaah mulai dari Gate 87 sampai Gate 89. Terus menyusuri menantang arus lintasan Tawaf. Akhirnya ada peluang untuk dijadikan shaf-shaf shalat, sehingga asykar menyuruh rapikan tempat duduk tersebut. Dalam menunggu waktu masuknya shalat dzuhur,  mencoba membaca Surah ke-20 Thaa Haa melalui digital HP. Juga berdzikir-dzikir.

Rabu (12/04/2023)
Puasa Hari ke-21
Hari ke-13 di Makkah

Jelang pukul 23.00 waktu KSA
Mau Tarawih di Dalam Masjidil Haram, 
Malah Batal....

Walaupun sudah masuk ke dalam Masjid Haram, belum tentu akan dapat bergabung berjamaah dengan shalat yang akan atau sedang dilaksanakan. Tidak saja shalat fardhu ataupun shalat Tarawih.  Contohnya malam ini, pukul 20.30 sudah masuk lewat Gate 87, lalu naik dengan eskalator langsung ke lantai 3 lintas Tawaf. Ke kiri tersumbat, ke kanan tersumbat sedang dari eskalator jamaah dari bawah makin banyak naik. Akhirnya dijebol tempat berdiri asykar  untuk bisa ikut shalat isya. Dapat ikut tiga rakaat bersama jamaah-jamaah yang lain. Selesai shalat isya lalu diusir semua untuk melanjutkan jalan arah ke kiri. Shalat tarawih sudah dimulai, tidak ada kesempatan untuk jalan lagi, sudah tumplek! Maju kena, mundur kena!  Lalu diarahkan untuk exit!

Karena sedang pegang HP dan sedang on, dianggap ikut merekam dan vidiokan pengusiran untuk ikut shalat tarawih berjamaah tersebut. Mungkin sang asykar tahu bahwa dia hardik-hardik jemaah dividio dan direkam? HP pun diperiksanya. Dia tak percaya, bahwa dia tidak direkam dan dividiokan,  sudah dibilang:"La...la....la!", lalu HP dipulangkannya! Padahal di lintas itu masih banyak ruang kosong untuk bisa ikut berjamaah! 

Payah juga mencerna dengan pikiran ini, mengapa jamaah diusir kembali keluar dari mengisi ruang-ruang kosong di dalam masjid ini? Apakah ini merupakan suatu protap? Kalau imam sudah memulai Allahuakbar, Takbiratul Ihram, maka tidak satupun boleh jamaah masuk atau mencari tempat kosong lagi dalam masjid? Jika begitu kan bisa saja dari lantai bawah semua Pintu atau Gate diblokir dan dikunci. Biarkan saja jamaah yang tumplek di luar ini menikmati shalat dengan suara imam yang merdu itu di pelataran dan terik sengatan panas mentari!

Semua jamaah yang bersamaan naik eskalator tumplek tadi langsung turun kembali, diarahkan semua exit! 

Di pelataran depan Tower Zam-zam pun banyak ruang kosong yang disekat-sekat, tapi banyak  tidak diperbolehkan untuk jamaah.

Jangan kecewa! Balik sajalah pulang! 

Allah ﷻ benar yang tidak mengizinkan melalui tangan-tangan asykar Masjidil Haram tersebut! Sudahlah, jangan kau ambil pula pahala yang lebih besar dalam Masjidil Haram ini, Cukuplah yang kecil-kecil saja pahalanya di luar sana! Seakan begitu dibentakkan ke telinga ini!

Tersadar juga jadinya, karena beberapa hari ini berpikir dan menganalisa sendiri tentang banyaknya jamaah yang mengikuti shalat j'berjamaah di Masjidil Haram tersebut hanya di trotoar, beranda-beranda toko dan kantor, hotel,  di median jalan, trotoar. Padahal Haram begitu dekat!

Kenapa kerja mubazir? Sudah jauh-jauh dari negaranya, contoh saja dari Indonesia, mahal lagi ongkosnya setidaknya Rp50 jutaan, cuma mau shalat di emperan dan trotoar itu?

Barangkali,  mereka tidak mau seperti tadi, kena usir, kena gusur, bahkan sudah selesai pula satu putaran tawaf pun tidak juga bisa duduk bershaf untuk ikut berjamaah? Yah, biarlah di sini saja! Cukuplah pahalanya sekadarnya, pahala emperan, pahala trotoar saja, dari pada dihardik, digusur dan bahkan disuruh exit tidak bisa ikuti berjamaah begitu!
Astaghfirullah....
Astaghfirullah...
Astaghfirullah....

Akhirnya apa lagi?
Terimalah konsekuensi pembalasan atas pikiran yang menyalahkan orang lain!

Menyalahkan kenapa tidak dapat masuk berjemaah ke dalam Masjid Haram!

Kenapa di emperen, di trotoar atau di median jalan?

Karena tarawih masih panjang, kembali ikut shalat  tarawih  berjamaah di trotoar jalan depan Terminal Ajyaad seperti malam kemarin saja. Bergabunglah lagi dengan jamaah-jamaah yang "kau" anggap sia-sia itu.

Ya, sekadar itulah pahala yang kau dapatkan, janganlah berharap banyak kalau perjuangan hanya sekadar itu.
Allahuakbar...
Allahuakbar....
Allahuakbar....
(Makkah, jelang tengah malam)

Catatan sebelumnya

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama