Peringatan Hari Kopi Nasional Menginspirasi Petani Sumbar

0

Laporan Zakirman Tanjung



KOPI
kerap diplesetkan oleh para penggemarnya sebagai ketika otak perlu inspirasi. Menikmati secangkir ☕ hangat pada saat tertentu ternyata memang menyegarkan tubuh sekaligus me-reffresh otak. 


Selama dua hari, Rabu-Kamis (23-24/3/2022), para penggemar kopi di Sumatra Barat (Sumbar) menghelat kegiatan Peringatan Hari Kopi Nasional yang jatuh pada tanggal 11 Maret. Iven berawal di Kota Padang, Rabu pagi, berlanjut ke Kabupaten Solok hingga Kamis siang.



Di Padang, acara berupa peresmian Sekretariat Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) Perwakilan Provinsi Sumbar oleh Ketua Umum Dekopi Dr Ir Anton Apriyantono MS (Mantan Menteri Pertanian RI 2004-2009) bertempat di sebuah kafe di Jalan Ujung Gurun Nomor 152. 


Ivent ini digagas oleh Ketua Dekopi Perwakilan Provinsi Sumbar Ir H Fajaruddin dan Sekretaris Ir Nurdan MSi bersama jajaran pengurus. Terlihat hadir antara lain Penasihat Dekopi Ir H Mahatma Gandhi, pengusaha asal Lampung yang beristrikan perempuan Minang.



Usai pembukaan selubung papan nama Sekretariat, kembali masuk ruangan kafe, acara dilanjutkan konferensi pers dengan sejumlah wartawan - selengkapnya dapat disimak dalam tayangan youtube berikut. 




Pada kesempatan ini Ketua Umum Dekopi Dr Ir Anton Apriyantono MS mencanangkan Bung Biko (Nabung Bibit Kopi), suatu inisiasi gerakan menabung bibit tanaman kopi untuk konservasi alam dan pelestarian lingkungan serta peningkatan ekonomi petani. 


Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tanaman kopi memiliki fungsi konservasi, hampir sama dengan tanaman hutan. Tanaman kopi terbukti efektif mencegah erosi dan mampu mengikat tanah. Memiliki tajuk batang berlapis, tanaman kopi melindungi tanah dari tetesan air hujan langsung. 


Kopi juga butuh pohon pelindung sementara dan tetap. Keberadaan pohon pelindung sekaligus berfungsi sebagai penjaga kualitas lingkungan yang baik karena - bersama tanaman kopi - menghasilkan oksigen (O²) melimpah serta menyerap karbondioksida (CO²) dengan sangat baik. 


Dengan ikut serta dalam gerakan ini, berarti kamu turut berkontribusi terhadap penanganan perubahan iklim dan peningkatan kualitas kopi yang lebih baik. Selain itu, kamu pun ikut berperan meningkatkan ekonomi petani loh, Guys! Kuys, ayo ambil bagian untuk ikut peduli jaga bumi demii keluarga kita kini dan nanti. 



Untaian kalimat sebagaimana yang saya kutip dengan cetak miring di atas tertera dengan jelas pada kotak Bung Biko. Menurut Anton Apriyantono, kotak ini akan disebar dan diletakkan pada kafe-kafe di seluruh Indonesia.


Selesai pukul 11.03, rombongan Dekopi melanjutkan perjalanan menuju lokasi acara Peringatan Hari Kopi Nasional di Ekowisata Bukik Tabuah Solok Radjo, puncak suatu bukit di Nagari Aie Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. 


Namun, sebelum mencapai lokasi acara peringatan, rombongan mampir ke Masjid Ummi - Alahan Panjang. Ternyata tak hanya untuk shalat dzuhur, Anton Apriyantono bersama rombongan didaulat oleh Dr dr Satya Wydya Yenny SpKK(K) - dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas - untuk meresmikan (soft opening) Toko Kopi Kita miliknya yang berlokasi di halaman depan masjid. 



Usai acara peresmian, Satya Wydya Yenny menjamu kami Makan Siang Bersama di Satya Garden's yang berlokasi di atas pebukitan dengan udara yang sangat sejuk.


Menjelang sore barulah kami tiba di Ekowisata Bukik Tabuah Solok Radjo. Kalau dilihat dari Jalan Raya Lubuk Selasih - Surian, bukit itu cukup dekat, sekira 300 meter. Namun, untuk mencapainya dengan mobil, kami harus memutar sejauh 2,8 km dengan kondisi jalan kecil dengan pengerasan koral dan kerikil. 


 Sepintas, bukit itu terkesan biasa saja. Gundukan tanah keras kira-kira 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan gersang, nyaris tanpa pohon pelindung, tetapi udaranya sangat sejuk walau di siang hari, dikelilingi beberapa bukit lain di kejauhan dengan panorama beberapa rumah-rumah peladang.


Pada dataran tinggi-rendah di puncak Bukik Tabuah terdapat satu tempat ibadah mungil berukuran 4x4 meter tetapi bersih dan terkesan cukup mewah,.Mushalla Adinda (Aie Dingin Damai), dilengkapi dua kran air untuk berwudhu' di halaman serta dua kafe sederhana dan tanah lapang yang mampu menampung parkir puluhan mobil. 


Mendaki sekira satu meter, terdapat satu tenda panjang berisi beberapa konter kopi, beberapa tenda tempat tidur, satu unit toilet berdinding dan beratap seng putih dengan tiga pintu kamar mandi berisi masing-masing satu ember ukuran menengah (±20 liter) plus kran air yang cukup lancar jika dibuka dan water clossed (wc) jongkok dengan lantai batu pecah kecil-kecil. Agak ke atas lagi terdapat satu tenda besar berukuran ±8x15 meter tempat acara dengan ±100 kursi peserta. Di bagian depan ada pelataran yang ditinggikan ±8x3 meter yang ditata cukup elit. 


Di dalam tenda itulah berlangsung temu wicara bersama 60 orang utusan petani kopi se-Sumbar, Rabu sore hingga menjelang maghrib, dengan narasumber Anton Apriyantono, Mahatma Gandhi, Kepala Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember Dr Agung Wahyu Susilo SP MP dan Ir Fajaruddin. Diskusi terkesan hangat dan komunikatif, terlebih ketika Mahatma Gandhi menceritakan pengalamannya membangun dan mengelola bisnis kopi-nya di seluruh Indonesia hingga Makkah, Saudi Arabia. Para petani pun menyatakan terinspirasi untuk bangkit dan mengembangkan bisnis perkopian, tak hanya sekadar bertanam kopi.


Dalam temu wicara terungkap, perlahan namun pasti kopi arabika asal Sumbar terus menebar aroma dari satu festival kopi ke festival kopi lainnya. Di antaranya adalah Sumatra Arabica Solok Minang yang pernah tampil dalam Pameran Kopi Speciality di Seattle, AS tahun 2017 lalu.


Dari berbagai pameran ini pulalah tak mengherankan bila penikmat kopi di seantero dunia mulai meminati kopi asal Sumbar. Hal ini dikarenakan wilayah Sumbar merupakan salah satu daerah penghasil biji kopi terbaik yang ada di Indonesia.


Bahkan, produksi kopi dari Sumbar telah pula merambah pasar internasional, seperti  Amerika hingga negara di benua Eropa. Tercatat saat ini negara-negara seperti Australia, Inggris dan Korea merupakan pasar utama kopi arabika dan robusta yang dihasilkan petani kopi Sumbar.


Menurut Ketua Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) Sumbar Fajarudin, saat ini luas wilayah perkebunan kopi di Sumbar mencapai sekitar 27 ribu hektare. Sementara produksi kopi mencapai 17 ribu ton pertahun.


Ia mengatakan, sebanyak 20 persen di antaranya adalah kopi arabika yang tumbuh di dataran tinggi. Sementara 80 persen lainnya merupakan kopi robusta.


Untuk tahun 2022, Dekopi memutuskan mengadakan puncak peringatan Hari Kopi Nasional Indonesia ke-4 yang jatuh pada 11 Maret 2022, yang dipusatkan di Sumatra Barat (Sumbar), tepatnya di Kopi Radjo, Air Dingin, di Kabupaten Solok.


Di antara kegiatan yang diadakan di Sumbar adalah diskusi dengan sejumlah pemateri, malam kesenian, kampanye kopi Minang, lomba membuat kopi telur, penanaman bibit kopi dan lainnya. Kegiatannya dipusatkan di Kabupaten Solok dari Rabu (23/3/2022) sore hingga Kamis (24/3/2022) siang


Sementara itu, Ketua Umum Dekopi Anton Apriyantono mengatakan, peringatan Hari Kopi Nasional dibahas sejak tahun 2017 di Yogyakarta dan kemudian diperingati pertama kali di tahun 2018. Saat ini Dekopi sudah memiliki kepengurusan di sembilan daerah, di antaranya Sumbar.


Pembentukan Dekopi ini bertujuan mengkoordinasikan seluruh insan atau semua yang berkepentingan di bidang perkopian. "Dengan berhimpun tentu kita harapkan ada sesuatu kekuatan,” kata Anton Apriyantono.


Ia pun menyatakan harapan, melalui wadah organisasi Dekopi ini, semua bisa bersinergi untuk mencapai sesuatu di bidang perkopian.


“Yang terpenting, dengan berhimpun membuat pihak perkopian tidak terlalu mengharapkan bantuan hanya kepada pemerintah, tetapi ada inisiasi sendiri untuk mempercepat perkembangan kopi di Indonesia,” katanya lagi.


Menurutnya, Sumbar memiliki banyak potensi kopi yang dapat dikembangkan. Untuk itu, insan kopi di Sumbar perlu memikirkan nilai tambah untuk pengembangan ke depan. Sehingga konsumsi kopi di dalam negeri bisa meningkat dan tidak mengandalkan impor.


“Kita berharap konsumsi kopi di dalam negeri bertambah, dan kita harapkan mulitiplayer efeknya, kalau kita impor nilai berapa sih? Kalau dalam negeri tentu lebih banyak orang dapat pekerjaan, rantai efeknya panjang,” ujarnya.


Rombongan Dekopi Pusat dan Perwakilan Sumbar menginap di dua vila, Villa Kencana dan Villa Kayu Putih, di Jorong Galagah, Nagari Alahan Panjang, berjarak ±9 km dari Bukik Tabuah - lokasi acara. Kamis pagi, rombongan sudah berada kembali di lokasi acara. Kegiatan berawal dengan penyambutan Gubernur Sumbar diwakili Asisten II Sekdaprov H Wardarusmen SE MM, Penasihat Dekopi Sumbar Prof Dr Musliar Kasim, Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Ir H Syafrizal (Jejeng) serta Bupati Solok diwakili Asisten II Sekdakab Dr Syahrial MM



Acara selanjutnya seremonial. Peringatan Hari Kopi Nasional berisi laporan panitia, Ir H Fajaruddin, pemaparan Anton Apriyantono, sambutan Bupati Solok dan Gubernur Sumbar, berakhir dengan penyerahan hadiah kepada pemenang lomba membuat kopi telur dan beberapa sertifikat. (*)

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(50)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top