AKULAH CALON MAHASISWA PALING GOBLOG

Catatan Zakirman Tanjung


INI
pengalaman sangat berbekas dan tak mungkin kulupakan. Untuk kedua kalinya, aku mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN), 6 & 7 Juni 1990. Sebelumnya, aku menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Sicincin, Kabupaten Padang Pariaman, tahun 1989.


Pada UMPTN pertama aku memilih Program Studi (Prodi) Psikologi Universitas Indonesia dan Prodi Sosiologi Universitas Andalas (Unand). Namun, saat itu aku belum beruntung lulus menjadi calon mahasiswa. Kepala Desa Balai Satu, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung, pun memintaku menjadi sekretaris desa.


Setelah enam bulan aku melaksanakan tugas, kepala desa pergi ke Pulau Jawa untuk suatu urusan. Namun, setelah hampir satu bulan tidak pulang dan tak bisa dihubungi, aku pun meminta Camat Drs Maryunas Mahyuddin menerbitkan surat penunjukan diriku sebagai pelaksana tugas kepala desa.


Itu sekadar latar belakang. 


Kembali ke pengalaman mengikuti UMPTN 1990. Kali ini aku memilih Prodi Jurnalistik Universitas Padjadjaran dan Sastra Indonesia Unand. Sehari sebelumnya aku berangkat ke Kota Padang dan menumpang menginap di tempat kos Yulfian Azrial, mahasiswa Fakultas Ekonomi Unand, di Jalan Situjuh II.


Lantaran sudah berpengalaman mengikuti UMPTN 1989, aku merasa tidak perlu meninjau lokasi ujian. Dari denah yang kulihat selayang, aku dapat tempat ujian di Gedung Fakultas Kedokteran Unand di Jalan Perintis Kemerdekaan.


Malam itu, bukannya menghafal, aku malah mengikuti Yulfian yang kusapa Da Yum nonton film di bioskop. Pulang menjelang tengah malam, tak pula langsung lelap, tetapi berbincang dulu sembari tiduran. Alhasil, aku bangun kesiangan, sudah melewati jam tujuh pagi.


Tanpa sempat mandi, kecuali cuci muka, aku berangkat menuju Kampus Kedokteran. Mengingat ujian dimulai jam 08.00, aku sarapan teh manis dan lontong dulu di warung terdekat. Saat itulah terlihat seorang teman seangkatan di SMA Sicincin, Aida. Ia berjalan mendekatiku dan menanyakan di mana lokasi Fakultas Ekonomi Unand.


Meski telah kujelaskan secara detil, Aida tetap ngotot memintaku mengantarkannya. Setelah kupertimbangkan masih ada waktu sekitar 25 menit, aku pun mengantarkan gadis itu yang pernah kusukai waktu sekolah. Ia pun bersedia memberiku uang Rp100 sebagai ongkos angkot (angkutan kota) untuk kembali ke Kedokteran.


Tidak sekadar hingga depan kampus, Aida kuantarkan sampai ke ruang ujian, bahkan ke bangku yang hendak dia duduki. Setelah menerima selembar uang seratus rupiah, aku kembali ke Kampus Kedokteran.


Saat itulah aku tergugu. Ketika membaca tempelen pada papan pengumuman di depan fakultas, aku langsung menyadari telah salah tempat. Sebab, di Kedokteran hanya untuk peserta UMPTN dengan nomor 00001 s/d 00200, sedangkan -- setelah kuperiksa dan kucocokkan -- nomor ujianku 00999. Sebelumnya aku mengira nomorku 00199.


Waduh! Bagaimana mungkin aku bisa mencari lokasi tempat ujian? Sedangkan denah tak pula aku bawa. Bagaimana kalau lokasi tempatku ujian jauh? Padahal waktu sudah menunjukkan 07.53. Celaka!


Linglung sekaligus merasa sebagai calon mahasiswa paling goblog, aku mencari-cari teman yang mungkin kukenal untuk meminjam denah. Bertemu Wasril Nursyam (kini almarhum), juga teman seangkatan di SMA Sicincin, dia juga mengaku tak membawa denah.


Tiada pilihan lain, aku melangkah menuju kantor fakultas, bermaksud menemui panitia UMPTN. Bukannya langsung mendapat penjelasan atau informasi yang kubutuhkan, beberapa panitia malah mem-plonco atau memarahiku. Setelah aku memohon-mohon, barulah seorang di antara mereka memperlihatkan denah.


Ternyata, lokasi tempatku ujian di Kampus Fakultas Ekonomi, tempat yang tadi kukunjungi untuk mengantarkan Aida. Dengan berlari aku menuju pinggir jalan, menyeberang dan melompat  menaiki angkot yang lewat. Untung jalanan tak macet. Dalam waktu empat menit aku sampai ke ruangan yang kutuju. Ternyata tempat dudukku nyaris bersebelahan dengan Aida. Kalau aku tak salah ingat, nomornya 00996.


Meski dengan kondisi tidak nyaman lantaran menderita batuk dan flu, meski sering minta izin ke toilet, aku berhasil menjawab pertanyaan dan mengisi lembar jawaban. Hari pertama itu, kalau aku tak salah ingat, ada dua bidangstudi, besoknya satu bidangstudi.


Alhamdulillah(!) sewaktu pengumuman keluar, bulan Agustus, nomor dan namaku termasuk di antara peserta UMPTN yang dinyatakan lulus. Bahkan, dari 40 peserta yang satu ruangan ujian denganku, nomor 00961 s/d 01000, hanya dua orang yang beruntung dan dinyatakan lulus.


Lulus pada pilihan kedua, aku pun menyiapkan diri untuk mengikuti proses pendaftaran ulang dan pemeriksaan kesehatan. Banyak kendala yang kuhadapi, terutama menyangkut biaya. Namun, kesulitan demi kesulitan Insya Allah bisa kulalui.


Sekitar tiga hari menjelang perkuliahan dimulai, tepatnya Penataran P4 plus Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Opspek), aku mengundang tokoh-tokoh masyarakat untuk berkumpul di kantor kepala desa. Dalam rapat malam itu aku menyatakan pengunduran diri dan meletakkan jabatan kepala desa. Selanjutnya, aku memimpin rapat guna mencari dan memilih pelaksana tugas kepala desa penggantiku.


Sayangnya, impianku menjadi tukang sarjana tidak kesampaian. Aku kuliah hanya dua semester, selanjutnya mengajukan istirahat. Alasan ekonomi menjadi penyebab aku harus memilih istirahat. Setiap kali pulang kampung, Kamis atau Jumat, kulihat wajah ibu semakin tua -- mungkin memikirkan biaya yang akan kubawa ke Padang setiap Minggu sore atau Senin pagi.


Awal semester empat aku tak lagi mengajukan permohonan perpanjangan istirahat kuliah. Berhenti, itulah pilihanku. Beberapa teman dekat tampak nyaris menangis mendengar keputusanku. Tetapi, aku harus tegar!


Kepada mereka kukatakan, "Teruslah kalian kuliah. Mudah-mudahan kelak kita sama-sama menjadi sarjana, magister, doktor atau malah professor walau melalui jalur berbeda." 


Di dinding Kampus Fakultas Sastra Unand di Limau Manis kutempelkan kertas karton bertuliskan: Dengan ini saya memecat Prof Dr Ir Jurnalis Kamil MSc dari jabatan rektor Unand, memberhentikan Prof Dr Azis Saleh MA dari jabatan dekan Fakultas Sastra dan membebas-tugaskan dosen-dosen. Caranya, saya tidak lagi kuliah di kampus ini.


Alhamdulillah..., walaupun kuliah hanya dua semester, aku bersyukur lantaran telah memiliki wawasan almamater: aku tak lagi canggung berhadapan dengan doktor atau professor sekali pun dalam melaksanakan  aktivitas profesiku sebagai wartawan, bahkan dalam banyak kesempatan aku justru menjadi konsultan bagi mereka. (*)

Baca juga Perjuangan Menjadi Penulis dan Wartawan

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama