Kota Bukittinggi Ikuti Pra Kongres Jaringan Kota Pusaka Indonesia Ke V Di Aceh

Marfendi dapat oleh oleh dari Walikota Banda Aceh Aminullah Usman



Aceh, -Pemerintah kota Bukittinggi mengikuti Pra Kongres Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang dihadiri wakil walikota Bukittinggi Marfendi, di Balai kota Banda Aceh,Provinsi Aceh pada (29-30/3/2021) lalu.
 

"Ada 33 kabupaten dan kota mengikuti pra rakornas jaringan  pusaka se-Indonesia,yang dihadiri 15 Bupati dan Walikota di Indonesia dengan tujuan mengadakan Kongres JKPI ke-V yang Inshaalah pada 25 Oktober 2021 mendatang di Bogor," jelas Marfendi kepada wartawan di kantornya, Kamis (1/4/2021).


Wakil walikota itu mengatakan pada Pra Kongres di Aceh itu diikuti perwakilan dari Sumatera Barat  selain Bukittinggi ada kota Sawah Lunto, bertujuan untuk membahas poin poin pada konggres nanti,melihat sejauh mana kesiapan tuan rumah kota Bogor untuk menggelar rapat koordinasi atau konggres untuk mengadakan Seminar Internasional tentang "Heritage" (warisan pusaka).


Disampaikannya salah satu poin yang dibahas adalah mengenai wacana perpindahan ibu kota pemerintahan Indonesia ke Kalimantan Timur yang telah di inisiator Presiden Jokowi.



Perihal itu sebut Marfendi peserta seminar Internasional di Aceh juga akan mengusulkan ibu kota kebudayaan Indonesia,yaitu Aceh merupakan salah satu kota yang di nominasikan.


"Yang menarik adalah Seminar Internasional pada jadwal hari kedua dengan pemateri Arkeolognya dari Aceh,budayawan dari NTB,direktur UNESCO perwakilan Indonesia, Jepang dan Kirgistan, banyak hal yang bisa kita jadikan pusaka budaya (heritage),"ungkap Marfendi.


Lebih lanjut disebutkan di Kirgistan ada salah satu tempat keramat yang dipatenkan sebagai heritage ke UNESCO,"di Bukittinggi sendiri kalau tempat yang bisa di akui sebagai heritage sangat banyak,bukan seperti tempat keramat yang ada di Kirgistan.


"Ngarai Sianok,Jam Gadang,lobang Jepang bahkan budaya Minang dengan keaneka ragamannya bisa saja di usulkan ke UNESCO ,"Kita punya tari piring yang sudah di patenkan  oleh masyarakat Kurai Garegeh dari sanggar "Parak Batuang" ke Unesco,"ulas Marfendi.


Disebutkannya perlunya mempertahankan heritage sesuatu yang luar biasa dari Bukittinggi,dengan membuat pola serta sejarah tertulisnya bisa diajukan ke Unesco.


Berharap kedepan dengan telah dilakukannya lawatan seminar yang juga diikuti oleh Diknas  dan Kabid Budaya kota Bukittinggi serta Kepala Dinas Perpustakaan dan  Ke arsipan  kota Bukittinggi itu agar diklarifikasikan apa saja yang bisa dijadikan heritage baik berupa fisik maupun non fisik,"kita juga menginginkan untuk tahun depan pra rakornas kongres bisa di gelar di kota Bukittinggi," kata Marfendi. (nas).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama