Peran Media dalam Mengawal Penanganan Pandemi Covid-19

Catatan Fathur Rahmi Afdhila *) 

DEWASA ini masyarakat Indonesia ,bahkan dunia, sedang diguncang oleh bencana tak kasat mata, tetapi mampu meluluhlantakkan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Jenis virus yang pertama kali diidentifikasi pada akhir tahun 2019 di Wuhan, ibukota Provinsi Hubei - China, ini telah menyebar secara global, bahkan saat ini telah menyentuh angka 1.174.779 korban terinfeksi di Indonesia. 

Pandemi corona virus disease 2019 (covid)-19 bukan hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, melainkan juga terhsdap ekonomi yang mengalami penurunan drastis. Di balik semua fenomena yang tengah terjadi, masyarakat hanya dapat bergumul dengan kebingungan yang terkesan tidak ada habisnya, emosi masyarakat terkuras, dipermainkan oleh pemberitaan yang bahkan tidak tahu kebenarannya. 

Pada sisi lain, media massa bukan memberi penenangan dengan memberitakan informasi yang benar dan kredibel sebagai upaya kontrol sosial, malah terkesan memanfaatkan situasi demi meraup keuntungan. Apakah keadaan ini bukan masalah bersama, yang mana  seluruh kalangan seharusnya menghadapi dengan bijak dan mengambil langkah terbaik? Hendaknya seorang jurnalis berpegang teguh pada kode etik dengan menyampaikan berita akurat, berimbang dan harus terlebih dahulu melalui pengujian informasi, apalagi di masa-masa sulit seperti saat ini.

Media massa yang seharusnya berperan sebagai wadah informasi bagi masyarakat hendaknya mampu membaca situasi. Bukan malah menyiarkan pemberitaan sensasional yang berdampak pada keresahan masyarakat luas. Jika hal ini masih diteruskan, maka akan  semakin terjadi ketimpangan yang sulit dibendung antara realita dan persepsi publik. 

Saat ini, berbagai pihak seolah menjelma sebagai ahli covid-19 dan berhak berbicara di depan publik untuk menjelaskan fenomena yang bahkan bukanlah bidangnya. Keadaan kian diperburuk oleh berita hoax yang beredar untuk menyesatkan masyarakat yang diiming-imingi keuntungan. Seperti yang baru-baru ini terjadi, banyak masyarakat yang termakan Hoax mengenai pengobatan dan pencegahan covid-19 yang tidak berdasarkan penelitian ilmiah, sehingga menyebabkan masalah kesehatan yang lainnya, sungguh sangat disayangkan. 

Melalui fenomena covid-19 ini pemberitaan media justru lebih berkembang pesat dibandingkan dengan virus itu sendiri. Kepanikkan masal beserta spekulasi publik yang terus berkembang tanpa bisa dihentikan tentu menyumbang banyak akibat di berbagai sektor sosial. Saya tidak bicara bahwa pemberitaan covid-19 harus dihentikan, namun seharusnya pemberitaan yang didengar masyarakat adalah pemberitaan kredibel mengenai kewaspadaan dan himbauan untuk melaksanakan protokol kesehatan, bukan hiruk pikuk pemberitaan yang tidak mendasar.

Yang dibutuhkan saat ini adalah kebijaksanaan dalam mengelola informasi yang tepat, setidaknya untuk mengawal penanganan akibat covid-19 dari segala aspek. Dalam keadaan seperti sekarang ini media hendaknya mampu membangun optimisme publik, bukan malah memperburuk keadaan. Ketika masyarakat tenggelam dalam kepanikan berlebihan, dan membesar-besarkan peristiwa lebih dari yang sebenarnya, tentunya akan berdampak pada kelancaran penanganan covid-19, bukan hanya berimbas pada daya imun tubuh yang menurun akibat stres tetapi juga memberi efek pada perputaran roda ekonomi. 

Seiring propaganda media yang kian merebak, simpang-siur pemberitaan seakan ditelan mentah-mentah oleh masyarakat. Bukan hanya berdampak pada kepanikan berlebihan, namun juga ada pemberitaan yang menggiring masyarakat untuk acuh tak acuh pada kebijakan pemerintah, bahkan baru-baru ini ada gerakan anti vaksin di kalangan masyarakat yang diakibatkan terprovokasi oleh pemberitaan isu yang belum jelas kebenarannya. Masih banyak lagi pemberitaan yang tidak kredibel berimbas pada prilaku masyarakat yang justru mempersulit penanganan Covid-19.

Di balik permasalahan pelik yang tengah melanda negeri ini, masyarakat sebaiknya dapat memilah-milah informasi yang diterima. Karena saat ini Indonesia tengah berada dalam posisi dilematis antara kesehatan masyarakat dan perbaikan ekonomi. Oleh karena itu, tantangan yang saat ini Indonesia hadapi bukan hanya sekadar kesehatan masyarakat namun juga kestabilan ekonomi, keduanya harus mendapat perhatian secara bersamaan. Dengan begitu, sangatlah dibutuhkan kerjasama serta kontribusi seluruh kalangan baik pemerintah, pemilik media maupun masyarakat untuk bahu membahu fokus pada penanganan yang pasti.


*) Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama