CANANGNEWS- Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terus mempercepat pemulihan sektor pertanian terdampak bencana hidrometeorologi. Salah satu langkah dilakukan yakni membangun infrastruktur irigasi perpipaan di 27 titik yang tersebar pada sejumlah kecamatan, dengan dukungan anggaran mencapai lebih dari Rp2,5 miliar.
Program tersebut diarahkan untuk memastikan lahan pertanian yang mengalami gangguan akibat bencana kembali memperoleh dukungan pengairan, sehingga aktivitas bercocok tanam masyarakat dapat berangsur normal.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Agam, Heri Prasetyo Wibowo, mengatakan pembangunan jaringan irigasi perpipaan menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memulihkan produktivitas pertanian setelah bencana melanda sejumlah wilayah.
Menurutnya, sektor pertanian merupakan salah satu bidang yang turut mengalami dampak akibat bencana. Karena itu, penyediaan kembali infrastruktur pendukung menjadi langkah penting agar petani dapat melanjutkan kegiatan usaha taninya.
"Pembangunan irigasi perpipaan ini diprioritaskan untuk lahan pertanian yang terdampak bencana alam, dengan sasaran 27 titik yang tersebar di sejumlah kecamatan," ujar Heri saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (8/9).
Ia menjelaskan, 27 unit irigasi perpipaan yang dibangun tersebut diproyeksikan mampu mendukung pengairan lahan pertanian dengan total luas sekitar 400 hektare.
Kapasitas layanan setiap unit berbeda sesuai kondisi dan kebutuhan lahan. Satu unit irigasi perpipaan diperkirakan mampu mengairi areal pertanian seluas 10 hingga 25 hektare.
Heri menyebut seluruh tahapan pembangunan telah rampung pada akhir Juli 2026. Dengan selesainya pembangunan tersebut, pemerintah berharap infrastruktur yang telah disediakan dapat segera dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok tani untuk menunjang kembali aktivitas pertanian mereka.
"Alhamdulillah, tahapan pengerjaan irigasi perpipaan ini secara keseluruhan telah dituntaskan pada akhir Juli 2026 kemarin. Kami berharap program pemulihan ini dapat dimanfaatkan oleh petani," katanya.
Adapun pembangunan infrastruktur pengairan tersebut tersebar di Kecamatan Canduang, Baso, Malalak, Tanjung Raya, Matur, dan Palembayan.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah menerapkan mekanisme swakelola dengan melibatkan kelompok tani sebagai pelaksana kegiatan. Setiap unit pembangunan mendapat alokasi anggaran sekitar Rp4,6 juta.
Heri mengatakan pola swakelola dipilih agar masyarakat, khususnya kelompok tani penerima manfaat, tidak hanya menjadi penerima hasil pembangunan, tetapi juga terlibat secara langsung dalam pengerjaan infrastruktur di wilayah mereka.
"Mekanisme swakelola sengaja diterapkan agar masyarakat dapat terlibat langsung dalam proses pembangunan infrastruktur pertanian di wilayahnya masing-masing," jelasnya.
Secara keseluruhan, pembangunan 27 unit irigasi perpipaan tersebut dibiayai dengan anggaran lebih dari Rp2,5 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Pemerintah Kabupaten Agam berharap keberadaan jaringan irigasi tersebut dapat menjadi salah satu penopang pemulihan sektor pertanian sekaligus membantu petani kembali meningkatkan produktivitas lahan yang terdampak bencana.




