PADANG PANJANG — Tumpukan sampah organik dari dapur yang dulu jadi masalah, kini berubah jadi peluang. UPTD Panti Sosial Bina Remaja Harapan Padang Panjang, Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat, menghadirkan inovasi Budidaya Maggot Solusi Sampah Organik Dalam Panti.
Inovasi ini lahir dari kondisi nyata di panti. Setiap 6 bulan, PSBR Harapan membina 100 orang remaja putri putus sekolah. Selama masa pembinaan, peserta diasramakan dan mendapat makan 3 kali sehari. Dari dapur panti setiap hari selalu ada sisa kulit buah, sayur, kulit telur, hingga ampas kelapa.
“Daripada dibuang ke TPA dan menambah beban lingkungan, lebih baik kita manfaatkan,” ujar Ka UPTD PSBR Harapan, Wendra Rovikto, SSTP, M.Si.
Sampah Dapur Jadi Pakan Bernilai Tinggi
Inovasi ini memanfaatkan lalat Black Soldier Fly atau BSF. Pada fase larva, maggot BSF dikenal sebagai “mesin pengurai” sampah organik. Satu kilogram maggot mampu menghabiskan 2 sampai 5 kilogram sampah organik seperti sisa makanan, sayur dan buah busuk hanya dalam waktu 2-4 jam. Kecepatan ini jauh melampaui pengomposan tradisional.
Setelah besar, maggot panen mengandung protein kasar 40-50% dan lemak berkualitas. Maggot ini bisa jadi pakan alternatif untuk ikan lele, nila, ayam dan bebek. Sementara sisa hasil cerna maggot yang disebut kasgot, bertekstur seperti humus dan kaya unsur NPK. Kasgot sangat baik digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman.
Dengan begitu tercipta ekonomi sirkular di dalam panti. Sampah berkurang, pakan ternak lebih murah, dan muncul pupuk untuk kebutuhan pertanian.
Didukung Payung Hukum Kuat
Inovasi ini tidak berjalan sendiri. PSBR Harapan mendasarkannya pada sejumlah regulasi. Mulai dari UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, hingga PP No. 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah.
Ada juga Permensos No. 04 Tahun 2020 tentang Rehabilitasi Sosial Dasar Bagi Anak Terlantar, PermenPAN-RB No. 08 Tahun 2015, Permendagri No. 17 Tahun 2016 dan No. 104 Tahun 2018, serta Pergub Sumbar No. 62 Tahun 2018 tentang Inovasi Daerah.
Sekaligus Sarana Pelatihan Keterampilan
Selain mengurangi volume sampah, budidaya maggot juga jadi sarana pelatihan baru bagi anak binaan. Para remaja putri diajarkan cara membudidayakan BSF dari telur, larva, pupa, hingga panen. Keterampilan ini diharapkan bisa jadi bekal usaha mandiri setelah mereka keluar dari panti.
Siklus hidup BSF sendiri cukup singkat. Lalat dewasa bertelur sekitar 1000 butir. Telur menetas 3-4 hari jadi larva kecil. Selama 21 hari larva tumbuh dan aktif makan sampah. Setelah itu masuk fase pupa selama 18 hari, lalu menetas jadi lalat dewasa dalam 7 hari sampai 1 bulan.
Dengan investasi relatif rendah, PSBR Harapan membuktikan bahwa masalah lingkungan bisa disulap jadi solusi ekonomi. Budidaya maggot kini menjadi salah satu model pengelolaan sampah organik di panti sosial yang efisien dan berdaya guna.(Re)
