Lah Masak Padi Rang Sumpu

Pilot Canang Sumbar
0

Kisah seorang ayah yang gigih, di sekolah dan di sawah, semoga berkah.


Sijunjung, canangnews.com_sabtu, 09/09/2023 sepulang dari sekolah saya ganti pakaian kemudian jalan menuju calau satu kampung kecil di kec. Sumpur Kudus, kab. Sijunjung. Mengunjungi salah seorang teman saya yang saat itu dia sedang manyabik (panen) padi.


Menelusuri jalan setapak di tepi bukit dengan alam nan indah sekali sepanjang jalan saya disuguhi pemandangan yang alami padi menguning, serta pondok-pondok kecil yang berada di tengah sawah, dari jauh saya perhatikan banyak petani di tengah sawah.


Padi banamo padi sambutan, banie dari manganti nasinyo lamak 😊


Tiba-tiba saya mendengar ada suara memangil saya dari sawah, ustadz! ustadz! siko a ucapnya, ooo..ternyata itu suara teman saya, alhamdulillah saya tidak salah jalan, padahal ini pertama kali saya ke sini. Saya turun, waw luar biasa saya lewati pematang kecil di tengah sawah.


Lansung saya keluarkan kamera andalan saya, saya ambil video dan beberapa gambar untuk dokumentasi, sayang juga moment ini kalau tidak saya abadikan, entah esok saya tak bertemu lagi moment seperti ini, kemudian saya sapa uni-uni yang sedang bekerja di sawah itu.


Saya tadi membantu uni-uni ini maelo padi 😊


Saya tanya apo namo padinyo ko uni? sambutan ustadz! ucapnya, yang sebelah sana? oo itu kuniang sarai, sebelahnya lagi putri aluih ucapnya. Saya bingung juga karena nama padinya berbeda dengan yang ada di kampung saya, biasanya kan ada sokan, anak daro, ampek duo dll.


Tapi itulah lain lubuk lain ikannya, lain padang lain pula ilalangnya, setiap kampung punya nama tersendiri meskipun padi juga disebut orang, biarlah namanya berbeda tapi intinya tetap padi juga. Setelah makan siang dan ngopi saya lansung turun ke sawah layaknya petani.


Tumpukan padi ala stadion jepang dan korea.


Saya ikut mengumpulkan padi disatu tempat dengan onggokkan seperti stadion bola kaki di jepang dan korea untuk dirontokan mesin dan kipas  alhamdulilh hasil panen kali ini cukup memuaskan dari hitungan tukang mesin tadi dapat 18 ketiding kurang lebih 9 atau 10 karung padi bersih.


Sebanyak padi dalam setangkai tentu tidak semuanya boneh (bernas) ada juga yang ampo (tak berisi) namun semua ada hikmahnya, yang bernas dibawa orang pulang ke rumah yang ampo tinggal di sawah, meskipun tadi dia sama-sama disemai namun berpisah di meja makan.


Begitu pula hidup ini, pada akhirnya semua akan kembali ke asalnya, tanah. Sama-sama tumbuh di atas tanah, yang beras dimasak dan di sajikan di meja makan, yang ampo dibakar dengan jerami jadi pupuk untuk penyubur padi di sawah, jadi tak usah sedih yang jelas kita sama-sama punya manfaat meskipun di tempat yang berbeda.


Siap dibawa pulang, tapisahlah ampo jo boneh.


Terakhir kita tutup dengan sebuah pantun :

Tasabuik nasib si padi ampo

Lai bajapuik indak urang bao

Dek ulah pandai si tukang kipeh

Mangko tasisiah ampo jo boneh

Di niru tasisih pulo atah jo bareh

(PardiS_Anak Amak)


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(50)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top