Resto Bebek Kampung Pekanbaru: Chef Rena Ali Mukhni Ruarrr Biasa

          Catatan Zakirman Tanjung

KETIKA menuju Provinsi Riau, Jumat (18/12/1444 - 7/7/2023), saya mendapat informasi bahwa Bu Rena Sofia (Sovia?) atau lebih dikenal sebagai Nyonya Rena Ali Mukhni buka usaha restoran di Kota Pekanbaru. Saya langsung teringat Masrudi Suryanto, mantan ajudan Bupati Ali Mukhni, untuk menanyakan nama dan alamat restoran dimaksud.

Alhamdulillah..., hari Ahad (20/12/1444 - 9/7/2023), saya menemukan Resto Bebek Kampung (Masakan Nusantara) di Jalan Belimbing Nomor 8 Kelurahan Perhentian Marpoyan, Pekanbaru. Turun dari mobil, saya terpesona melihat bangunan megah dua lantai dengan ruangan full AC yang ditempati resto tersebut. Di bagian luar depan terpajang plang merek neon dan dua bentang spanduk promo plus harga menu.

Mendorong pintu kaca, saya masuk ke dalam resto. Tampak seseorang yang cukup saya kenal di antara beberapa karyawan tetapi saya lupa namanya. "Fadhil, Oom," katanya sembari menyalami saya dengan sikap sangat santun dan ramah. 

Oo ya, saya langsung ingat, Muhammad Fadhil, putra ketiga/bungsu Bu Rena dan Pak Ali Mukhni (Wakil Bupati Padang Pariaman 5 September 2005 - 2010 serta Bupati Padang Pariaman 25 Oktober 2010 - 2015 serta 17 Februari 2016 - 2021).

"Itu Mama, Oom," kata Fadhil sembari menunjuk ke ruang sebelah yang berdinding kaca bening.

Bu Rena sepertinya sudah melihat kedatangan saya dan terdengar suaranya memanggil, "Zast, Zast."

Melangkah ke ruang sebelah, saya dapati Bu Rena sedang memasukkan potongan-potongan bebek ke dalam kancah atau kuali berukuran besar. Saya setel video ponsel dan mengajak perempuan enerjik ini berbincang-bincang (lampiran link youtube berisi rangkaian beberapa video ada pada bagian akhir catatan ini).

*

Saya baru mengenal Bu Rena setelah Pak Ali Mukhni terpilih jadi bupati tahun 2010. Banyak kenangan yang masih segar dalam ingatan saya dengan perempuanan kelahiran 7 Mei 1960 ini. Kalau bicara, Bu Rena sering ceplas-ceplos tetapi hatinya baik dan tidak pendendam. Satu jam setelah memarahi seseorang misalnya, ia kembali menyapa orang itu jika memerlukan seakan tidak pernah marah sebelumnya. 

Dalam segi penampilan, Bu Rena terkesan amat sangat sederhana, tak tampak seperti istri seorang bupati. Ia biasa mengerjakan urusan rumah seperti memasak dan mencuci. Masakannya sangat enak. Konon Gubernur Irwan Prayitno (2010 - 2021) kalau lewat Pariaman sering mampir ke pendopo (sebutan rumah dinas bupati) dan minta dijamu masakan Bu Rena, khususnya menu pangek sampadeh.

Begitupun saya, setiap mampir ke pendopo, sering mendapati Bu Rena asyik di dapur menyiapkan bahan-bahan masakan. Terkadang saya ikut nongkrong membantu memupur cabe atau memotong buncis dan kacang panjang.

Hanya kepada Bu Rena-lah saya berani minta uang. Ia pun merogoh dan mengeluarkan dompet dari tas jinjing, mencabut satu atau dua lembar uang biru atau merah. Terkadang saya minta tambah, "Kurang, Buk!", ia pun mengeluarkan beberapa lembar lagi.

Hari Jumat 15 Maret 2013, Bupati Ali Mukhni mengajak saya ke Natuna, Kepulauan Riau, transit di Batam. Bu Rena dan beberapa pejabat pun ikut. Di antaranya Mulyadi SH (kepala Dinas Pendidikan), Hanibal SE MM (kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah), Budi Utama (kepala Dinas Perhubungan), Bahari (kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan), dr Zunirman (kepala Dinas Kesehatan) serta Usman Labai (kepala Dinas Kelautan dan Perikanan). 

Setelah memasukkan tas ke kamar hotel karena penerbangan ke Natuna baru ada hari Sabtu besoknya, kami langsung ke masjid.

Usai shalat, tiba di halaman hotel, Bu Rena mengajak saya dan Mulyadi ke Butik Sarinah naik Mobil Xenia yang disopiri Darlis. Saya dan Da Mul duduk di bangku belakang. Waktu itulah Da Mul berbisik, "Pinjam pitih tigo juta nan ambo agiah tadi liak yo."

Saya rogoh saku depan celana, mengeluarkan amplop putih yang belum sempat saya buka, menyerahkan ke tangan Da Mul.

Di Butik Sarinah, Bu Rena tampak asyik memilih-milih pakaian ditemani sespri bupati, Rina. Melihat Bu Rena sudah berdiri di depan meja kasir, Da Mul buru-buru mendekat hendak membayar. "Alah, Pak Mul, lah ambo bayie, hanyo Rp187 ribu," kata Bu Rena. 

Beriring kembali ke mobil, Bu Rena berkata kepada saya, "Ibuk ndak suko mambali pakaian nan maha-maha doh. Nan pantiang bakualitas, nyaman dipakai. Itu nan Rp187 ribu tadi tu untuak tigo daster mah."

Dalam mobil ketika hendak kembali ke hotel, Da Mul menyerahkan kembali amplop berisi uang Rp3 juta itu ke tangan saya. 

*

Sembari menemani Bu Rena memasukkan potongan-potongan daging 80 bebek atau 320 potong, saya pun mengajukan pertanyaan demi pertanyaan dengan mengarahkan kamera video ponsel. Bu Rena menjawab dengan gamblang. 

Setelah pensiun sebagai guru terhitung usaha terhitung mulai tanggal (TMT) 1 Juni 2020 dan jabatan Bupati Ali Mukhni berakhir 17 Februari 2021, Bu Rena mulai merintis usaha yang mungkin ditekuninya. Sebagai perempuan yang hobi bekerja, Bu Rena tidak suka menganggur. 

Oya, Bu Rena diangkat menjadi guru pada tahun 1985 dan ditempatkan pada SMA Negeri Batusangkar. Kemudian, tahun 1996 ia ikut suami pindah ke Bengkulu dan tahun 2003 pindah ke SMA Negeri Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman.

"Usaha Resto Bebek Kampung ini mulai saya rintis setelah suami berhenti dari bupati. Butuh waktu untuk mencari lokasi strategis. Setelah dapat gedung yang kita tempati saat ini perlu dilakukan rehab dulu," kata Bu Rena.

Resto Bebek Kampung baru mulai beroperasi bulan Agustus 2022. "Sudah sebelas bulan. Alhamdulillah..., Tuhan memberi kami cukup rizki. Penjualan dalam satu hari pernah mencapai Rp10 juta," katanya lagi. 

Selain melayani pembeli untuk makan di tempat, juga bungkus dan online dengan go-food. Pada lantai bawah terdapat 10 meja dengan 40 kursi. Sedangkan pada lantai atas ruang non AC juga   terdapat 10 meja dengan 40 kursi serta ruang VIP juga 10 meja dengan 40 kursi plus fasilitas meeting dilengkapi layar presentasi.

"Sudah banyak tokoh yang berkunjung dan makan di sini, antara lain Gubernur Riau Syamsuar, Walikota Pariaman Genius Umar serta Ketua DPW Gempar Riau Amran Tambi," ulas Bu Rena ketika menemani saya ke lantai atas setelah menikmati hidangan nasi dengan bebek goreng, sampadeh daging, sayur kangkung khas plus juice alpukat.

Ketika saya tanya, bagaimana dengan para pejabat Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman yang dulu dekat dengan dan meniti karier semasa Pak Ali Mukhni jadi bupati(?), Bu Rena langsung terdiam dengan pandangan menekur ke lantai. 

Bu Rena mengaku jarang, bahkan tidak pernah, sakit. Padahal dia beraktivitas setiap hari mulai pukul 04.00 untuk belanja ke pasar, shalat subuh dan langsung menyibukkan diri di dapur. "Saya hanya beristirahat kira-kira setengah jam usai shalat dzuhur. Istirahat melemaskan otot tetapi tidak tidur siang," katanya lagi. 

Saya tanya lagi, apa rahasia atau kunci sukses dan sehat Bu Rena(?), ia menjawab, selalu bersyukur atas nikmat Allah ﷻ dan ikhlas dalam berbuat baik. (*)



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama