Prihatin Irigasi Ambruk, Anggota DPRD Mothia Azis Minta Perhatian Pemprov Sumbar

0
Anggota DPRD Padang Pariaman Mothia Azis

Ladang Laweh, CanangNews - Masyarakat peternak ikan air tawar di Nagari Lubuk Pandan, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, sudah hampir setahun tidak dapat berusaha secara normal seperti biasa. Penyebabnya karena irigasi tertier yang mengairi areal persawahan mereka tidak lagi berfungsi. 

Menyikapi hal itu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Padang Pariaman, Mothia Azis SH, mengaku telah melakukan segala usaha kepada Pemerintah dan DPRD Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) agar segera memperbaiki bendungan sebagai sumber air irigasi yang berlokasi di Korong Ladang Laweh, Nagari Sicincin. Bendungan itu dikabarkan ambruk atau jebol, November tahun lalu. 

Selasa 6 Mei 2023 kemarin, Mothia Azis mengajak Wartawan CanangNews melihat dari dekat kondisi bendungan dimaksud. Tampak sebagian bendungan jebol sehingga tidak dapat lagi menahan dan mengalirkan air Sungai Batang Ulakan ke saluran irigasi. 

Mothia yang juga Mantan Walinagari Lubuk Pandan (2002 - 2014) mengemukakan, luas areal persawahan yang dimanfaatkan warga sebagai kolam pembibitan dan pembesaran berbagai jenis ikan air tawar mencapai ±300 hektar.

"Itu khusus di Lubuk Pandan. Kalau mencakup nagari lain, mulai dari Sicincin hingga Pakandangan, luas areal persawahan yang bergantung pada Irigasi Ladang Laweh mencapai ±2.000 hektar. Akibat bendungan jebol, ekonomi masyarakat terancam," katanya tampak prihatin.


Beberapa warga sekitar mengungkapkan dugaan penyebab bendungan itu jebol, dugaan yang belum sempat dikonfirmasi kebenarannya. Menurut mereka, bendungan itu jebol akibat kesalahan pekerja rekanan kontraktor sewaktu melakukan pembenahan kawasan sekitar bendungan. 

"Waktu itu ada pekerja yang melakukan pengerukan di dekat bendungan untuk melalukan alat berat. Beberapa hari kemudian, ketika sungai meluap, bendungan itu jebol," ujar seorang warga yang diiyakan warga lainnya. 

Dugaan itu, lanjut warga yang meminta namanya tidak ditulis, cukup beralasan karena sebelumnya luapan sungai sedahsyat bagaimana pun tidak menyebabkan bendungan itu jebol. 

Ia menambahkan, berdasarkan data yang diperolehnya, bendungan itu mulai dibangun oleh Kolonial Belanda tahun 1901 dan selesai tahun 1924.

.                   Muskini (tengah)

Warga lain, Muskini (±60 tahun), pun menyatakan keluhannya: akibat pengerjaan penataan yang berujung bendungan jebol tanahnya tergerus dan terban masuk sungai ±1/4 hektar. Selain itu, rumahnya pun terancam ambruk ke sungai. 

"Kami terpaksa mengungsi karena tidak berani lagi menempati rumah itu. Hingga kini belum ada perhatian pihak terkait," ulas Muskini.

.          Rumah dan tanah Muskini

Berdasarkan pengamatan Wartawan CanangNews, di lokasi dekat bendungan ada tumpukan bahan material, tetapi tak terlihat aktifitas pekerjaan rehabilitasi. Pada dinding suatu bangunan terpajang plang Pekerjaan Rehabilitasi Bendung Daerah Irigasi (DI) Ladang Laweh, Kabupaten Padang Pariaman. 

Kegiatan milik Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Pemprov Sumbar itu dilaksanakan CV Azzazolva Karya dan Pengawas PT Konsulindo Citra Erlana dengan biaya Rp3.704.943.000. Namun, pada plang itu tak tertera tanggal dan tahun pelaksanaan kegiatan, kecuali nomor kontrak 04.11/PJPA-SDA.BK/APBD/IV-2022.

Camat 2x11 Enam Lingkung Dra Agusti Frami MM yang dihubungi Wartawan CanangNews via whatsapp mengemukakan harapannya, mudah-mudahan tidak lagi dihantam air bah sehingga pekerjaan rehabilitasi bendungan segera selesai. 

Sedangkan Anggota DPRD Provinsi Sumbar Siti Izzati Aziz yang juga dihubungi menjelaskan, hari Senin (12/6/2023) rencana akan diadakan  pertemuan di Kantor Walinagari dengan agenda membicarakan DI.Ladang Laweh dengan perangkat daerah terkait supaya masyarakat dapat informasi yang benar dan jelas. (ZT)

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(50)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top