Merajalela: Rombongan SAD Ketagihan Mengutip Brondol Milik PT. SMP Dharmasraya

0
Pondok SAD di lahan milik perusahaan (foto dok. Ist)

Dharmasraya, CanangNews - Rombongan suku anak dalam (SAD) yang bermukim di lahan milik PT. Selago Makmur Plantation (SMP) Unit Kebun semakin merajalela. Ditemukan oleh karyawan perusahaan bahwa rombongan SAD tersebut sedang mengutip atau mengumpulkan brondol segar milik PT. SMP unit kebun. Lalu mereka menjualnya ke pada toke sawit atau RAM terdekat.

Rombongan SAD ini berjumlah sangat banyak dan mengakibatkan kerugian pada perusahaan. Mereka sulit untuk ditegur, hal itu disampaikan oleh karyawan perusahaan. Para mandor yang bertugas tidak berani menegur, begitu juga dengan satpam yang bertugas di lingkungan perusahaan ini.

"Bukan kami tidak mau menegur mereka, kalau kami tegur mereka melawan dan marah," ungkap Salah seorang mandor.

Menurut informasi yang berkembang rombongan SAD ini diketuai oleh orang yang berasal dari bukan SAD. Menurut salah seorang karyawan, ketuanya ini berasal dari Nagari Koto Baru, Dharmasraya.

"Menurut informasi yang kami dengar, ketua SAD yang bermukim di sini bernama Rido dan dia menikah dengan wanita yang berasal dari SAD. Kami sudah berusah mencari keberadaannya, namun setiap kami datang dia menghilang," ungkap salah seorang asisten.

Estimasi pendapatan perorang dari pengutipan brondol, mereka bisa mengumpulkan lima perorang. Jika dikalikan mereka sudah berpenghasilan sekitar Rp. 500,000,-/orang. Dengan estimasi 50 kilogram/karung. Mereka berjumlah belasan orang dan menyebar di setiap afdeling. Mereka melakukan ini secara terbuka, bahkan mereka rela menunggu karyawan panen selesai bekerja dan mengambil brondolnya.

Disampaikan oleh seorang satpam, mereka pernah melarang orang RAM untuk tidak membeli brondol hasil curian ini. Namun setelah diketahui oleh SAD, rombongan SAD ini mengamuk dan marah kepada satpam yang sedang bertugas. Karena takut dengan SAD satpam itu pun kabur. Karena pada umumnya SAD memakai senjata rakitan (Gobok).

Kegiatan SAD ini terus berlanjut dari bulan Desember sampai dengan bulan ini. Pihak perusahaan masih berikir bagaimana cara untuk mengusir rombongan SAD yang telah meresahkan dan membuat kerugian untuk perusahaan mereka. 

"Kami sedang berunding dengan dinas sosial dan aparat kepolisian untuk mencari jalan keluarnya. Kami ingin mereka pergi dengan baik-baik, supaya karyawan kami yang berada di camp nyaman," ungkap asisten.

Pihak perusahaan tidak akan membiarkan hal ini berlarut-larut, walaupun mereka kebal hukum, namun pihak perusahaan akan mencari cara terbaik agar tidak membuat perselisihan dengan SAD ini. Jika dibiarkan, maka akan mengakibatkan kerugian yang lebih besar untuk perusahaan. Tidak itu saja, para karyawan panen juga tidak nyaman bekerja oleh keberadaan SAD ini. (Sati)

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(50)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top