Kenangan Belajar di SMA Negeri Sicincin, 1986 - 1989, Pernah Dapat Rangking 41/41 *)

0
Catatan Zakirman Tanjung **)

SENIN 14 Juli 1986 merupakan hari pertama-ku belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Sicincin (kini bernama SMA 1 2x11 Enam Lingkung), Kabupaten Padang Pariaman – Provinsi Sumatera Barat. Suasana sebagai anak baru kembali melanda dan kurasakan.

Bagaimana tidak! Mayoritas dari 240 siswa baru atau Kelas I SMA Sicincin berasal dari SMPN Sicincin, SMPN Kayutanam, MTsN Kepala Hilalang dan SMP-SMP lain yang nyaris semuanya tak kukenal. Walau rayon resmi bagi tamatan SMPN Pakandangan, nyatanya tak seberapa yang masuk ke SMA Sicincin. Umumnya teman-temanku melanjutkan ke SMA Negeri Lubuk Alung atau ke sekolah lain.

Hal ini bisa dimengerti. Selain masih baru – aku anak keempat – SMA ini berkampus di pelosok, sekitar 1 km dari Pasar Sicincin dan harus kami tempuh dengan berjalan kaki. Mana lingkungannya masih berupa semak-belukar lagi. Sedangkan SMA Lubuk Alung – sebagai perbandingan – berkampus di pinggir Jalan Raya Padang – Bukittinggi.

Untuk mencapai sekolah ini, dari rumah aku harus jalan kaki 1,5 km ke pinggir Jalan Raya Padang – Bukittinggi, lalu naik oplet trayek Lubuk Alung – Sicincin dengan ongkos Rp50. Mulai Kelas I hingga Kelas III SMA, ibu hanya sanggup memberiku Rp300 setiap hendak berangkat ke sekolah. Jumlah itu bersifat konstan, termasuk jika aku harus dua kali ke sekolah seminggu sekali untuk mengikuti bidangstudi olahraga.

Meski demikian, popularitasku segera melejit. Cacat fisikku jadi tak kentara karena kemampuanku dalam belajar dan berdiskusi kelompok. Minggu pertama sekolah, kami wajib mengikuti Penataran Pedoman Penghayatan & Pengamalan Pancasila (P4) selama enam hari. Di sini penguasaan bidang-ku sudah menonjol.

Pada hari kedua Penataran P4, Selasa, lokalku – Kelas I/1 – mendapat tamu seorang siswi baru. Ketika guru menyuruh memperkenalkan diri, ia menyebutkan namanya Aida Herlina dengan panggilan Lin. Namun, aku lupa apakah dia menyebutkan berasal dari SMP mana atau tidak. Yang kuingat, Bu Guru menyuruh Lin duduk semeja denganku.

Otomatis aku jadi siswa pertama yang punya kesempatan mengenal Lin lebih akrab. Namun, karena kecantikannya melebihi rata-rata siswi, karuan saja Lin jadi pusat perhatian banyak siswa, termasuk dari lokal lain. Saat itu kelas I terbagi dalam 6 lokal. Meski demikian, aku merasa perhatian Lin padaku tidak berkurang.

Sayangnya, Lin sebangku dan selokal denganku hanya lima hari. Senin berikutnya, ketika mulai belajar, Lin dipindahkan (atau minta pindah?) ke Kelas I/5. Beberapa saat aku sempat tercenung dan merasa ada yang hilang. Hanya beberapa saat, lalu kusadari jika kami hanya beda lokal tetapi masih satu sekolah. Lokalku paling selatan, lokal Lin nomor dua paling utara, berjarak tiga lokal.

Hari-hariku terasa makin berwarna manakala aku merasakan perhatian siswi Kelas III Sos 1 yang duduk di bangku-ku pada shiff pagi (semua kelas satu memang masuk siang). Namanya Devi Fatma (DF). Mulanya dia menanyakan (atau menuduh?) dengan tulisan pada secarik kertas yang dia taruh di laci meja, “Hai adik yang duduk di bangku ini, kamu mengambil rol kakak yang tertinggal ya?”

Kesempatan itu tak kusia-siakan. Sebelumnya aku telah melihat wajahnya ketika aku datang ke sekolah sebelum anak kelas tiga bubar dan mengintip lewat jendela siapa yang duduk di bangku-ku. Lantaran sudah kuketahui siapa namanya, maka tudingan itu kubalas dengan dua bait puisi dengan menjadikan namanya sebagai huruf awal larik.

Keakrabanku dengan DF sepertinya membuat cemburu teman selokalnya yang mungkin menyukai gadis itu secara diam-diam. Yan, cowok itu, suatu ketika sepertinya sengaja menungguku di tempat sepi. Dengan sikap emosi ia mengingatkan agar aku tak lagi mengganggu DF. Namun, ketika hal itu kuberitahukan, DF memintaku agar mengabaikan Yan.

Di sisi lain, aku masih sering jalan bareng dan berbagi cerita dengan Lin. Namun, pada awal semester genap, kudengar kabar kalau Lin pindah ke SMA 8 Padang. Merasa kehilangan, kisah bersama Lin kutuangkan ke dalam satu cerpen sepanjang tujuh halaman ketikan. Cerpen yang... aku lupa judulnya itu dimuat KMS Singgalang edisi Minggu ke... Januari 1987.

Naik ke kelas II, aku kecewa berat lantaran pada rapor Walikelas I/1 Bu Lasmida Asri menetapkan jurusan sosial atau A3 untukku. Padahal, aku sangat ingin masuk jurusan fisika (A1). Dalam hal ini aku ingin menemukan alat pengkur dan peng-klasifikasi bau sebagaimana pernah kutuangkan sebelumnya dalam satu artikel dan dimuat KMS Singgalang.

Sewaktu aku mengajukan protes, Bu Lasmida menyatakan jika aku tak layak memilih jurusan fisika karena nilai-ku untuk bidangstudi biologi dan kimia tidak mendukung. Hal itu memang kuakui. Aku memang kurang menyukai biologi dan kimia. Beda dengan fisika dan matematika, aku-lah bintangnya.

Apa boleh buat, aku pun bergabung dengan Lokal II Sos 1 sebagaimana ditetapkan sekolah. Namun, entah kenapa, semangat belajarku sangat menurun dan amburadul. Keprihatinan guru-guru tak kugubris, aku bahkan sering bolos atau cabut.

Meski demikian, aktivitas kepenulisanku tetap berlanjut. Tak hanya di KMS, aku juga mengirim berita-berita untuk harian Singgalang. Mulai Agustus 1986 aku secara rutin mengisi bebagai rubrik pada Haluan Minggu dan sejak Maret 1987 aku pun mengisi rubrik-rubrik Mingguan Canang.

Puncaknya pada waktu pembagian rapor semester tiga, Desember 1987, walikelas memberiku penghargaan tertinggi dalam sejarahku sebagai pelajar, yakni rangking terakhir di kelas alias 41/41. Nilai semua mata pelajaran di rapor-ku tertulis dengan tinta merah, bahkan beberapa di antaranya kursi terbalik alias angka 4.

Bukan merasa malu, aku justru mengumumkan “prestasi tertinggi” itu ke hampir semua teman dan memperlihatkan rapor kepada mereka. Tahun 1987 kehidupanku memang relatif error. Aku tak ingat lagi, kenapa? Padahal, saat hari pertama semester II, Januari 1987, kepala sekolah mengumumkan dan menyerahkan SK Beasiswa untukku dari Menteri Pendidikan RI untuk tahun 1986/1987 sebesar Rp144 ribu.

Usai menerima termen pertama Rp72 ribu melalui bank, uang itu kubawa ke SMPN Pakandangan dan kuserahkan kepada Pak Syaifullah Rp60 ribu untuk dibelikan mesin tik bekas. Kalau tak salah ingat, waktu itu hari Sabtu, Pak Syaifullah memintaku datang lagi Senin lusa-nya.

Benar saja, ketika aku datang Senin pagi, Pak Syaiful menyerahkan satu unit mesin tik baru warna hijau tua – kalau aku tak salah ingat – bermerek Kofa plus satu rim kertas HVS. Kuyakini baru karena lengkap dengan kotak dan gabus. Pada kuitansi tertulis harganya Rp100.000. Beberapa jenak aku bengong karena tak punya uang untuk menambah.

Melihat kebengonganku, Pak Syaifullah tersenyum lalu berkata, “Sengaja bapak beli yang baru supaya lebih baik. Zakirman tak perlu menambah....” Bahkan, Pak Syaifullah juga memberiku satu rim kertas HVS.

Sejak saat itu aku punya mesin tik sendiri, tak lagi minjam-minjam ke kantor kepala desa. Sejak saat itu aktivitas menulis-ku semakin intensif. Dalam seminggu aku bisa menghasilkan minimal satu cerita pendek (cerpen), beberapa artikel dan opini serta cerita untuk anak, padahal aku mengetik hanya dengan sebelas jari lantaran tangan kiriku cacat.

Memasuki semester empat Kelas II Sos 1 semangat belajarku tak jua membaik. Kebiasaanku membolos tak juga berkurang. Aku bahkan berani terang-terangan meninggalkan sekolah pada jam belajar.

Suatu ketika, aku ingat, aku meninggalkan sekolah sekitar jam sembilan pagi. Di jalan menuju jalan raya aku berpapasan dengan Bu Beba Sari  (guru kesenian) dan Bu Ria Wati (guru bimbingan konseling). Waktu mereka bertanya, kujawab mau ke Redaksi Haluan (atau Singgalang) di Kota Padang untuk mengambil honor tulisan. Mendengar jawabanku, kedua guru itu tak lagi bersuara.

Ya, waktu itu honor tulisan memang harus dijemput langsung ke redaksi, tidak dikirim melalui wesel pos. Haluan membayarkan honor mulai tanggal 5 bulan berikutnya, Singgalang mulai tanggal 10 dan Canang setelah tanggal 10. Aku memang tak selalu setiap bulan menjemput honor. Terkadang bisa setelah tiga bulan.

Sabtu 6 Februari 1988 pagi aku kembali cabut setelah mengikuti dua jam pelajaran. Hari itu – sesuai informasi yang kuperoleh sebelumnya – akan berlangsung pertemuan empat artis ibukota dengan utusan pelajar se-Kota Padang bertempat di Rattan Room Lantai III Gedung Redaksi Singgalang. Keempat artis antara lain Nourma Yunita, Ikang Fauzie dan Fariz RM serta beberapa pelawak seperti Ateng dan Mang Ucup.

Karena datang agak terlambat – meski acara belum dimulai – aku kebagian tempat duduk paling depan, berhadapan langsung dengan para artis dan pelawak – hanya berjarak sekitar satu meter atau kurang. Celakanya, ketika menaiki tangga gedung, retsluiting celana abu-abu yang kupakai copot. Untuk menutupi, terpaksa aku mengeluarkan baju putih dari pinggang celana. Namun, di tengah acara berlangsung, Nourma Yunita sempat menunjuk ke arah retsluiting celanaku yang tersingkap. Untunglah aku memakai celana dalam.

Usai pertemuan dan berfoto-ria bareng artis, aku sempat berkenalan dengan para pelajar dari sekolah lain. Mereka mengaku sangat menyukai tulisan-tulisanku, baik di KMS Singgalang, Haluan maupun di Mingguan Canang. Seorang di antara yang mengajakku kenalan adalah Ridwan, siswa Kelas III (aku lupa, entah fisika atau biologi) SMA Negeri Lubuk Alung.

Dari Kota Padang, Ridwan mengajakku mampir ke rumah orangtuanya di Pasar Limau, Paritmalintang. Tidak sekadar mampir, Iwan (begitu ia suka dipanggil) menahanku agar menginap. Sepanjang malam hingga pagi kami tak lelap sepicing pun, saling bercerita terus tak henti-henti.

Masih banyak kenangan semasa Kelas II Sos 1 yang kuingat. Antara lain, aku mengajak Elva Novera cabut ke Padangpanjang untuk melihat musibah/galodo Bukit Tui. 

Aku pun pernah cabut bareng Bujang Suardi, Guslinawati dan Gusnelly ke Lubuk Bonta. Di sini nyawaku nyaris melayang lantaran tidak pandai berenang. Alhamdulillah..., untunglah Guslinawati, Yusnelly dan Bujang Suardi segera menolong.

KETIKA menerima rapor kenaikan kelas, rangking-ku membaik sedikit menjadi 34/41 dan aku dinyatakan naik ke kelas III. Pada hari pertama tahun ajaran baru, Senin 18 Juli 1988, kudengar ada informasi khusus untuk siswa Kelas II Sos yang naik ke kelas III. Bagi yang meraih rangking 1 s/d 10 dapat lokal III Sos 1, 11 s/d 20 > III Sos 2, 21 s/d 30 > III Sos 3. Karena rangkingku 34 berarti dapat lokal III Sos 4.

Namun, sewaktu memasuki ruangan III Sos 4, aku merasa kurang cocok dengan penghuninya. Maka, aku pun masuk ke lokal III Sos 3. Di sini aku melihat banyak teman yang kurasa cocok denganku. Mereka antara lain Mulyadi (Edi Kurin), Bujang Suardi dan Guslinawati. Satu hal lagi, pada lembar absensi lokal ini juga ada nama Zakirman tetapi belum masuk lantaran masih belum balik dari Kota Medan.

Klop deh, aku pun memantapkan diri menjadi warga III Sos 3. Walikelas kami, Bu Imnawati, tak pula protes atau mengusirku ke luar. Ketika Zakirman yang satu lagi masuk sekolah beberapa hari kemudian, dia kusuruh gabung dengan III Sos 4.

Pada hari-hari pertama sekolah aku menyatakan tekad menjadi siswa terbaik untuk mencapai prestasi tertinggi yang bisa kucapai. Tekad itu bahkan kukemukakan kepada Mulyadi di bawah pohon manggis – di luar pekarangan sekolah menuju jalan raya.

Alhamdulillah... pada rapor semester V dan VI aku meraih rangking pertama di Kelas III Sos 3. Bahkan, waktu evaluasi belajar tahap akhir nasional (ebtanas), aku meraih nilai ebtanas murni (nem) 52,96 atau rata-rata 7,56 untuk tujuh bidangstudi. Namun, karena prestasiku naik-turun-naik, aku tidak dapat fasilitas PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) atau mahasiswa undangan ke perguruan tinggi negeri.

Baca juga

*) Cikal-bakal autobiografi-ku, Insyaa Allah

**) Rakyat jelata yang tidak punya jabatan apa-apa, bukan pegawai pemerintah ataupun swasta

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(50)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top