MENERAWANG KE MASA LALU *)

Catatan Zakirman Tanjung **)




PERNAHKAH engkau menerawang ke masa lalumu? Atau, hidupmu mengalir bagai air tanpa menyisakan kenangan? Sejak usia berapa engkau mulai mengingat memori hidupmu?

 

BAGIAN PERTAMA

KISAH PILU KELAHIRANKU

 

ALHAMDULILLAH... aku telah mulai ingat memori hidupku sejak berusia 3 tahun. Sejak usia itu, tahun 1972, sejarah hidupku hingga kini terbentang dengan terang dalam ruang memoriku. Sangat detil atau rinci malah. Aku bisa menceritakannya dengan jelas jika engkau mau dan betah mendengarkanku bercerita.

 

Selama 48 tahun bentangan sejarah hidupku tersusun dengan rapi dalam ingatanku. Entah kapan aku bisa dan punya kesempatan untuk menuliskannya. Mungkin, jika kutuliskan lalu kucetak dalam bentuk buku, bisa mencapai seribu halaman, bahkan lebih, bisa 10.000 halaman.

 

Kalau kukenang, masa laluku sangat teramat panjang. Begitu banyak kebaikan demi kebaikan yang telah kuterima dan mungkin masih akan kuterima. Jangan kaukira aku bangga dengan posisi tangan di bawah. Tetapi, memang begitulah realita yang kulalui. Itupun masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan keluarga yang kini jadi tanggungjawabku.

 

Bukan tidak bersyukur atas Rahmat Allah. Alhamdulillah... aku senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang kuraih. Namun, kenyataan yang kuhadapi yaa begini. Jangankan untuk bermewah-mewah, memenuhi kebutuhan primer keluarga pun aku masih ketar-ketir.

 

Demi Allah Yang nyawaku ada dalam GenggamanNya, aku tidak menyesali realita hidup yang kudapati. Tidak! Apa yang kudapatkan merupakan hasil dari pilihanku sendiri di antara beribu pilihan untuk hidup layak, bahkan mewah. Aku memilih atas dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan. Aku tidak menyatakan bahwa aku manusia suci. Begitu banyak beban dosa yang kutanggung, yang setiap waktu kumohonkan AmpunanNya.

 

Akan tetapi, dalam hal mencari rizki batinku sangat selektif. Biarlah menahan lapar dan menekan rasa daripada memperoleh penghasilan dengan menghalalkan segala cara. Terlalu susah memang untuk menjelaskan kepada isteri dan anak-anakku tentang pilihan hidupku. Namun, secara perlahan mereka bisa mengerti dan tak lagi banyak menuntut. Meski demikian, aku selalu membuka kesempatan kepada mereka untuk menyuarakan keinginan, paling tidak bisa menjadi doa.

 

***

 

BERDASARKAN cerita yang kudapat dari ibu dan orang-orang tua di kampung, aku dilahirkan dalam kondisi cacat fisik dan tanpa suara tangisan, Minggu 29 Juni 1969 Masehi jam 20.00, bertepatan dengan Ahad 13 Rabi'ul Akhir 1389 Hijriyah, setelah ibu berjuang selama hampir 24 jam. Kaum kerabat pun waktu itu sepakat untuk mengusungku ke pusara lantaran tubuh diam lunglai dan tidak mengeluarkan suara tangisan.

 

Untunglah dukun yang menolong persalinan tidak kehilangan akal. Dia coba menarik-narik tangan dan kakiku. Lantaran belum ada reaksi, tubuh dan kepalaku pun dia benam ke dalam baskom berisi air. Maka; terlihatlah gelembung dari hidungku, lalu pecahlah tangis pertamaku (kesaksian yang kudengar dari orang² yang menyaksikan proses kelahiranku dari rahim ibu yang berjuang antara hidup dan mati; menanggungkan rasa sakit tak terkata selama sehari semalam).

 

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. (QS 19: 33).

 

***

 

PERJALANAN hidupku kemudian menjadi teramat panjang. Kata ibu yang kupanggil One, masa kecilku sangat memprihatinkan. Tubuhku lemah seperti anak kurang gizi. Aku baru mulai bisa melangkahkan kaki atau pandai berjalan pada usia 25 bulan atau 2 tahun lebih sebulan. Sedangkan anak-anak normal ada yang sudah pandai berjalan pada usia 9 bulan -- seperti ibuku waktu bayi.

Pertumbuhan fisikku, kata ibu, sangat lamban. Menjelang bisa berdiri dan mampu melangkahkan kaki, aku bergerak dengan beringsut. Meski demikian, aku termasuk anak yang cerdas secara intelektual.

 

Kenangan yang sudah bisa kuingat dengan jelas adalah ketika ayahku berangkat meninggalkan rumah (di sebuah kampung, Kabupaten Padang Pariaman - Sumbar) hendak pergi ke Jambi. Waktu itu, kata ibu, tahun 1972. Hingga kini pun terbayang jelas di ruang ingatanku bagaimana langkah kepergian ayah dan pakaian yang dia kenakan. Begitu juga dengan tas pakaian yang dia sandang.

 

Sepeninggal ayah, banyak kesedihan yang kurasakan. Ibu melahirkan seorang adikku, laki-laki juga, yang ia beri nama Hendri. Hal yang kuingat, adikku berkulit kuning langsat, meniru kulit ayah (sedang aku berkulit sawo matang / hitam, meniru kulit ibu). Namun, Hendri meninggal dunia ketika berusia 7 bulan.

 

Tidak sampai di situ. Selang seminggu setelah kematian Hendri, kami mendengar berita kalau ayah menikah lagi di Kota Jambi. Saat itu aku sedang bermain di halaman depan rumah. Perasaanku waktu itu marah dan galau.

 

Tahun 1974, ibu mengajakku menyusul ayah. Waktu itu ayah sudah pindah ke Palembang. Kami naik bus selama 2 hari 2 malam lantaran jalan sangat buruk. Ketika berangkat ke Palembang, aku dan ibu (yang waktu itu berusia 24 tahun) bareng dengan tetangga yang berdomisili di kota itu yang kebetulan pulang kampung dan hendak balik ke rantau.

 

Alhamdulillah... kami bertemu dengan ayah yang bekerja sebagai tukang jahit pakaian di sebuah kedai kecil, tak jauh dari Jembatan Ampera. Aku dan ibu ditumpangkan ayah di rumah orang Cina di belakang kedai. Sedangkan isterinya yang lain atau ibu tiriku kemudian kuketahui mengontrak di rumah terapung di tepian Sungai Musi. Ayah sempat beberapa kali mengajakku ke rumah isterinya itu.

 

Hanya sekitar satu bulan di Palembang, suatu malam ibu membangunkanku. Katanya, tengah malam itu juga kami harus berangkat ke Jakarta melalui Tanjung Karang naik kereta api. Karena hanya membeli 2 lembar tiket untuk ayah dan ibuku, di atas kereta api ibu terpaksa membuka anting emas yang terpasang di telinganya dan menjual ke penumpang lain. Hal itu disebabkan karena kondektur memaksa minta ongkosku ....

 

 

BAGIAN KEDUA

MERANTAU DI JAKARTA 1974 - 1976

 

BESOK siangnya, kami sampai dengan selamat di Tanjung Karang, lalu ke Pelabuhan Panjang, naik Kapal Ferry Penyeberangan menuju Pelabuhan Merak. Suasana di atas kapal tak ada yang kuingat. Hanya saja, sesampai di Merak, ayah yang kupanggil Apa (papa) menitipkan kami di suatu rumah makan, sedang dia berangkat ke Jakarta, katanya untuk mencari alamat ke mana kami bisa menumpang atau mencari rumah kontrakan.

 

Ada beberapa hari aku dan ibu di Merak hingga kemudian ayah datang menjemput. Kami berangkat ke Jakarta dan menempati kontrakan, rumah kayu berlantai tanah, di lereng gundukan tempat rel kereta api di Kawasan Medek, tak jauh dari Stasiun Jatinegara. Kusebut di lereng gundukan karena sekitar dua meter dari dinding belakang ada dua jalur rel KA, posisinya sejajar dengan atap rumah.

 

Halaman rumah merupakan tanah lapang tempat warga menjemur pakaian serta arena kami -- anak-anak -- bermain. Kalau hujan sangatlah becek. Di tengah tanah lapang ada sumur umum yang dikelilingi pagar plastik atau kardus-kardus tempat warga mandi dan mencuci. Sedangkan kakus, tempat warga buang air besar, berlokasi agak jauh, di pinggir rawa dan semak, berpagar plastik karung sekadarnya.

 

Rasanya tak cukup sebulan kami di Jakarta, beredar kabar kalau ibu tiri datang menyusul. Konon, ia mendapat informasi dari seseorang tentang keberadaan ayahku, suaminya. Alhasil, ayah pun kembali harus menafkahi dua isteri dan tiga anak -- aku, adikku seayah dan seorang anak tirinya. Sedangkan ayah tak punya pekerjaan tetap, hanya serabutan.

 

Lantaran tak mungkin mengandalkan uang pemberian ayah, ibu berinisiatif mencari nafkah. Ia mencoba berjualan ketupat sayur (gulai nangka muda atau pakis ala masakan Padang) di Pasar Cingkariak (Jangkrik?), sekitar 1,5 km dari rumah dengan menyeberangi areal stasiun. Namun, usaha itu tak bertahan lama, ibu berhenti jualan lantaran dipermasalahkan (dicekcoki) pedagang lain karena merasa tersaingi.

 

Setahun di Jakarta, menjelang akhir 1975, kami pun ditinggal ayah. Belakangan beredar kabar kalau ayah pergi ke Lampung bersama isteri keduanya dan anak-anak mereka. Berhari-hari kulihat ibu dirundung duka.

 

Namun, ibu tak berdaya, tak mungkin menyusul ayah. Selain tidak punya uang, ibu pun tidak mengetahui di mana keberadaan ayah di Lampung.

Kesulitan demi kesulitan pun menghadang. Untuk memenuhi kebutuhan, ibu yang waktu itu berusia 25 tahun masih memiliki sisa uang, kemudian mengajakku menemui mamak (kakak ibu)-nya yang berdagang bahan dasar pakaian pada sebuah toko di Pasar Kramat Jati. Sorenya, lelaki yang juga kupanggil Mamak (Paman, seharusnya kupanggil Kakek) itu mengajak ibu dan aku pulang ke rumahnya di pedalaman, Condet.

 

Kusebut pedalaman karena dari Pasar Kramat Jati kami harus jalan kaki sekitar dua kilometer menyusuri jalanan tanah di pinggiran kali. Kalau aku tak salah ingat, Kali Ciliwung. Ruas jalan itu cukup lebar tetapi sangat jarang dimasuki mobil, kecuali sesekali mobil bak terbuka untuk mengangkut barang. Jika musim hujan, jalan itu sangat licin dan becek, telapak sepatu atau sandal bisa sangat tebal diganduli tanah liat. Aku bahkan sering terjatuh ketika melewatinya.

 

Seingatku, aku dan ibu menumpang seminggu atau dua minggu di rumah itu. Alamnya sangat asri. Di sekitar rumah banyak tanaman salak dan duku manis. Sebagai bocah berusia enam tahun, aku cepat akrab dengan lingkungan dan anak-anak sebaya, termasuk dengan beberapa putra Mamak. Kami bermain dengan bebas mencari salak atau buah duku yang jatuh di pagi hari.

 

Kemudian, anak sulung Mamak yang kupanggil Utiah mengajak kami (ibu dan aku) menetap di rumahnya di Kawasan Cipinang Kebembem, Rawamangun. Ia butuh kehadiran ibuku untuk menunggui rumah dan mengasuh dua anaknya, perempuan tiga tahun dan laki-laki berusia setahun. Sebab, setiap pagi hingga sore, Utiah membantu suaminya yang kupanggil Ajo berdagang bahan dasar pakaian di Pasar Enjok.

 

Di rumah itu, ibuku melaksanakan pekerjaan rutin seperti memasak dan menyapu serta mengasuh kedua anak Utiah. Sedangkan aku bermain bersama anak-anak di kawasan itu. Adakalanya bermain tanah di tengah lapangan dekat SMP. Aku bahkan pernah berjualan es lilin dengan menjinjing termos yang terasa berat oleh fisikku yang ringkih, terlebih karena tangan dan kakiku sebelah kiri lemah lantaran cacat sejak lahir. Aku ikut jualan es diajak teman. Pagi-pagi aku bareng teman ambil es dengan termos yang disediakan juragan. Perhitungannya, modal satu es lilin Rp4 dan kujual Rp5. Terkadang habis olehku 20 es lalu setor Rp80 ke juragan. Es yang bersisa dan lunak boleh dikembalikan.

 

Waktu itu, ibu hanya sanggup memberiku uang jajan Rp5 setiap hari, tidak ada tambahan lagi. Namun, ketika mengetahui aku berjualan es, ibu tak lagi memberiku uang jajan lantaran aku bisa memperoleh uang berkisar Rp10, 15 hingga 25 tiap hari. Ibu bahkan meminta bagian keuntungan yang kuperoleh untuk dia simpan. Untuk pembeli baju atau celanaku kalau sudah terkumpul, begitu kata ibu yang kupanggil One.

 

Namun, kegiatan berjualan es lilin itupun tak berlangsung lama kulakoni. Penyebabnya karena persaingan antar teman juga. Akibat fisik yang lemah, aku tak berdaya menghadapi mereka. Selanjutnya aku lebih banyak bergaul dengan abang-abang becak yang sering mangkal di jalanan di depan rumah. Abang-abang becak itu belakangan pun suka memberiku uang. Ada yang Rp5 atau Rp10 sekali beri. Bukan karena faktor kasihan melainkan sebagai hadiah setelah mereka puas mengujiku dengan beberapa pertanyaan.

 

Dalam hal ini, pada usia enam hingga tujuh tahun itu aku sudah hapal Al-Fathihah dan beberapa surat pendek dalam Juz Amma Al-Qur’an. Selain itu, aku pun sudah sudah mahir dengan bilangan perkalian. Kepandaian tersebut diajarkan Kakek Utiah atau Ayah Mertua Mamak yang juga tinggal bersama Utiah.

 

Alhamdulillah... saat itu daya tangkapku sangat cepat dibarengi daya ingat yang begitu kuat. Pertanyaan tentang perkalian itulah yang kerap diajukan si abang becak. Secepat dia bertanya, secepat itu pula aku menjawab. Misalnya berapa 7 x 7, langsung kujawab 49 tanpa berpikir. Begitupun ketika ada yang menyuruhku melafazkan Al-Fathihah atau surah-surah pendek Juz Amma.

 

Mulai 1 Ramadhan 1396, bertepatan dengan hari Kamis 26 Agustus 1976, aku ikut menunaikan ibadah puasa. Waktu itu aku berpuasa hingga 21 hari. Selanjutnya, ibu tak lagi membangunkanku untuk makan sahur. Alasannya, karena aku kian kelelahan menunaikan ibadah puasa. Hal yang kuingat, setiap usai berbuka, Ajo (suami Utiah) memberiku uang Rp50. Katanya sebagai hadiah karena aku berpuasa.

 

Alhamdulillah... dengan uang itu aku bisa agak leluasa jajan, termasuk membeli serabi bakar di pinggir jalan di depan rumah. Namun, atas permintaan ibu, sebagian uang itu kuserahkan padanya untuk disimpan. Ada sekitar setahun 2 bulan aku dan ibu di Cipinang Kebembem. Namun, waktu itu belum ada upaya ibu memasukkanku ke sekolah. Mungkin karena keadaan juga. Padahal, tak jauh dari rumah ada Sekolah Dasar (SD).

 

Menjelang akhir tahun 1976, Mamak bersama keluarga besarnya pulang kampung. Ibu dan aku pun diajak ikut. Dari Jakarta kami naik Bus ANS ke Merak, menyeberang ke Pelabuhan Panjang - Lampung, selanjutnya menyusuri Jalan Lintas Sumatera yang masih jelek, kecuali dari Lubuk Linggau menuju Sumatera Barat. Dari Lampung ke Padang, seingatku, ada lima kali kami naik pelayangan.

 

Barulah Januari 1977 aku dimasukkan Nenek (ibu dari ibuku) ke Sekolah Dasar sekitar 700 meter dari rumah. Waktu itu usiaku sudah 7,5 tahun.

 

 

BAGIAN KETIGA

MULAI BERSEKOLAH – Awal Januari 1977

 

HANYA sekitar dua minggu berada di kampung, terdengar informasi ada penerimaan calon murid baru Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 dan 2 Lubuk Pandan yang menempati satu bangunan atau gedung. Namun, ibu yang kupanggil One tidak segera mendaftarkanku. Hal itu karena ibu dan nenek sibuk bertanam ke sawah kami di Desa / Nagari Buayan, Lubuk Alung.

 

Ketika kemudian nenek (ibu dari ibuku) mengantarkanku mendaftar ke sekolah, aku pun kebagian sebagai murid SD 2. Kebijakan pimpinan sekolah waktu itu, seluruh pendaftar dibagi dua. Nomor urut (berdasarkan siapa yang mendaftar lebih dulu) 1 – 32 menjadi murid Kelas I SD 1, sedangkan nomor urut 33 – 63 menjadi murid Kelas I SD 2. Tidak apalah. Walau jadi murid SD 2 pun kami tetap belajar pada gedung sama, sekitar 700 dari rumahku arah utara. Bedanya, kalau murid SD 1 masuk pagi, murid SD 2 masuk siang.

 

Ketentuan itu berlaku selang-seling, seminggu pagi seminggu masuk siang.

Walau bisa menyebutkan nama dan seluruh data diriku ketika mendaftar, aku sangat kelabakan ketika mulai bersekolah. Hal itu dikarenakan aku tidak bisa menulis dan memang sebelumnya aku tak pernah bersentuhan dengan buku dan pensil. Akibatnya, waktu guru kami (Pak Nurdin) menyuruh semua murid membuat gambar lopi (segitiga) dan godok (lingkaran) sebagaimana dia contohkan di papan tulis, aku sangat kesulitan. Kalau pun bisa meniru, hasilnya besar-besar, satu lopi atau godok terdiri dari tiga atau empat baris buku tulis.

 

Begitu juga sewaktu mulai menulis Ini Budi, Ini Wati, Ini Ibu Budi .... aku menirunya dari papan tulis dengan sangat kesulitan. Hasilnya pun semraut dan besar-besar. Mungkin butuh waktu satu cawu (caturwulan) hingga aku bisa menggunakan pensil dengan baik.

 

Secara umum masa-masa awal bersekolah kurasa cukup menyenangkan walau ibu memberiku uang jajan hanya dua keping atau Rp10. Jumlah sebegitu tak ada tambahan lagi, termasuk untuk pergi belajar mengaji (membaca Al-Qur’an) ke surau sekitar 400 meter dari rumahku arah selatan. Sejak di Jakarta, ibu memang sangat streng (pelit) ngasih uang jajan. Hanya sekali di waktu pagi. Siang atau sore ibu takkan memberi lagi walau aku merengek dan menangis meminta uang. Sikap ibu tertanam dalam hatiku sehingga aku tak pernah lagi meminta uang kepadanya, kecuali menjelang berangkat sekolah kalau dia lupa memberi.

 

Sepanjang Kelas I SD tak banyak kenangan berkesan yang patut kuceritakan, hanya rutinitas biasa. Sebagai anak yang cacat fisik, tangan kiri dan kaki kiriku lemah sejak lahir, rasanya aku tak pernah terlibat perkelahian. Sebaliknya, mungkin karena kecerdasan otak dan kelancaranku dalam berbicara, tak pula ada teman yang mengolok-olokku.

 

Hanya saja, ketika naik ke Kelas II, Januari 1978, kami – seluruh murid SD 2, Kelas II hingga Kelas VI – diharuskan pindah ke gedung baru yang berlokasi di Korong (Desa) Kampung Guci. Letaknya sekitar 2,5 km dari rumahku atau 1,7 km jika jalan memotong dengan menyeberangi sungai dan menyusuri jalan setapak.

 

Tiada pilihan lain, kami harus pindah. Hanya beberapa hari, aku pun mengajak sekitar 20 teman yang berasal dari Korong Balai Satu melakukan aksi protes, kembali ke gedung lama dan bergabung dengan murid-murid Kelas II SD 1. Teman-teman yang kumaksud antara lain Muzaini (alm), Jafrizal, Alfian, Supardi, Ali Munir, Hanafi, Erdawati, Hendriwati, Zainal Abidin, Arnelis dan Neli (almh).

 

Ternyata pun hanya beberapa hari pula kami boleh bergabung selokal dengan murid-murid Kelas II SD 1. Entah karena dianggap tidak efektif karena terlalu padat atau karena faktor lain, kami disuruh kembali ke SD 2 di Kampung Guci. Aku pun tak berdaya untuk melakukan aksi protes lagi dan terpaksa menurut.

Mungkin karena iba melihat fisikku yang cacat, berjalan pincang dan tersaruk-saruk, Kepala SD 2 Bu Fatimah sepertinya mencari tahu di mana rumahku.

 

Sebab, setelah itu, Bu Fatimah yang diantar suaminya, Pak Rusli (kepala di SD lain) dengan Vespa menyinggahiku ke rumah hampir setiap pagi. Aku pun naik boncengan, duduk di antara Pak Rusli dan Bu Fatimah, terkadang tak pakai sepatu pula alias kaki telanjang.

 

Sampai kapan pun selagi daya ingatku masih berfungsi, aku takkan pernah melupakan kebaikan Pak Rusli dan Bu Fatimah. Sebab, untuk menyinggahiku, beliau harus menambah jarak tempuh sekitar 3 km lagi jika dibanding langsung dari rumahnya ke SD 2 dari Kepala Hilalang via Sicincin dan Sungai Asam. Untuk menyinggahiku, beliau harus lewat Kiambang, lanjut via Jembatan Lubuk Baru terus ke Sungai Asam dan sampai di sekolah.

 

Namun, tak lama kemudian, Bu Fatimah dipindahkan menjadi Kepala SD lain. Dengan demikian, tak ada lagi yang menyinggahiku ketika hendak berangkat ke sekolah. Setiap berangkat atau hendak pulang aku cendrung menempuh jalan memotong dengan menyeberang sungai di belakang rumah. Saat musim hujan, aku menyeberang dengan membuka celana dan sepatu. Atau, kalau arus sungai tak mungkin terseberangi olehku, aku lewat jalan memutar via Jembatan Lubuk Baru di utara atau via Jembatan Depan Masjid Raya Lubuk Pandan di selatan.

 

Kondisi jarak itu ternyata tak berpengaruh pada kemampuan belajarku. Sewaktu menerima rapor naik ke Kelas III, Juni 1979, aku meraih juara pertama, disusul Noverisma pada rangking II dan Khairuman juara ketiga. Sebelum itu, aku bahkan sempat akan dipindah-lompatkan ke Kelas III, tetapi aturan waktu itu tidak membolehkan. (Waktu Kelas II SD, aku sudah memiliki rasa ketertarikan kepada teman perempuan. Gadis yang kusukai kala itu adalah Noverisma, si juara kedua)

 

Kelas II SD merupakan masa terpanjang dalam sejarahku bersekolah, 1,5 tahun. Entah karena lamanya waktu, aku bahkan telah menguasai pelajaran Kelas III. Seringkali aku mengerjakan soal-soal ulangan harian Kelas III yang tertera di papan tulis dan bisa kulihat dari luar, bahkan aku pula yang paling dulu menjawab pada buku tulisku, kemudian kumintai tolong ke murid Kelas III Mariani menyerahkan ke guru di depan kelas, Pak Syafaruddin.

 

Keisengan itu kulakukan manakala tiba di sekolah lebih cepat dan harus menunggu murid Kelas I ke luar. Pak Syafar pun tampak kaget karena buku latihan yang diserahkan Mariani itu atas namaku. Kemudian, Pak Syafar -- yang masih suka memakai kopiah usang dan telah menguning beludru hitam-nya – sering mengajakku duduk di dekatnya guna memberikan berbagai petuah.

 

Sebagai anak tunggal, masa kecilku tidaklah menyenangkan. Karena ibu dan nenek setiap hari pergi ke sawah – pulang menjelang maghrib – aku dapat tugas menanak nasi setiap sore. Jangan bayangkan dengan kompor gas, tetapi dengan tungku dan kayu bakar. Jika musim penghujan kayu bakar jadi lembab, aku jadi sangat kesulitan.

 

Pernah kejadian, sepulang dari sawah, ibu dan nenekku yang kupanggil Itam marah-marah. Ternyata, yang kutanak bukan beras biasa, melainkan beras ketan. Lantaran takaran beras dan air kubuat seperti biasa – begitupun cara menanak – hasilnya menjadi setengah bubur. Akibatnya di senja yang kian gelap itu ibu kembali menanak nasi. Kampung kami waktu itu memang belum dimasuki listrik.

 

Naik ke Kelas III urusan belajar tak jadi beban benar bagiku. Semua mata pelajaran kukuasai dengan baik. Dalam hal ini aku tak suka menghafal pelajaran di rumah, akan tetapi aku rajin mencatat dan serius menyimak guru menerangkan.

 

Di pertengahan Kelas IV, suatu pagi Pak Kepala Sekolah (Kepsek) Jamaris Dt Parpatih memasuki ruangan belajar kami. Bu Ridas pun memanggilku ke depan. Rupanya aku harus ikut dengan Pak Kepsek ke SD 1, 2, 3 Sicincin untuk mengikuti tes atau seleksi calon penerima beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI.

 

Masalahnya, sepatu yang kukenakan sangat tidak layak, kotor, robek dan berbau, tak pula pakai kaus kaki. Maka, Bu Ridas memerintahkan teman sekelas kami – Andrizal – meminjamkan sepatunya kepadaku. Pun karena aku tak punya pulpen (kecuali isi pulpen), Bu Ridas memerintahkan Joni Iskandar (alm) meminjamkan pulpennya padaku.

 

Selanjutnya, Pak Kepsek memboncengku dengan sepeda motor Honda Bebek ke tempat tes. Pesertanya kuperkirakan lebih dari 100 murid SD se- Kecamatan 2x11 Enam Lingkung. Sebab, tempat tes terdiri dari empat ruang kelas. Selama 2,5 jam nonstop, kami harus menjawab sekitar 200 soal Matematika, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial serta Pendidikan Moral Pancasila.

 

Usai tes, ternyata Pak Kepsek sudah menungguku di halaman. Sebelum menyuruhku naik motor untuk kembali ke SD 2, Pak Kepsek bertanya, “Apakah kamu yakin akan mendapatkan beasiswa itu, Man?” Aku tak menjawab. Sebab, waktu itu, apa pengertian beasiswa saja aku tak tahu.

 

Namun, yang pasti, aku yakin dapat menjawab kesemua soal dengan baik.

Waktu Kelas IV itu ibu memberiku uang jajan Rp25. Sepulang sekolah, mulai sejak Kelas III, aku harus menggembalakan seekor kerbau betina. Kerbau itu dibeli nenek atas permintaan adik ibu / mamak-ku. Katanya, kerbau itu akan ia latih membajak sawah. Sebenarnya aku tak mau bergembala, tetapi ibu yang menyuruh, itu pun tetap tanpa tambahan uang jajan.

 

Setelah naik ke Kelas V, suatu pagi pecah kabar di kalangan teman sekelas, bahwa aku dapat beasiswa atau akan dapat gaji setiap bulan dari negara. Teman-teman pada mengucapkan selamat. Namun, aku tetap melongo, tak mengerti beasiswa itu apa.

 

Barulah setelah Bu Guru (Ermawati / Marni Jalil?) masuk dan menjelaskan, aku mulai mengerti. Bahwa aku akan memperoleh bantuan dari pemerintah sebesar Rp5.000 / bulan, tetapi hanya bisa diambil sekali dalam enam bulan melalui Bank Rakyat Indonesia – Pariaman. Beasiswa itu kuperoleh karena aku terpilih pada seleksi di SD 1, 2, 3 Sicincin dulu.

 

Kemudian baru kuketahui, dari lebih 100 murid yang ikut tes tersebut, hanya tiga orang yang terpilih sebagai penerima beasiswa. Selain diriku, dua lagi murid SD di Sicincin dan di Pakandangan. Informasi itu kulihat dalam lampiran Surat Keputusan (SK) Mendikbud RI yang ditandatangani oleh Prof Dr Daoed Joesoef dan dinyatakan berlaku untuk tahun ajaran 1981/1982.

 

Pencairan uang beasiswa-ku untuk termen pertama sempat tertunda. Hal itu disebabkan pada SKb Mendikbud yang kuterima namaku tertulis Zahirman, sedangkan pada buku rapor tertera Zakirman. Pak Kepsek pun mengirim surat ke menteri agar mengganti namaku pada lampiran SK Beasiswa menjadi Zakirman.

 

Alhamdulillah.... beasiswa dari mendikbud untukku berlanjut untuk Kelas VI atau tahun 1982/1983 dengan besaran yang sama. Setelah aku lanjut ke SMP, Pak Kepsek mengumumkan, bagi siswa yang pernah dapat beasiswa mendikbud sewaktu SD agar menyerahkan fotokopi SK-nya untuk diusulkan dapat beasiswa lanjutan. Alhamdulillah... beasiswa untukku berlanjut. Di SMP besarannya Rp7.500 / bulan atau Rp90 ribu / tahun.

 

Ketika aku melanjutkan pendidikan ke SMA, beasiswa untukku masih berlanjut, besarannya Rp12.000 / bulan atau Rp144.000 ribu / tahun.

 

 

BAGIAN KEEMPAT

MASIH KENANGAN SEMASA SD

 

DENGAN fisik yang cacat, lantaran tangan kiri dan kaki kiriku lemah semenjak lahir, keberadaanku tentulah tidak sekuat teman-teman yang normal. Meski demikian, tak ada yang mengasihaniku – aku pun tak pernah pula menunjukkan sikap minta dikasihani. Semua aktivitas kulakukan sendiri tanpa meminta tolong atau sekadar cari perhatian, termasuk ketika menyeberangi sungai.

 

Sebagaimana kutulis sebelumnya, untuk mencapai sekolah, SD 2 Lubuak Pandan, aku memilih jalur memotong dengan menyeberangi sungai dan menyusuri jalan setapak. Jika berangkat (dan pulang) sendirian, aku cendrung menyeberang sungai di belakang rumah. Namun, jika bersama teman-teman, kami cendrung menyeberang di belakang Surau Lubuak Nan Gadang (terdengar atau diucapkan Lubuak Anggadang) atau di depan Surau Pauah / di belakang Surau Mande.

 

Penurunan di belakang Surau Mande cukup curam, licin dan berbatu-batu besar. Begitu juga sungainya, berbatu-batu besar dengan arus cukup deras. Namun, pilihan melewati rute ini jika kami bermaksud pergi / pulang bareng Supardi alias Sapar. Berbeda dengan jika lewat Surau Lubuak Anggadang, selain medannya landai, arus sungainya cukup tenang dan tanpa batu-batu besar; begitu juga di belakang rumahku.

 

Meskipun sering nyaris terjatuh di penurunan atau tergelincir di sungai sehabis hujan dengan air keruh dan arus lebih deras, aku tetap tak dibantu atau minta bantuan teman-teman. Padahal, kami menyeberang dengan membuka celana dan menjunjungnya di kepala. Alhamdulillah.. aku tidak pernah benar-benar terjatuh atau tergelincir sehingga harus berbalik pulang.

 

Dalam pergaulan dengan teman-teman, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah, mereka pun tidak men-diskriminasi diriku. Mereka tetap melibatkanku dalam semua jenis permainan, termasuk sepakbola, kasti (baseball), patuk lele, sepak tekong, main galah pada malam hari usai mengaji dan main genggong. Aku pun berusaha mengimbangi kemampuan teman-teman walau berlari dengan terseok-seok dan terpincang-pincang.

 

Aktivitas ekonomi pun kulakoni bersama teman-teman. Terkadang kami mengangkut padi dari sawah masyarakat yang sedang panen. Jika teman seusia mampu mengangkut dua belek padi yang dimasukkan ke karung di atas pundak dan kepala, aku berupaya mengangkut satu belek atau kurang.  Oya, belek adalah takaran atau gantangan padi di kampungku, yakni kaleng persegi empat berukuran isi berkisar 20 liter.

 

Jarak dari sawah hingga ke rumah pemilik padi adakalanya cukup jauh, bisa mencapai satu kilometer atau lebih dengan melewati pematang demi pematang yang cukup panjang, dengan lebar berkisar 30, 25 atau 20 cm. Pada beberapa bagian ada pematang yang runtuh atau rusak serta harus melompati saluran tersier atau meniti bentangan bambu guna melintasi saluran irigasi selebar tiga meter.

 

Untuk satu belek padi yang kami angkut, pemilik membayar Rp10, 15, 20 atau tergantung dekat atau jauhnya jarak tempuh. Tiap pulang sekolah aku bisa mengangkut padi dua atau tiga kali dan mendapat upah hingga Rp75.

 

Jika tidak sedang musim panen, adakalanya kami mengambil dan mengangkut pasir, kerikil atau batu dari sungai ke rumah orang yang memesan karena sedang membangun rumah. Takaran untuk pasir dan kerikil juga belek dengan upah bervariasi, berkisar Rp10, 15 hingga 25 untuk pasir dan lebih mahal untuk kerikil dan batu. Takaran untuk batu adalah meter kubik.

 

Sama semasa di Jakarta ketika aku berjualan es, kalau Ibu tahu aku mendapat uang dari mengangkut padi atau pasir – beliau takkan memberiku uang jajan sekolah. Malah, jika Ibu tahu uang yang kuperoleh cukup banyak, beliau akan meminta lebih dari jajanku untuk jajan hari-hari berikutnya. Aku pun tidak protes atau mendongkol lantaran menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar.

 

Mulai Kelas 3 SD kegiatanku bertambah. Atas permintaan mamak (adik lelaki ibu yang besar – ibu punya dua adik laki-laki), nenek membeli seekor kerbau betina yang masih gadis dengan harga Rp400 ribu. Mamak paling besar yang kupanggil Utiah (23 tahun) dan baru setahun beristeri itu beralasan, kerbau itu akan ia latih membajak sawah. Alhasil, kewajiban menggembalakan kerbau itu menjadi tugasku tiap pulang sekolah hingga menjelang senja, sebelum aku berangkat ke Surau Lubuak Anggadang untuk pergi mengaji. Di surau itu pula aku tidur bersama teman-teman.

 

BEBERAPA bulan setelah kami menetap di kampung, atas saran orangtua dan ninik-mamak, ibu mengajukan gugat-cerai ke pengadilan agama atas pernikahannya dengan ayahku. Setahun kemudian, awal atau pertengahan tahun 1978, ibu menikah lagi. Aku pun punya ayah tiri.

Akan halnya ayahku, tak lama setelah ibu menikah, beliau pulang ke kampung, tetapi tidak datang ke rumahku. Seseorang mencariku dan mengabarkan bahwa ayah menungguku di rumah nenek (ibunya), sekitar dua kilometer arah barat daya dari rumahku dengan menyeberang sungai atau meniti jembatan kereta api sepanjang lebih dari 70 meter.

 

Masih dengan berpakaian seragam sekolah, aku segera menemui ayah. Beliau langsung mengajakku ke Pariaman, ke rumah isterinya dan bermalam di sana. Besoknya, ayah mengantarku ke kambali ke kampung dengan memberi sejumlah uang dan beberapa stel pakaian. Setelah itu, aku tak lagi mendengar kabar tentang ayah. Ada yang menyebutkan ayahku sudah kembali ke Lampung bersama keluarganya.

 

Naik ke kelas 3 SD, kemampuanku menulis dan membuat karangan cukup bagus. Aku pun menulis dan mengirim surat via pos kepada ayah. Alamat lengkapnya kuperoleh dari nenek. Tak lama kemudian, ayah mengirimiku paket via pos. Isinya dua stel pakaian seragam putih – biru, satu stel pakaian pramuka lengkap atribut, beberapa stel pakaian sehari-hari serta selembar uang Rp10 ribu. Sejak muda ayahku memang bekerja sebagai tukang jahit pakaian.

 

Hingga aku kelas 6 SD, komunikasi dengan ayah kulakukan via surat, sesekali dengan mengirim telegram jika sangat penting. Hampir setiap tahun ayah pun mengirimiku paket berisi pakaian dan uang. Adakalanya mengirim uang via weselpos. Usai aku mengikuti evaluasi belajar tahap akhir (EBTA) SD, Mei 1983, ayah kembali mengirimiku uang Rp30 ribu. Pada kolom pesan di weselpos ada tulisan: Ayah harapkan ananda segera berangkat ke tempat ayah, ke Lampung.

 

Pesan itu kuperlihatkan ke ibu. Pada awalnya ibu menyatakan keberatan. Sebab, rute yang mesti kutempuh sangat jauh (dari Sumatera Barat ke Lampung!) dengan medan jalan waktu itu cukup berat. Selain itu, rute-nya tak pula satu jalur. Terlebih usiaku saat itu baru 14 tahun, dengan fisik lemah pula. Apalagi waktu itu bulan puasa.

 

Sebagaimana digambarkan ayah dalam surat mengiringi weselpos, sesampai di Lampung aku harus turun bus di Bukit Kemuning dengan perkiraan waktu kedatangan malam hari. Selanjutnya ayah memintaku melapor ke pemilik rumah makan sekalian numpang menginap. Keesokan paginya barulah meneruskan perjalanan dengan naik bus lagi ke Krui (waktu itu masih bagian dari Kabupaten Lampung Utara, kemudian jadi bagian Lampung Barat dan kini jadi pusat Kabupaten Pesisir Barat).

 

Karena aku ngotot ingin berangkat, ibu pun tak berdaya menahan. Setelah menyelesaikan urusan pengambilan ijazah (Alhamdulillah... aku meraih juara umum dengan nilai tertinggi pada lima SD yang bergabung ikut EBTA di SD 1 Lubuk Padan; tiga lagi SD 1 dan 2 Sungai Asam serta SD Gantiang) dan mendaftar ke SMP Negeri Pakandangan, aku berangkat ke Lampung. Untuk membeli tiket bus, aku meminta tolong ke adik ayahku dengan menyerahkan uang ke tangannya Rp15 ribu.

 

Lantaran rumah ibuku jauh dari Jalan Raya Padang – Bukittinggi kilometer 43,5 (sekitar 1,5 km), aku menunggu Bus Gumarang Jaya yang akan kutumpangi ke Lampung di depan rumah adik ayahku yang membantu membelikan tiket. Aku lupa hari apa dan tanggal berapa, yang jelas bulan Juni 1983.

 

Siang itu, sekitar jam 11, bus tujuan Jakarta yang kutumpangi melaju ke arah Kota Padangpanjang, belok kanan terus melewati tepian Danau Singkarak, Kota Solok dan memasuki Jalinsum (Jalan Lintas Sumatera) menuju Lampung. Selepas maghrib, bus berhenti di Kiliran Jao (Kabupaten Sijunjung) untuk makan malam.

 

Sejak berangkat, aku sendirian menempati bangku di bagian kiri bus pada deretan ketiga dari belakang yang semestinya diisi dua orang. Dengan demikian aku agak leluasa menikmati perjalanan. Barulah keesokan paginya, setelah melewati Lubuk Linggau, naik penumpang dan duduk sebangku denganku. Dia seorang pria, bertubuh rada gendut, berpakaian seragam lengkap tentara dan kira-kira seusia dengan ayahku waktu itu.

 

Kalau jalur Jalinsum dari Kota Solok ke Lubuk Linggau sangat bagus dengan aspal hotmix, kondisi jalan selepas Lubuk Linggau menuju Lahat waktu itu sangat buruk, banyak lubang bahkan hancur. Akibatnya, untuk menempuh jarak yang konon hanya 80 km membutuhkan waktu hingga 8 jam bahkan lebih lama lagi. Konon, jalur Linggau – Lahat ini rawan kejahatan, banyak bajing loncat yang menjarah barang-barang milik penumpang di atas tenda bus. Konon lagi, ada pula komplotan penjahat yang mencegat bus dengan cara merobohkan pohon besar membelintang jalan.

 

Itulah sebabnya mengapa pengemudi bus memperhitungkan jam berangkat dengan perkiraan melewati jalur yang masih sepi dan banyak hutan ini pada siang hari, baik jika berangkat dari Padang maupun dari Jakarta. Mereka tidak mau mengambil risiko dijarah bajing lompat atau dihentikan para perampok.

 

Teman sebangkuku, Pak Tentara itu (aku lupa nama dan asal kesatuannya), ternyata cukup ramah dan jadi teman bicaraku yang seru. Ternyata dia juga orang Padang. Bapak itu yang menebakku orang Padang lantaran logat bicaraku. Sepanjang perjalanan dengan tubuh sering terhempas dan terguncang, tentara itu menanyakan banyak hal kepadaku. Begitupun sebaliknya.

 

Kami pun sering becanda konyol. Ketika aku tertidur, Pak Tentara itu menggantung beberapa celana dalamku yang umumnya sudah lusuh dan kumal pada besi bulat pada bagian atas tengah bus yang membentang dari depan ke belakang. Ketika aku terbangun, hampir semua penumpang tertawa ngakak.

 

Malamnya sekitar jam 23.00 bus memasuki kawasan Bukit Kemuning lalu berhenti di halaman sebuah rumah makan di persimpangan jalan menuju Krui. Aku lupa atau ragu nama rumah makan itu, Cemerlang atau Usaha Baru. Turun, aku langsung memesan makan. Kemudian, aku menuju meja kasir yang ditunggui lelaki tua berkopiah haji (aku yakin, beliau adalah Haji Ambai) yang ditulis ayah dalam suratnya.

 

Setelah membayar harga makanan, aku pun memperkenalkan diri, kampung asal dan kota tujuan, selanjutnya menyatakan ingin menginap di rumah makan itu hingga pagi, lalu menitipkan pakaian dan barang bawaan yang berbungkus dua kantong kresek besar warna hitam di bawah meja Pak Haji itu. Di tengah kesibukannya melayani banyak penumpang berbagai bus, beliau mempersilahkan. Aku pun pergi ke luar dan bermain di halaman.

 

Lewat tengah malam, mataku terasa sangat mengantuk, aku pun merebahkan badan di bangku panjang di emperan depan rumah makan. Suasana semakin sepi dan sepertinya aku langsung terlelap. Esok paginya, ketika aku mengambil barang titipan, Pak Haji bertanya, semalam aku tidur di mana? Kujawab apa adanya, Pak Haji pun terdengar marah dan menyayangkan tindakanku yang dia anggap sangat ceroboh.

 

“Apa kamu tidak tahu kalau akhir-akhir ini sedang marak penembakan misterius? Tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di Lampung ini, termasuk di Bukit Kemuning...,” aku hanya mengangguk lalu pamit hendak melanjutkan ke Krui.

 

Berdiri di pinggir jalan hendak menunggu bus dari Tanjung Karang menuju Krui, seorang pedagang jeruk menyapaku dan bertanya hendak ke mana. Setelah kujawab, dia masih bertanya menemui siapa. Kujawab ayahku, dia langsung menebak, “Kamu pasti anak Ajo Abadi kan?” Kata orang-orang yang mengenal aku dan ayahku, wajahku memang sangat mirip dengan wajah ayahku. Hanya warna kulit yang berbeda. Ayahku berkulit kuning, sedang aku berkulit gelap. Perbedaan lainnya, ayahku tidak cacat.

 

Tak berapa lama, penjual jeruk itu menyetop sebuah bus (Pandawa Lima, Punggawa Liwa atau Krui Putra – aku lupa merek dindingnya) lalu mempersilahkanku naik setelah meminta ongkos Rp3.500 dan menyerahkannya knek bus. Setelah aku duduk, bus pun melaju. Namun, tak lama, jalanan yang kami lewati menjadi sangat buruk, seperti jalur dari Lubuk Linggau menuju Lahat. Tubuhku kembali terhempas dan terbanting-banting. Aku merasa lebih nyaman memejamkan mata daripada melihat kondisi jalan di depan yang hendak ditempuh bus.

 

Alhasil, meski berangkat dari Bukit Kemuning jam delapan pagi, bus yang kutumpangi baru memasuki Liwa (kini Ibu Kabupaten Lampung Barat) menjelang jam empat sore. Bus berhenti di persimpangan, knek lalu menyuruhku turun. Katanya, bus akan terus ke Ranau. Ia juga mengingatkanku, jika hendak ke Krui, silahkan naik mobil lain.

 

Turun, bus pun berangkat, aku pun jadi bengong sendiri. Sekitar dua menit, hujan mengguyur Liwa, aku numpang berteduh di emper toko bangunan dengan menenteng dua kantong kresek warna hitam. Lalu muncul seorang lelaki, mungkin karyawan toko itu. Ia menanyakan tujuanku. Setelah kusebutkan, ia langsung menebak, “Kamu anak Ajo Abadi ya?”

 

Ayahku memang pemilik usaha Penjahit Abadi, Pasar Pagi Krui. Meski di bawah merek Abadi tertulis nama ayahku, orang-orang menyapanya Ajo (Abang – bahasa Pariaman) Abadi. Ia dikenal hingga ke Tanjung Karang dan Teluk Betung, konon karena hasil jahitannya sangat bagus dan disukai banyak orang, termasuk oleh anggota DPRD Lampung. Padahal, jarak Tanjung Karang (kini bernama Bandar Lampung) – Krui 278 kilometer.

 

Sedang asyik berbincang-bincang dengan lelaki yang kukira karyawan toko bangunan itu – yang tahu banyak tentang Ranah Minang, padahal logat bicaranya medok Jawa – lewat sebuah omprengan. Lelaki itu menyetop dan menyuruhku naik. Omprengan itu mobil bak terbuka atau pick up yang diberi tenda dengan dinding terpal. Aku naik dan duduk di antara belasan penumpang pada bangku panjang yang saling berhadapan.

 

Omprengan itu disopiri lelaki bertubuh tegap. Usianya sekitar 27 – 30 tahun. Namun, sebelah tangannya buntung hingga lengan – aku lupa, kanan atau kiri. Meski demikian, ia sangat cekatan mengendara dengan kecepatan tinggi, tak terkecuali ketika melewati turunan tajam berliku menjelang Krui. Jarak 32 kilometer Liwa - Krui pun kami tempuh dalam waktu satu jam.

 

Mobil berhenti di terminal kecil tak tertata menjelang senja. Bersama penumpang lain aku turun dan membayar ongkos Rp1.500 langsung ke sopir. Berjalan kaki memasuki pasar, aku bertanya kepada penjahit pakaian yang kulewati, di mana Penjahit Abadi? Mereka pun menunjukkan sembari melontarkan tebakan kalau aku anak ajo Abadi.

 

Bangunan yang disewa ayahku waktu itu terletak di pinggir Sungai (Way) Balau, menghadap ke Jalan Raya Liwa – Krui – Pogong. Lebar bangunan itu sekitar tujuh meter tetapi memanjang ke belakang hingga sekitar 20 meter. Kedai tempat ayahku menjahit bersama sembilan karyawannya berada pada bagian depan.

 

 

BAGIAN KELIMA

KENANGAN MASA SMPN LAGERANG

 

AKU berada di Krui, kota kecil yang gersang, lebih dari sebulan. Keinginanku untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah (SMP) Negeri 1 Krui tidak kesampaian. Sebab, ijazah dan rapor SD yang kumasukkan ke tas sebelum berangkat tidak kutemukan setelah sampai di Krui. Aku menduga rapor dan ijazah itu dikeluarkan oleh ibu. Tak mungkin hilang di perjalanan.

 

Tak banyak kenangan yang layak kuceritakan selama berada di Krui. Hari-hariku di sana berlangsung monoton. Selain nongkrong di kedai menyaksikan dan ngomong-ngomong dengan para karyawan, hampir tiap sore aku keluyuran ke pelabuhan dengan dermaga sederhana. Lantaran tak punya teman, aku ke sana sendirian, mengayuh sepeda dengan jarak sekitar 600 meter.

 

Namun, suasana pelabuhan itu sangat sumpek dan bau. Aku pun hanya melintasi dan terus menuju sebuah bukit yang menjorok ke pantai, Bukit Selalau Indah. Bukit dengan hutan yang ditumbuhi beberapa pohon besar dan rindang kurasa begitu sejuk, terlebih karena permukaannya ditumbuhi rerumputan kecil yang lembut, ditambah pula tiupan angin cukup kencang dan hempasan ombak.

 

Adakalanya aku tertidur di atas bukit itu dan terbangun sendiri menjelang senja. Terkadang aku mengayuh sepeda lebih ke selatan menikmati panorama pantai landai berpasir putih. Pada waktu pasang surut aku ikutan mengumpulkan kerang hidup. Di selatan aku memutar ke jalan raya melewati SMP 1 dan kantor camat, kembali ke tempat ayahku. Akan hal dengan ayahku, kami sangat jarang berkomunikasi, apalagi sampai berbincang-bincang. Paling beliau hanya menanyakan satu – dua hal yang sangat penting. Sebaliknya, aku pun tak pula punya keberanian untuk memulai bicara walau sekadar bertanya.

 

Menurut mitos yang pernah kudengar, hal itu dikarenakan wajahku dan ayah sangat mirip walau beda warna kulit. Mitos itu juga menyatakan, konsekuensi jika anak sangat mirip dengan ayah adalah perceraian, cerai hidup atau cerai mati. Namun, karena mirip itu ciptaan atau takdir Tuhan, siapa pun takkan dapat menghindari.

 

Meskipun rumah yang disewa ayahku waktu itu sangat besar, tetapi tidak memiliki kamar mandi dan kakus. Kalau mandi kami harus pergi ke sumur di belakang masjid yang berlokasi persis di seberang Way Balau. Untuk mencapai sumur itu kami harus lewat depan kedai menuju jalan raya plus menyeberangi jembatan, lalu belok kanan melalui samping kedai lain. Satu sumur digunakan laki-laki dan perempuan dengan batas sekadarnya menggunakan bekas karung plastik pakaian kodian. Sumur itu berair payau, terasa agak asin dan bergetah di tubuh. Selain itu air sumur yang telah membasahi tubuh tidak mengundang busa sabun walau sudah digosok-gosokkan semaksimal mungkin. Akan tetapi, badan terasa bersih dan segar juga.

 

Sedangkan kakus berada di samping kanan dapur, di luar, persis di bantaran sungai yang berair kumuh pekat dan tenang serta ditumbuhi aneka semak payau. Bangunan kakus itu berupa empat tiang yang dilingkari plastik bekas karung, di dalamnya terdapat tempat pijakan kaki kanan dan kiri. Untuk cebok, kami harus bawa seember kecil air dari dapur.

 

Entahlah, mungkin karena tak pandai bergaul atau karena fisikku yang cacat, aku nyaris tak punya teman sebaya, kecuali beberapa karyawan ayahku yang nginap di loteng. Sebutan loteng itu untuk lantai dua mulai dari atas teras kedai hingga bagian tengah bangunan. Cukup luas juga, mungkin sekitar 7 x 10 meter. Di lantai atas itulah para karyawan menginap, termasuk aku.

 

Oya, saat itu ekonomi ayahku memang tampaknya sedang jaya. Di samping usaha jahitan yang sangat ramai peminat, di lantai atas juga kulihat banyak buah cengkeh, baik yang sudah kering maupun setengah kering, ada yang di dalam karung ada yang juga yang teronggok di lantai. Aku dengar, ayahku punya kebun cengkeh cukup luas di Pulau Enggano, mencapai tujuh hektar dan sedang panen.

 

Senin 18 Juli merupakan hari pertama tahun ajaran 1983/1984 tetapi aku masih di Krui. Aku tak ingat apa alasan Amak (panggilanku kepada isteri ayah) belum membolehkanku pulang ke kampung. Amak baru mengantarkanku ke Tanjung Karang, Jumat 22 Juli malam dan sampai esok siangnya. Karena tiket keberangkatanku ke Padang dengan Bus Lampung Jaya hari Minggu jam 11, Amak mencari penginapan. Setelah menaruh barang bawaan di kamar, Amak mengajakku ke luar lagi, pergi berbelanja, bahkan malamnya kami menonton film di bioskop di kawasan Bambu Kuning.

 

SAMPAI di kampung hari Selasa siang, aku baru ke sekolah, Rabu 27 Juli siang. Kampusku, SMP Negeri Pakandangan, berlokasi sekitar 2 km arah selatan SD 2 Lubuk Pandan atau sekitar 4 kilometer dari rumahku. Jarak sejauh itu mesti kutempuh dengan berjalan kaki, kadang melewati SD 2 Lubuk Pandan di Desa Kampung Guci atau lurus arah selatan melalui Desa Kampung Panyalai. Walau aku sudah bisa mengendarai sepeda sejak kelas VI SD, ibu tidak sanggup membelikanku, walau sepeda bekas.

 

Hari pertama ke sekolah, aku agak telat pula. Lokalku, Kelas I/C, berlokasi nyaris di ujung pekarangan, di kaki Bukit Lagerang. Kami masuk siang karena paginya lokal itu ditempati Kelas III/C. Tahun ajaran 1983/1984 itu SMPN Pakandangan terdiri dari tujuh kelas III, delapan kelas II dan sepuluh kelas I. Sedangkan ruang belajar yang tersedia hanya 15 lokal. Akibatnya, seluruh siswa kelas I masuk jam 13.00 dan pulang jam 17.00.

 

Masuk kelas, aku disambut Bu Jursiatul Awaliyah yang mengajarkan Bahasa Inggris. Ia menyapa dan menanyaiku dengan bahasa yang tak kumengerti. Aku hanya terbengong-bengong, seisi kelas pun meledak, ketawa. Aku makin grogi, kedua lututku gemetaran. Di Kelas I/C itu hanya tiga orang yang kukenal, yang berasal dari SD 2 Lubuk Pandan. Rasa rendah diriku kian terpuruk.

 

Bu Jur menyuruhku duduk. Kuedarkan pandangan ke seluruh ruang kelas, cuma ada satu kursi dan meja kosong, terletak paling belakang pada blok ketiga dari pintu, itu pun di sebelah perempuan. Tiada pilihan lain, aku melangkah ke belakang dan duduk diam di bangku itu.

 

Jam pelajaran ketiga masuk guru cantik, mirip aktris Meriam Bellina waktu masih gadis. Belakangan kutahu namanya Bu Arnarita, beliau mengajar matematika. Baru masuk, ia langsung menuliskan 10 soal di papan tulis untuk kami jawab. Soal-soal itu ternyata ulangan harian atas pelajaran yang dia terangkan minggu lalu. Waktu itu tak ada masa pengenalan lingkungan sekolah alias langsung belajar.

 

Lantaran soal-soal itu sudah kupahami waktu kelas VI SD dulu, aku bisa menjawab dengan cepat, bahkan siswa pertama yang menyerahkan buku jawaban ke meja guru. Pandangan teman-teman terhadapku langsung berubah. Ketika aku kembali duduk, teman di sebelahku dengan malu-malu mengajak kenalan. Namanya Erni Marlina. Jam istirahat makin banyak teman yang mengajak kenalan. Di antaranya ada Asnimaida, Nurhayati, Asmawati, Sarman, Mulyadi, Hasan Basri, Advi Fuadi dan Eli Nurfa. Kelas I/C berpenduduk 40 siswa, termasuk diriku. Pada jam pelajaran kelima dan keenam, Bahasa Indonesia, gurunya – kata Erni Marlina – adalah walikelas kami, namanya Bu Asmawati.

 

Bu As tak hanya sangat cantik tetapi juga sangat lembut dan penuh perhatian, tak terkecuali kepadaku, siswa yang paling banyak masalah. Pernah suatu kali, Bu As menyuruhku menulis di papan tulis, ketika hendak kembali ke tempat duduk ternyata telapak sepatuku sebelah kiri copot. Seisi kelas bergaung laksana lebah buncah.

 

Alhamdulillah... semester pertama Kelas I/C aku meraih juara II, sedangkan juara pertama Sarman dan juara ketiga Asnimaida. Sedangkan semester kedua atau pada rapor kenaikan kelas, aku yang meraih juara pertama, tukar tempat dengan Sarman. Naik ke kelas II, kami dilebur menjadi Kelas II/A hingga II/J. Untuk mengetahui aku dapat lokal mana, pada hari pertama sekolah itu yang kulakukan adalah mempelototi lembaran pengumuman yang ditempelkan pegawai tata usaha di kaca jendela belakang labor fisika / biologi, khususnya pada nomor-nomor bawah lantaran awal namaku huruf Z.

 

Ketemu di lokal II/F, hal berikutnya yang kulakukan adalah menaikkan pandangan ke atas. Namun, mataku tertumbuk dan terpaku pada nama yang tertera di nomor 9, DP. (Karena kisah kami berlanjut hingga 30 tahun kemudian, namanya sengaja kutulis dengan inisial). Tak tahu kenapa pandanganku terpaku pada nama itu hingga tak peduli pada 38 nama lainnya yang juga siswa Kelas II/F, rasanya ada hal yang tak bisa kujelaskan.

 

Ketika berkumpul di lokal, aku merasa tak sabar menunggu Walikelas Bu Westri masuk dan meng-absen kami satu persatu lantaran aku ingin tahu yang mana DP itu. Dan, ketika Bu Westri menyebut nama itu, secepat kilat mataku bergerak mencari siapa yang tunjuk tangan. Ternyata siswi tercantik di lokal kami! Berkulit kuning mulus dengan rambut lurus panjang warna kepirangan hingga melewati pinggang, belum lagi wajahnya yang teduh. Hatiku langsung serasa tersengat.

 

DP memang bukan gadis pertama yang nyangkut di hatiku. Sebab, waktuKelas V SD saja aku sudah jatuh cinta kepada teman sekelas, Atmi Suryati namanya – kisah dengannya pun berlanjut hingga tahun 2000 dan cukup heroik. Namun, kehadiran DP di lokal II F memacu semangat belajarku dengan kecepatan tinggi. Rasanya aku tak ingin pulang ke rumah alias ingin berada di lokal selama 24 jam, 7 hari seminggu.

 

Sialnya, DP seperti tak suka sering-sering kutatap dan kupandang. Oya, tempat duduk kami memang agak berjauhan. Selain itu, Kelas II/F merupakan lokal paling sial karena dapat jatah labor sebagai ruang belajar. Jika ada kelas II lokal lain atau kelas III yang hendak menggunakan ruang dan peralatan labor untuk praktek mata pelajaran fisika atau biologi, kami harus pindah ke lokal mereka. Makanya, aku menyebut Kelas II/F sebagai lokal nomaden.

 

BAGIAN KEENAM

DIPECAT DARI JABATAN KETUA KELAS

 

MASA-masa remaja di SMP kulalui dengan keprihatinan. Dengan uang jajan Rp100 dan jalan kaki +4 km atau + 8 km pergi dan pulang, aku berusaha belajar dengan giat dan rajin. Alhamdulillah, prediket juara kelas pun tergenggam di tanganku.

 

Kecuali pada kelas I, karena masuk siang dan pulang menjelang maghrib, aku tetap harus membantu orangtua menggembalakan kerbau dan mencangkul sawah yang hendak ditanami. Hari Minggu dan libur lainnya aku harus full kerja di sawah.

 

Sewaktu kelas I SMP, tiap pulang sekolah aku harus menumbuk beras yang sudah direndam dan ditiriskan untuk dijadikan tepung. Banyaknya berkisar tiga liter dengan upah Rp75 / liter. Kegiatan menumbuk itu kulakukan di lesung milik tetangga yang berlokasi terpisah di belakang rumah. Untuk penerangan, aku memasang lampu teplok atau lampu semprong.

 

Lesung itu dibuat sedemikian rupa sehingga alu-nya bisa kugerakkan dengan kaki. Alu terpasang pada sebuah pangkal kayu cukup besar sepanjang tiga meter dengan sumbu di tengahnya. Dengan bantalan kayu lain, ujungnya kuinjak secara cepat dan berulang.

 

Setelah beras halus dan menepung, kayu yang terpasang alu kutopang dengan kayu lain, aku pun mengayak dengan menggunakan baskom besar untuk menampung tepung. Sisanya kucurahkan ke baskom lain, Begitu kulakukan berulang-ulang hingga beras tumbukan di dalam lesung habis kukeruk dengan tangan dan kuayak. Selanjutnya, sisa ayakan kucurahkan lagi ke lesung, kutumbuk lagi, lagi dan lagi hingga sisa ayakan tinggal setengah genggam.

 

Uang upah menumbuk beras itu dikonversi ibu jadi uang jajanku ke sekolah. Dengan kata lain, ibu takkan memberiku uang jajan lagi. Meski demikian, aku tetap bisa enjoy tanpa pernah mengeluh.

 

Ada dua peristiwa penting yang kualami selama berada di Kelas II/F SMPN Pakandangan tahun ajaran 1984/1985. Pertama, mendapat hukuman dengan tuduhan melecehkan Kepala Sekolah, Pak Drs Syaifullah. Peristiwa bermula dari adanya kegiatan pemeriksaan untuk mengetahui golongan darah.

 

Suatu hari kami mendapat pemberitahuan dari guru yang mengajar, bahwa setiap siswa harus mengikuti pemeriksaan untuk mengetahui golongan darah, tempatnya di ruangan lain ~ saat itu Kelas II/F sedang diajar Bu Asnidar yang mengajarkan matematika. Ketika kutanya, Bu Asnidar menyatakan pemeriksaan itu gratis. Aku pun mengikuti pemeriksaan dan saat itulah kuketahui golongan darahku B.

 

Beberapa minggu kemudian muncul surat edaran (SE) yang ditandatangani kepala sekolah, isinya berupa pemberitahuan bahwa pemeriksaan golongan darah yang telah kami ikuti dikenai biaya ~ kalau aku tak salah ingat ~ Rp1.200/siswa. Biaya tersebut harus kami cicil selama 4 bulan dengan cara ditambahkan ke uang SPP yang Rp1.500/bulan.

 

Aku tak ingat siapa yang membagikan SE itu ke lokal kami, entah guru yang sedang mengajar atau petugas tata usaha. Yang pasti, seisi kelas langsung heboh dengan suara bergemuruh. Emosiku pun langsung terpancing, setelah membaca aku spontan merobek-robek SE itu.

 

Pada saat itu Pak Syaifullah berjalan di koridor depan ruang kelas dan mungkin melihat aksiku merobek-robek itu. Beliau melongok di pintu dan bertanya, “Siapa itu yang merobek-robek kertas?”

 

Kami semua terdiam. Mendengar suara Pak Kepsek, aku cepat-cepat menyembunyikan kertas yang kurobek tadi ke laci meja. Namun, teman di sebelahku justru mengambil kertas tersebut dan menyerahkan ke Pak Kepsek. Beliau menatapku sekilas, lalu menyuruhku ikut ke kantor.

 

Setiba di kantor, Pak Syaiful memanggil Wakepsek ~ Pak Fauzi Thalib ~ dan menyerahkanku padanya untuk “diadili’. Aku ikut ke ruang kerjanya. Dalam tanya-jawab aku menjelaskan mengapa tersulut emosi dan merobek SE itu, yakni karena sebelumnya Bu Asnidar menjelaskan bahwa pemeriksaaan golongan darah gratis.

 

Pak Fauzi tidak mau menerrima penjelasanku dan tetap bersikeras kalau aku telah melakukan tindakan melecehkan Pak Kepsek karena merobek SE yang beliau tandatangani. Oleh karena itu, Pak Fauzi menjatuhkan hukuman kepadaku berupa membersihkan pekarangan belakang kantor majelis guru dan tata usaha dengan membawa cangkul dari rumah selama tiga hari setelah selesai belajar.

 

Spontan aku menolak hukuman itu dengan menyatakan tidak manusiawi. Sebab, fisikku cacat dan lemah, bagaimana mungkin aku bekerja mengayunkan cangkul untuk mempersihkan areal yang cukup luas dan lumayan semak?

 

Setelah setengah jam bersoal-jawab, Pak Fauzi menyerah. Ia pun menyerahkan perkaraku ke Pak Anwir Tuanku Mudo, guru agama yang ditugasi juga sebagai guru BK. Pak Anwir pun dapat kutaklukkan dengan jawaban-jawaban logis dan argumentatif. Namun, beliau membujukku agar menerima hukuman menyapu ruangan labor. Dia beralasan, untuk menghormati Pak Kepsek yang merupakan ‘orang dekat’ Kakanwil Depdikbud Provinsi Sumbar.

 

Iyalah, kuterima, menyapu labor mulai Senin hingga Rabu pagi. Teman-teman yang mengikuti ‘persidangan’ku segera menyiarkan hukuman yang kuterima dari mulut ke mulut. Selanjutnya, apa yang terjadi? Ternyata ruang labor hingga ke teras sudah bersih ketika aku datang beberapa menit menjelang lonceng masuk berbunyi. Ternyata, tiga konco-ku telah mendahului menyapu labor. Mereka adalah Antoni, Syahrial dan Zalkhairi.

 

Kenyataan itu kemudian dipermasalahkan Walikelas II/F, Bu Westry. Ia mremanggilku dengan marah. “Zakirman! Kamu yang kena hukum, mengapa teman-teman yang kamu suruh mengerjakannya?”

 

“Saya tidak pernah menyuruh, Buk. Mereka sendiri yang mendahului saya menyapu labor hingga bersih. Mungkin karena solidaritas, Buk,” jawab saya. Bu Westry pun diam.

 

Peristiwa kedua, Bu Westry memecatku dari jabatan ketua kelas secara terbuka dan secara tidak hormat. Penyebabnya karena Nu Westry sangat marah gara-gara aku tidak melaksanakan tanggungjawab.

 

Kejadiannya begini, untuk memenuhi himbauan kepsek agar setiap lokal membuat taman di halaman kelas masing-masing, kami sepakat merencanakan taman dengan menggunakan potongan-potongan bambu kecil sebagai pagar. Di dalamnya, akan kami tanami aneka jenis bunga.

 

Untuk pengadaan bambu kecil berdiameter 1,5 s/d 2 cm yang kami sebut sariak menjadi tugas laki-laki (siswa) mencari dan membawa ke sekolah. Setiap siswa harus membawa 10 batang sariak dengan panjang berkisar 3 s/d 4 meter. Sedangkan perempuan (siswi) bertugas membawa bibit atau tanaman bunga.

 

Pada hari yang disepakati ternyata tak seorang siswa pun yang membawa sariak, termasuk diriku. Sedangkan yang membawa bibit tanaman bunga hanya dua siswi. Padahal kami selokal terrdiri dari 19 siswa dan 21 siswi. Mengetahui hal itu, Bu Westry pun marah-marah. Ia memerintahkan kami mencari sariak dan bibit bunga saat itu juga dengan mengorbankan dua jam pelajaran biologi yang dia gurunya.

 

Aku otomatis bertugas mengkoordinir kelompok siswa. Sedangkan kelompok siswi dikoordinir Agustinar dan Rita Rozana. Kami, para siswa, segera menuju pinggiran sungai Batang Ulakan untuk mencari sariak dengan berbekal beberapa parang yang kami pinjam dari warga di sekitar sekolah.

 

Tak seperti yang kami perkirakan, ternyata kami tidak menemukan tumbuhan sariak di lereng semak-belukar pinggiran sungai. Aku pun menyerah. Entah siapa yang punya ide, kami pun duduk-duduk di atas pasir, lalu mengumpulkan uang untuk membeli dua bungkus rokok filter. Gagal mencari sariak, kami pun menikmati kepulan asap rokok.

 

Selanjutnya, menjelang akhir jam pelajaran biologi, kami kembali masuk kelas. Kepada Bu Westry kulaporkan jika kami tidak menemukan tumbuhan sariak di pinggir sungai. Mendengar laporanku, Bu Westry langsung marah.

 

“Zakirman, kamu bohong! Ibu dapat laporan jika kalian para siswa tidaklah mencari sariak, tetapi hanya duduk-duduk di pinggir sungai sembari merokok-rokok. Detik ini juga kamu Ibu pecat sebagai ketua kelas. Sekarang kita pilih ketua kelas yang baru,” kata Bu Westry dengan suara tinggi.

 

Aku tak berdaya dan tak berani membela diri. Toh, tuduhan Bu Westry memang benar. Aku hanya kesal pada siswi yang kuduga melaporkan kegiatan kami lepada Bu Westry. Siswi yang suka menjilat itu memang sudah lama tidak menyukaiku.

 

Pemilihan ketua kelas penggantiku langsung dilaksanakan. Muncul dua nama calon berdasarkan usulan terbuka. Selanjutnya kami diminta memilih Erijon atau Erwansyah dengan menuliskan pada secarik kertas. Lantaran masih kesal karena dipecat, aku menulis kedua nama itu hingga kembali menyulut kemarahan Bu Westry. Alhasil, Erwansyah meraih suara terbanyak.

 

Alhamdulillah... meski dua kali berkasus, prediket juara kelas, 1/40, tetap tertera di raporku, baik pada semester tiga maupun semester empat. Begitu juga perpanjangan beasiswa dari Mendikbud RI sebesar Rp7.500/bulan tetap kuterima melalui BRI Pariaman.

 

Suatu hal yang masih melekat pada ingatanku adalah saat siswi tercantik Kelas II/F yang sangat kusukai (mungkin sangat kucinta) ~ DP ~ menyanyikan tembang di atas pentas perpisahan siswa kelas III. Hatiku bergetar mendengarnya, apalagi mendengar selentingan kalau DP akan pindah ke SMP di Kota Padang. Aku pun menunggu DP di tangga sisi kiri pentas.

 

Namun, usai menyanyi DP malah turun melalui tangga sisi kanan. Aku berusaha mengejar. Sayangnya, karena harus jalan memutar, aku kalah cepat. DP telah naik boncengan sepeda motor papanya, seorang bintara TNI. Aku terpaku kecewa.

 

Sebegitu berkesannya bagiku, tembang yang dinyanyikan DP masih kuingat dan hafal olehku hingga kini ....

 

Biarlah biar hatiku hancur berantakan

Asalkan dikau bahagia di dunia

Bukanlah bukan ku tak cinta padamu lagi

Nasib dirilah yang tiada mengizinkan

Hati ini susah mata ini basah

Bila mengenang cintamu oh kekasih

Senyum dan tawa di hatimu

terhapus oleh derita
Aku tak ingin tak ingin terus begini
Bibir dan matamu yang sayu

melukiskan derita itu
Biarlah biar kupergi dari sisihmu

Cinta tak lah selamanya mesti bersatu
Biarlah nanti di surga kita bertemu

 

BAGIAN KETUJUH

GAGAL MASUK SMA 3 PADANG

 

NAIK ke kelas tiga SMPN Pakandangan, mulai Juli 1985, aku dapat lokal III/C, sekelas kembali dengan Erijon. Teman-teman lain yang masih kuingat di antaranya Adianoveri, Nasyiatul ... (Upik), Agusrida, Dian Mutia, Fetdawati, Yetri Gusni, Ayang Mageni, Lusiana Fitri, Rohana, Syafrianto, Mississipi dan Yuliana. Walikelas kami waktu itu Bu Afrida Yetti.

 

Walau prestasiku cukup bagus, pada semester V masih meraih juara kedua, kalah oleh Adianoveri, semangat belajarku di kelas III SMP itu sesungguhnya sudah dibawa pergi oleh DP yang pindah, konon ke SMPN 15 Kota Padang. Jarak antara sekolahku dan sekolahnya hanya sekitar 27 km, tetapi bagiku waktu itu sangat jauh.


 

Namun, pada hari pertama evaluasi belajar tahap akhir nasional (ebtanas), Selasa 1 April 1986 pagi, Yetri Gusni menemuiku sembari menyerahkan sesuatu, “Dari DP di SMPN 15 Padang,” katanya. Kuterima, ternyata sehelai isi buku tulis terlipat 16.

 

Setelah kubuka, ternyata berisi tulisan DP. Ada setengah halaman. Di antara yang masih kuingat, DP mengucapkan selamat menempuh ujian disertai doa semoga kami sama-sama lulus dengan nilai gemilang.

 

Beberapa ketika, anganku kembali menerawang ke DP. Ah, ternyata dia masih mengingatku! Kenangan tentang DP yang sungguh cantik ~ gadis tinggi semampai berkulit kuning mulus dengan rambut panjang melewati pinggang hitam kepirangan ~ menari-nari di ruang ingatanku.

 

Kenangan lain semasa Kelas III SMPN Pakandangan, kami melakukan studi-banding ke SMPN Talawi – Sawahlunto, Sabtu – Minggu 27 – 28 Desember 1985. Sampai Sabtu siang, bersama seorang teman aku main ke pekarangan belakang sekolah, ternyata ada Sungai Batang Ombilin dengan jembatan gantung sepanjang lebih 100 meter menuju Desa Kolok.

 

Dekat jembatan aku sempat berkenalan dengan seorang cewek cantik bertubuh bongsor dengan kulit kuning dan rambut ikal sebahu. Ketika jemari kami bergenggaman, cewek itu menyebut namanya Nita, lengkapnya Sulvianita, siswi kelas I/D SMPN Talawi. Kami langsung akrab. Nita menemaniku turun ke sungai, kemudian menyeberangi jembatan dan jalan-jalan sore hingga memasuki Desa Kolok.

 

Sabtu malam, pihak tuan rumah menyelenggarakan pentas seni. Aku berkesempatan membacakan puisi yang kuciptakan sendiri. Dari atas pentas sempat kulihat Nita memberikan aplaus tepuk-tangan. Minggu pagi, pamit dari SMPN Talawi, kami berziarah ke Makam Mr Muhammad Yamin, tokoh Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

 

Sayangnya, aku tak sempat pamit pada Nita. Sebab, pagi itu aku tak melihatnya di sekolah. Namun, aku bertekad akan mengiriminya surat via pos. Selama lima bulan kemudian aku dan Nita saling berkirim dan berbalas surat, minimal sekali seminggu. Setiap surat yang kukirim pasti dibalas Nita, termasuk ketika dia berlibur ke tempat mama dan papanya di Perumahan Helvetia, Kota Medan.

 

Kenangan lain, awal aktivitasku sebagai penulis dan wartawan surat kabar pun bermula ketika aku bersekolah di SMPN ini. Tulisan pertama yang kukirim langsung dimuat Koran Masuk Sekolah (KMS), suptemen Harian Umum Singgalang – Kota Padang, Selasa kedua Agustus 1985. Di bawah judul tulisan tertera : Oleh Zakirman, Kelas III/C SMPN Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman.

 

Sejak saat itu, hampir setiap Selasa berbagai tulisanku menghiasi halaman KMS Singgalang. Sekali terbit bisa dua, tiga atau empat tulisan. Selain opini, terkadang cerpen, puisi, berita kegiatan sekolah atau bentuk tulisan lain. Bahkan, aku sudah berani mencari bahan berita ke sekolah lain, misalnya ke SMPN Sicincin.

 

Karena itu pulalah aku berkeinginan melanjutkan sekolah ke SMA Negeri di Kota Padang. Motivasiku tiada lain agar dekat redaksi tiga surat kabar harian yang terbit waktu itu, yakni Harian Singgalang, Haluan dan Semangat serta Mingguan Canang yang mulai terbit perdana Agustus 1986. Sembari sekolah, aku ingin mengembangkan kemampuan menulis.

 

(Catatan tentang kegiatan menulis ini telah kutulis sebelumnya dengan judul Sejarah Ringkas Kepenulisanku)


 

Hanya saja, Tuhan berkehendak lain. Nilai Ebtanas Murni (NEM)-ku ketika tamat SMP hanya 37,26 untuk enam bidangstudi atau dengan rata-rata 6,21. Bahkan untuk bidangstudi IPS hanya 3,47. Meski demikian, aku tetap memasukkan lamaran ke SMA 3 Padang di Gunung Pangilun. Namun, pada lembaran pengumuman, namaku tertera pada nomor 62 di bawah garis spidol merah.

 

Untunglah pada kesempatan yang sama aku pun memasukkan lamaran ke SMA Negeri Sicincin, rayon resmi bagi tamatan SMPN Pakandangan. Alhamdulillah... aku diterima. Terhitung mulai hari Senin 14 Juli 1986 aku resmi menjadi siswa Kelas I/1 SMA Sicincin yang berkampus di Desa Bari, sekitar 1 km jalan kaki dari Pasar Sicincin.

 

Untuk mencapai sekolah ini, dari rumah aku harus jalan kaki 1,5 km ke pinggir Jalan Raya Padang – Bukittinggi, lalu naik oplet trayek Lubuk Alung – Sicincin dengan ongkos Rp50. Mulai Kelas I hingga Kelas III SMA, ibu hanya sanggup memberiku Rp300 setiap hendak berangkat ke sekolah. Jumlah itu bersifat konstan, termasuk jika aku harus dua kali ke sekolah seminggu sekali untuk mengikuti bidangstudi olahraga.

 

BAGIAN KEDELAPAN

DAPAT RANGKING TERAKHIR, 41/41

 

SENIN 14 Juli 1986 merupakan hari pertama-ku belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Sicincin (kini bernama SMA 1 2x11 Enam Lingkung), Kabupaten Padang Pariaman – Provinsi Sumatera Barat. Suasana sebagai anak baru kembali melanda dan kurasakan.

 

Bagaimana tidak! Mayoritas dari 240 siswa baru atau Kelas I SMA Sicincin berasal dari SMPN Sicincin, SMPN Kayutanam, MTsN Kepala Hilalang dan SMP-SMP lain yang nyaris semuanya tak kukenal. Walau rayon resmi bagi tamatan SMPN Pakandangan, nyatanya tak seberapa yang masuk ke SMA Sicincin. Umumnya teman-temanku melanjutkan ke SMA Negeri Lubuk Alung atau ke sekolah lain.

 

Hal ini bisa dimengerti. Selain masih baru – aku anak keempat – SMA ini berkampus di pelosok, sekitar 1 km dari Pasar Sicincin dan harus kami tempuh dengan berjalan kaki. Mana lingkungannya masih berupa semak-belukar lagi. Sedangkan SMA Lubuk Alung – sebagai perbandingan – berkampus di pinggir Jalan Raya Padang – Bukittinggi.

 

Untuk mencapai sekolah ini, dari rumah aku harus jalan kaki 1,5 km ke pinggir Jalan Raya Padang – Bukittinggi, lalu naik oplet trayek Lubuk Alung – Sicincin dengan ongkos Rp50. Mulai Kelas I hingga Kelas III SMA, ibu hanya sanggup memberiku Rp300 setiap hendak berangkat ke sekolah. Jumlah itu bersifat konstan, termasuk jika aku harus dua kali ke sekolah seminggu sekali untuk mengikuti bidangstudi olahraga.

 

Meski demikian, popularitasku segera melejit. Cacat fisikku jadi tak kentara karena kemampuanku dalam belajar dan berdiskusi kelompok. Minggu pertama sekolah, kami wajib mengikuti Penataran Pedoman Penghayatan & Pengamalan Pancasila (P4) selama enam hari. Di sini penguasaan bidang-ku sudah menonjol.

 

Pada hari kedua Penataran P4, Selasa, lokalku – Kelas I/1 – mendapat tamu seorang siswi baru. Ketika guru menyuruh memperkenalkan diri, ia menyebutkan namanya Aida Herlina dengan panggilan Lin. Namun, aku lupa apakah dia menyebutkan berasal dari SMP mana atau tidak. Yang kuingat, Bu Guru menyuruh Lin duduk semeja denganku.

 

Otomatis aku jadi siswa pertama yang punya kesempatan mengenal Lin lebih akrab. Namun, karena kecantikannya melebihi rata-rata siswi, karuan saja Lin jadi pusat perhatian banyak siswa, termasuk dari lokal lain. Saat itu kelas I terbagi dalam 6 lokal. Meski demikian, aku merasa perhatian Lin padaku tidak berkurang.

 

Sayangnya, Lin sebangku dan selokal denganku hanya lima hari. Senin berikutnya, ketika mulai belajar, Lin dipindahkan (atau minta pindah?) ke Kelas I/5. Beberapa saat aku sempat tercenung dan merasa ada yang hilang. Hanya beberapa saat, lalu kusadari jika kami hanya beda lokal tetapi masih satu sekolah. Lokalku paling selatan, lokal Lin nomor dua paling utara, berjarak tiga lokal.

 

Hari-hariku terasa makin berwarna manakala aku merasakan perhatian siswi Kelas III Sos 1 yang duduk di bangku-ku pada shiff pagi (semua kelas satu memang masuk siang). Namanya Devi Fatma (DF). Mulanya dia menanyakan (atau menuduh?) dengan tulisan pada secarik kertas yang dia taruh di laci meja, “Hai adik yang duduk di bangku ini, kamu mengambil rol kakak yang tertinggal ya?”

 

Kesempatan itu tak kusia-siakan. Sebelumnya aku telah melihat wajahnya ketika aku datang ke sekolah sebelum anak kelas tiga bubar dan mengintip lewat jendela siapa yang duduk di bangku-ku. Lantaran sudah kuketahui siapa namanya, maka tudingan itu kubalas dengan dua bait puisi dengan menjadikan namanya sebagai huruf awal larik.

 

Keakrabanku dengan DF sepertinya membuat cemburu teman selokalnya yang mungkin menyukai gadis itu secara diam-diam. Yan, cowok itu, suatu ketika sepertinya sengaja menungguku di tempat sepi. Dengan sikap emosi ia mengingatkan agar aku tak lagi mengganggu DF. Namun, ketika hal itu kuberitahukan, DF memintaku agar mengabaikan Yan.

 

Di sisi lain, aku masih sering jalan bareng dan berbagi cerita dengan Lin. Namun, pada awal semester genap, kudengar kabar kalau Lin pindah ke SMA 8 Padang. Merasa kehilangan, kisah bersama Lin kutuangkan ke dalam satu cerpen sepanjang tujuh halaman ketikan. Cerpen yang... aku lupa judulnya itu dimuat KMS Singgalang edisi Minggu ke... Januari 1987.

 

Naik ke kelas II, aku kecewa berat lantaran pada rapor Walikelas I/1 Bu Lasmida Asri menetapkan jurusan sosial atau A3 untukku. Padahal, aku sangat ingin masuk jurusan fisika (A1). Dalam hal ini aku ingin menemukan alat pengkur dan peng-klasifikasi bau sebagaimana pernah kutuangkan sebelumnya dalam satu artikel dan dimuat KMS Singgalang.

 

Sewaktu aku mengajukan protes, Bu Lasmida menyatakan jika aku tak layak memilih jurusan fisika karena nilai-ku untuk bidangstudi biologi dan kimia tidak mendukung. Hal itu memang kuakui. Aku memang kurang menyukai biologi dan kimia. Beda dengan fisika dan matematika, aku-lah bintangnya.

 

Apa boleh buat, aku pun bergabung dengan Lokal II Sos 1 sebagaimana ditetapkan sekolah. Namun, entah kenapa, semangat belajarku sangat menurun dan amburadul. Keprihatinan guru-guru tak kugubris, aku bahkan sering bolos atau cabut.

 

Meski demikian, aktivitas kepenulisanku tetap berlanjut. Tak hanya di KMS, aku juga mengirim berita-berita untuk harian Singgalang. Mulai Agustus 1986 aku secara rutin mengisi bebagai rubrik pada Haluan Minggu dan sejak Maret 1987 aku pun mengisi rubrik-rubrik Mingguan Canang.

 

Puncaknya pada waktu pembagian rapor semester tiga, Desember 1987, walikelas memberiku penghargaan tertinggi dalam sejarahku sebagai pelajar, yakni rangking terakhir di kelas alias 41/41. Nilai semua mata pelajaran di rapor-ku tertulis dengan tinta merah, bahkan beberapa di antaranya kursi terbalik alias angka 4.

 

Bukan merasa malu, aku justru mengumumkan “prestasi tertinggi” itu ke hampir semua teman dan memperlihatkan rapor kepada mereka. Tahun 1987 kehidupanku memang relatif error. Aku tak ingat lagi, kenapa? Padahal, saat hari pertama semester II, Januari 1987, kepala sekolah mengumumkan dan menyerahkan SK Beasiswa untukku dari Menteri Pendidikan RI untuk tahun 1986/1987 sebesar Rp144 ribu.

 

Usai menerima termen pertama Rp72 ribu melalui bank, uang itu kubawa ke SMPN Pakandangan dan kuserahkan kepada Pak Syaifullah Rp60 ribu untuk dibelikan mesin tik bekas. Kalau tak salah ingat, waktu itu hari Sabtu, Pak Syaifullah memintaku datang lagi Senin lusa-nya.

 

Benar saja, ketika aku datang Senin pagi menyerahkan satu unit mesin tik baru warna hijau tua – kalau aku tak salah ingat – bermerek Kofa. Kuyakini baru karena lengkap dengan kotak dan gabus. Pada kuitansi tertulis harganya Rp100.000. Beberapa jenak aku bengong karena tak punya uang untuk menambah.

 

Melihat kebengonganku, Pak Syaifullah tersenyum lalu berkata, “Sengaja bapak beli yang baru supaya lebih baik. Zakirman tak perlu menambah....” Bahkan, Pak Syaifullah juga memberiku satu rim kertas HVS.

 

Sejak saat itu aku punya mesin tik sendiri, tak lagi minjam-minjam ke kantor kepala desa. Sejak saat itu aktivitas menulis-ku semakin intensif. Dalam seminggu aku bisa menghasilkan minimal satu cerita pendek (cerpen), beberapa artikel dan opini serta cerita untuk anak, padahal aku mengetik hanya dengan sebelas jari lantaran tangan kiriku cacat.

 

Memasuki semester empat Kelas II Sos 1 semangat belajarku tak jua membaik. Kebiasaanku membolos tak juga berkurang. Aku bahkan berani terang-terangan meninggalkan sekolah pada jam belajar.

 

Suatu ketika, aku ingat, aku meninggalkan sekolah sekitar jam sembilan pagi. Di jalan menuju jalan raya aku berpapasan dengan Bu Bebasari (guru kesenian) dan Bu Ria Wati (guru bimbingan konseling). Waktu mereka bertanya, kujawab mau ke Redaksi Haluan (atau Singgalang) di Kota Padang untuk mengambil honor tulisan. Mendengar jawabanku, kedua guru itu tak lagi bersuara.

 

Ya, waktu itu honor tulisan memang harus dijemput langsung ke redaksi, tidak dikirim melalui wesel pos. Haluan membayarkan honor mulai tanggal 5 bulan berikutnya, Singgalang mulai tanggal 10 dan Canang setelah tanggal 10. Aku memang tak selalu setiap bulan menjemput honor. Terkadang bisa setelah tiga bulan.

 

Sabtu 6 Februari 1988 pagi aku kembali cabut setelah mengikuti dua jam pelajaran. Hari itu – sesuai informasi yang kuperoleh sebelumnya – akan berlangsung pertemuan empat artis ibukota dengan utusan pelajar se-Kota Padang bertempat di Rattan Room Lantai III Gedung Redaksi Singgalang. Keempat artis antara lain Nourma Yunita, Ikang Fauzie dan Fariz RM serta beberapa pelawak seperti Ateng dan Mang Ucup.

 

Karena datang agak terlambat – meski acara belum dimulai – aku kebagian tempat duduk paling depan, berhadapan langsung dengan para artis dan pelawak – hanya berjarak sekitar satu meter atau kurang. Celakanya, ketika menaiki tangga gedung, retsluiting celana abu-abu yang kupakai copot. Untuk menutupi, terpaksa aku mengeluarkan baju putih dari pinggang celana. Namun, di tengah acara berlangsung, Nourma Yunita sempat menunjuk ke arah retsluiting celanaku yang tersingkap. Untunglah aku memakai celana dalam.

 

Usai pertemuan dan berfoto-ria bareng artis, aku sempat berkenalan dengan para pelajar dari sekolah lain. Mereka mengaku sangat menyukai tulisan-tulisanku, baik di KMS Singgalang, Haluan maupun di Mingguan Canang. Seorang di antara yang mengajakku kenalan adalah Ridwan, siswa Kelas III (aku lupa, entah fisika atau biologi) SMA Negeri Lubuk Alung.

 

Dari Kota Padang, Ridwan mengajakku mampir ke rumah orangtuanya di Passar Limau, Paritmalintang. Tidak sekadar mampir, Iwan (begitu ia suka dipanggil) menahanku agar menginap. Sepanjang malam hingga pagi kami tak lelap sepicing pun, saling bercerita terus tak henti-henti.

 

Ketika menerima rapor kenaikan kelas, rangking-ku membaik sedikit menjadi 34/41 dan aku dinyatakan naik ke kelas III. Pada hari pertama tahun ajaran baru, Senin 18 Juli 1988, kudengar ada informasi khusus untuk siswa Kelas II Sos yang naik ke kelas III. Bagi yang meraih rangking 1 s/d 10 dapat lokal III Sos 1, 11 s/d 20 > III Sos 2, 21 s/d 30 > III Sos 3. Karena rangkingku 34 berarti dapat lokal III Sos 4.

 

Namun, sewaktu memasuki ruangan III Sos 4, aku merasa kurang cocok dengan penghuninya. Maka, aku pun masuk ke lokal III Sos 3. Di sini aku melihat banyak teman yang kurasa cocok denganku. Mereka antara lain Mulyadi (Edi Kurin), Bujang Suardi dan Guslina Wati. Satu hal lagi, ada lembar absensi lokal ini juga ada nama Zakirman tetapi belum masuk lantaran masih belum balik dari Kota Medan.

 

Klop deh, aku pun memantapkan diri menjadi warga III Sos 3. Walikelas kami, Bu Imnawati, tak pula protes atau mengusirku ke luar. Ketika Zakirman yang satu lagi masuk sekolah beberapa hari kemudian, dia kusuruh gabung dengan III Sos 4.

 

Pada hari-hari pertama sekolah aku menyatakan tekad menjadi siswa terbaik untuk mencapai prestasi tertinggi yang bisa kucapai. Tekad itu bahkan kukemukakan kepada Mulyadi di bawah pohon manggis – di luar pekarangan sekolah menuju jalan raya.

 

Alhamdulillah... pada rapor semester V dan VI aku meraih rangking pertama di Kelas III Sos 3. Bahkan, waktu evaluasi belajar tahap akhir nasional (ebtanas), aku meraih nilai ebtanas murni (nem) 52,96 atau rata-rata 7,56 untuk tujuh bidangstudi. Namun, karena prestasiku naik-turun-naik, aku tidak dapat fasilitas PMDK atau mahasiswa undangan ke perguruan tinggi negeri.

 

*) Cikal-bakal autobiografi-ku, Insyaa Allah

**) Rakyat jelata yang tidak punya jabatan apa-apa, bukan pegawai pemerintah ataupun swasta

 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama