Kenangan Heroik Mengikuti Peringatan HPN di Bengkulu, 7 - 10 Februari 2014

0

Catatan Zakirman Tanjung



KAMI
berangkat dari Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman,.Jumat 7 Februari malam, dengan dua mobil - Avanza & Xenia - bersama 10 teman. Selain aku, antara lain, Heri Sugianto, Ikhlas Bakri, Hendri Chaniago,. Suardi Aminsyah, Bustanul ArifinDarwisman, Ahmad Damanhuri, Ajo Amir dan Solfi Hardi.


Makan malam di Pasar Kuliner Kota Padangpanjang, lanjut menuju Bengkulu via Solok, Muaro Bungo dan Lubuk Linggau. Perjalanan cukup menyenangkan walau aku dan beberapa teman tidak membawa cukup uang. 


Setelah melewati Muaro Bungo, saya coba mengontak Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Persatuan Keluarga Daerah Piaman (DPW PKDP) Bengkulu Drs Sutan Suardi Gutji MPd. Nyambung! Ia menyatakan akan  menanti dan menyambut kami bersama sejumlah Pengurus DPW PKDP. 



Kami.memasuki Kota Bengkulu, Sabtu 8 Februari, dinanti Pak Suardi bersama beberapa beberapa Pengurus DPW PKDP di depan suatu penginapan. Setelah mandi dan ganti pakaian, Pak Suardi menjemput kami dan mengajak ke suatu kedai untuk jamuan makan malam. 



Minggu pagi, kami menuju lapangan untuk mengikuti Upacara Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga selesai, mengunjungi Benteng ... dan Panjang sembari bertemu dan bersilaturrahim dengan rekan² wartawan dari seluruh Indonesia. 


Kami meninggalkan Kota Bengkulu, Minggu senja, via lintas barat dan sepakat men-jamak shalat isya usai makan malam. Pilihan ini kami ambil karena mendengar informasi yang menyebutkan jalur Bengkulu - Linggau tidak aman pada malam hari. 



Nyatanya, perjalanan kami via lintas barat malam itu justru yang tidak aman. Kejadian pertama di Kawasan Muko-Muko sekira pukul 22.30, Avanza yang kutumpangi dan disopiri Ikhlas Bakri nyaris mencebur masuk laut kalau saja Ikhlas tak sigap menginjak pedal rem. Padahal, waktu itu kecepatan mobil berkisar 70 - 80 km/jam. 


Mundur, ternyata ada jalan kecil memasuki semak-semak di samping kanan jalan utama. Kami melewati jalan itu. Di dalamnya ada sejumlah pemuda meminta uang. 



Berdasarkan peristiwa itu, Ikhlas memilih jalan di belakang dan membiarkan Xenia di depan. Ikhlas mengaku tidak mengenal jalur lintas barat karena baru sekali itu melewati. 


Waktu tidak jadi masuk lauik, Ikhlas sempat mangungkapkan kekuatirannya kepadaku, "Rasa-rasa akan ada kejadian yang lebih berat, Ketua."


Waktu itu mobil kami beriringan dengan pajero. Kami kencang dia ikuti, kami lambat pun dikuntitnya  dari belakang.


Ikhlas memintaku memeriksa kunci roda di bawah tempat duduknya. "Ndak perlu cemas, kita tingkatkan saja kewaspadaan sambil berdoa," katanya mengingatkan.



Beriring-iringan dengan pajero itu ± 30 menit. Setelah Ikhlas menambah kecepatan hingga 100 km/jam, kejar-kejaran dengan xenia, pajero tak kelihatan lagi. 


Namun, menjelang pukul 00.00, kulihat Xenia yang disopiri Solfi Hardi oleng ke kiri, lalu ke kanan dan rebah dengan menyelosoh hingga 20 meter. Melihat kejadian itu, kami di Avanza memekik "Allahuakbar!!!", waktu itu kecepatan berkisar 80 - 90 km/jam dengan kondisi jalan menurun dan menikung. 


Spontan, terbayang di benakku jika Xenia segera meledak dan kelima temanku di dalamnya tentu tidak tertolong. 


Ikhlas segera menginjak pedal rem dan Avanza pun berhenti. Dengan perasaan lunglai, kami turun. Saat itu kulihat ada beberapa mobil dari arah Kota Padang berhenti, paling depan Bus Djawatan Angkatan Motor Republik Indonesia (DAMRI). Aku melangkah ke depan bus dan melambaikan tangan sebagai isyarat meminta para penumpangnya turun.


Lantaran tidak seorang pun berdiri dari tempat duduk, apalagi bergerak turun, aku menuju pintu samping kiri dan menggedor-gedor dengan sekuat tenagaku, "Pak, Pak, mohon turun, mohon bantuan tenaga untuk menegakkan mobil di depan, lima teman saya terjebak di dalamnya."


Barulah belasan penumpang laki-laki turun. Alhamdulillah... kelima teman kami selamat, tidak ada yang cidera, kecuali Bang Solfi Hardi yang mengalami luka lecet di bahu kanan. Ia langsung dibawa teman dengan Avanza ke puskesmas terdekat arah Bengkulu yang buka 24 jam. 


Kondisi Xenia; kaca depan dan samping kanan hancur, body samping kanan penyok dan ban kanan depan pecah. 


Lokasi kecelakaan di bawah tikungan menurun. Di kiri jurang dalam dan di kanan ada beberapa bangunan seperti rumah penduduk. Lokasi Xenia rebah dengan kepala memutar ke arah Bengkulu ternyata bengkel mobil walaupun sederhana. Mungkin karena mendengar kejadian, dua pemilik atau karyawan bengkel terbangun dan keluar. Keduanya pun memberi bantuan memperbaiki Xenia dengan peralatan bengkelnya tanpa nego apapun kepada kami. Untunglah ada ban serap di Avanza. 


Kebiasaanku membawa lampu senter cas kecil di dalam tas sandang tiap kali berpergian sangat bermanfaat dinihari itu untuk menerangi petugas bengkel bekerja membuka ban yang pecah dan penyok, lalu memasang ban serap. Kedua petugas bengkel itu ternyata pemuda yang ramah. 


Sembari bekerja, pemuda itu bercerita, jika tempat atau lokasi kecelakaan itu (aku lupa nama desa atau kecamatannya) konon sangat angker. Sebelumnya sudah ada beberapa mobil yang mengalami kecelakaan di lokasi itu. Bahkan ada bus yang terjun ke jurang sebelah kiri dan tidak ditemukan. Aku bergidik mendengarnya. 


Butuh waktu kira-kira 1,5 jam untuk memasang ban dan memperbaiki Xenia. Alhamdulillah... mesinnya tidak mengalami kerusakan dan dapat distarter. Sekira pukul 01.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Padang dengan kecepatan berkisar 40 - 50 km/jam. Karena ada teman yang masih trauma, aku pindah ke Xenia dan duduk di belakang sopir, sebelah kanan. Kalau hujan, terpaksa menikmati tempias dan basah. 


Menjelang batas Bengkulu - Sumbar, kami melihat ada warung yang buka. Waktu sudah pukul 03.50. Kami berhenti dan mampir. Warung itu menyediakan makanan seperti nasi dan lauknya serta lotek. Kami mengisi perut. Beberapa teman ada yang tiduran. Tak lama kemudian kami mendengar kumandang adzan subuh. Ternyata dari mushala, kira-kira 100 meter arah selatan warung. Kami pun ke mushala itu dan gabung shalat subuh berjamaah. 


Di warung itulah Bang Sol bercerita, pada saat menjelang kecelakaan ia seperti melihat perempuan cantik menyerang dari pinggir jalan sebelah kiri. Karena itulah ia membanting (memutar) stir ke arah kanan dan ternyata mobil rebah. 


Wallahu'alam bishawab!


Alhamdulillah... kami sampai dengan selamat di Kota Padang, Senin 10 Februari 2014 senja. (*)


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(50)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top