Kembaran NKRI dan Lahirkan 14 Anak, Bidan Zuraida Syam Tetap Awet Muda


MOMENTUM Peringatan Hari / Tanggal Kemerdekaan Republik Indonesia (Harkemri) – 17 Agustus – senantiasa punya kesan khusus bagi semua rakyat di negeri ini, terutama bagi mereka yang sudah membaca dan melek sejarah perjuangan. Kemerdekaan dalam makna luas merupakan energi dan rasa nyaman untuk melakukan segala aktivitas.

 

Secara lebih khusus, Harkemri dikenang oleh banyak orang dengan suasana lebih istimewa lantaran terkait tanggal lahir diri atau orang-orang yang dicintainya. Satu di antaranya Djumilda alias Onechan, perempuan belia asal Kabupaten Padang Pariaman – Sumatra Barat yang berdomisili di Kawasan Transmigrasi Kuamang Kuning, sekira 75 km arah timur dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Bungo – Provinsi Jambi.

 

Zuraida Syam bersama Djumilda

Pada suatu kesempatan chatting via whatsapp, Djum (begitu saya menyapanya) bercerita tentang ibunya – Zuraida Syam, ibu kandung yang melahirkan dan mengasuhnya hingga dewasa. “Ibu merupakan saudara kembar (kembaran) Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena sama-sama lahir pada hari Jumat 9 Ramadhan 1364 Hijriyah, bertepatan dengan 17 Agustus 1945.”

 

Meskipun tumbuh pada awal-awal kemerdekaan, Zuraida yang bernama kecil Rosmanidar mengenyam pendidikan yang cukup. Ia tamat Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Padang tahun 1964, setahun kemudian diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sebagai bidan.

 

Zuraida Syam

Zuraida pun bertemu jodoh – Amiruddin Siddik – yang sama-sama dari Nagari Kapalo Koto, Kecamatan Nan Sabarih, Kabupaten Padang Pariaman. Keduanya menikah tahun 1968. Pernikahan ini menjadi awal perjuangan panjang yang penuh heroikisme tetapi dijalani Zuraida dengan enjoy atas dasar keikhlasan sebagai istri, wujud ketaatan dan pengabdian kepada suami. Betapa tidak! Dalam masa 20 awal pernikahannya, Zuraida melahirkan 14 anak. Bahkan, anak ke-11 dan ke-12 lahir kembar pula.

 

Masih menurut cerita Djumilda, ibunya melahirkan anak pertama (putra) tahun 1969, disusul anak kedua (putri) tahun 1970 dan Djumilda sebagai anak ketiga lahir tanggal 2 Juli 1971. “Ibu mengajukan cuti di luar tanggungan negara setelah melahirkan anak kedua,” ujar Djum – berlanjut via telepon.

 

Namun, setelah ia dewasa, Djumilda menyebutkan, ia berupaya mengaktifkan kembali status PNS ibunya dengan cara mengurusnya ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) Republik Indonesia, sayangnya sudah tidak bisa. “Penyebabnya karena Ibu tidak pernah mengajukan permohonan perpanjangan cuti yang semestinya dilakukan setiap tahun.”

 

Meskipun cuti di luar tanggungan negara, Zuraida yang disapa masyarakat dengan sapaan Bu Bidan tetap melayani jika ada warga yang membutuhkan bantuannya untuk menolong persalinan atau wanita yang hendak melahirkan. “Sudah tak terhitung jumlahnya berapa kali Ibu menolong proses persalinan semenjak tahun 1965,” ulas Djumilda.

 

Dalam mendidik anak-anaknya, lanjut Djum, Ibu mendukung cara Papa mereka yang menerapkan disiplin seperti militer, keras dan terarah. “Alhamdulillah… kami sepuluh orang beradik-kakak (empat lagi wafat semasa berusia di bawah lima tahun – balita) berpendidikan minimal tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), satu orang malah sampai Diploma 3.”

 

Walau hanya satu orang yang berhasil jadi PNS, kata Djum, Ibu dan Papa tetap bangga kepada mereka. Sembilan orang lagi mandiri dengan berbagai aktivitas usaha. Djumilda sendiri sejak tamat SMA menyalurkan minatnya sebagai penulis dan wartawati, pernah bergabung dengan Surat Kabar Mingguan (SKM) Canang terbitan Padang tahun 1990-an.

 

Setelah menikah, Djumilda ikut suaminya ke Kuamang Kuning – Jambi. Mereka dikaruniai seorang putri kelahiran April 2001 yang kini kuliah semester V serta dua putra (mahasiswa Universitas Islam Negeri / UIN Imam Bonjol Padang dan santri pondok pesantren. “Ibu saat ini memiliki 19 cucu, 8 perempuan dan 11 laki-laki,” katanya lagi.   

 

Meskipun sudah berusia 76 tahun hari ini, papar Djum, Ibu masih segar-bugar. “Mungkin rahasia awet muda beliau karena suka baca Al-Qur’an dan suka nyanyi, baik di kala hati galau maupun riang. Sesuai suasana perasaan, jika beliau nyanyi sendu berarti sedang galau. Kalau sedang riang pasti happy.

 

Satu hal yang terpenting, sebut Djum, dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya, Ibu tak pernah mengeluh dan tak pernah punya asisten rumah tangga (ART). Semua urusan ditangani Ibu bersama Papa – Amiruddin Siddik yang juga PNS, pensiun tahun 1998, terakhir bertugas di Kantor Departemen Penerangan (Kandeppen) Kabupaten Padang Pariaman.

 

“Papa wafat tahun 2004 dalam usia 62 tahun. Hingga kini Ibu masih menerima pensiun janda,” ujar Djumilda mengakhiri. (Zakirman Tanjung)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama