MENERAWANG KE MASA LALU, Bagian 3 *)

0
Catatan Zakirman Tanjung **) 


MULAI BERSEKOLAH – Awal Januari 1977 

HANYA sekitar dua minggu berada di kampung, terdengar informasi ada penerimaan calon murid baru Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 dan 2 Lubuk Pandan yang menempati satu bangunan atau gedung. Namun, ibu yang kupanggil One tidak segera mendaftarkanku. Hal itu karena ibu dan nenek sibuk bertanam ke sawah kami di Desa / Nagari Buayan, Lubuk Alung.

Ketika kemudian nenek (ibu dari ibuku) mengantarkanku mendaftar ke sekolah, aku pun kebagian sebagai murid SD 2. Kebijakan pimpinan sekolah waktu itu, seluruh pendaftar dibagi dua. Nomor urut (berdasarkan  siapa yang mendaftar lebih dulu) 1 – 32 menjadi murid Kelas I SD 1, sedangkan nomor urut 33 – 63 menjadi murid Kelas I SD 2.

Tidak apalah. Walau jadi murid SD 2 pun kami tetap belajar pada gedung sama, sekitar 700 meter dari rumahku arah utara. Bedanya, kalau murid SD 1 masuk pagi, murid SD 2 masuk siang. Ketentuan itu berlaku selang-seling, seminggu pagi seminggu masuk siang.

Walau bisa menyebutkan nama dan seluruh data diriku ketika mendaftar, aku sangat kelabakan ketika mulai bersekolah. Hal itu dikarenakan aku tidak bisa menulis dan memang sebelumnya aku tak pernah bersentuhan dengan buku dan pensil. Akibatnya, waktu guru kami (Pak Nurdin) menyuruh semua murid membuat gambar lopi (segitiga) dan godok (lingkaran) sebagaimana dia contohkan di papan tulis, aku sangat kesulitan. Kalau pun bisa meniru, hasilnya besar-besar, satu lopi atau godok terdiri dari tiga atau empat baris buku tulis.

Begitu juga sewaktu mulai menulis Ini Budi, Ini Wati, Ini Ibu Budi .... aku menirunya dari papan tulis dengan sangat kesulitan. Hasilnya pun semraut dan besar-besar. Mungkin butuh waktu satu cawu (caturwulan) hingga aku bisa menggunakan pensil dengan baik.

Secara umum masa-masa awal bersekolah kurasa cukup menyenangkan walau ibu memberiku uang jajan hanya dua keping atau Rp10. Jumlah sebegitu tak ada tambahan lagi, termasuk untuk pergi belajar mengaji (membaca Al-Qur’an) ke surau sekitar 400 meter dari rumahku arah selatan.

Sejak di Jakarta, ibu memang sangat streng (pelit) ngasih uang jajan. Hanya sekali di waktu pagi. Siang atau sore ibu takkan memberi lagi walau aku merengek dan menangis meminta uang. Sikap ibu tertanam dalam hatiku sehingga aku tak pernah lagi meminta uang kepadanya, kecuali menjelang berangkat sekolah kalau dia lupa memberi.

Sepanjang Kelas I SD tak banyak kenangan berkesan yang patut kuceritakan, hanya rutinitas biasa. Sebagai anak yang cacat fisik, tangan kiri dan kaki kiriku lemah sejak lahir, rasanya aku tak pernah terlibat perkelahian. Sebaliknya, mungkin karena kecerdasan otak dan kelancaranku dalam berbicara, tak pula ada teman yang mengolok-olokku.

Hanya saja, ketika naik ke Kelas II, Januari 1978, kami – seluruh murid SD 2, Kelas II hingga Kelas VI – diharuskan pindah ke gedung baru yang berlokasi di Korong (Desa) Kampung Guci. Letaknya sekitar 2,5 km dari rumahku atau 1,7 km jika jalan memotong dengan menyeberangi sungai dan menyusuri jalan setapak.

Tiada pilihan lain, kami harus pindah. Hanya beberapa hari, aku pun mengajak sekitar 20 teman yang berasal dari Korong Balai Satu melakukan aksi protes, kembali ke gedung lama dan bergabung dengan murid-murid Kelas II SD 1. Teman-teman yang kumaksud antara lain Muzaini (alm), Jafrizal, Alfian, Supardi, Ali Munir, Hanafi, Erdawati, Hendriwati, Zainal Abidin, Arnelis dan Neli (almh).

Ternyata pun hanya beberapa hari pula kami boleh bergabung selokal dengan murid-murid Kelas II SD 1. Entah karena dianggap tidak efektif karena terlalu padat atau karena faktor lain, kami disuruh kembali ke SD 2 di Kampung Guci. Aku pun tak berdaya untuk melakukan aksi protes lagi dan terpaksa menurut.

Mungkin karena iba melihat fisikku yang cacat, berjalan pincang dan tersaruk-saruk, Kepala SD 2 Bu Fatimah sepertinya mencari tahu di mana rumahku. Sebab, setelah itu, Bu Fatimah yang diantar suaminya, Pak Rusli (kepala di SD lain) dengan Vespa menyinggahiku ke rumah hampir setiap pagi. Aku pun naik boncengan, duduk di antara Pak Rusli dan Bu Fatimah, terkadang tak pakai sepatu pula alias kaki telanjang.

Sampai kapan pun selagi daya ingatku masih berfungsi, aku takkan pernah melupakan kebaikan Pak Rusli dan Bu Fatimah. Sebab, untuk menyinggahiku, beliau harus menambah jarak tempuh sekitar 3 km lagi jika dibanding langsung dari rumahnya ke SD 2 dari Kepala Hilalang via Sicincin dan Sungai Asam. Untuk menyinggahiku, beliau harus lewat Kiambang, lanjut via Jembatan Lubuk Baru terus ke Sungai Asam  dan sampai di sekolah.

Namun, tak lama kemudian, Bu Fatimah dipindahkan menjadi Kepala SD lain. Dengan demikian, tak ada lagi yang menyinggahiku ketika hendak berangkat ke sekolah. Setiap berangkat atau hendak pulang aku cendrung menempuh jalan memotong dengan menyeberang sungai di belakang rumah. Saat musim hujan, aku menyeberang dengan membuka celana dan sepatu. Atau, kalau arus sungai tak mungkin terseberangi olehku, aku lewat jalan memutar via Jembatan Lubuk Baru di utara atau via Jembatan Depan Masjid Raya Lubuk Pandan di selatan.

Kondisi jarak itu ternyata tak berpengaruh pada kemampuan belajarku. Sewaktu menerima rapor naik ke Kelas III, Juni 1979, aku meraih juara pertama, disusul Noverisma pada rangking II dan Khairuman juara ketiga. Selain itu, aku bahkan sempat akan dipindah-lompatkan ke Kelas III, tetapi aturan waktu itu tidak membolehkan.

Kelas II SD merupakan masa terpanjang dalam sejarahku bersekolah, 1,5 tahun. Entah karena lamanya waktu, aku bahkan telah menguasai pelajaran Kelas III. Seringkali aku mengerjakan soal-soal ulangan harian Kelas III yang tertera di papan tulis dan bisa kulihat dari luar, bahkan aku pula yang paling dulu menjawab pada buku tulisku, kemudian kumintai tolong ke murid Kelas III Mariani menyerahkan ke guru di depan kelas, Pak Syafaruddin.

Keisengan itu kulakukan manakala tiba di sekolah lebih cepat dan harus menunggu murid Kelas I ke luar. Pak Syafar pun tampak kaget karena buku latihan yang diserahkan Mariani itu atas namaku. Kemudian, Pak Syafar  -- yang masih suka memakai kopiah usang dan telah menguning beludru hitam-nya – sering mengajakku duduk di dekatnya guna memberikan berbagai petuah.

Sebagai anak tunggal, masa kecilku tidaklah menyenangkan. Karena ibu dan nenek setiap hari pergi ke sawah – pulang menjelang maghrib – aku dapat tugas menanak nasi setiap sore. Jangan bayangkan dengan kompor gas, tetapi dengan tungku dan kayu bakar. Jika musim penghujan kayu bakar jadi lembab, aku jadi sangat kesulitan.

Pernah kejadian, sepulang dari sawah, ibu dan nenekku yang kupanggil Itam marah-marah. Ternyata, yang kutanak bukan beras biasa, melainkan beras ketan. Lantaran takaran beras dan air kubuat seperti biasa – begitupun cara menanak – hasilnya menjadi setengah bubur. Akibatnya di senja yang kian gelap itu ibu kembali menanak nasi. Kampung kami waktu itu memang belum dimasuki listrik.

Naik ke Kelas III urusan belajar tak jadi beban benar bagiku. Semua mata pelajaran kukuasai dengan baik. Dalam hal ini aku tak suka menghafal pelajaran di rumah, akan tetapi aku rajin mencatat dan serius menyimak guru menerangkan.

Di pertengahan Kelas IV, suatu pagi Pak Kepala Sekolah (Kepsek) Jamaris Dt Parpatih memasuki ruangan belajar kami. Bu Ridas pun memanggilku ke depan. Rupanya aku harus ikut dengan Pak Kepsek ke SD 1, 2, 3 Sicincin untuk mengikuti tes atau seleksi calon penerima beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI.

Masalahnya, sepatu yang kukenakan sangat tidak layak, kotor, robek dan berbau, tak pula pakai kaus kaki. Maka, Bu Ridas memerintahkan teman sekelas kami – Andrizal – meminjamkan sepatunya kepadaku. Pun karena aku tak punya pulpen (kecuali isi pulpen), Bu Ridas memerintahkan Joni Iskandar (alm) meminjamkan pulpennya padaku.

Selanjutnya, Pak Kepsek memboncengku dengan sepeda motor Honda Bebek ke tempat tes. Pesertanya kuperkirakan lebih dari 100 murid SD se- Kecamatan 2x11 Enam Lingkung. Sebab, tempat tes terdiri dari empat ruang kelas. Selama 2,5 jam nonstop, kami harus menjawab sekitar 200 soal Matematika, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial serta Pendidikan Moral Pancasila.

Usai tes, ternyata Pak Kepsek sudah menungguku di halaman. Sebelum menyuruhku naik motor untuk kembali ke SD 2, Pak Kepsek bertanya, “Apakah kamu yakin akan mendapatkan beasiswa itu, Man?”

Aku tak menjawab. Sebab, waktu itu, apa pengertian beasiswa saja aku tak tahu. Namun, yang pasti, aku yakin dapat menjawab kesemua soal dengan baik.

Waktu Kelas IV itu ibu memberiku uang jajan Rp25. Sepulang sekolah, mulai sejak Kelas III, aku harus menggembalakan seekor kerbau betina. Kerbau itu dibeli nenek atas permintaan adik ibu / mamak-ku. Katanya, kerbau itu akan ia latih membajak sawah. Sebenarnya aku tak mau bergembala, tetapi ibu yang menyuruh, itu pun tetap tanpa tambahan uang jajan.

Setelah naik ke Kelas V, suatu pagi pecah kabar di kalangan teman sekelas, bahwa aku dapat beasiswa atau akan dapat gaji setiap bulan dari negara. Teman-teman pada mengucapkan selamat. Namun, aku tetap melongo, tak mengerti beasiswa itu apa.

Barulah setelah Bu Guru (Ermawati / Marni Jalil?) masuk dan menjelaskan, aku mulai mengerti. Bahwa aku akan memperoleh bantuan dari pemerintah sebesar Rp5.000 / bulan, tetapi hanya bisa diambil sekali dalam enam bulan melalui Bank Rakyat Indonesia – Pariaman. Beasiswa itu kuperoleh karena aku terpilih pada seleksi di SD 1, 2, 3 Sicincin dulu.

Kemudian baru kuketahui, dari lebih 100 murid yang ikut tes tersebut, hanya tiga orang yang terpilih sebagai penerima beasiswa. Selain diriku, dua lagi murid SD di Sicincin dan di Pakandangan. Informasi itu kulihat dalam lampiran Surat Keputusan (SK) Mendikbud RI yang ditandatangani oleh Prof Dr Daoed Joesoef dan dinyatakan berlaku untuk tahun ajaran 1981/1982.

Pencairan uang beasiswa-ku untuk termen pertama sempat tertunda. Hal itu disebabkan pada SKb Mendikbud yang kuterima namaku tertulis Zahirman, sedangkan pada buku rapor tertera Zakirman. Pak Kepsek pun mengirim surat ke menteri agar mengganti namaku pada lampiran SK Beasiswa menjadi Zakirman.

Alhamdulillah.... beasiswa dari mendikbud untukku berlanjut untuk Kelas VI atau tahun 1982/1983 dengan besaran yang sama. Setelah aku lanjut ke SMP, Pak Kepsek mengumumkan, bagi siswa yang pernah dapat beasiswa mendikbud sewaktu SD agar menyerahkan fotokopi SK-nya untuk diusulkan dapat beasiswa lanjutan. Alhamdulillah... beasiswa untukku berlanjut. Di SMP besarannya Rp7.500 / bulan atau Rp90 ribu / tahun.

Hal yang sama juga berlaku ketika aku melanjutkan pendidikan ke SMA, beasiswa untukku berlanjut, besarannya Rp12.000 / bulan atau Rp144.000 ribu / tahun. 

*) Cikal-bakal autobiografi-ku, Inshaa Allah 

**) Rakyat jelata yang tidak punya jabatan apa-apa, bukan pegawai pemerintah ataupun swasta: nomor rekening: 5476 01 016502 53 5 pada BRI atas nama Zakirman Tanjung


Bagian 2 > http://www.canangnews.com/2018/05/menerawang-ke-masa-lalu-bagian-2.html

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(50)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top