Subscribe Us

header ads

Remaja, Seks Bebas dan Solusinya

Catatan Baiq Nila Ulfaini

BEBERAPA hari lalu, masyarakat Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Pesisir Selatan, digemparkan oleh adanya penemuan seorang bayi mungil dan berkulit bersih di pinggir jalan. Saat ditemukan dia berada dalam kardus air mineral dan ditutupi selembar sarung.

Kemungkinan pertama yang muncul dalam benak saya adalah bahwa bayi tidak bersalah ini merupakan hasil dari pergaulan bebas sepasang remaja yang dimabuk cinta. Kenapa remaja? Sebab merekalah manusia-manusia berusia muda yang apabila mengalami masalah seringkali mengambil jalan pintas, berfikir pendek untuk mencari solusi.

Tidak jarang kejadian serupa juga terjadi dekat di lingkungan kita tinggal. Bukan hal yang aneh lagi menemukan anak-anak usia sekolah yang tiba-tiba harus putus sekolah karena terlanjur hamil. Saya sendiri pernah mengalami saat masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, seorang kawan wanita berhenti sekolah dan dinikahkan oleh orangtuanya karena dihamili kekasihnya yang masih SMA. 

Belum ada angka pasti jumlah remaja yang menikah karena hamil lebih dahulu di Indonesia. Tetapi, sebagai pembanding, 50 persen dari 240 remaja di Jepara dikabarkan mengajukan permohonan dispensasi menikah (Jawa Pos.com, 26 Juli 2020). Hal yang sama juga terjadi di Lampung dan bisa dilihat dari berita online dengan judul " Fenomena Ratusan Remaja Asal Lampung Putus Sekolah, Hamil di Luar Nikah Jadi Faktor Utama." (Tribun Sumsel.com 9 Desember 2019). Bisa jadi daerah-daerah di seluruh Indonesia juga mengalami peristiwa serupa dengan fakta data yang mungkin lebih mengejutkan. 

Hamil di luar nikah, putus sekolah dan hilangnya masa depan, menurut saya, lebih dapat diterima akal sehat dibandingkan dengan tindakan aborsi remaja dengan alasan malu dan 'aib'. 

April lalu, ada cerita seorang remaja berumur 17 tahun di Surabaya melakukan aborsi dengan bantuan seorang bidan. Di lain waktu, ada juga cerita tentang remaja 20 tahun di Palembang yang meminum obat-obatan untuk melakukan aborsi sendiri, kemudian ditemukan meninggal di kamar kosnya. Belum lagi aborsi-aborsi lain yang tidak terungkap di klinik-klinig illegal yang menghalalkan segala cara untuk mendapat pundi-pundi rupiah.

Akibat-akibat pergaulan bebas itu, ditambah dengan penyakit kelamin mematikan seperti HIV AIDS, rupanya tidak menyurutkan remaja bergaul dan berinteraksi bebas dengan lawan jenis. Secara garis besar, saya melihat ada dua faktor penyebab, yaitu kurangnya pengetahuan dan didikan beragama serta pengaruh lingkungan yang buruk.

Coba kita analogikan, remaja yang duduk di bangku SMP, SMA atau di perkuliahan, berapa kali seminggu pelajaran agama yang mereka peroleh? Satu kali? Apa yang bisa didapatkan oleh anak-anak dengan pelajaran agama yang minim? Bagi pemeluk Islam apa yang sudah menempel di kepala? Rukun iman dan Islam, fiqih ibadah seperti tata cara wudhu dan sholat, aqidah, akhlak dan adab bergaul dengan orang tua, guru, teman dan lain jenis? Saya yakin tidak semua remaja paham, bahkan orang tuanya!

Kemudian, dengan lingkungan keluarga dan sekolah yang minim pendidikan dan rasa keagamaan, masuklah para remaja ke lingkungan pergaulannya sehari-hari. Syukur-syukur kalau remaja, anak-anak kita yang sedang mencari jati diri dan berusaha memuaskan rasa ingin tahunya, memperoleh teman yang juga baik dan memiliki orientasi hidup positif. Bagaimana kalau mereka cenderung mencari kawan yang banyak menghabiskan waktu sia -sia dengan gadget, mencoba tontonan dan tindakan berbau pornografi serta pergi ke berbagai tempat wisata yang sepi untuk berpacaran? Bisa dibayangkan itulah awal dari rusaknya moral anak-anak kita!

Melihat rapuhnya berbagai sistem dan sendi kehidupan para remaja, apa yang bisa kita lakukan? Jangan sampai rusaknya mereka menyebabkan hancurnya negara seperti yang sering kita baca pada pepatah Arab yang bermakna kurang lebih demikian;

"Sesungguhnya masa depan suatu bangsa adalah pada pemudanya. Kalau pemuda baik maka negara akan baik. Sebaliknya, kalau pemuda rusak maka negara akan hancur.

Untuk mencegah kehancuran negara yang disebabkan oleh rusaknya pemuda, ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan secara personel dan dimulai dari lingkungan kita sendiri.

Pertama, mengajarkan anak-anak dan remaja kita ilmu agama, kapan dan di mana pun sesuai peran masing- masing. Sesuai dengan beberapa hadits shahih tentang anjuran menuntut ilmu seperti;
"menuntut ilmu diwajibkan kepada setiap muslim laki-laki dan perempuan."

atau 

"Berjalan mencari ilmu akan mempermudah jalan menuju surga."

Boleh jadi kita adalah orangtua yang anaknya sekolah di tempat dengan pendidikan agama yang minim, baik ilmu tentang agama Islam ataupun agama lain. Tapi, kita bisa memberi pemahaman agama kepada mereka di rumah misalnya bagi pemeluk Islam, dengan pengalokasian waktu sehabis shalat maghrib. Setelah selesai shalat berjamaah, alokasikan waktu setengah atau satu jam untuk mengajar mereka mengaji atau memberi pemahaman tentang tauhid serta fiqih keagamaan. 

Andaikata sebagai orangtua tidak mampu, maka tidak ada salahnya kita datangkan guru mengaji atau guru les agama untuk mengajar mereka. Jangan hanya les terkait dunia seperti matematika dan bahasa Inggris yang kita kejar, namun utamakanlah agama sebagai penuntun kehidupan. Guru pun demikian, pelajaran agama tidak melulu harus diajarkan oleh guru bidang studi ini, tapi juga disinergikan dengan bidang studi lain. Saat mengajar biologi, misalnya guru bisa menjelaskan anatomi tubuh dan mengingatkan anak murid akan besarnya kekuasaan dan ciptaan Allah, Tuhan semesta. Guru BK bisa secara berkala dan bergilir memberi bimbingan adab dan budi pekerti, pergaulan yang baik kepada anak muridnya.

Kedua, mengarahkan dan mengawasi anak-anak dalam memilih lingkungan bergaulnya. Pernah mendengar kisah pembunuh 99 nyawa yang akhirnya lengkap membunuh 100 orang karena buruknya lingkungan? Di mana seseorang pendosa itu akhirnya disarankan oleh seorang ulama untuk meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya yang buruk dan berhijrah. 

Mungkin sebagai orangtua, kita kesulitan untuk terus mengawasi pergaulan anak dikarenakan kesibukan dan bekerja mencari nafkah. Namun, apatah artinya kesulitan tersebut dibanding akibat dari kesalahan pergaulan? Kita, bisa memulai untuk membuka komunikasi dan melihat dengan siapa anak-anak kita bergaul.  Jangan terlalu permisif dan membiarkan mereka berpacaran atau berhubungan dengan lawan jenis dengan bebas. Sebaiknyalah mindset "tidak punya pacar tidak laku atau kuno" dihapuskan. Janganlah anak-anak yang kita biayai dan besarkan dengan susah-payah ternyata salah pergaulan yang menyebabkan kita menanggung dosa sampai akhirat nanti. Walahu'alam bishawab. Hanya Allah sebaik-baiknya penuntun dan pemberi pengajaran. (*)

Posting Komentar

0 Komentar