![]() |
| Wakil humas, Ertati Wirma, S.Pd. MPd, BPBD Agam, Kepala SMAN 1 Candung, dan Wakil kesiswaan, Linggana Tesya, S.Pd, Gr. (*N) |
Agam, Canangnews— Mengantisipasi potensi bencana alam di Sumatera Barat, SMAN 1 Candung, Kabupaten Agam, menggelar simulasi, sosialisasi, dan mitigasi bencana gempa bumi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam.
Kegiatan yang berlangsung di lapangan SMAN 1 Candung, Rabu (7/10/2026), digelar sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan warga sekolah menghadapi bencana. Sumatera Barat diketahui berada di wilayah yang memiliki potensi aktivitas kegempaan, sementara SMAN 1 Candung juga berada di kawasan yang berdekatan dengan Gunung Marapi.
Kepala SMAN 1 Candung, Herman Novia Rozi, S.Pd. M.Pd yang didampingi Wakil Kepala sekolah mengatakan, kegiatan tersebut penting agar siswa maupun guru memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar saat terjadi gempa.
“Dengan kegiatan ini, warga sekolah bisa terlatih bagaimana seharusnya ketika terjadi bencana gempa,” ujar Herman.
![]() |
| Kegiatan dilaksanakan dilapangan bola SMA 1 Candung, lasi Agam (**) |
Menurutnya, pihak sekolah juga telah membentuk tim Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) sebagai bagian dari upaya membangun budaya kesiapsiagaan di lingkungan sekolah.
Herman mengatakan program mitigasi bencana tidak berhenti pada kegiatan simulasi kali ini. Pembekalan akan terus dilakukan agar pengetahuan dan keterampilan warga sekolah semakin maksimal.
“Kegiatan ini akan tetap berlanjut, tidak hanya dilaksanakan kali ini, sebab pembekalannya harus maksimal. Perlunya pendampingan dan kolaborasi dengan tim yang memang bergerak di bidang itu,” katanya.
Ia berharap para siswa nantinya tidak hanya mampu menghadapi situasi darurat di sekolah, tetapi juga memiliki bekal pengetahuan mengenai langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi di rumah maupun lingkungan tempat tinggal mereka.
Sementara itu, Analisis Kebencanaan Ahli Utama Kabupaten Agam, Fauzan Azima, ST, menilai sekolah menjadi salah satu lokasi yang memiliki tingkat risiko cukup tinggi saat terjadi bencana.
Menurutnya, banyaknya warga sekolah serta keberadaan bangunan dapat meningkatkan potensi risiko, terutama bagi siswa dan guru.
“Sekolah merupakan salah satu tempat yang paling memiliki risiko karena ada banyak warga sekolah di dalamnya dan juga ada bangunan yang berpotensi menyebabkan risiko kepada anak-anak dan para guru,” jelas Fauzan.
Ia menilai sosialisasi dan simulasi kebencanaan perlu dilakukan secara masif di seluruh sekolah di Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Agam.
Fauzan menegaskan, kegiatan tersebut bukan hanya bertujuan melatih siswa. Para guru juga perlu mendapatkan pemahaman yang memadai karena mereka menjadi pihak yang akan membimbing dan mengarahkan siswa ketika terjadi kondisi darurat.
“Ketika nanti terjadi keadaan darurat, guru sudah memahami apa yang harus dilakukan berdasarkan apa yang telah dipelajari dari simulasi. Dengan begitu, risiko dari bencana dapat dikurangi,” pungkasnya.
(KH)


