Catatan Jhon Farlis
Saya mengenal Mak Etek B Andoeska sebelum beliau mengenalku. Di tahun 1964, saya masih kelas 4 SR (Sekolah Rakyat) di Koto Anau, sedangkan Mak Etek siswa PGA (Pendidikan Guru Agama) di Kota Padang, usia kami terpaut ±5 tahun. Beliau sudah terkenal sebagai pelukis dan penulis cerpen, puisi, prosa dan naskah drama. Karena tangan kanannya agak lemah, pekerjaan menulis dan melukis dilakukan dengan tangan kiri, bahkan dengan kaki.
Yang membuat saya kagum, Mak Etek menunaikan nazarnya puasa selama 1 tahun jika dia bisa melukis wajah kakak-kakaknya. Ternyata memang dia lakukan: puasa setiap hari, kecuali hari dilarang puasa, selama satu tahun.
Tahun 1967 saya jadi siswa PGA 4 tahun di Koto Anau, Mak Etek jadi guru praktek kesenian di sekolah tersebut. Beliau melatih kami menulis dan membaca puisi, akting drama, menyanyi dan menari serta melukis tentunya juga. Beliau pelatih yang serius dan disiplin, tak sungkan mengajak kami teriak-teriak di tengah sawah untuk latihan drama dan pusi.
Saya lebih fokus di bidang tulis baca puisi, drama dan baca berita/ penyiar radio yang kelak sangat membantu dalam profesi saya selanjutnya. Di antara para siswa saya merasa paling dekat dengan beliau karena selalu membantu Mak Etek mengetik naskah yang ditulisnya. Saya sering juga menjahitkan kostum anak tari, termasuk baju Mak Etek sendiri.
Tahun 1971 saya pindah ke Padang melanjutkan sekolah, sedangkan Mak Etek merantau ke Jakarta mengembangkan karirnya. Saat berpisah beliau minta didoakan agar sukses dan saya akan dikirimi jaket warna merah. Ya saya doakan semoga beliau menjadi "pelukis" yang sukses.
Mak Etek sudah terdengar sukses sebagai pencipta lagu (meleset dari doa) pantas jaket merah tak kunjung datang, akhirnya saya jahit sendiri. Dan kisah jaket ini sering jadi bahan humor setiap kami ketemu.
Tahun 1980-an Mak Etek kembali ke Padang membentuk sanggar Barabah di Taman Budaya dan saya buka usaha daging dan susu sapi segar di Pasar Raya Padang.
Saya sering diundang ke sanggarnya untuk menonton dan mengkritisi penampilan anak asuhnya. Mak Etek juga ikut sesekali mendengar ceramah saya di pengajian sembari memberikan masukan.
Tahun 2023 kami bertemu ( seperti tampak dalam photo) di kedai kecil di Balai (Pasar) Koto Anau: diskusi panjang × lebar x tinggi hingga cerita akhirat. Kalau kami meninggal kelak (entah siapa yang duluan) hanya saling memaafkan dan mendoakan, kalau bisa ikut menshalatkan, agar husnul khatimah dan mendapat tempat yang mulia di surga Allah. Tidak boleh ucapan sedih dan duka cita, apalagi karangan bunga.
Ucapan duka adalah protes halus terhadap ketetapan Allah. Menurut Mak Etek..Rasulullah ï·º dan sahabat tak pernah melakukan itu dan bunga tidak melapangkan kubur kita.
"Tetapi ahli bait senang menerimanya," sanggah saya.
"Belum tentu!" kata Mak Etek, "yang duluan senang pasti tukang bunga. Sejak kapan tradisi bunga ada dalam prosesi kematian orang islam? Tetapi biarlah para ustadz dan ulama yang mengkajinya," cetus Mak Etek dengan ketawanya yang khas.
Minggu lalu saya baca pesan whatsapp mmm bahwa Mak Etek dirawat di Rumah Sakit Unand yang berjarak ±600 meter dari rumah kami. Saya langsung ke sana, beliau di ruang ICU, belum boleh dibezuk, hanya bisa berbincang dengan keluarganya.
Selasa malam atau Rabu dinihari kemarin pukul 01.05 WIB ada pesan whatsapp dari keluarga Mak Etek: beliau sudah berpulang.
Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.
Rabu siang, saya temui keluarganya dan ikut shalat jenazahnya.
Sesuai pesan beliau: tak ada kata duka-cita, tak ada ucapan belasungkawa, apalagi karangan bunga.
Satu lagi pesan Mak Etek: "Jangan ucapkan selamat jalan, karena orang mati tidak bisa jalan."
Selamat beristirahat, Guruku. Sampai ketemu di Surga Allah. aamiin.
**
Nama Combo, tambahan yang dipilih Mak Etek sendiri. Di samping dia mengagumi Zainal Combo, musisi nasional, Combo merupakan panggilan "beken" dari suku Sikumbang (pecahan dari suku besar Tanjung).
**
B Andoeska (lahir 11 Februari 1948) adalah seorang komponis lagu Indonesia. Ia adalah spesialis pencipta lagu-lagu. Ia mempunyai suku Tanjung. Orangtuanya bernama Syamsudin dan Saima. Oleh orangtuanya, ia diberi nama Baharudin. Adapun Andoeska adalah singkatan dari Anak Dusun Kota Anau.
B Andoeska tidak dilahirkan dalam keluarga seniman meskipun di masa SD pria yang selalu tampil necis dan elegan ini sudah hafal not dan tangga nad serta menguasai banyak lagu. Namun, di usia kanak-kanak itu ia bercita-cita menjadi pelukis.
Meskipun di usia belia Baharuddin gemar melukis, ia sudah pandai membaca not pada kelas tiga SD. seseorang yang bisa di katakan berotak encer, sebab apa yang diajarkan guru keseniannya langsung lengket di kepalanya.
“Bukan karena pintar, Bung, tetapi saya lebih mencurahkan perhatian dibandingkan murid yang lain. Itu saja kiatnya,” katanya merendah.
Baharuddin kecil mengasah kemampuannya menguasai notasi dan tangga nada secara otodidak. Ia belajar not, motif, tempo atau bendera berdasarkan lagu-lagu Nuskan Syarif yang sudah dikuasainya. Ia cepat menyimpulkan sebuah format lagu. Kalau senandung lagu, motif dan tempo lagu seperti ini, ternyata notasi, bar lagu, dan nilai bendera lagu itu begini.
“Ooo baitu, pandai lo den mah” kata Andoeska ketika menemukan resep notasi tersebut.
Tahun 1961, ketika Andoeska berumur 13 tahun, ia melahirkan ciptaannya yang pertama berjudul Siti Risani. (*)
Baca juga
