PADANG -- Upaya meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) terus dilakukan melalui berbagai pendekatan yang melibatkan edukasi kesehatan dan aksi nyata di lingkungan masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk "Gerakan Alai Bebas DBD: Peningkatan Pengetahuan dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pencegahan dan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Kota Padang.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Dosen Yeffi Masnarivan, dkk. dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Andalas, berkolaborasi dengan HIMA IKM FKM Unand, serta melibatkan unsur Kelurahan Alai Parak Kopi, perangkat RW/RT, Puskesmas Pembantu Alai Parak Kopi, kader kesehatan, dan masyarakat setempat.
Program tersebut dilaksanakan di Kelurahan Alai Parak Kopi, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, dengan mengedepankan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi mengenai DBD, tetapi juga mendorong masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam menjaga kebersihan lingkungan, mengenali tempat-tempat yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta membangun kebiasaan pencegahan yang dapat dilakukan secara berkelanjutan di tingkat rumah tangga dan lingkungan.
Rangkaian kegiatan dilaksanakan dalam tiga kali kunjungan utama, yaitu pada 10 Mei, 17 Mei, dan 24 Mei 2026. Setiap kunjungan dirancang dengan kegiatan yang berbeda namun saling berkaitan sehingga membentuk rangkaian intervensi yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga partisipatif dan aplikatif. Edukasi DBD Dikemas Interaktif
Pada kunjungan pertama tanggal 10 Mei 2026, kegiatan difokuskan pada edukasi mengenai pencegahan DBD dengan mengangkat tema "Waspada DBD: Cegah, Kenali, dan Laporkan." Materi diberikan dengan pendekatan yang interaktif agar informasi mengenai DBD lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh masyarakat.
Peserta mendapatkan informasi mengenai pengertian DBD, cara penularan, tanda dan gejala yang perlu diwaspadai, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dari lingkungan rumah. Edukasi juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam memutus siklus perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti melalui pemberantasan sarang nyamuk.
Untuk membuat kegiatan lebih menarik, edukasi dilengkapi dengan permainan atau aktivitas. interaktif yang berkaitan dengan materi DBD. Pendekatan tersebut diharapkan dapatmenciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan sekaligus membantu peserta mengingat kembali pesan-pesan penting mengenai pencegahan DBD.
Salah satu kegiatan yang juga dilakukan adalah praktik pembuatan ovitrap. Ovitrap diperkenalkan sebagai salah satu alat sederhana yang dapat digunakan untuk membantu memantau keberadaan nyamuk di lingkungan. Melalui praktik secara langsung, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman dalam membuat dan memahami penggunaan alat tersebut.
Pesan utama yang diangkat dalam kegiatan ini adalah "Peduli Lingkungan, Berani Berantas Jentik", dengan jargon "Bersih Lingkungan, Nyamuk Hilang, Hidup Pun Tenang." Pesan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa pencegahan DBD bukan hanya tanggung jawab fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat.
Menguatkan Gerakan Bersih Lingkungan
Kegiatan dilanjutkan pada kunjungan kedua tanggal 17 Mei 2026. Pada kesempatan ini, kegiatan diarahkan pada penguatan kebersamaan masyarakat melalui aktivitas fisik, edukasi layanan kesehatan, serta kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan.
Kegiatan diawali dengan senam bersama yang menjadi sarana untuk membangun kebersamaan sekaligus mengajak masyarakat menerapkan pola hidup sehat. Setelah itu dilaksanakan sosialisasi mengenai BPJS Kesehatan dan Mobile JKN, sehingga masyarakat memperoleh informasi mengenai pemanfaatan layanan kesehatan dan kemudahan akses layanan melalui aplikasi Mobile JKN.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan gotong royong membersihkan lingkungan. Masyarakat bersama-sama melakukan kegiatan kebersihan dengan mengacu pada prinsip 3M, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang-barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
Gotong royong tersebut menjadi bagian penting dari gerakan pencegahan DBD karena kondisi lingkungan memiliki keterkaitan crat dengan keberadaan tempat perindukan nyamuk. Melalui kegiatan bersama, masyarakat diajak untuk tidak hanya mengetahui konsep pemberantasan sarang nyamuk, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung di lingkungan sekitar.
Pada kunjungan yang sama juga dilakukan persiapan mini garden di lingkungan Puskesmas Pembantu Alai Parak Kopi. Mini garden tersebut memanfaatkan tanaman yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti jahe, kunyit, serai, dan kemangi. Masing-masing jenis tanaman ditanam sebanyak 10 polybag sehingga secara keseluruhan terdapat 40 polybag.
Keberadaan mini garden diharapkan dapat menjadi salah satu contoh pemanfaatan ruang lingkungan secara produktif sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman yang ada di sekitar mereka.
Mengubah Sampah Plastik Menjadi Sesuatu yang Bernilai
Pada kunjungan ketiga tanggal 24 Mei 2026, kegiatan semakin diarahkan pada kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan barang bekas sekaligus menjaga kebersihan lingkungan. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah lomba menghias botol bekas antarrukun tetangga (RT).
Kegiatan tersebut mengajak masyarakat untuk melihat kembali barang bekas, khususnya botol plastik, agar tidak langsung dibuang begitu saja. Botol bekas dapat dimanfaatkan menjadi media dekorasi dan pot tanaman sehingga memiliki nilai guna baru.
Botol plastik yang telah dihias kemudian dimanfaatkan sebagai pot tanaman TOGA. Kegiatan ini tidak hanya memberikan nilai estetika pada lingkungan, tetapi juga membawa pesan mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan pemanfaatan kembali barang yang masih dapat digunakan.
Melalui kegiatan kreatif tersebut, pesan mengenai kebersihan lingkungan disampaikan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Lingkungan yang bersih bukan hanya memberikan manfaat dari sisi estetika, tetapi juga dapat membantu mengurangi berbagai tempat yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.
Pemeriksaan Kesehatan bagi Masyarakat
Selain kegiatan yang berkaitan langsung dengan pencegahan DBD dan lingkungan, kunjungan ketiga juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan masyarakat. Pemeriksaan dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi kesehatan masyarakat sekaligus memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengetahui beberapa indikator kesehatan dasar.
Pemeriksaan meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, tekanan darah, kadar gula darah, dan kadar asam urat. Kegiatan ini mendapatkan respons positif karena masyarakat dapat memperoleh informasi awal mengenai kondisi kesehatan mereka.
Kegiatan pemeriksaan kesehatan juga menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa upaya menjaga kesehatan perlu dilakukan secara menyeluruh. Pencegahan. penyakit tidak hanya dilakukan ketika seseorang mengalami keluhan, tetapi juga melalui perilaku hidup sehat, pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta kepedulian terhadap kondisi lingkungan tempat tinggal.
Memperkuat Pesan Pencegahan DBD melalui Media
Sebagai bagian dari upaya memperkuat pesan kesehatan, tim juga menghasilkan berbagai media komunikasi dan informasi mengenai kegiatan serta pencegahan DBD. Media tersebut digunakan untuk membantu menyampaikan pesan kesehatan secara lebih sederhana dan mudah dipahami masyarakat.
Pada kegiatan kunjungan ketiga juga dibuat plang Desa Binaan 2026 yang dilengkapi dengan informasi mengenai pencegahan DBD. Plang tersebut ditempatkan di Puskesmas Pembantu Alai Parak Kopi sebagai salah satu media informasi yang dapat dilihat oleh masyarakat.
Keberadaan media informasi di ruang publik diharapkan dapat membantu menjaga keberlanjutan pesan yang telah disampaikan selama rangkaian kegiatan. Dengan demikian, informasi mengenai pencegahan DBD tidak berhenti setelah kegiatan tatap muka selesai, tetapi tetap dapat menjadi pengingat bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Membangun Gerakan yang Berkelanjutan
Program Gerakan Alai Bebas DBD pada dasarnya tidak hanya diarahkan untuk melaksanakan serangkaian kegiatan dalam waktu singkat. Program ini dirancang untuk mendorong tumbuhnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Melalui kombinasi edukasi, praktik pembuatan ovitrap, gotong royong, penerapan 3M, pemanfaatan barang bekas, penanaman TOGA, pemeriksaan kesehatan, serta penyediaan media informasi, masyarakat mendapatkan pengalaman bahwa pencegahan DBD dapat dilakukan melalui tindakan sederhana yang dapat dimulai dari lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Kolaborasi antara Tim Dosen Yeffi Masnarivan, dkk., FKM Universitas Andalas, HIMA IKM FKM Unand, unsur kelurahan, Puskesmas Pembantu, kader kesehatan, perangkat lingkungan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa upaya menciptakan lingkungan yang sehat membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri.
Rangkaian kegiatan ini sekaligus memperkuat pesan bahwa pencegahan DBD dimulai dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan, kepedulian, dan kemauan untuk bergerak bersama, berbagai upaya sederhana seperti membersihkan lingkungan, mengelola barang bekas, memantau tempat penampungan air, dan memberantas jentik dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Melalui Gerakan Alai Bebas DBD, Tim Dosen Yeffi Masnarivan, dkk. berharap kegiatan yang telah dilakukan dapat menjadi bagian dari proses pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Alai Parak Kopi serta mendorong keberlanjutan kegiatan kesehatan berbasis masyarakat.
"Bersih Lingkungan, Nyamuk Hilang, Hidup Pun Tenang." Pesan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi jargon kegiatan, tetapi dapat menjadi semangat bersama dalam membangun lingkungan Kelurahan Alai Parak Kopi yang lebih bersih, sehat, dan peduli terhadap pencegahan DBD.

