![]() |
| Foto: Ilustrasi Mencintai Tanpa Kehilangan Akal Sehat: Catatan dari Atas Meja Kopi |
Opini: Ronal Dodot Wartawan Minangkabaunews
Di atas meja kopi yang mengepul halus, obrolan politik selalu menemukan bentuk terbaiknya: jujur, sedikit getir, tetapi menyegarkan. Sembari mengaduk cangkir yang kian mendingin, satu pertanyaan kerap mengapung di udara masyarakat Sumatra Barat: seberapa sayang sebetulnya Sumbar kepada Prabowo Subianto?
Hubungan Sumbar dan Prabowo adalah riwayat asmara politik yang panjang. Selama dua pilpres berturut-turut (2014 dan 2019), bumi Minangkabau menyerahkan cintanya hampir mutlak. Dukungan itu bukan sekadar angka di atas kertas suara, melainkan penyerahan harapan yang mendalam. Namun, dinamika politik kerap membolak-balikkan keadaan. Ketika konstelasi bergeser dan peta koalisi berubah, riak kekecewaan hingga fanatisme tandingan mulai bermunculan di warung-warung kopi.
Perspektif Jurnalistik: Cinta Politik dan Realitas Kekuasaan
Dari kacamata jurnalis minangkabaunews Ronal Dodot, fenomena relasi Sumbar dan Prabowo adalah studi kasus menarik tentang bagaimana lanskap psikologi pemilih berinteraksi dengan pragmatisme kekuasaan. Pengamat politik kerap mencatat bahwa masyarakat Minangkabau memiliki karakter pemilih yang khas: berpendidikan politik tinggi, kritis, dan sangat menekankan aspek ideologi serta keadilan sosial.
Ketika Prabowo mengambil langkah strategis bergabung dengan pemerintahan usai Pilpres 2019 hingga akhirnya terpilih pada Pilpres 2024, terjadi pembelahan persepsi di tingkat tapak:
Satu sisi (Kekecewaan Idealistis): Sebagian pemilih merasa ada romantisme perjuangan yang terputus. Dalam narasi warung kopi, langkah politik tersebut kerap dibaca sebagai bentuk pengabaian terhadap militansi dukungan yang telah diberikan masyarakat daerah.
Sisi lain (Pragmatisme Pembangunan): Sebagian lainnya menilai bahwa kekuasaan membutuhkan rekonsiliasi. Dalam sudut pandang ini, hubungan baik antara daerah dan pusat justru menjadi kunci agar aspirasi pembangunan Sumbar—mulai dari infrastruktur hingga ekonomi—dapat terealisasi secara nyata.
Tugas pers dalam memotret dinamika ini bukanlah membela salah satu kubu, melainkan menyediakan cermin yang jernih: bahwa dalam politik rasional, dukungan pemilih seharusnya bersifat transaksional-aspiratif, bukan penyerahan cek kosong berbasis emosi semata.
Kebijaksanaan Sayyidina Ali: Penawar Fanatisme Politik
Di titik inilah, wejangan klasik Sayyidina Ali bin Abi Thalib menemukan ruang pantulnya yang paling relevan:
"Cintailah kekasihmu secukupnya saja, boleh jadi suatu hari nanti ia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci secukupnya saja, boleh jadi suatu hari nanti ia akan menjadi kekasihmu."
Pesan ini bukan ajaran untuk menjadi apatis, melainkan peringatan agar manusia tidak kehilangan pertimbangan dan akal sehat. Dalam lanskap politik yang dinamis, ketika rasa menyukai atau membenci sudah melampaui batas nalar, rasionalitas akan tertutup oleh prasangka. Fanatisme yang berlebihan hanya akan melahirkan kekecewaan yang sama besarnya saat realita tak berjalan sesuai harapan.
Masyarakat Minangkabau sejatinya memiliki falsafah alam takambang jadi guru serta tradisi berdemokrasi yang matang. Menyukai seorang tokoh politik adalah hal wajar, tetapi meletakkan figur tersebut di atas ruang kritik adalah kekeliruan. Cinta politik terbaik warga kepada pemimpinnya—termasuk Sumbar kepada Prabowo—bukanlah kepatuhan buta, melainkan kesetiaan yang kritis, terukur, dan berbasis pada kepentingan publik.
Atas meja kopi ini, sebuah kesadaran sederhana merayap: menyukai apa pun dan siapa pun, jangan pernah melebihi batas akal sehat. Sebab ketika akal sehat ditanggalkan, kita bukan lagi warga negara yang berdaya, melainkan sekadar pengagum yang kehilangan arah.
