![]() |
| Kata sambutan dari Wako Bukittinggi, Ramlan Nurmatias (Kh) |
Bukittinggi, Canangnews – Peringatan 100 tahun Jam Gadang (1926-2026) di Kota Bukittinggi ditandai dengan penyelenggaraan seminar internasional bertajuk "Merajut Tenun Diplomasi antara Indonesia dan Belanda: Pergerakan Kemerdekaan hingga Repatriasi" yang digelar di Balai Sidang Hatta, Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias, Wakil Wali Kota Bukittinggi, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, perwakilan Kementerian Pariwisata RI, Wakil Kementerian Pendidikan Malaysia, diaspora Minang, ASPI, niniak mamak, keluarga Syafruddin Prawiranegara, penyair Taufiq Ismail, keluarga besar arsitek Jam Gadang, Jazid Rajo Mangkuto, dan Sutan Gigi Ameh, serta tamu undangan lainnya.
Dalam pemaparannya, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan bahwa peradaban Indonesia telah berlangsung sangat panjang, jauh sebelum masa kolonialisme.
![]() |
| Para tokoh, Wali Kota Bukittinggi, Menbud RI, tamu kementrian, komisi IX DPRI, perwakilan kedutaan Belanda, penyair Taufiq Ismail foto di Jam Gadang (Kh) |
"Peradaban Indonesia memiliki sejarah yang panjang, bahkan hingga jutaan tahun lalu. Temuan-temuan Homo erectus yang ada di dunia, sebagian besar ditemukan di kawasan Nusantara, khususnya di Pulau Jawa," ujarnya.
Fadli juga mengungkapkan adanya sejumlah temuan arkeologis penting di Sumatera Barat yang menunjukkan jejak kehidupan manusia purba puluhan ribu tahun lalu. Selain itu, terdapat pula penemuan lukisan purba di wilayah Lima Puluh Kota yang memperkaya khazanah sejarah Indonesia.
Menurutnya, peringatan satu abad Jam Gadang tidak hanya menjadi momentum mengenang bangunan ikonik tersebut, tetapi juga menjadi ruang untuk mendiskusikan hubungan sejarah dan diplomasi Indonesia-Belanda.
"Jam Gadang menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam perjalanan bangsa, termasuk masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan berbagai momentum bersejarah lainnya," kata Fadli.
Ia menilai rangkaian kegiatan peringatan 100 tahun Jam Gadang berpotensi mendorong pertumbuhan sektor ekonomi, kebudayaan, ekonomi kreatif, hingga perfilman yang pada akhirnya dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Sumatera Barat.
Sementara itu, Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menyampaikan bahwa peringatan satu abad Jam Gadang merupakan agenda besar yang mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Kebudayaan.
"Sejarah Jam Gadang bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga harus diwariskan kepada generasi muda agar mereka memahami nilai-nilai sejarah dan budaya yang dimiliki daerah ini," ujarnya.
Ramlan menegaskan, peringatan 100 tahun Jam Gadang bukan bertujuan untuk mensakralkan bangunan tersebut, melainkan menggali dan memperkuat nilai sejarah, budaya, serta identitas yang terkandung di dalamnya.
Ia juga berharap momentum ini dapat membuka peluang kerja sama dan komunikasi yang lebih luas dengan berbagai pihak, termasuk dengan Amsterdam, Belanda, dalam bidang literasi, sejarah, kebudayaan, dan pariwisata.
Rangkaian peringatan 100 tahun Jam Gadang dijadwalkan telah berlangsung dalam berbagai kegiatan yang mengangkat tema sejarah, budaya, dan diplomasi, sekaligus memperkuat posisi Bukittinggi sebagai salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Indonesia.
(KH)


