Nel, Guru Honorer Kreatif Sijunjung Menatap Masa Depan

0

 

          Kesibukan keseharian membuat
          kerupuk ubi Nel,  sebagai usaha
          sampingan 



Sijunjung, CanangNews.com - Suara azan dzuhur sedang berkumandang merdu ditengah terik matahari siang itu. Seorang ibu muda sertamerta menghentikan kegiatan rutinnya membolak balikkan potongan potongan kecil lembaran berwarna kekuningan yang sudah mulai mengering. 



Lalu,  ibu muda itu menyeka bulir bulir keringatnya yang tak terasa mulai membasahi dahinya. "Ma, biar saya melanjutkan membalik kerupuk ubi yang sudah mulai menhering itu ma.." terdengar suara nyaring seorang anak laki laki seumuran sekolah SD, anak ibu muda itu. "Ya nak, terimakasih. Ibu mau shalat dulu, nanti gantian kita lagi..." jawabnya lirih.



Ibu muda otupun lalu bergegas kebelakang rumah sederhananya itu lalu mengambil wudhu untuk shalat dzuhur.


    Nel, guru honorer yang menekuni
    usaha sampingan kreatif


Itulah gambaran kesibukan sehari hari seorang ibu muda, guru honorer, Nelda Syafni, S.Pd.(35) yang saat ini tinggal di Batang Laweh. Ketika media ini menemuinya, Nel, demikian sapaan akrabnya bertutur,"membuat kerupuk ubi dapat menopang hidup kami sekeluarga "..ungkapnya bersemangat.


 

Rumah sederhana Nel ,menjadi saksi bisu, usaha keras untuk bertahan hidup ibu muda itu menekuni pekerjaannya di Jorong Bukit Gombak, Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.


    Anak bujang Nel, Raffi Chaniago, yang
    setia membantu sang ibu.


"Membuat kerupuk ubi sudah dilakukan oleh orang tua saya jauh sebelum saya lahir. Sekarang saya melanjutkannya bersama anak kedua saya, Rafli Ismail Chaniago (9)", aku Nel, alumni STKIP PGRI itu menerawang mengenang masa masa menuntut ilmu kala itu.



Ketika ditanya berapa kemampuannya membuat kerupuk ubi dalam satu hari,  Nel menjawab, "saat ini kami baru sanggup  membuat 500 keping kerupuk ubi mentah berdua sehari. Kami mulai bekerja setelah pulang sekolah. Kerena saya mengajar di sebuah MTs swasta dan Rafli belajar di SD sebagai murid kelas 3", demikian ungkap Nel.



Lebih lanjut Nel menceritakan, "dari mengajar saya dapat gaji Rp 200.000,- per bulan dan dari membuat kerupuk ubi saya dapat lebih kurang Rp 1.500.000,- per bulannya", cerita Nel yang mengajar Bahasa Inggris itu.



"Kerupuk ubi ini sangat laris sekarang, pemasarannya sampai ke Kabupaten Pesisir Selatan. Harganya Rp 35.000,- per 100 keping. Bagi orang yang serius menjaga kesehatan kerupuk ubi ini adalah salah satu alternatif jajanan. Karena ia tidak mengandung zat aditif yang berbahaya. Mungkin itu sebabnya berapapun yang tersedia sudah ada yang menampung", demikian Nel mengakhiri ceritanya..(TJP/Bur)

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(50)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top