DI SINGAPURA TAK ADA LARANGAN MEROKOK

Catatan Zakirman Tanjung (1 Desember 2012)


MEMBANDINGKAN kondisi negara kita dengan negara maju serupa Singapura sepertinya bagai menceritakan mimpi-mimpi. Terlalu jauh berbeda! Bukan hanya menyangkut kemajuan, melainkan pola hidup masyarakatnya yang super disiplin. Apapun berlangsung dalam keteraturan meski terkesan tak ada aturan.

 Siapapun yang berkunjung ke Singapura harus mengetahui dan memahami ketentuan yang berlaku di negara itu, lalu mutlak menyesuaikan diri. Jika terlalai hingga melakukan pelanggaran, Anda akan berhadapan dengan petugas kepolisian yang menjatuhkan hukuman denda dalam mata uang setempat.


Informasi inilah yang ditekankan pemandu wisata, Siti Azizah, segera setelah kami naik Bas Pesiaran meninggalkan Changi International Airport menuju Merlion Singapore, Sabtu (1/12/2012) pagi. Menurutnya, di Singapura lebih banyak yang dilarang daripada yang dibolehkan.


Dengan difaslitasi Maskapai Penerbangan Mandala, sebanyak 18 wartawan dari 18 media cetak, radio dan satu media online berkunjung ke Singapura. Dalam misi selama 13 jam (07.55 s/d 20.55) kami mengunjungi sejumlah objek wisata moderen di negara yang terdiri 64 pulau itu.


Dari pihak Mandala ikut lima personal mendampingi kami. Mereka adalah Direktur Komersial Brata Razuno Rafly, dua public relation representatif Dian Wulan PS Murniadi dan Putu Ayuta Prahadita serta dua pramugari Ika dan Joan. Misi ini merupakan promo atas penerbangan perdana Mandala dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menuju Changi International Airport. 


Ikut dalam ini antara lain Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno bersama isteri, Nevi Zuairina. Namun, setiba di Changi Airport, keduanya memisahkan diri dari kami.


Lama penerbangan sekitar satu jam dengan pesawat baru Tiger Airways terasa sangat menyenangkan. Dengan pilot dan co-pilot yang profesional, penerbangan hingga pendaratan terasa nyaman. Jangankan goncangan, getaran pun nyaris tak terasa.


Pesawat Mandala yang kami tumpangi terdiri dari 180 tempat duduk dengan 30 baris. Dekorasi ruangan cukup lapangan, begitupun jarak bangku, memungkinkan penumpang menikmati penerbangan dengan sangat menyenangkan. Tiga toilet, satu di bagian depan dan dua di bagian belakang, dilengkapi air hangat dan tisu dengan aroma wangi.


Perjalanan yang semula kami kira berisi agenda resmi, ternyata sangat santai. Setiba di Merlion, rombongan sibuk mengambil momen -- mendokumentasikan diri -- dengan mengambil latarbelakang patung singa menyemburkan air atau objek lain di sekitar kawasan itu.


Hanya saja, perjalanan itu bagi anggota rombongan yang laki-laki terkesan kurang menyenangkan. Masalahnya mereka tidak bisa mengisap dan menikmati rokok. Berdasarkan informasi pemandu, Singapura merupakan negara yang tidak membolehkan asap rokok berterbangan, kecuali pada ruangan khusus yang dinyatakan untuk merokok.


Lha, itu kan kata pemandu? Kami tidak melihat ada spanduk, papan pengumuman atau sekadar stiker yang menyatakan larangan merokok. 


"Benar! Tak seperti di Indonesia, di sini nyaris tidak kita temukan larangan yang dinyatakan secara tertulis, tetapi warganegara dan pengunjung wajib mengetahui dan mematuhi," ujar wanita yang mengaku warga asli Singapura itu.


Tak seperti di Bandara Changi, di Merlion kami tak menemukan ruangan atau penunjuk arah dengan tulisan 'Smooking Area'. Nekat menyulut rokok meski di ruangan terbuka, kata Azizah, kami bisa didatangi petugas yang akan menjatuhkan hukuman denda, meski kami tak melihat ada petugas yang berkeliaran.


Namun, Azizah memberi informasi tambahan, "Coba saja lihat, kalau ada asbak diletakkan petugas, meski tidak dalam ruangan khusus, berarti di dekat asbak itu dibolehkan merokok."


Benar saja, di pojok area menjelang masuk kawasan Merlion kami melihat asbak bergaris tengah sekitar 30 cm setinggi 70 cm yang terletak di atas lantai, di sisi jalur masuk menuju pelataran patung singa. Asbak itu berada di ruang terbuka. Di bendul semen dekat asbak duduk seorang gadis cantik, sepertinya turis asal Eropa tetapi dia tidak sedang merokok. Gadis itu cuek saja sewaktu kami duduk di sebelahnya sembari merokok.


Dari Merlion, Bas Pesiaran membawa kami ke pusat souvenir. Di sini kami dipersilahkan berbelanja menggunakan mata uang dolar Amerika, Singapura, ringgit Malaysia, rupiah Indonesia atau kartu kredit. Namun, tak seperti di Bali, di Singapura kami tidak menemukan pedagang asongan menjajakan souvenir, pedagang yang terkesan memaksa pengunjung membeli dagangan mereka.


Perjalanan berlanjut ke kawasan rekreasi moderen Universal Studio di Pulau Sentosa. Pada areal seluas 49 hektar ini, setelah turun bas pesiaran (bus pariwisata - pen) di terminal bawah tanah,  kami terpaksa berkeliling selama sekitar setengah jam atau mungkin lebih hingga telapak kaki terasa pegal.


Barulah setelah kami sampai di sebuah restoran dan menikmati menu campuran Arab dan India, Brata Razuno Rafly menjelaskan, ia sengaja memutar-mutar untuk mencari restoran Islami. Meski demikian, di sini banyak anggota rombongan yang menyatakan tak cocok dengan selera mereka.


Setelah mengikuti permainan mendebarkan dan membuat nyali kecut -- transformer -- kami diajak memasuki aquarium bawah laut yang begitu mempesona dan menyejukkan. Menurut pengelola, aquarium yang bisa dilihat dengan menelusuri lika-liku ruangan itu berisi 108 spesies / jenis ikan laut dari seluruh dunia dengan populasi mencapai seratus ribu ekor.


Menjelang sore kami kembali Singapore Changi Airport yang luas dan megah. Sebelum check in tiket pada konter Mandala pada Terminal 2 Loket 11, Brata -- pria blasteran Magek (Agam) dan Solok -- kembali mengajak kami mencari restoran untuk makan malam dengan berjalan kaki cukup jauh.


Sesuai skedul, penerbangan dari Singapura tinggal landas pukul 20.55 waktu setempat dan mendarat di Bandara Internasional Minangkabau jam 21.13 wib setelah sempat melayang-layang di atas udara Kota Padang selama sekitar seperempat jam guna menyiasati cuaca.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama