PKDP Cilegon Sudah 3x Kirim Ambulans ke Ranah Minang


KEBERADAAN ambulans milik paguyuban Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) Kota Cilegon, Provinsi Banten, cukup memberi manfaat. Tak hanya kepada sesama warga asal Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman, tetapi juga melayani warga asal daerah Minangkabau lainnya. Ambulans itu boleh digunakan kapan dan untuk ke mana saja. Tak hanya dalam seputaran Cilegon atau Banten, Jawa, tapi juga sampai ke Ranah Minang, tanah leluhur mereka. Tak hanya warga yang sakit, tapi juga untuk mengantar jenazah. 


Firman Daus dan Tarmizi Chaniago, sopir ambulans PKDP) Cilegon, menceritakan kalau mereka sudah tiga kali membawa jenazah dari Cilegon ke Sumatera Barat. "Dua kali ke Solok dan sekali ini ke Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman," kata mereka, Selasa (3/8/2021) di Pondok Lesehan Angin Sunua, Pondok Jambek, Gadua, Kecamatan Enam Lingkung.



Jadi, katanya, ambulans memang milik paguyuban PKDP. Tetapi, ketika sudah berhadapan dengan hal-hal menyangkut sosial seperti kematian, identitas demikian jadi hilang. Namun  warga PKDP tentu jadi prioritas utama dalam hal ini.


"Ke Timur Pulau Jawa kami pernah juga mengangkut jenazah. Ke Solo dan Surabaya," kisah mereka santai sambil menikmati enaknya makan kepala ikan di pondok lesehan itu.


Firman Daus yang asli Jambak Lubuk Alung lama di Koto Tinggi, Enam Lingkung dan Tarmizi Chaniago yang asli Katapiang, beristrikan orang Sungayang, Kabupaten Tanah Datar ini termasuk sopir andalan ambulans milik PKDP tersebut. Mereka mengerti kerusakan dan cara memperbaiki kendaraan yang mereka bawa.


"Ambulan ini sudah jalan tiga tahun, sejak PKDP diketuai Muharman Koto. Sekarang, Ketua PKDP Cilegon Edi Adam," sebutnya.

Kondisi pandemi yang berkepanjangan, tambahnya, membuat aktivitas ambulan ini semakin tinggi, dan nyaris tiap hari ada saja kegiatan pengangkutan mayat dan orang sakit ke rumah sakit. "Harapan kami, ambulan ini bertambah dari satu ke dua atau tiga unit. Dan ada pula ambulan khusus untuk korban meninggal dan korban yang sakit," harapnya.


Suka-duka membawa ambulan jelas ada. Apalagi jarak tempuh yang lumayan jauh, melewati banyak daerah rawan dan angker, serta lintasan yang belum pernah ditempuh. "Saat kita masuk wilayah Jambi, ada rasa simpati dari sejumlah anak muda daerah itu, saat mendengar raungan serine mobil ambulan yang kita bawa ini," katanya.


"Ada sejumlah motor mendahului kita, lalu memandu ambulan, sampai ke lokasi yang menurut banyak orang tak lagi angker dan menakutkan. Luar biasa simpatinya," cerita mereka senada.



Firman dan Tarmizi mengaku paling suka jika saat membawa jenazah itu konvoi tak terpisah sampai di lokasi tujuan. Sehingga pemakaman bisa dilaksanakan lansung. Kalau rombongan pengiring terlambat, proses pemakaman jadi tertunda. Kasihan jenazahnya. Bagi mereka, demi menghemat waktu, hanya sekali saja berhenti makan di Tampino, Jambi.  


Pada kesempatan ke tiga ambulans PKDP ini pulang ke kampung halamannya, membawa jenazah pensiunan TNI di Padang Pariaman yang berdomisili di Pasia Laweh, Lubuk Alung. Almarhum baru saja menghadiri pelantikan anaknya sebagai Polisi Militer di Cimahi, Jabar.


Dari Cimahi, almarhum mengunjungi kerabatnya di Cilegon dan menghembuskan nafas terakhirnya Minggu (1/8) sore di kota Industri yang terletak pada bagian barat tanah Jawa itu. Almarhum tak begitu mempunyai keluhan sebelumnya.


Malamnya, menjelang pergantian hari pukul 23.00 WIB sudah bertolak menuju Pasia Laweh. Perjalanan sekitar 1.300 km itu dilalui kurang dari 24 jam. Senin malam, pemakaman jenazah lansung diselenggarakan.


Dihubungi via telepon seluler Kamis (5/8), seorang pengurus PKDP Putrri Wahyu Novika yang berasal dari Nagari Kapalo Koto, Kecamatan Nan Sabaris menyebutkan, prosesi pemberangkatan jenazah lumayan singkat. Penyediaan peti, pemberian formalin dan pengurusan surat keterangan kematian sebagai surat jalan difasilitasi berbagai pihak.  


Keberadaan PKDP di kota kecil Cilegon namun terkenal dengan indstrinya cukup mewarnai berbagai dinamika, terutama dalam masalah sosial dan politik. PKDP cukup punya andil ketika Pilkada dihelat. Kemitraan yang harmonis dengan pemerintah Kota Cilegon selalu terbentuk. Sejak walikota Aat Safaat, Iman hingga  saat ini Heldy Agustian.


PKDP Cilegon kini dipimpin Adi Adam yang berasal dari Ampalu Kecamatan VII Koto Sungaisariak. Masa kecilnya ia lalui di Rambai Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman. Rambai, meski secara geografis bearada dalam wilayah Kota Pariaman, tapi secara adat bernaung di bawah kerapatan adat Nagari Ampalu. Adi saat ini juga memimpin PWI Kota Cilegon.


Jabatan Ketua PKDP Cilegon diamanahkan kepada Adi Adam beberapa tahun lalu menggantikan Muharman Koto yang didapuk masyarakat Minang untuk memimpin Ikatan Keluarga Minang Kota Cilegon. Muharman yang berasal dari Sungai Rotan, Kota Pariaman adalah seorang pengusaha sejumlah bidang. Sejak dari batubara hingga real estate. Muharman juga Ketua Ikatan Pencak Silat (IPSI) dan pengurus KONI Kota Cilegon. (Ikh)


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama