ROMANTIKA PENCARIAN CINTA

 Catatan Zastra Certa


DALAM
merealisir angan dan ingin banyak cara yang bisa dilakukan. Secara lahiriah sering disebut berupaya, berusaha atau berikhtiar. Wujudnya bisa sesuai aturan kehidupan atau malah menghalalkan segala cara (MSC, begitu sering saya singkat).


Akan tetapi, usaha saja belumlah cukup. Sadar, bahwa Allah Mahakuasa, kita pun mengiringi setiap usaha dengan doa. Hanya saja, kedua hal itu tidaklah menjamin keinginan dan harapan kita pasti menjadi kenyataan. 


Masih ada rangkaian ketiga dan keempat; beribadah sekhusu' dan seikhlas mungkin serta tawakkal.

Ya, tawakkal! Sebab, kita hanya bisa berusaha dan berdoa, kita hanya bisa berharap, berangan dan berkeinginan, tetapi Tuhan-lah Yang Maha Menentukan sesuai kehendak-Nya. Bukankah Dia Mahatahu terhadap kebutuhan dan kadar keperluan makhluk²Nya? Dalam hal ini kita tidak bisa memaksa takdir sesuai kemauan kita.


Pengalaman demi pengalaman spritual demikian begitu sering saya alami. Nilai kebenaran yang diciptakan Tuhan baru saya sadari setelah kejadian yang terkadang menyakitkan berlalu sekian waktu. Saya akui memang, ketika sedang terjadi, kadang sempat menyesali dan merutukinya.


Terkait masalah jodoh misalnya, berkali-kali saya hancur dan nyaris bunuh diri. Bagaimana tidak! Dengan kondisi fisik yang cacat, wajah tidak tampan dan ekonomi orangtua pas-pasan (bahkan sering kekurangan), menjelang tamat SMA saya berkenalan dengan seorang gadis yang begitu cantik. Kami pun segera akrab, 68 hari kemudian kami memproklamirkan ikatan cinta, Jumat 9 Juni 1989.


Meski sembunyi-sembunyi, kami menikmati masa-masa berpacaran yang panas membara. Tak usahlah saya papar-curahkan di sini; nanti terkena sensor. 


Sayangnya, kemesraan dalam kebersamaan itu tak berlangsung lama; hanya enam bulan lebih tiga hari, gadis itu mendatangiku dan meminta kami memutuskan hubungan percintaan, Selasa 12 Desember 1989.


Alasan meminta putus dia urai dalam belasan lembar buku yang hingga kini masih kusimpan. 


Namun, peristiwa terpenting yang kuingat, pada pertemuan terakhir itu si gadis menyerahkan segalanya padaku. Katanya sebagai wujud ketulusan cintanya padaku. Untunglah akal sehatku masih normal. Gadis itu kulepas tanpa cidera walau aku sempat menampar pipinya dengasn cukup keras untuk memadamkan birahinya.


Dari peristiwa ini lahirlah serangkaian kata dari pikiranku; Gadis yang aku cintai harus hidup bahagia walau dia dinikahi lelaki lain.


Bertahun-tahun hatiku remuk, serasa hidup ini tak ada artinya. Bahkan, saya pernah mengalami stres berat dan berkali-kali mencoba bunuh diri.


Ternyata hidupku terus berlanjut; hingga suatu ketika saya berkenalan dengan seorang gadis di atas bus. Saya naik dari Payakumbuh, duduk sendirian; gadis itu naik di Bangkinang, lalu duduk di sebelahku; kami sama-sama ke Pekanbaru, Riau. Dalam hitungan menit kami pun berkenalan dan saling bertukar nomor telepon.


Setelah menaikkan gadis itu ke mobil angkutan kota menuju Sail, saya melangkah gontai ke hotel di depan Terminal Mayang Terurai. Setelah melepas lelah, kuhubungi gadis itu lalu kami pun janji bertemu di suatu tempat. Bahkan, dua hari kemudian, kami sebangku lagi di atas bus, kali ini dalam perjalanan dari Pekanbaru menuju Kota Solok, Sumbar. Gadis itu mengatakan akan mengunjungi kakaknya di Sijunjung.


Menikmati kebersamaan selama hampir delapan jam, banyak hal yang kami bicarakan, tak terkecuali keinginanku menyuntingnya. Lelah berpacaran, saya memang melakukan 'tembakan 12 pas'. Cinta tak lagi jadi ukuran. Asalkan saya menyukai, langsung tancap gas. 


Gayung bersambut kata berjawab. Setelahnya saya jadi rutin tour Padang - Pekanbaru. Berangkat Sabtu pagi, kembali Minggu sore.


Entah karena belum jodoh, suatu kali gadis itu menolak bertemu denganku. Lewat telepon ia menyatakan, "Cari saja gadis lain, Bang!" Saya terhenyak lagi walau tak separah sebelumnya dan tak menyisakan patah hati. Terbukti, perburuanku mencari jodoh terus berlanjut, bahkan hingga ke Batam dan Yogyakarta.


Namun, jika Tuhan belum menghendaki, upaya bagaimana pun tidak membuahkan hasil meski sering cawan sudah sampai di bibir; toh isinya tumpah juga. Banyak sebab yang tak logis mengapa hingga usia sudah melewati 30 tahun saya belum beristeri juga. Gurauan teman dan orang sekampung terdengar makin menyakitkan.


Suatu malam harapanku terasa bertunas lagi. Waktu itu saya menonton pagelaran teater di Taman Budaya Sumbar. Tatkala pertunjukan dimulai, lampu-lampu yang menerangi balkon penonton dipadamkan. Praktis saya tidak bisa mengenali penonton yang datang kemudian dan memenuhi deretan bertingkat di sekitar saya yang semula sepi. Rasa frustrasi telah menyebabkan saya enggan mendekati gadis-gadis.


Hingga, usai saya menyulut rokok, ada seorang gadis menarik pergelangan tangan kiri saya; meminta pindah ke sisinya dengan meminta temannya bergeser menempati posisi saya. Hati pun berbunga-bunga. Setelah dia menyebut nama dan mendengar suaranya, saya baru ingat; mengenal gadis mahasiswi Fakultas Sastra Unand itu ketika ia kemping jurusan di Pantai Ulakan seminggu sebelumnya.


Karuan saja konsentrasi kami terhadap pementasan jadi terburai. Lewat tengah malam ia kuantar ke tempat kos-nya setelah menikmati martabak mesir dan membungkuskan untuk teman-temannya. Selanjutnya, kami sering bertemu dan teleponan. Jarak usia kami berkisar delapan tahun.


Dengan maksud hendak menyatakan isi hati, gadis itu kuajak plesiran ke objek wisata alam Anai Resor. Kami berangkat dari Padang sudah agak siang, cuaca pun mendung. Tetapi kondisi itu tak menghalangi. Kami pun berbasah-basah di objek wisata pemandian itu.


Hanya, sikap lahiriah gadis itu ternyata tidaklah mencerminkan hatinya. Hatiku boleh bergetar ketika menggenggam jemarinya, ketika... ah! Namun, ketika kutanyakan hal sesungguhnya, dengan santai dia menjawab, "Saya telah bertunangan...."


Glegarrrrr!!!

Terjatuh, bangun lagi, berburu lagi. Hikmah semua kegagalan itu baru kurasakan setelah benar-benar menemukan jodoh, lalu menikah, Jumat 24 Maret 2000. Banyak hal yang kupahami kemudian (dan tak mungkin kutuliskan, sebab gadis-gadis yang dulu itu kemudian juga bergabung dan berteman denganku dalam facebook ini).


Namun, satu hal, Tuhan tidak menghendaki saya berjodoh dengan gadis-gadis dulu itu. Gadis terbaik untukku adalah perempuan yang telah melahirkan dua putri dan dua orang putraku; perempuan yang kini jadi isteriku tanpa proses pacaran; bertemu langsung kulamar. (*)


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama