KARTINI DAN ANAK-ANAK YANG AKAN MENJADI KARTINI

Catatan Syofni Erita *)



KEPRIBADIAN
anak-anak terbentuk dari interaksi mereka dengan orang lain di lingkungan sekitarnya, baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah, bahkan di masyarakat yang lebih luas. 


Keluarga merupakan sumber pendidikan yang utama. Di sanalah nilai-nilai positif tumbuh dalam diri anak. Lingkungan sekolah tidak kalah penting dalam memperkuat nilai-nilai tersebut. Sementara itu, lingkungan masyarakat turut mengawasi nilai-nilai tersebut. 


Di antara kepribadian yang perlu dimiliki oleh anak adalah pribadi yang berani. Karakter pemberani yang tumbuh dalam jiwa anak-anak dapat diteladani dari satu tokoh Indonesia, yaitu Raden Adjeng Kartini. 


Kartini, Pribadi Pemberani

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879. Raden Adjeng Kartini merupakan anak dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M. A. Ngasirah. Ayah Raden Adjeng Kartini adalah seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara. 


Pada masa penjajahan Belanda, tidak semua orang dapat bersekolah. Namun, Raden Adjeng Kartini dapat belajar di sekolah Belanda yang ada di negeri kita yaitu di ELS (Europese Lagere School). Raden Adjeng Kartini belajar bahasa Belanda, tetapi sangat disayangkan beliau mengenyam masa pendidikan di luar rumah hanya sampai ia berusia 12 tahun. (Pratama, 2019). 


Walaupun begitu, selama 12 tahun tersebut R.A. Kartini sudah menguasai bahasa Belanda. Dengan bekal itulah ia dapat mempelajari banyak hal ketika ia memasuki masa pingitan.


Dalam empat tahun masa pingitan, Raden Adjeng Kartini mulai memberanikan diri untuk bangkit. Penguasaannya terhadap bahasa Belanda memotivasinya untuk mulai belajar secara mandiri. Ia sering membaca buku, koran dan majalah Eropa sehingga tertarik dengan kemajuan cara berpikir perempuan Eropa. 


Hal ini tentu menambah wawasan Kartini. Ia pun mulai memperhatikan status sosial perempuan pribumi yang sangat rendah. Ia menceritakan kondisi ini dengan menulis surat kepada sahabatnya Stella di Belanda. Ia juga mengirim surat kepada Ny. Abendanon yang juga berkebangsaan Belanda. Surat tersebut kemudian dimuat di De Hollandsche Lelie . 


Keberanian Raden Adjeng Kartini untuk kemajuan perempuan Indonesia sungguh luar biasa. Dalam pemikirannya, pernikahan dapat mewujudkan mimpinya yang masih terpendam. Ternyata pernikahannya memang membawa kebahagiaan tersendiri. Keinginan Raden Adjeng Kartini saat itu adalah mendirikan sekolah untuk  kemajuan kaum perempuan. Beliau pun mendapat dukungan yang luar biasa dari suami.


Dukungan dari suami beliau adalah dengan mengembangkan ukiran jepara dan mendirikan sekolah wanita untuk wanita pribumi. Pendirian sekolah wanita akhirnya terealisasi setelah beliau tiada. Raden Adjeng Kartini wafat pada usia 25 tahun pada tanggal 17 September 1904 yang saat itu anaknya baru berusia 5 hari. Sementara itu, sekolah wanita didirikan oleh Yayasan Kartini di Semarang pada tahun 1912. Sekolah ini diperuntukan bagi perempuan bumi putra, bahkan dukungan untuk  menulis sebuah buku, buku yang kita kenal dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. 

 

Kartini sebagai Sosok Ideal

Perjuangan Raden Adjeng Kartini tidaklah sia-sia. Kini kita dapat menikmati hasil perjuangan beliau. Dengan segala keterbatasan Kartini pada masa itu, ia tetap tergerak untuk melakukan perubahan terhadap nasib perempuan Indonesia. 


Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964, Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan pertimbangan jasa-jasanya sebagai pemimpin Indonesia di masa silam karena didorong oleh rasa cinta tanah air (Lasmina 1998:64 dalam  Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, 2019).  


Dengan menyadari perjuangan beliau sebagai pahlawan perempuan, kita akan berempati kepada sesama perempuan.


Hingga kini Kartini merupakan sosok yang ideal berkat ketajaman cara berpikirnya serta rasa kasih sayangnya kepada perempuan dan bangsa Indonesia (Indria, 2019). Oleh karena itu, gagasan Kartini mengenai kemajuan perempuan Indonesia perlu didengungkan, paling tidak di lingkungan terdekat kita. 


Hal ini dapat saya mulai dari lingkungan kelas di sekolah karena saya adalah seorang guru. Secara sadar seorang guru dapat menghadirkan aktivitas yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri, keberanian, dan kreatif bagi siswanya, terutama siswa perempuan.


Pribadi Kartini di Lingkungan Sekolah

Setiap siswa, termasuk siswa perempuan, berhak mendapatkan kesempatan atau tugas yang selama ini secara mayoritas diemban oleh siswa laki-laki. Guru dapat menugaskan siswa perempuan juga turut dalam memimpin barisan sebelum masuk kelas serta memimpin doa sebelum belajar. Selain itu, untuk membentuk pribadi yang berani dalam diri siswa perempuan, guru memperhatikan lingkungan permainan siswa. 


Dalam pergaulan sering terjadi perselisihan antara siswa laki-laki dan perempuan dan mereka membanding-bandingkan antar siswa. Tidak jarang, guru berkata, “Kamu perempuan. Tidak boleh melawan laki-laki.” Pernyataan itu akan masuk ke alam bawah sadar siswa bahwa ia, sebagai perempuan, adalah insan yang lemah. Sebaiknya, guru perlu menjaga lisan agar tidak membentuk pribadi yang penakut pada diri anak perempuan.


 Lingkungan yang perlu diciptakan oleh guru di kelas untuk membentuk kepribadian siswa adalah sikap saling menghargai antarsiswa. Guru sering mendapati antarsiswa saling meledek teman yang melakukan kesalahan. Sikap semacam itu tentu dapat menjatuhkan kepercayaan diri siswa. Selain itu, tindakan tersebut juga membentuk siswa yang mudah mencari kesalahan orang lain. Namun, sayangnya, ia sendiri tidak memiliki keberanian untuk menunjukkan kemampuan dirinya di depan banyak orang. 


Guru perlu mengajak siswa-siswa untuk saling menghargai, menegur siswa yang selalu meledek temannya, dan memberikan apresiasi kepada siswa yang memiliki keberanian dalam menyampaikan gagasannya di depan kelas. 


Dengan begitu, siswa tidak khawatir dengan kesalahan yang barangkali akan ia perbuat. Siswa juga akan menyadari bahwa kesalahan merupakan bagian dari pembelajaran. 


Keberanian menyampaikan gagasan juga dapat dilatih oleh guru kepada siswa melalui aktivitas menulis. Guru dapat meminta siswa menulis kejadian yang dialaminya hari ini, perasaannya hari ini kepada teman atau guru, kritiknya terdapat teman, guru, kepala sekolah. Selain itu, siswa dapat diajak berimajinasi sekolah seperti apa yang membuat siswa nyaman, misalnya. Semakin sering siswa diajak menulis, semakin berani mereka menyampaikan gagasan. 


Barangkali sekarang mereka hanya menyampaikan gagasan yang berkaitan diri mereka sendiri. Kita tidak tahu beberapa tahun ke depan, apakah mereka akan menulis mengenai isu di sekitarnya, seperti tulisan-tulisan Kartini?


 Selain aktivitas pembelajaran di kelas, kedekatan guru dan siswa juga akan membentuk kepribadian yang berani. Siswa akan lebih luwes dalam menyampaikan pendapatnya jika ia memiliki guru yang juga mau mendengarkan mereka dengan bijak.


Guru yang bijak adalah guru yang tidak sekadar menganggap siswa sebagai anak-anak yang tidak memiliki pemikiran kritis. Namun, guru memiliki pemahaman bahwa mereka adalah insan yang juga berakal dan bertumbuh. Oleh karena itu, guru perlu menciptakan aktivitas yang melibatkan siswa di dalamnya, seperti makan bekal bersama, memasak bersama di kelas, membersihkan kelas, dan aktivitas lainnya. Kedekatan akan berbuah keberanian.


Di sekolah juga terdapat aktivitas yang identik dengan perempuan, seperti membersihkan kelas. Padahal kebersihan dan kerapian adalah tanggung jawab bersama. Guru harus berhati-hati jika mendengar pernyataan siswa laki-laki, seperti “Saya tidak mau menyapu karena itu pekerjaan perempuan.” Pernyataan tersebut dapat mengindikasikan bahwa dalam pikiran anak laki-laki terhadap pekerjaan yang berbasis gender. Hal ini dapat pula menjadi akar dalam diri anak-anak untuk menjatuhkan peran perempuan. 


Fenomena tersebut perlu diantisipasi oleh guru agar tidak pernah terjadi di lingkungan kelas sebagai tempat anak-anak berinteraksi dengan sesamanya.

Semua aktivitas yang dibiasakan di kelas bertujuan agar siswa, terutama, siswa perempuan menjadi seorang pemberani. Sebagaimana yang disampaikan Indria (2019), apabila gagasan dan pemikiran Kartini didengungkan baik di tingkat pendidikan maupun dalam masyarakat luas maka yakinlah bahwa Kartini bisa tersenyum melihat perempuan-perempuan dan bangsa Indonesia yang kritis, berpemikiran tajam, lepas dari bentuk penjajahan.  


Kita perlu menyadari bahwa perjuangan emansipasi Raden Adjeng Kartini telah kita nikmati. Hal itu dapat kita buktikan bahwa  kaum perempuan sudah dapat menikmati pendidikan tinggi. Kaum perempuan sudah banyak berkiprah dalam kancah politik. Kaum perempuan sudah banyak memegang peranan dalam masyarakat. Oleh karena itu, pendidik juga harus tetap awas terhadap isu-isu perempuan sehingga dapat melahirkan siswa yang berani seperti Kartini.  (**)


*) Guru SDN 04 Birugo, Kota Bukittinggi - editor Zakirman Tanjung

1 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama