Tradisi Merantau di Nagari Tandikek Utara dan Pulang Basamo Saat Hari Raya Idul Fitri Untuk Menjalin Tali Silaturahmi Antar Perantau



Penulis adalah Abdul Jamil Al Rasyid Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019 berdomisili di Padang Pariaman Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas Patamuan Tandikek. 


OPINI -- Tandikek utara merupakan daerah yang terletak di Kecamatan Patamuan Kabupaten Padang parkiran. Tandikek utara mempunyai satu tradisi unik yaitu merantau dan para perantau mengadakan acara alek nagari di kampungnya.


Merantau di Tandikek Utara tidak ada bedanya dengan merantau di Minangkabau umumnya. Merantau merupakan migrasi atau perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain.


Migrasi juga merupakan sebuah tradisi yang tidak hanya dipakai oleh masyarakat Minangkabau saja melainkan seluruh masyarakat Indonesia juga memakai tradisi migrasi. Satu hal yang paling mencolok adalah masyarakat Minangkabau yang  banyak melakukan migrasi dari daerah asalnya ke daerah lain.


Banyak dijumpai orang Minangkabau di setiap daerah. Hampir di tiap daerah di Indonesia dijumpai masyarakat Minangkabau. Tradisi merantau  yang berkembang pesat dalam budaya yang sudah mengakar oleh masyarakat Minangkabau. 


Merantau di Minangkabau merupakan sebuah kebudayaan n yang turun temurun dari zaman nenek moyang orang Minangkabau terdahulu. Kebudayaan  merupakan keseluruhan suatu sistem gagasan, tindakan, serta hasil karya manusia dalam kehidupan  Budaya merantau tidak pernah luntur. Setiap tahun ada saja orang dari Minangkabau yang pergi merantau ke negeri orang lain. Budaya merantau juga sudah mengakar atau tumbuh dalam masyarakat Minangkabau itu sendiri dan juga diwariskan dari satu generasi ke generasi lain.  


Merantau juga identik dengan orang Pariaman saat merantau tidak hanya pergi merantau saja. Biasanya saat mudik lebaran idul fitri, banyak dari masyarakat Pariaman yang pulang kampung ke kampung halaman untuk menjalin silaturahmi bersama sanak saudara dan famili yang ada di kampung. Kebanyakan dari orang  Pariaman yang pulang kampung secara bersama-sama dari daerah rantau misalnya Jakarta, Medan, Bandung dan lain sebagainya. Tidak jarang ada komunitas-komunitas daerah tertentu yang ada di perantauan untuk melakukan pulang kampung saat mudik lebaran.


Orang Pariaman pergi merantau dengan berjualan sate,nasi padang dan lain sebagainya. Tak terkecuali di daerah Tandikek Utaara Kecamatan Patamuan Kabupaten Padang Pariaman. Tandikek Utara adalah sebuah nagari pecahan nagari Tandikek yang mekar pada tahun 2011. Di Tandikek Utara, masyarakat pergi merantau juga sama dengan daerah lain, biasanya orang Tandikek Utara merantau dimulai sejak tamat SMA. 


Orang tandjkek utara pergi merantau ke pulau Jawa, Kalimantan, Selawesi  dan lain-lain. Orang di Tandikek Utara juga melakukan pulang basamo saat lebaran idul fitri tiba. Pulang basamo diadakan 3-5 tahun sekali untuk menjalin silaturahmi antara warga,. Di Tandikek Utara juga ada beberapa korong. Misalnya korong Tandikek Asli melakukan pulang basamo sementara korong sialang tahun berikutnya.



Di kampung para perantau juga tidak hanya sekedar pulang kampung saja. Para perantau juga melakukan acara di kampung yang disebut alek nagari, Alek nagari berisi acara-acara hiburan seperti indang, silek, luambek, randai dan lain sebagainya. Para perantau yang ikut mengadakan acara juga memberikan sumbangan untuk menyukseskan acara dan juga memantik masyarakat untuk memberikan dana. 


Tidak lain halnya para perantau tidak hanya di Jakarta saja bahkan seluruh wilayah yang ada para perantau orang Tandikek Utara melakukan pulang kampung. Di Tandikek Utara pembangunan korong juga didasarkan peran para perantau dari segi dana untuk membangun kampung. Masyarakat hanya sebagai tambahan. Tidak hanya acara alek nagari saja, juga ada acara maulid nabi, salawar dulang yang dilaksanakan di mesjid, biayanya juga Ditanggung oleh perantau. 


Sungguh penting peran perantau untuk membangun sebuah nagari di Tandikek Utara.Itulah mengapa perantau Tandikek Utara melakukan pulang kampung untuk menjalin tali silaturahmi antar sesama baik yang di kampung maupun dirantau. Semua hal diatas menjadi landasan untuk diteliti karena pulang basamo disini bukan hanya sekedar pulang saja melainkan banyak hal yang harus dipelajari dan berbeda dengan nagari lain.


Di Tandikek Utara orang biasanya pergi merantau sejak tamat SMA, seperti kebanyakan orang Minangkabau lainnya. Tetapi ada hal yang menarik dari perantauan di Tandikek Utara yaitu pulang basamo setiap 3 atau 4 tahunsekali untuk mempererat silaturahmi. Walaupun seseroang di nagari Tandikek Utara itu tidak punya uang akan dibiayai . Ada juga komunitas korong tertetenu di Tanikek Utara antara lain IPS(ikatan perantau sialang). Pulang bersama dilakukan setiap kampung atau korong,misalnya kampungg Sialang,korong Tandikek Asli, dan lain-lain


Di Tandikek  Utara apabila perantau pulang basamo saat lebaran bisanya  membuat sebuah acara. Acara yang dibuat yaitu alek nagari. Acara ini didanai oleh  Perantau dengan memberikan sumbangan untuk membuat acara  tersebut,. Perantau biasanya menanggung semua dana yang ada dalam acara tersebut. Mereka berlomba-lomba dalam memberikan pundi-pundi uang. Baik yang kaya di perantauan maupun yang baru merantau juga ikut berpartisipaai. Uang hasil dari sumbangan para pertama juga memancing reaksi masyarakat yang tidak merantau juga memberikan sumbangan agar terlaksna acara.


Acara alek nagari diisi oleh penampilan tari-tari tradisional Minangkabau, indang, tambue, luambek menghiasi acara alek nagari. Acara ini tidak lain bertujuan untuk menjaga kesenian tradisional Minangkabau khususnya tradisi parkiran supaya tidak kalah dengan kemajuan zaman dengan adanyanacara hiburan lain seperti orgent tunggal yang marak sekarang. Untuk itu anak nagari Tandikek Utara sekarang berusaha untuk melestarikan budaya dan kesenian yang sampai saat ini belum punah.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama