ORGASME SOSIAL

Catatan Zakirman Tanjung



SAYA pernah mengalami suatu peristiwa. Kejadiannya, Minggu 11 April 2004. Istri saya, Gusmiati Chaniago, melaporkan ada pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Padang di Sungai Sapiah, sudah 5 hari melahirkan tetapi belum dibolehkan pulang. 

Di sisi lain, kata isteri saya, si pasien dan bayinya tidak lagi mendapatkan layanan semestinya dan asupan makanan dari pihak RSUD. Suami pasien dikabarkan pergi meninggalkan RSUD sejak Rabu untuk mencari uang dan belum kembali.


Mendapat laporan istri yang baru kembali dari RSUD tsb membesuk etek (bibi)-nya yang juga melahirkan, saya tercenung cukup lama. Saya cobamengira-ngira total kekayaan yang saya miliki; ada sekitar Rp600 ribu, mungkin cukup untuk membantu si pasien miskin, tetapi bekal kami tentu jadi licin-tandas.


Saya pun teringat Walikota Padang Fauzi Bahar. Karuan saja saya pun mengabarkan hal itu via short message service (SMS) ke nomor ponsel pribadinya. Sayangnya, SMS itu terpending lantaran nomornya sedang tidak aktif.


Tak kehilangan akal, saya pun menyetel radio. Minggu siang, seperti biasanya, Padang FM menyiarkan lagu-lagu negeri jiran dengan memberi kesempatan pendengar memesan lagu dan berkirim salam. Saya pun berusaha menelepon, setelah beberapa kali baru tersambung.


"Assalamu'alaikum.... Maafkan, kali ini saya tidak memesan lagu atau berkirim salam. Saya hanya ingin mengetuk hati pendengar untuk mengulurkan bantuan kemanusiaan. Seorang pasien melahirkan terlantar di RSUD Padang... dst-nya," tutur saya menguraikan.


Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara penyiar, "Pak Zakirman Tanjung, mohon menelepon kembali ke studio, ada seorang pendengar yang hendak mambantu...."


Saya benar-benar terlonjak, seperti merasakan kenikmatan luar-biasa. Mungkin inilah yang dimaksud dengan orgasme sosial. Jantung saya berdebar penuh harap, semoga memang ada pendengar yang benar-benar bermaksud membantu.... Padahal, saya tidak mengenal pasien yang dimaksudkan isteri saya tersebut. Tetapi, rasanya seperti ibu kandung atau orang yang saya cintai yang mendapat pertolongan.


Singkat cerita, saya pun menelepon studio Padang FM pada saat jeda iklan. Penyiar meminta nomor ponsel saya. Beberapa menit kemudian ada telepon masuk, suara seorang ibu. Ia mengajak saya ke RSUD untuk membayarkan seluruh tagihan pasien tersebut.


Orgasme sosial saya benar-benar menjadi nyata! Ibu itu meminta saya menunggu di Jalan By Pass. Tetapi, saya katakan, saya tak punya kendaraan dan kesulitan mendapatkan sepeda motor ojek, saya mohon ibu itu menyusul saya ke arah Gunuang Sariak, nanti saya tunggu di pinggir jalan; dengan menyebutkan warna pakaian dan warna payung yang saya pakai. Waktu itu gerimis memang agak lebat.


Setengah berlari saya menuju pinggir jalan dari rumah isteri dengan jarak sekira 350 meter. Ibu itu terus menghubungi saya via ponsel, hingga sebuah taksi berhenti di depan saya. Saya naik. Di dalamnya ada seorang ibu berusia sekitar 50 tahun dan dua orang lainnya yang kemudian saya kenal sebagai kru Padang FM.


Kami langsung menuju RSUD Padang di kawasan Sungai Sapiah, Kuranji. Tetapi, karena belum jam bezuk, kami tak dibenarkan masuk, kecuali hanya bisa bertemu si pasien dari luar jendela kaca yang terbuka. Selanjutnya, kami menuju ruang petugas rumah sakit. Setelah dilakukan penghitungan, tagihan yang mesti dibayarkan untuk mengeluarkan pasien itu (demi Allah, saya sudah lupanya dan nama ibu yang dermawati tersebut) berkisar Rp600 ribu lebih. Lantaran hari Minggu, pasien baru boleh keluar Senin besoknya. Konsekuensinya, biaya bertambah lagi menjadi Rp700 ribu lebih. Ibu itu langsung menyanggupi. Alhamdulillah...!


Sejak peristiwa itu, saya pernah lagi bertemu sang pasien dan ibu yang menolongnya.


Sorenya, barulah SMS saya ke nomor ponsel Pak Fauzi Bahar terkirim. Sang walikota langsung menelepon saya, menanyakan kondisi pasien dimaksud. Dengan jujur saya jelaskan bahwa sudah ada seorang ibu yang menolong....


(Saya tuliskan pengalaman ini, demi Allah, semata-mata agar menjadi inspirasi bagi siapa pun yang membaca... mudah-mudahan tidak terbersit niat untuk ria; mengabarkan bahwa saya telah berbuat baik, wanaudzubillahi minasy syaithannir rajiim.) 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama