Ali Mukhni dalam Catatan Saya

Catatan Anton Wira Tanjung

TIDAK ada manusia yang sempurna. Peribahasa ini tentunya memiliki makna yang luas jika kita telaah secara mendalam.

Drs H Ali Mukhni mulai Rabu lusa mengakhiri masa jabatannya sebagai Bupati Padang Pariaman, Provinsi Sumatra Barat, periode kedua. Beliau dilantik oleh Gubernur Irwan Prayitno, Rabu 17 Februari 2016, berpasangan dengan Wakil Bupati Suhatri Bur SE MM. Sebelumnya, periode pertama, 25 Oktober 2010 – 25 Oktober 2015, ia berpasangan dengan Wakil Bupati Drs H Damsuar Dt Bandaro Putiah.

Selama tiga periode memimpin Kabupaten Padang Pariaman -- sebelumnya lagi, Ali Mukhni jadi wakil bupati mendampingi Bupati Muslim Kasim, 5 September 2005 - 5 September 2010 -- tentu banyak kenangan yang beliau tinggalkan dan tak sedikit catatan yang perlu kita telaah, bukan saja secara kasat mata melainkan juga jika dilihat secara utuh dari berbagai dimensi kehidupan.


Mungkin banyak kalangan yang tidak puas dengan masa kepemimpinan Ali Mukhni selama 10 tahun terakhir, tetapi juga tidak sedikit yang mengapresiasi langkah dan strategi pembangunan yang dilaksanakan Ali Mukhni dalam 2 periode kepemimpinan beliau.

Puas atau tidak puas bukan kewenangan beliau dalam memimpin, tetapi yang terpenting adalah bagaimana Ali Mukhni mewujudkan visinya dalam membangun Padang Pariaman dari porak-poranda akibat gempa bumi 30 September 2009. Pencapaian visi tersebut telah terlihat dan kita rasakan saat ini, bagaimana pertumbuhan ekonomi selalu tertinggi dalam 4 tahun terakhir.

Pertumbuhan ekonomi menjadi titik makro yang menandakan permbangunan berada di rel yang seharusnya.

Ada beberapa catatan penting selama saya mendampingi beliau sebagai Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) dan Keprotokolan 13 bulan terakhir, terhitung semenjak 7 Januari 2020.


Pertama Nyali. Beliau sering mengatakan, "Jika tidak punya nyali jangan menjadi pemimpin." Ini terlihat  jelas dari dobrakan yang beliau lakukan dalam menyusuri peluang-peluang merebut proyek strategis nasional maupun provinsi untuk Kabupaten Padang Pariaman. Banyak hambatan yang beliau hadapi, tetapi dengan keyakinan  jika tidak korupsi dan penyalahgunaan wewenang harus tetap lanjut.

Nyali Ali Mukhni melobi beberapa menteri dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang pernah saya dampingi memang di luar kebiasaan formal. Pernah suatu hari, untuk meyakinkan seorang menteri beliau sabar menunggu di ruangan tamu sampai 15 jam, sampai-sampai membuat bingung petugas Kebersihan (cleaning servis). Akan tetapi, hasil dari menunggu menteri tersebut alokasi pembangunan diletakkan di Kabupaten Padang Pariaman.

Kedua Jangan Ragu-ragu. Peribahasa ini sangat cocok untuk beliau: biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tantangan dalam mengaplikasikan visi pembangunannya seperti demontrasi, gugatan dan laporan ke aparat hukum. Namun, sampai saat ini tidak ada permasalahan berarti yang beliau hadapi, malahan menjadi apresiasi dan dukungan dari berbagai kalangan, termasuk dari orang-orang yang menentang kebijakan tersebut sebelumnya.


Ketiga Pendidikan.  Ini adalah yang utama terlihat jelas dari visi dan misi dua periode masa kepemerintahan beliau. Dalam setiap periode kepemimpinannya, misi pembangunan pendidikan selalu menjadi prioritas. Banyak pembangunan strategis beliau yang berorientasi pada pendidikan. Antara lain pembangunan Madrasah Aliyyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC), Politeknik Pelayaran (Poltekpel), Kawasan Pendidikan Terpadu (KPT) Tarok City serta banyak pembangunan strategis daerah lainnya yang berorientasi pendidikan.

Tidak saja dalam bentuk fisik tetapi dalam nasehat- nasehat beliau kepada staf di sekelilingnya seperti sopir, ajudan, penulis sendiri serta penjaga rumah dinas, beliau motivasi agar meningkatkan pendidikan ke strata yang lebih tinggi, kalau perlu hingga ke jenjang doktoral.

Pernah suatu waktu, ketika Kepala Cabang Bank Nagari bertanya kepada beliau, Untuk apa kita alokasikan CSR Bank Nagari untuk Kabupaten Padang Pariaman tahun ini, Pak?”, secara spontan beliau menjawab, alokasikan saja kepada beasiswa untuk mahasiswa Padang Pariaman yang berprestasi. Ini menandakan bahwasanya visi pendidikan beliau bukan hanya untuk pembangunan fisik saja, tetapi juga pada pembangunan sumberdaya manusia secara utuh.


Keempat Religius. Religius di sini juga beliau implementasikan dalam visi dan misi dua periode kepemimpinannya. Di samping visi pemerintahan, beliau juga mengajak kepada seluruh staf untuk selalu bersedekah dengan niat ikhlas karena Allah Yang Mahakaya. Selanjutnya beliau juga mengajak untuk selalu mendoakan kedua orangtua serta berbakti sepenuh hati. Selain itu, beliau selalu mengutip sebuah ayat yang selalu beliau sampaikan berulangkali: Jika kamu telah selesai dengan satu urusan maka segera kerjakan urusan berikutnya (Al-Qur’an surah ke-94 An-Insyirah ayat 7). Ayat tersebut adalah ayat motivasi agar kita sebagai manusia jangan bersantai-santai dalam menjalani kehidupan.


Banyak pelajaran berharga yang beliau sampaikan dalam memotivasi kami, baik sebagai pemimpin maupun sebagai orangtua yang selalu menasehati orang-orang di sekelilingnya.

Semoga kepemimpinan dan perjuangan beliau menjadi pahala dan ladang amal jariyah bagi beliau kelak. Saya sebagai penulis mengucapkan terimakasih atas kepemimpinan dan motivasi serta nasehat yang beliau berikan selama mengiringi langkah beliau lebih kurang tiga belas bulan ini. (*)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama