IBUKU bercerita, namaku pemberian ayahku. Beberapa hari setelah aku lahir, ayah yang kupanggil 'Pa' membawa sebuah gambar pemandangan berbingkai. Pada gambar itu ada tulisan Zakirman lahir hari Minggu 29 Juni 1969 jam 8 malam" 

Namun, dalam lampiran Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef tahun 1982 (aku lupa momor dan tanggalnya) tentang penerima beasiswa tahun kedua (SK pertama tahun 1981), namaku tertulis Zahirman' tetapi nama sekolah benar: murid kelas V SDN 2 Lubuk Pandan. 

Kepala Sekolah-ku waktu itu, Djamaris Dt Perpatih bertanya, apakah aku menerima nama itu? Aku menggeleng. Maka, Pak Djamaris mengirim surat ke menteri untuk meminta agar mengubah namaku kembali menjadi Zakirman'. Konsekuensinya, pencairan dana beasiswa-ku sempat tertunda. 

Sewaktu belajar di SMPN Pakandangan, tahun 1985, aku merasa namaku terlalu pasaran lantaran ada beberapa orang yang senama denganku. Maka tercetus dalam pikiranku sebuah rangkaian nama: Zakirman Susastra Cancer Tanjung yang kusingkat menjadi Zastra Certa. 

Nama Zastra Certa pernah kupakai sebagai identitas tulisan-tulisanku pada Surat Kabar Haluan - Padang - Agustus 1986 s/d 1992, serta pada media ibukota seperti Majalah Anita Cemerlang. 

Namun, dalam workshop kepenulisan, 1993, Budayawan Wisran Hadi mengingatkan, nama samaran itu kelak bisa menyusahkanku jika suatu ketika aku jadi penulis besar dan dapat undangan ke luar negeri. Ia menceritakan pengalaman seorang penyair yang ditolak panitia pengundang di Thailand lantaran namanya di paspor (Agustami) tak sesuai nama populernya yang diundang  (Leon Agusta). 

Sejak saat itu, aku memantapkan identitasku sebagai penulis dengan nama Zakirman Tanjung. Namun, ketika mencalonkan diri menjadi anggota DPRD pada Pemilu 2004 sempat timbul masalah. Lantaran di kampung namaku terlanjur populer dengan sebutan 'Zast', aku kuatir nama Zakirman tak lagi dikenal. Maka, sesuai permintaanku kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU), di surat suara namaku tertulis: Zakirman suku Tanjung. alias Zastra Certa. 

Masalah terakhir kualami sewaktu dapat undangan berkunjung ke luar negeri dan aku mesti membuat paspor. Lantaran namaku di ijazah dan akte kelahiran (Zakirman) sedangkan di Buku nikah, Kartu Keluarga (KK) dan KTP (Zakirman Tanjung), aku sempat berpikir menolak undangan itu. Pasti paspor-ku tak bisa terbit! 

Ketika hal itu kuceritakan pada seorang teman, ia pun menelepon kenalannya -- pejabat pada Kantor Imigrasi. Aku pun mengurus paspor dengan mengisi formulir di ruang pejabat itu pada lantai II, bukan pada loket pelayanan di lantai I. Otomatis copy dokumen yang kulampirkan hanya Buku Nikah, KK dan KTP. 

Sempat muncul pertanyaan dari staf pejabat Imigrasi yang melayaniku, "Copy ijazah dan akte kelahirannya mana, Pak?" 

Dengan santai kujawab, "Kalau harus sekolah dulu baru bisa mengurus paspor, berarti aku batal berangkat Sabtu depan....." 

"Ooo... anda wartawan ya?" tanya staf itu. Aku mengangguk. 

Besoknya, aku dapat panggilan petugas untuk berfoto. Lalu, print nomor paspor kuterima. (*)