Catatan Zakirman Tanjung


SORE kemarin ada pesan masuk ke saya via whatsapp. Untaian-untaian kalimat pesan dimaksud sungguh menyebabkan saya tercenung. Begitu mendalam makna yang di kandungnya. Baiklah, berikut kutipannya.

Assalamu’alaikum

Sahabat,

Tahukah anda bahwa satu-satunya burung yang berani hinggap dan mematuk elang adalah burung gagak. Burung gagak berani duduk di atas elang, bahkan menggigit lehernya, ketika elang sedang terbang rendah.

Namun, elang tidak pernah menggubris dan menanggapinya, juga tidak mau membalas dan berkelahi dengan burung gagak. Elang terus terbang, dan tidak mau membuang waktu atau energi pada gagak yang hinggap di atas! Elang justru makin mengepakkan sayapnya semakin lebar dan berusaha terbang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi hingga menjangkau.

Semakin tinggi penerbangan yang dilakukan elang, maka semakin sulit bagi gagak untuk bernafas dan akibatnya gagak akan jatuh ke bawah karena kekurangan oksigen.

Sahabat,

Begitulah alam mengajarkan kita, berhentilah membuang waktu untuk selalu menanggapi mereka yang selalu mencibir, menista bahkan memfitnah serta mengganggu kita. Akan tetapi, teruslah fokus mengembangkan dan menaikkan kapasitas diri hingga kita menjadi pribadi yang sukses dan menjadi pemenang kehidupan.

Itulah sikap mulia dan luhur yang dimiliki pribadi paripurna yang memiliki ketinggian akhlak dan akal budi. 

*

Untaian kalimat-kalimat di atas mengingatkan saya kepada seorang sahabat di dunia maya, Dr Ir H Indra Catri MSP. Saya memang sudah terhubung pertemanan via media sosial facebook dengan Indra Catri (IC) sejak tahun 2010, sebelum dia mencalonkan diri menjadi Bupati Agam, Provinsi Sumatra Barat.

IC merupakan facebooker yang aktif. Selain rutin memosting, baik berupa kata-kata, foto maupun video. Postingan-postingannya beragam, tidak melulu serius, terkadang juga candaan yang membuat teman-teman facebook tersenyum. Namun, berdasarkan pengamatan saya, postingan-postingan IC jauh dari kesan pencitraan diri, bahkan ia nyaris tak pernah memosting kegiatan pemerintahan sebagai bupati.

Kesan berikutnya, akun facebook IC yang terhubung pertemanan dengan saya dipegang oleh IC sendiri, bukan oleh ajudan bupati misalnya. Saya pun memperoleh kesan, IC bukan manusia pembenci. Ini saya ketahui lantaran IC sering membagikan (share) postingan-postingan yang mengeritik diri dan kepemimpinannya. Saya mengira, mungkin share itu ia maksudkan untuk mengingatkan pejabat terkait di jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam.

Dalam hal ini, saya mengibaratkan IC laksana burung elang yang tidak mau membuang energi untuk menanggapi tudingan-tudingan yang tertuju kepada dirinya. Ia biarkan gangguan-gangguan yang menggerogoti diri dan kepemimpinannya berlalu sendiri, sementara ia terus mengabdi dengan karya-karya inovatif bersama jajaran Pemkab Agam.

Beberapa bulan lalu, IC kembali diterpa masalah, kali ini terkait hukum. Ia dilaporkan pihak tertentu ke Kepolisian Daerah (Polda) Sumatra Barat (Sumbar) dalam kasus dugaan ujaran kebencian hingga akhirnya penyidik menetapkan IC sebagai tersangka. Namun, ibarat elang, IC menanggapi hal itu dengan tenang. Ia tidak terkesan panik, apalagi melakukan serangan balik. Sebagai warganegara yang baik, IC mengikuti proses hukum sesuai prosedur.

Hanya saja, karena memang tidak terlibat dalam kasus dugaan ujaran kebencian dimaksud, pihak penyidik Polda Sumbar menghentikan proses penyidikan terhadap IC sebagaimana kutipan di bawah ini.

Polda Sumbar membenarkan penerbitan surat pemberitahuan penghentian penyidikan (SP3) kasus dugaan ujaran kebencian dan pencemaran nama baik yang menimpa Indra Catri, yang juga calon Wakil Gubernur Sumbar. Kasus itu dihentikan pada 23 September lalu.

 

"Jadi benar hari Kamis, tanggal 23 September, itu memang sudah dilakukan SP3," kata Kabid Humas Polda Sumatera Barat Kombes Stefanus Satake Bayu saat dihubungi, Sabtu (21/11/2020).

Polda Sumbar: Kasus Indra Catri Dihentikan, Belum Cukup Bukti (detik.com) 

*

Meski terhubung pertemanan di facebook, saya tak begitu akrab dengan IC. Kecuali menanggapi dan/atau mengomentari postingan-postingannya, saya nyaris tidak pernah berkomunikasi secara personal dengan IC, misalnya via messenger facebook. Hal itu mungkin dikarenakan – sebagai wartawan – saya tidak bertugas di Kabupaten Agam.

Menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun 2010, seorang rekan sesama wartawan mengajak saya berkunjung ke Lubuk Basung. Setelah berkunjung ke Bagian Humas Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Agam, saya menelepon IC dengan maksud untuk bertemu. Namun, IC menyatakan dirinya sedang berada di Jakarta.

Pertemuan saya dengan IC baru terjadi pada hari Kamis 8 Februari 2018, itupun karena memfasilitasi sahabat dari Bekasi, Jawa Barat – pengelola lembaga terapi – yang hendak mempertemukan seorang anak yang sudah sembuh dari autis. Dalam pertemuan di suatu rumah makan menjelang Batas Kota Padang dimaksud, saya nyaris tak banyak berbicara dengan IC – 

www.canangnews.com/2018/02/mempertemukan-habibie-malalak-dengan.html  (***)