Bukittinggi Canangnews,Diskusi antara warga dengan salah satu pemangku jabatan dipemerintahan dalam Catatan Marfendi  cukup serius terlebih dalam membahas tanah yang sudah lama terbengkalai  


Namun pemangku jabatan dipemerintahan justru menjawab bahwa Yang perlu bukanlah tanah itu,akan  tapi saudara- saudara yang kemaren  tergusur dari tanah yang terbengkalai tu,
 
"di mana kondisi  mereka sekarang, apakah mereka sudah terima hak-hak mereka perlu diketahui  mereka masih memegang KTP Bukittinggi lo"ungkapnya kepada awak media Sabtu 17/10/20. 

Dilanjutkannya,bahwa itu adalah kewajiban utama pemerintah kota terhadap warganya yang masih memegang KTP Bukittinggi.

sebagai pemangku dirinya juga akan mencarikan solusi jalan keluar untuk mengembalikan hak warga sekitar.

"walikota itu ibarat ayah dan  anaknya, mamak dan keponakannya yg harus dilakukan adalah mencarikan solusi terhadap masalah mereka. Kami akan kumpulkan mereka dan musyawarahkan apo solusi yg tepat bagi mereka"

Dilanjutkannya bahwa yang utama adalah hak warga yang terusir ditanah sendiri untuk diperjuangkan.

"hak mereka yang masih belum mereka terima, seperti janji ganti rugi yang dijanjikan selama ini. Masih ada bahkan banyak di antara mereka yang belum menerima" sebutnya 

Yang kedua katadia,Musyawarah bersama  untuk tempat tinggal mereka namun hal tersebut tidak menjadi keraguan karena mereka tinggal di pusat kota.

"Mereka pasti punya usaha di sekitaran kota, dan kami yakin usaha mereka itu berdagang, dan usaha rumahan. Tentu mereka ingin punya tempat tinggal di sekitaran kota. Insya Allah kita punya solusi untuk itu... Tapi tetap kita akan musyawarahkan dengan mereka" lanjutnya.

Dirinya juga akan mengupayakan pemanfaatan lahan kosong sebagai lokasi yang bermanfaat jika nantinya akan difungsikan oleh pemerintah sebagai rel kereta api namun yang baik dan berkualitas.

Akan tetapi dirinya menegaskan sebelum pelaksanaan pembangunan pemerintah mesti dapat menjelaskan dulu solusi bagi masyarakat  yang tinggal di bantaran rel kereta tersebut.

 "yang selama ini mereka bayar. Cobalah hitung, dari batas kota di Jambu Aia, sampai di Batas kota di Paruik Putuih..  berapa anak kemenakan kita yg tinggal selama ini di bantaran rel kereta itu" 

Apa siap PT KAI dan pemerintah pusat mencarikan solusi..? Kalau siap oke kita akan serahkan dibangun dengan syarat rel keretanya di atas dan dua jalur tegasnya. 

Adapun kalau akan di buat stasiunnya di posisi tanah terbengkalai sekarang, kita akan minta stasiun yg terintegrasi dengan kegiatan masyarakat, seperti kuliner malam yg sudah menjadi tradisi di sana sekarang dan  itu tidak boleh dihentikan bahkan diperindah, kita ingin dibuat di sana mesjid terbesar di Bukittinggi yang lengkap dengan lapangan parkirnya.

"Tanah itu sangat luar biasa sudah menghadap ke kiblat. Dan terintegrasi juga dengan terminal angkot, dan truk setiap hari pakan yang bongkar barang di sana" tuturnya.

Kalau persyaratan itu dipenuhi Pemerintah pusat dan PT. KAI, Ayuk kita bangun Bukittinggi bersama pukasnya.(Nas)