Subscribe Us

header ads

ASN Inspiratif: Jubir Covid-19 Dr Jasneli MARS


CORONA virus disease 2019 (covid-19) menjadi masalah besar di seluruh belahan dunia semenjak akhir tahun lalu. Dalam mengatasi masalah ini, pemerintah tak bisa bekerja sendiri tetapi harus bekerja sama dengan berbagai kalangan masyarakat. Petugas medis menjadi garda terdepan untuk menghadapi covid-19 ini. Semakin banyak kasus dan pasien yang terinfeksi covid-19, semakin berat perjuangan para pahlawan medis ini.

Tanggal 26 Maret 2020, ketika menerima hasil tes swab kasus pasien covid-19 pertama di Kabupaten Padang Pariaman, perjuangan dr Jasneli MARS sebagai juru bicara Gugus Tugas Percepatan Pencegahan dan Penanganan (GT PPP) Covid-19 Kabupaten Padang Pariaman pun dimulai. Ia  bekerjasa dengan seluruh tim kesehatan yang langsung bertindak untuk penanganan pasien terkonfirmasi positif covid-19 di daerah ini.

“Kasus terkonfirmasi covid-19 pertama di Kabupaten Padang Pariaman, Kamis 26 Maret 2020, Pada hari itu juga, bersama seluruh tim, kami langsung menuju rumah pasien untuk mengisolasi serta melakukan tracking pada daerah sekitar rumah pasien,” terang ASN yang diangkat tahun 2006 ini.

Menurut Buk Je, sapaan akrab Jasneli, selama perkembangan kasus covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman, ia bersama tim kesehatan telah melakukan tes swab terhadap 3.650 warga di Kabupaten Padang Pariaman termasuk tracking atau pelacakan kasus.

“Sebagai upaya untuk mengetahui berapa persentase perkembangan kasus covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman, sesuai arahan Kepala Laboratorium Unand Dr dr Andani Eka Putra MSc, kita melakukan survei cepat,” sambung perempuan kelahiran Padang, 16 Juli 1976, ini.

Pada saat kasus ditemukan, kata Dokter Je, bermacam ragam penyelesaiannya.  Tim medis harus memastikan kesembuhan pasien dan benar-benar bebas dari infeksi covid-19 yang dinamakan konfersi dua kali negatif. Ada pula pasien yang sembuh sebelum 14 hari dan yang paling lama enam puluh hari.

“Namanya pandemi, kita tidak mengetahui kapan datangnya.  Dalam penanganan covid-18 di Kabupaten Padang Pariaman, kami bersama tim kesehatan lainnya menemukan beberapa tantangan, di antaranya ketidaksiapan sumber daya manusia  dan anggaran, termasuk ketidaksiapan tempat untuk karantina," kata Jasneli. 

Untung saja, ulasnya, Kabupaten Padang Pariaman mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi  Sumatra Barat dalam penanganan kasus covid-19. 

Tidak hanya itu! 

"Tantangan juga berasal dari masyarakat. Ada yang tidak menerima hasil dari tes swab anaknya. Bahkan, ada yang pernah mengatakan bahwa kami memfitnah keluarganya terhadap hasil tes tersebut. Untungnya setelah diberikan pengertian dan sosialisasi, mereka paham terhadap kasus ini dan mau menyerahkan keluarganya untuk diisolasi,” tutur Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P²P) Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariman ini.

Untuk mempermudah penanganan kasus covid-19, ujar Jasneli, sangat diperlukan dukungan dan komitmen lintas sektor, karena dalam permasalahan ini tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Tidak hanya dari pemerintah, komitmen masyarakat juga sangat penting, termasuk kejujuran dalam melaporkan perjalanan dari daerah terjangkit (zona merah covid-19. 

Sebagai garda terdepan dalam penanganan covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman, banyak hal yang dikorbankan oleh seorang Jasneli terutama pengorbanan waktu bersama keluarga. 

“Selama melaksanakan tugas sebagai Juru Bicara GT PPP Covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman, keluarga sangat mendukung dan tidak pernah mengeluh atas kesibukan yang saya alami. Alhamdulillah... suami dan anak-anak tidak pernah menuntut dan selalu memberikan semangat dalam menjalankan pekerjaan ini. Mereka mengerti dengan profesi saya,”ujar ibu tiga orang anak ini.  Tak pelak, air matanya tampak menggenang.




Semenjak hasil kasus pertama covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman diterima hingga dua bulan setelah itu, Jasneli mengaku selalu siap selama 24 jam dalam bertugas, baik itu secara langsung ke lapangan maupun via telepon. Bahkan, suatu ketika, ia merasa trauma dengan dering telepon, kuatir ada penambahan kasus terpapar Covid-19  di Kabupaten Padang Pariaman. 

“Untunglah kami memiliki tim yang solid dan tangguh serta selalu siap setiap dibutuhkan tanpa kenal waktu, sehingga dalam penanganan prosesnya dapat berjalan lancar sesuai yang diinginkan,” papar perempuan yang meraih gelar Sarjana Kedokteran Universitas Andalas tahun 2000, dokter tahun 2002 dan Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) tahun 2012 dari universitas yang sama.

Hingga saat ini drJasneli beserta tim masih tetap bekerja keras menangani  kasus covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman. Sebagai aparatur sipil negara (ASN) dan sebagai garda terdepan dalam penanganan kasus covid-19 ia menyatakan tidak kenal lelah dan waktu. Meskipun harus mengorbankan keluarga, ia mengaku siap dan tetap bergerak demi kesembuhan masyarakat, demi keselamatan bersama serta tetap kuat dan tetap tegar untuk menjalanakan amanah yang telah diberikan. (R/ZT)

Posting Komentar

0 Komentar