Catatan Bagindo Yohanes Wempi *)

DI KORONG Padang Bukik, Nagari Lubuk Pandan, persisnya di pinggir Jalan Raya Padang - Bukittinggi Km 43, berdiri tugu dengan simbol keluarga sejahtera, membawa hasil panen buah kakao / coklat. Tugu ini dibuat oleh Bupati Padang Pariaman periode 23 Maret 2000 - 24 Oktober 2010 (almarhum) Drs H Muslim Kasim Dt Sinaro Basa Ak MM. Tugu ini disebut dengan tugu kakao atau coklat oleh masyarakat Padang Pariaman.

Pendirian tugu ini paska Pencanangan Padang Pariaman sebagai Sentra Kakao oleh Wakil Presiden RI Muhammad Jusuf Kalla di tanah lapang dekat lokasi tugu yang ada sekarang, Kamis 3 Agustus 2006, disusul 49 hari kemudian, pendeklarasian Padang Pariaman bebas kemiskinan berbasis nagari yang diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di halaman Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) - satu kilometer dari lokasi tugu, Kamis 21 September 2006. 

Tugu ini memiliki sejarah, nilai serta simbol pembangunan hebat yang tidak banyak diketahui orang Piaman. Nilai dan simbol pembangunannya ada di tugu ini. Sedangkan simbol pembangunannya adalah di sini merupakan pintu masuk ke Kota Mandiri, Ibu Kota Kabupaten (IKK) Padang Pariaman di Parikmalintang (konsep awalnya seperti bundarah Hotel Indonesia di DKI Jakarta).

Penjelasanya adalah di kawasan sekitar tugu coklat ini akan ada bundaran atau persimpangan jalan yang akan memasuki kawasan IKK Parikmalintang. Di sini akan bertemu jalan dari Malalak ke IKK yang hingga hari ini belum juga tersambung dari jalur daerah Koto Mambang melalui Nagari Sungai Asam sampai di tugu coklat Nagari Lubuk Pandan ini.

Tugu ini berada di jalur Padang -  Bukittinggi, selanjutnya ada jalur dari tugu coklat ke kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman melalui jalan lingkar yang pembangunannya semenjak tahun 2008. Namun, sampai sekarang tidak pernah selesai-selesai urusan pembebasan tanahnya. Jalur jalan dekat tugu ini, sesuai dengan perencanaan awal, merupakan jalur srategis yang menjadi simbol pusat kota atau ke depan akan lahir Kota Mandiri Parikalintang.

Sekarang tugu tersebut sudah mulai ditinggalkan oleh 'penguasa' Padang Pariaman, Ali Mukhni - Suatri Bur. Pembangunan kawasan ala HI di DKI tersebut tidak lagi ada gaungnya, tidak ada lagi anggarannya, tidak terdengar lagi kesibukan orang hebat di Pemkab Padang Pariaman akan melanjutkan cita-cita untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai gerbang baru kota mandiri yang akan mempercantik IKK Padang Pariaman.

Akan tetapi, penulis melihat ada postingan di media sosial facebook, tugu yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan tanpa ada perencanaan untuk melanjutkan pembangunan di kawasan ini dibenahi oleh Camat 2x11 Enam Lingkung Syofrion M SE MSi dan jajaranya bersama Walinagari Lubuk Pandan Radianto ST dengan bergotong-royong guna membersihkan dan kembali mempercantiknya. 

Ucapan Alhamdulillah dan terimakasih patut kita ungkapkan kepada mereka yang masih menjaga suatu gagasan hebat untuk masa yang akan datang.

Bercerita tentang kehebatan daerah ini, bisa diungkap kembali rencana awal pembangunan kawasan IKK yang ada di Nagari Parikmalintang, secara landasan hukum sudah dituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 79 tahun 2008 yang diundangkan tanggal 30 Desember 2008, enam hari setelah pemancangan pertama pembangunan gedung perkantoran bupati. Hal ini dapat dijadikan sebagai rujukan oleh pemerintah daerah untuk pengembangan. 

 PP RI Nomor 79 Tahun 2008 ini sudah dijabarkan dengan Peraturan Daerah (Perda) tentang 9 Kawasan Strategis Padang Pariaman. Isinya menjelaskan bahwa pembangunan IKK berkonsep melahirkan kota mandiri.

Sangat pantas jika harapan masyarakat Padang Pariaman begitu besar terhadap pembangunan Kawasan IKK tersebut menjadi pusat pemerintahan nan rancak, menjadi pusat bisnis dan perdagangan, menjadi pusat pelayanan publik terbesar di Sumatra Barat, menjadi pusat bermukim / menginap ramah lingkungan dan disenangi. Bahkan, untuk jangka panjang, menjadi Ibu Kota Provinsi Sumatra Barat.

Begitu juga dengan masyarakat setempat, masyarakat 2x11 Enam Lingkung, tidak akan merasakan efek pembangunan perkantoran secara ekonomi jika pembangunan hanya berada di radius koordinat luas 100 hektare sekarang. Sudah barang tentu masyarakat menginginkan pembangunan kantor-kantor organisasi perangkat daerah (OPD) menyebar di kawasan Nagari Parikalintang, merata di setiap korong.

Parikmalintang merupakan pusat pemerintah yang 100 tahun ke depan harus menjadi kebanggaan daerah Padang Pariaman. Secara teori akademis, peluang pendirian suatu pusat ibu kota merupakan kesempatan terbesar untuk melakukan penataan keindahan suatu daerah untuk jangka panjang, sekaligus kesempatan membangun peradaban baru Padang Pariaman.

Sekarang pembangunan IKK terkesan berhenti. Penguasa sekarang sepertinya tidak tertarik melanjutkan pembangunan kawasan ini. Oleh karena itu, penulis mengusulkan agar semua pihak mendesak Pemkab Padang Pariaman supaya mengembakikan regulasi pembangunan Kawasan IKK pada konsep penataan suatu ibu kota yang menjadi kota mandiri modern, Kota Mandiri Parikmalintang nan rancak.  

Suatu kota tidak hanya berupa pusat perkantoran pemerintah, tetapi juga harus dilengkapi dengan pusat bisnis / perdagangan, pusat pertumbuhan sektor publik, pusat wisata alam kota dan pemukiman ideal kota ramah lingkungan.

Semua harapan tersebut dapat dijalankan dengan baik jika Pemkab Padang Pariaman memiliki waktu, ruang dan biaya untuk mewujudkannya. Jika ada kemauan dan tekad, semua bisa direalisasikan. 

Imbauan kepada seluruh pemangku kepentingan di Padang Pariaman, mari mencoba memberikan kontribusi dalam bentuk investasi nyata agar tercipta Kota Mandiri Parikmalintang nan rancak. menuju pusat peradaban baru Padang Pariaman yang dapat dinikmati anak-cucu kita nanti.

Tugu coklat, bukan sekadar tugu, tetapi simbol. Dari sini akan lahir gagasan masa depan menuju pusat peradaban baru Padang Pariaman. Semoga dengan kegiatan pembersihan tugu tersebut nenjadi sinyal awal akan lahir pemimpin Padang Pariaman yang akan melanjutkan pembangunan kawasani ini yang sudah dimulai dari kehebatan cita-cita pendiri tugu coklat lubuk pandan ini. [*] 

*) Penulis merupakan pengamat sosial, ekonomi, kemasyarakatan, politik dan pemerintahan -- editor Zakirman Tanjung