Pulang Lebaran (Sebuah Kritik untuk Kabupaten-ku Padang Pariaman)

2


Catatan Drs Syauqi

MELINTAS 7 provinsi perjalanan dari Kota Bandung – Jawa Barat menuju ke Kabupaten Padang Pariaman – Sumatera Barat sepanjang lebih dari 1.500 km adalah pengalaman yang nyaris berulang dari tahun ke tahun. Meski demikian, keseruan perjalanan yang di dapat masih saja dirasakan berikut dengan segala romantismenya.

Romantisme itu terasa manakala melewati negeri-negeri yang bertumbuh dengan tata-kelola penerangan jalan di setiap kota pusat pemerintahan yang dilalui. Semarak lampu jalan seakan turut meramaikan iring-iringan mobil para pemudik.

Namun, hal demikian tidak saya dapatkan di daerah asal saya, Kabupaten Padang Pariaman. Setelah kami meninggalkan Kota Padangpanjang kegelapan jalanan kembali menyergap. Kondisi ini terasa sangat kontras karena begitu kita memasuki Kota Padang lampu-lampu jalan kembali menemani perjalalanan para pemudik maupun warga kota lainnya.

Kenapa? Apakah karena usia kabupaten-nya yang masih cukup muda atau ada faktor lain?

Saya tidak mau berpolemik. Namun, hanya berharap banyak, sepanjang rute dari Sicincin sampai ke Lubuk Alung – misalnya alangkah indahnya kalau disemarakkan oleh penerangan lampu jalan – sebagaimana yang saya lihat pada kota-kota yang kami lalui – menjadi bagian dari warna malam hari Padang Pariaman.

Salam,

Syauqi
-      Kampung asal Pasar Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung
-      Rantau: Kota Bandung, Jawa Barat

 

Sumber naskah: Postingan Medsos Facebook

Posting Komentar

2Komentar
  1. Ini Suatu cambuk bagi pemerintahan kab pd pariaman...karena disetiap tagihan listrik pelanggan ada pajak penerangan jalan ( ppj ) dan ditambah lagi dengan telah dicabutnya subsidi listrik daya 900 Va keatas ...jadi sudah sewajarnya pemerintahan kab pd pariaman memperhatikan hal ini melalui instansi terkaitnya...mohon ma'af...

    BalasHapus
Posting Komentar

#buttons=(Accept !) #days=(50)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top