CANANGNEWS- Program rehabilitasi sektor pertanian pascabencana di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, telah mencapai 98,39 persen terealisasi hingga 25 Mei 2026, pada tahap pertama. Rehab tersebut meliputi kontruksi maupun olah lahan pertanian.
Kepala Distan Agam, Arief Restu menyebut, target rehabilitasi sawah pascabencana tahap pertama seluas 311 hektar di dua kecamatan yaitu Palembayan dan Tanjung Raya. Saat ini 306 hektar lahan dari target tersebut, telah direhab.
"Dari lahan tersebut, seluas 153,75 hektar telah ditanami padi. Perhitungannya, akhir Mei ini, rehabilitasi sawah terdampak untuk tahap pertama bisa selesai 100 persen," terangnya.
Arief Restu menyampaikan, rehabilitasi lahan sawah yang terdampak dilaksanakan melalui mekanisme swakelola oleh kelompok tani setempat.
"Tahap lanjutan berupa optimasi lahan direncanakan menyasar area seluas 93 hektare yang tersebar di beberapa wilayah, meliputi Kecamatan Malalak, Palupuh, Matur, dan Ampek Koto," sebutnya.
Menurutnya, usulan penambahan lokasi tersebut, menurutnya, telah memperoleh persetujuan dari Kementerian Pertanian.
Arif mengakui, Pemerintah Kabupaten Agam menerima alokasi anggaran sebesar Rp29 miliar untuk menunjang program rehabilitasi sawah, optimasi lahan, serta sejumlah kegiatan pendukung lainnya.
Di sisi lain, program optimasi lahan difokuskan pada pemulihan areal persawahan yang terdampak bencana agar kembali produktif dan berkelanjutan. Dari target 294 hektare, realisasi yang telah tercapai mencapai sekitar 275 hektare.
"Pengerjaan optimasi lahan saat ini masih berjalan di beberapa kecamatan. Dari total tersebut, lahan yang sudah tertanami kurang lebih 201 hektare," ujarnya.
Melalui skema rehabilitasi dan optimasi lahan yang dibiayai Kementerian Pertanian, diharapkan lahan yang sebelumnya terdampak bencana dapat kembali diolah dan dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.
"Ini adalah wujud komitmen kami dalam mempercepat proses pemulihan lahan pertanian. Langkah ini juga bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi masyarakat serta memperkuat ketahanan pangan daerah," tegas Arif.




