Kolaborasi 2 Nagari: III Koto Amal & Toboh Ketek

Catatan Fauzi Al Azhar  


WALINAGARI III Koto Aua Malintang  (Amal H Azwar Mardin menerima kunjungan Walinagari Toboh Ketek Kecamatan Anam Lingkuang, Muhamnad Nasir, Rabu 23 Desember 2020 siang.  Baik tamu maupun tuan rumah didampingi perangkat nagari dan Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK)  masing-masing. Kunjungan itu dalam rangka silaturrahim untuk studi komparasi kedua nagari.

Kunjungan aparatur Nagari Toboh Ketek merupakan sebuah hal yang menarik untuk dicermati. 

Pertama, Nagari III Koto Amal (lebih dikenal dengan nama Batubasa - red) dan Nagari Toboh Ketek merupakan dua nagari yang sama-sama memiliki potensi besar. Nagari III Koto Amal memiliki potensi yang sudah dipublikasikan ke dunia luar seperti objek wisata Bukik Buliek. 

Dalam hal ini, Pemerintah Nagari III Koto Amal sudah mengagendakan iven di objek wisata Bukik Buliek pada tahun 2021, Pelaksanaan iven tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan publikasi, kunjungan wisatawan serta akan memiliki dampak pada sektor perekonomian. 


Masih banyak potensi lainnya di Nagari III Koto Amal yang belum dipublikasikan serta belum dikelola secara profesional seperti pasar nagari. Di sisi lain, nagari ini baru saja menerima penghargaan peringkat kedua keterbukaan informasi publik dari Komisi Informasi (KI) Provinsi Sumatra Barat.

Begitu juga dengan Nagari Toboh Ketek. Ketek Nagari Gadang Potensi - sebagaimana judul tulisan penulis pada media online Canangnews.com 25 Oktober 2020 lalu, merupakan nagari dengan potensi besar. Potensi besar tersebut jika didukung kepemimpinan yang memiliki visi besar tentu akan memberikan lompatan besar bagi perubahan ke arah yang lebih baik.

Pertemuan kedua walinagari bersama aparatur masing-masing tidak hanya sebagai ajang silaturrahim tetapi merupakan awal dari sebuah kolaborasi besar. Antara lain kolaborasi pengembangan inovasi untuk kemajuan nagari melalui diskusi untuk saling berbagi ide dan strategi. Dengan diskusi, maka ide dan strategi dari masing-masing nagari dapat dikomparasi untuk melahirkan strategi baru yang lebih baik.

Kedua, akhir tahun merupakan tren bagi aparatur pemerintah nagari untuk melakukan perjalanan dinas ke luar daerah dalam kemasan studi komparatif. Kegiatan ini bisa diikuti oleh aparatur nagari atau dengan membawa serta Badan Permusyawaratan (Bamus)  serta unsur kelembagaan nagari. 


Nagari Toboh Ketek tahun ini mencoba untuk melakukan hal yang berbeda dengan studi komparasi hanya di dalam Kabupaten Padang Pariaman. Memang, dalam hal studi komparasi, tidak ada larangan untuk melakukan perjalanan ke luar Kabupaten Padang Pariaman sepanjang kegiatan tersebut memiliki indikator yang terukur terhadap hal yang akan dikomparasikan dengan lokasi desa/nagari yang dituju. 

Dari agenda Nagari Toboh Ketek mengunjungi Nagari III Koto Amal ada hal positif yang bisa diambil, yaitu 

(i) Efisiensi. Perjalanan dinas dalam daerah secara nominal lebih kecil dibanding dengan luar daerah. Kondisi ini sangat bermanfaat dalam keaadaan nagari minim anggaran. 

(ii) Komunikasi. Keberlanjutan komunikasi setelah agenda pertemuan masih dapat dijaga secara intens. Komunikasi tersebut bisa level pimpinan maupun level perangkat nagari. Dengan pelaksanaan bisa dilakukan secara formal melalui pertemuan di tingkat kabupaten dalam agenda dinas bersama perangkat daerah terkait atau melalui saluran komunikasi berbasis teknologi seperti grup whatsapp. 

Akan berbeda kondisinya kalau perjalanan studi komparasi ke luar Padang Pariaman. Proses keberlanjutan komunikasi pasca kunjungan akan cepat terputus, dan bahkan terlupakan sesuai dengan aktivitas masing-masing. Kalau pun ada keberlanjutan komunikasi, kemungkinan diawali rasa sungkan akan lebih besar. 

(iii) Publikasi. Hal yang jamak dalam era kemajuan teknologi seperti sekarang pada sebuah kegiatan - apalagi dalam bentuk perjalanan ke luar daerah - kurang afdhal kalau tidak melakukan publikasi. Esensi dari publikasi adalah penyampaian informasi kepada khalayak untuk sebuah objek atau peristiwa. 


Pada saat kita mempublikasikan sebuah objek maka sebenarnya kita telah ‘memasarkan’ objek tersebut. Begitu juga dengan setiap pelaksanaan kunjungan studi komparasi oleh nagari, maka pihak nagari sebagai pengunjung sebenarnya sudah beralih fungsi jadi marketing bagi nagari / desa yang dikunjungi. Hampir semua peserta kunjungan akan mempublikasikan kegiatan selama di lokasi melalui media sosial masing-masing.

Dalam konteks Nagari Toboh Ketek - III Koto Aua Malintang merupakan publikasi untuk promosi bagi nagari masing-masing. Agenda yang dipublikasikan secara live dalam akun facebook Nagari Tigo Koto Amal maupun foto di media sosial, adalah publikasi untuk Nagari-Nagari di Padang Pariaman. 

Di Padang Pariaman ada nagari yang mampu melakukan transformasi untuk kemajuan dan dapat menjadi referensi bagi nagari lain dalam pengelolaan potensi maupun pengembangan inovasi. Transformasi di Nagari III Koto Aua Malintang yang berpenduduk ± 7..000 jiwa ini antara lain pengembangan kantor nagari sebagai pusat pelayanan publik yang berkualitas serta memenuhi aspek-aspek pelayanan publik; pengembangan layanan J&A (jemput dan antar) dokumen ke rumah warga oleh aparatur nagari yang dipublikasikan melalui media website dan youtube nagari serta menerima penghargaan peringkat dua keterbukaan informasi publik oleh KI Provinsi Sumatra Barat tahun 2020. 

Dengan publikasi melalui media sosial - seperti live dan publikasi foto di facebook - memiliki dampak yang besar. Tidak hanya memberikan informasi kepada masyarakat di masing-masing nagari, tetapi juga kepada banyak orang. Informasi tersebut tidak hanya untuk penduduk pada kedua nagari serta perantau-nya tetapi juga kepada khalayak yang mengakses media tersebut.

(iv)Komparasi. Nagari Toboh Ketek bisa melakukan komparasi untuk hal yang sepadan di Nagari III Koto Amal. Nagari Toboh Ketek akan menempati gedung kantor baru. Gedung ini masih dalam kondisi kosong yang membutuhkan pengembangan terhadap model sarana dan prasarana pelayanan publik. 

Sedangkan Nagari III Koto Amal dalam tahapan finishing kegiatan revitalisasi sarana prasarana kantor Nagari untuk menjadi pusat pelayanan publik yang berkualitas serta untuk mengejar target pemenuhan aspek-aspek pelayanan publik. 


Sebagai bagian dari pelaksanaan pelayanan publik, layanan J&A yang telah dikembangkan oleh Nagari III Koto Amal bisa diduplikasi serta modifikasi ulang oleh Nagari Toboh Ketek, apalagi dengan jumlah penduduk yang hanya sepertiga dari Nagari III Koto Aua Malintang. Dengan jumlah penduduk yang kecil tentu model layanan (J&A) akan lebih atraktif.

Terakhir, komparasi pengembangan potensi Bukik Bulek di Nagari III Koto Amal dan Bukik Cangang di Nagari Toboh Ketek. Pengembangan potensi duo bukik ini akan lebih baik melalui konsep kontradiktif, model pengembangan yang bertolak belakang. Dengan demikian masing-masing bukik memiliki ciri khas sangat berbeda Pada saat area Bukik Cangang sudah dikembangkan area motorcross, maka Bukik Bulek harus memunculkan konsep pendukung lain yang menjadi ciri khas pembeda. 

Ketiga, Kolaborasi. Pertemuan Nagari Toboh Ketek dan Nagari III Koto Amal merupakan awal dari kolaborasi besar antara dua nagari yang memiliki potensi besar yang dipimpin oleh walinagari yang visioner. Walinagari III Koto Amal dengan jiwa muda yang energik melalui ungkapan yang ditampilkan di website Nagari: Pemimpi(n) nagari adalah orang mempunyai mimpi besar tentang desanya dan mewujudkan menjadi nyata. 

Sedangkan Nagari Walinagari Toboh Ketek dengan kematangan usia dan pengalaman. Kolaborasi dua hal tersebut merupakan modal dasar kepemimpinan dalam mengelola potensi untuk kemajuan nagari. Selain itu, keduanya memiliki kesamaan dari segi masa jabatan, yang dilantik pada tanggal 31 Mei 2018 bersama 72 walinagari lain hasil dari pelaksanaan pemilihan walinagari serentak.

Dari tiga hal di atas, maka Toboh Ketek melakukan kolaborasi gadang bersama III Koto Amal yang akan memberikan pelangi inspirasi bagi seluruh negeri. 

Sebagai gambaran, Nagari III Koto Amal berlokasi di bagian utara Kabupaten Padang Pariaman dengan jarak ke kantor bupati di Nagari Parikmalintang mencapai 65 kilometer. Sementara jarak ke pusat pemerintahan Kabupaten Agam - Lubuak Basuang hanya berkisar 5 kilometer. Sedangkan Nagari Toboh Ketek hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari kantor bupati. (*) 

Editor Zakirman Tanjung 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama