Guruku Bu Imnawati: Pengabdian Tanpa Batas

4

Hajjah Imnawati SPd

GURU adalah profesi yang sangat mulia. Seorang guru sejati memiliki cinta dan pengabdian tanpa batas ruang dan waktu. Ia akan turut merasa bahagia bila mendengar kabar anak-anak didiknya menjadi orang yang sukses walaupun si anak tak pernah lagi menghubunginya. Sebaliknya, ia akan sangat prihatin manakala mengetahui jika ada anak didiknya yang hidup susah dan menderita, lalu berupaya memberikan pertolongan.

Sosok guru sejati itu – saya lihat – ada pada diri Hajjah Imnawati SPd yang kini mengajar pada Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman – Provinsi Sumatera Barat. Beliau tidak hanya memiliki cinta-kasih, tetapi juga kepedulian dan empati.

Seorang siswi serius menyimak pemaparan Bu Im

Kemarin, Senin 21 Januari 2019, saya memenuhi undangan Bu Im (begitu beliau kami sapa) agar datang ke sekolah tempat dia mengajar. Saya datang pukul 10.15. Setelah melapor, Guru Piket mengizinkan saya menemui Bu Im ke lokal tempat beliau mengajar, Kelas XII IPS 2.

Mulanya Bu Im meminta saya menunggu di kantor sekolah. Namun, melihat ada kursi dan meja kosong, saya memohon diizinkan masuk ruang belajar. Selanjutnya, selama 1 jam 15 menit, saya mengikuti materi pelajaran Geografi yang disampaikan Bu Im – sama dengan 26 siswa dan siswi di lokal itu.

Saya (penulis) ikut menyimak pelajaran bersama para siswa

Alhamdulillah... semangat, metode, perhatian dan kesungguhan Bu Im dalam mengajar dan mendidik masih seperti 30 tahun silam, ketika saya jadi anak didik beliau di SMA Negeri Sicincin, Kabupaten Padang Pariaman.

Bu Imnawati memang guru yang luar-biasa. Beliau jadi walikelas kami, III Sos (IPS) 3, tahun ajaran 1988 /1989 pada usia 25 tahun dan belum menikah. Namun, Bu Im mampu mengubah saya ~ siswa yang biasa di luar alias suka cabut (waktu Kelas II Sos 1 saya dapat rangking 41/41 pada semester III dan 34/41 pada semester IV ~ menjadi siswa terbaik. 

Saya masih ingat, pernah dipergoki Guru BP/BK Bu Ria Wati dan Guru Kesenian Bu Beba Sari dekat Stasiun KA Sicincin sewaktu cabut. Dengan alasan mau pergi ke Redaksi Haluan di Jalan Damar Nomor 59 F Kota Padang guna mengambil honor tulisan, mereka pun melepas saya pergi.

Mengulang kenangan menjadi siswa Bu Im 

Alhamdulillah... pada semester V dan VI saya meraih rangking pertama dari 40 siswa Kelas III Sos 3 dan mendapatkan Nilai Ebtanas Murni (NEM) 52,96 atau rata-rata 7,56.

Sewaktu pembagian rapor semester V & VI (sekaligus) di Objek Wisata Lubuk Bonta, Guru Matematika kami di Kelas II ~ Bu Ismelda (kini guru SMAN 4 Tangerang) ~ sampai kaget mendengar pengumuman bahwa Zakirman meraih juara pertama.

Dalam perbincangan usai mengajar di Kelas XII IPS 2, Bu Im berkisah, ia mengajar di SMA Negeri Sicincin (kini SMA Negeri 1 2x11 Enam Lingkung) mulai tahun 1987 setelah menamatkan Program Diploma III pada Jurusan Geografi Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang tahun 1986.

Bersama Bu Im yang masih syantik dan enerjik 

“Ibu mengajar di SMA Negeri Sicincin selama 11 tahun,” ujar perempuan kelahiran 3 Februari 1963 ini. Tahun 1990 Bu Im ketemu jodoh, menikah dengan Muhammad Nasir SPd – guru Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Sicincin.

Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua orang putri. Sulung lahir 15 November 1993 yang mereka beri nama Rezie Novina, kini bekerja di Jakarta setelah menamatkan S1 Sistem Informatika Universitas Andalas (Unand) dengan gelar SSi. Sedangkan putri kedua yang lahir 17 Maret 1998 mereka beri nama Rezha Marvina, kini mahasiswi Biologi STKIP PGRI Padang.

Bu Im (kelima dari kiri) bersama Kepala SMA 1 Batang Anai Dra Hj Dian Mulyati MPd (tengah) 

Pada tahun 1996 Bu Im dapat tugas sebagai Wakil Kepala SMAN 1 Batang Anai sembari tetap mengajar di SMAN Sicincin hingga tahun 1998. Saat ini Bu Im sedang mengurus proses kenaikan pangkat / golongannya menjadi IV/b terhitung 1 April 2019. Pangkat IV/a ia peroleh tahun 2004 atau 15 tahun silam.

Tahun 2004 merupakan sejarah kelam bagi Bu Im. Suami yang dia cinta dan mencintainya – Muhammad Nasir – berpulang ke Rahmatullah. Sendirian ia mengasuh dua putri yang masih berusia 11 dan 6 tahun. Namun, ia segera bangkit dari kesedihan. Tahun 2006 Bu Im menunaikan ibadah haji ke Baitullah.

Hajjah Imnawati bersama suami, Haji Chairul Husni

Setelah 8 tahun menjanda, tahun 2012 Bu Im menerima pinangan Haji Chairul Husni – duda 3 anak – yang juga terpisah ajal dengan isterinya. Kini, Bu Im mengaku hidup bahagia bersama Pak Chairul Husni – Alhamdulillah... 
(Zakirman Tanjung)

Posting Komentar

4Komentar
Posting Komentar

#buttons=(Accept !) #days=(50)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top