Tradisi Pulongan Mata Bagi Anak Perempuan Masih Kental Di Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara


Sikabaluan Canangnews,Tradisi pulongan mata bagi keluarga inti dari orang tua tertua yang telah meninggalkan dunia untuk belaralih beralih (meninggal dunia)


Biasanya hal tersebut berlaku bagi keluarga besar disikabaluan yang mana orangtua yang tertua dari semua keturunan telah tiada namun masih berkaitan dengan keluarga inti dalam hal ini anak-anak dari orang tua tersebut.

Pulongan mata (kenang-kenangan) yang dimaksud tersebut adalah peninggalan selama masa hidup orang tua dari anak dan kelonakan yang telah berpulang untuk menjadi cindera mata,sehingga tetap hidup dilubuk hati setiap anak dan cucu dari orangtua tersebut.

Menurut yang terpantau dari Canangnews,disaat meliput acara mendudukkan pulongan mata (membahas apa yang akan diminta oleh anak perempuan) untuk kenang-kenangan dilain waktu.

Dalam diskusi tersebut anak perempuan dari orang tua lelaki yang terakhir dari lima bersaudara telah berpulang ketempat yang kuasa beberapa hari yang lalu untuk itu anak berhak memberikan jawaban atau permintaan sehubungan dengan apa yang diminta sebagai kenangan-kenangan yang dimaksud.

Namun hal tersebut,berlaku bagi anak dan cucu yang sudah menikah dan wajib memperoleh bagian dari peninggalan almarhum ayah atau kakek sebagai salah satu tradisi kental yang masih berlaku disikabaluan.

Mateus Siribere,Selaku keponakan inti dari Almarhum orangtua mengatakan bahwa hal tersebut juga tidak mesti dilakukan karena keluarga merasa kehilangan untuk itu dirinya tidak meminta apa-apa untuk dijadikan kenangan.

Disisi lain Seire menuturkan, bahwa kenangan tidak akan bermanfaat apabila dirinya tidak dilibatkan dalam acara suku ketika adanya kegiatan besar.

Jika dilihat dari adat istiadat dimasa lampau Mane (Atau kewajiban tuntutan anak perempuan yang mesti diberikan dan dipatok ) sungguh menjadi kesulitan dan batu sandungan besar,dan berat bagi keluarga besar namun untuk saat ini Mane tersebut diperkecil menjadi Pulongan mata atau kenang-kenangan yang tidak mesti diminta.

Sementara josia Sikaraja,selaku ketua dari suku tersebut menerima semua usulan,pendapat,dan masukan dari keluarga besar tersebut untuk dipertimbangkan.

Paulus Sikaraja,memberikan pendapat bahwa semuanya tetap akan menjadi keluarga meski semua orangtua dari keluarga besar telah tiada namun tetap kuat harapannya.

"Hal tersebut berlaku bagi keluarga besar Sikaraja yang pada saat ini telah merasa berduka karena orang tua terakhir telah tiada namun hal tersebut tidak menjadi hambatan dalam kekeluargaan sehingga tetap dekat dan bersatu namun satu hal yang perlu dicatat bahwa Sikaraja jangan sampai mencemarkan nama baik suku yang akan menjadi perpecahan bagi suku untuk masa yang akan datang"ungkpnya melalui forum di halaman rumah duka Senin  (22/02/21).

Dirinya berharap,semuanya tetap bersatu meskipun orang tua yang dicintai telah tiada untuk kelancaran proses perjalanan hidup.

"Jangan sampai menjadi hancur keluarga inti Sikaraja akibat orangtua yang terakhir telah meninggalkan kita untuk itu saya meminta supaya Sikaraja tetap kompak dan kuat supaya batu besar dapat diangkat" pukasnya.(JS)

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama