Oleh Rika Wahyuni, S.Pd. (Mahasiswa Pascasarjana IAIN Batusangkar)


Meluasnya kasus pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sejak bulan Maret 2020 di Indonesia membawa dampak yang besar bagi dunia pendidikan khususnya. Sudah banyak pembaharuan kebijakan yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Anwar Makarim  terkait kegiatan pembelajaran selama masa pandemi ini yang salah satunya adalah kebijakan belajar dari rumah.

Namun dilapangan, apakah kebijakan ini telah merubah kebiasaan dan perilaku guru dan siswa selama ini ? 

Biasanya guru mengajar di dalam sebuah kelas lengkap dengan segala fasilitas yang tersedia, namun sekarang tidak lagi. Guru dituntut bisa mencari pola pembelajaran yang ideal untuk siswa melalui pembelajaran daring. Guru dan siswa tidak bisa bertatap muka secara langsung hanya terhubung melalui jaringan.

Kenyataannya, merubah pola atau kebiasaan yang kita pakai selama ini sangatlah sulit. Kebiasaan yang harus dirubah pertamakali secara siginifikan adalah guru dan siswa menggunakan jaringan internet dan perangkat laptop atau HP. Guru dan siswa harus piawai mengunakan dua komponen tersebut paling penting.

Kedua guru harus mampu mengembangkan gaya, strategi atau metode mengajar sesuai pembelajaran daring dan ketiga, guru dan siswa harus mampu merubah gaya komunikasinya selama pembelajaran daring. Di bagian ketiga inilah sering guru kurang memperhatikannya yaitu kurangnya pemahaman dan penerapan guru dalam berkomunikasi dengan siswanya. Pada pembelajaran tatap muka di kelas guru biasanya melakukan komunikasi satu atau dua arah secara langsung melalui diskusi dan latihan di kelas. Guru akan lebih mudah memaparkan dan menjelaskan terkait materi yang diberikan dan siswa akan lebih mudah memahami dan bisa langsung bertanya jika ada yang tidak mereka pahami tetapi ditengah pandemi hal ini tidak bisa diterapkan lagi.

Maka seorang guru harus bisa mencari cara melakukan komunikasi efektif dalam pembelajaran daring ditengah pandemi. Komunikasi efektif adalah komunikasi yang senantiasa terjalin antara guru dan siswa sehingga nantinya bisa membawa perubahan sikap atau karakter siswa kearah yang lebih baik. 

Komunikasi efektif ini harus bersifat jarak jauh yang sering kita sebut dengan komunikasi daring. Komunikasi daring mengacu pada membaca, menulis dan berkomunikasi melalui/menggunakan jaringan computer (Warschauer, M.2001 pp. 207-212).  Komunikasi ini , memungkinkan  guru sebagai komunikator dan siswa sebagai komunikan dengan tujuan agar guru dan siswa bisa berkomunikasi dimana saja dan kapan saja.

Ada dua jenis komunikasi daring yang bisa digunakan oleh guru dan siswa. Pertama, Komunikasi Daring Sinkron adalah komunikasi dengan jaringan internet yang terjadi secara bersamaan dan waktu yang nyata (real time). Contohnya teks chat dan Video chat (Whatsapp, messenger, hangouts). Kedua Komunikasi Daring Asinkron adalah komunikasi dengan jaringan internet namun dilakukan secara tunda atau tidak bersamaan contohnya Surat Elektronik (email), blog, forum, dan lain-lain.

Ketepatan informasi menjadi kunci dalam menciptakan komunikasi yang efektif.  Ada beberapa unsur terjadinya komunikasi efektif yaitu persamaan pengertian, sikap, dan bahasa. Pesan atau informasi dapat diterima dan dimengerti serta dipahami oleh siswa. Pesan yang disampaikan dapat disetujui oleh siswa. Tidak adanya hambatan yang berarti dalam menindaklanjuti pesan atau informasi. 

Untuk memenuhi unsur–unsur komunikasi efektif dalam pembelajaran daring ini, guru harus melakukan bebagai hal yaitu Pertama, membuat aturan kelas daring, termasuk waktu dan aplikasi yang digunakan. Kedua, membangun suasana yang baik dalam berdiskusi pada kelas daring, mungkin ini sulit dilakukan namun usahakan diskusi dilakukan baik secara sinkron atau asinkron. Jangan sampai siswa yang bertanya atau membutuhkan penguatan tidak dilayani. Ketiga, walaupun dalam pembelajaran daring, guru semestinya tetap menggunakan ekspresi-ekspresi verbal maupun non-verbal dalam memberikan feedback, reward dan punishment. Di sini bisa menggunakan emoticon, sticker, atau kalimat yang memotivasi siswa sehingga siswa menjadi antusias dalam pembelajaran.  Keempat, guru harus mampu mengaitkan materi dengan situasi terkini atau kekinian, sehingga akan mudah dipahami oleh siswa. Kelima, menggunakan video atau animasi yang mendukung materi sehingga tidak membosankan.

Disamping itu juga, di dalam membangun sebuah komunikasi, guru juga perlu memperhatikan beberapa hal seperti berikut ini:

Pertama, Menggunakan bahasa yang simple, yang mudah dipahami dan juga dapat memotivasi psikis siswa. Kedua, guru harus mampu memahami kondisi atau keadaan siswanya. Ketiga, makna dari pesan atau informasi haruslah jelas dan bermanfaat. Keempat, guru harus mampu menanamkan sifat respek dan saling menolong apabila ada siswa lain yang mengalami kesulitan. Bisa saja dalam situasi ini siswa yang menolong guru dalam berbagai hal, misalnya kesulitan dalam menggunakan aplikasi. Kelima, guru juga harus menanamkan jiwa demokratis kepada siswanya. 

Demokratis ditunjukkan dengan memberikan kebebasan saling memberikan masukan selama pembelajaran daring, saling mendengar atau mengerti dengan keadaan dan mampu meberikan solusi dari setiap masalah yang dialami dalam pembelajaran daring saat pandemi Covid-19 ini.(TJP)

(Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Zulmuqim, MA, Dr. Hj. Demina, M.Pd )

Tags: OPINI