Subscribe Us

header ads

Tradisi Manampuang di Sitingkai, Cara Beda Pembagian Daging Qurban


Agam, -Masyarakat Jorong Sitingkai, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam punya cara tersendiri memaknai momen perayaan Idul Adha.
Selain sebagai ibadah keagamaan, penyelenggaraan penyembelihan hewan qurban sekaligus menjadi ajang untuk memperat tali silaturahmi serta memupuk rasa kebersamaan dengan cara menjaga kearifan lokal.
Ba’da Dzuhur, tampak ratusan masyarakat berjejer di sepanjang jalan Jorong Sitingkai. Tidak pandang bulu, semua lapisan masyarakat membaur jadi satu. Di hadapan mereka tampak kantong kosong yang siap diisi daging kurban. Sementara itu, sejumlah panitia kurban sibuk mengisi kantong tersebut satu per satu.
Kehadiran masyarakat di sepanjang jalan tersebut bukan hanya sekali itu saja, namun sudah berlangsung dari tahun ke tahun saat pelaksanaan ibadah kurban.
Masyarakat menamai aktivitas tersebut dengan manampuang. Manampuang merupakan aktifitas pengambilan daging kurban yang sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat setempat.
“Manampuang merupakan kearifian lokal kami di sini, tradisi ini sudah berlangsung sejak dahulunya,” ujar salah seorang tokoh pemuda Sitingkai, Afriadil, Sabtu (1/8).
Diutarakan lebih lanjut, di Jorong Sitingkai, selama ini pembagian daging kurban tanpa menggunakan kupon. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat setempat terpancing untuk mendatangi lokasi pembagian daging kurban.
“Kalau pakai kupon, tentu tidak semua masyarakat yang datang, hanya perwakilan saja. Jadi kalau dengan cara menampuang seluruhnya akan datang, baik anak-anak maupun orang tua,” jelasnya.
Mengapa dikatakan manampuang, jelasnya lagi, karena sistem pembagian daging dilakukan dengan cara dibagikan oleh panitia dimana masyarakat menerimanya dengan cara menampungkan kantong masing-masing.
“Jadi di lokasi, masyarakat berdiri berjejer di dua sisi jalan, dimana masyarakat mempersiapkan kantong masing-masing, lalu panitia berjalan di tengah untuk memasukan daging tersebut ke kantong-kantong,” tutur Afriadil.
Menurut Afriadil, masyarakat tidak pernah protes dengan daging apapun yang didapat. Sampai saat ini, tidak pernah ada kericuhan saat pembagian daging kurban, sebab semua yang datang dapat jatah daging kurban sama banyak.
Dikatakan, tradisi tersebut dilakukan untuk memupuk rasa kebersamaan di tengah masyarakat. Selain itu, juga untuk menyemarakkan perayaan Idul Adha dengan tetap mempertahankan kearifan lokal.
“Ya terkadang masyarakat tidak sempat jalang manjalang (bertamu-red) ke rumah masing-masing, jadi di lokasi manampuang masyarakat saling bersilaturahmi,” ulasnya. (BJR)

Posting Komentar

0 Komentar