Subscribe Us

header ads

Ditengah Pandemi, Semangat Masyarakat Agam Berkurban Tinggi



Agam, -Musibah pandemi Covid-19 hampir merata menyerang penduduk Bumi. Hanya sebagian kecil negara di dunia ini, terdampak Covid-19. Dari 188 negara, hanya 12 negara yang tidak terdampak (Kompas.com, Jumat/ 29 Mei 2020).
Menghadapi kondisi itu hampir sebagian besar negara dunia melakukan penanganan yang sama. Yakni dengan cara lockdown. Terutama negara maju dengan stabilitas ekonomi yang bagus. Sedikit berbeda di Indonesia, penanganan Covid-19 dilakukan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB, dilanjutkan Tatanan Normal Baru atau New Normal.
Akibat kebijakan itu, jelas mempengaruhi seluruh sektor kehidupan. Sektor pendidikan, perekonomian, sosial, budaya dan sebagainya. Menggiring peradapan manusia kepada tatanan kehidupan baru, bertujuan melawan penyebaran Covid-19.
Mengerucut ke Provinsi Sumatera Barat, khusus di Kabupaten Agam, ketahanan pangan dan karekteristik masyarakatnya cukup tangguh dan kuat. Apalagi memiliki nilai beribadah yang taat sebagaimana mestinya umat Muslimin. Mentalitas itu membuatnya mampu bertahan baik hingga saat ini.
Sebagai masyarakat agraris, ketahanan pangannya patut diacungkan jempol, pasalnya hasil pertanian selalu surplus tiap tahun. Di sisi lain, meski ditengah pandemi Covid-19 ini, masyarakatnya memiliki semangat hebat beribadah, terutama melaksanakan ibadah Idul Adha 1441 Hijriah. Tetap ikut berkurban menyumbangkan sedikit hartanya walau dalam kondisi krisis ekonomi.
Berbagai kesulitan sedang dilalui, akan tetapi tidak menyurutkan sedikitpun untuk bersedekah dan berkurban. Mensedekahkan sedikit uang, untuk membeli beberapa ekor sapi dan kambing untuk disembelih. Ibadah itu dilaksanakan di masjid, mushalla, surau atau ditempat khusus di suatu kaum maupun kelompok masyarakat di seantero Kabupaten Agam.
Walau terjadi pengurangan jumlah hewan kurban secara total keseluruhan di Agam, namun dibandingkan dengan kondisi perekonomian dan sosial secara global, masih terbilang sangat wajar. Berdasarkan data Dinas Pertanian Agam, tahun ini jumlah hewan kurban 5.162 ekor sapi, 3 ekor kerbau dan 182 ekor kambing. Jumlah itu menurun dibanding tahun lalu yang sebanyak 5.441 ekor sapi dan 174 ekor kambing.
Bupati Agam Dr Indra Catri mengakui memang terjadi penurunan pemotongan hewan kurban tahun ini. Menurutnya, ini disebabkan berkurangnya jumlah hewan kurban yang bersumber dari perantau dan para pedagang.
“Memang terjadi penurunan dan mungkin ini disebabkan berkurangnya jumlah hewan kurban yang bersumber dari perantau dan para pedagang. Kita sama-sama memahami, sektor perekonomian jauh merosot akibat dampak penanganan Covid-19 di Indonesia,” ungkap Bupati Agam, Indra Catri, Sabtu (1/8).
Bupati melanjutkan, kita pantas mengapresiasi seluruh masyarakat Agam yang tetap menunaikan ibadah kurban. Ini menunjukan kesolehan sosial dan individual yang tinggi di tengah-tengah masyarakat.
“Dalam kondisi sulit, masyarakat Agam tetap berkurban. Ini menunjukan bahwa fundamen ekonomi masyarakat kita, khususnya sektor pertanian cukup tangguh menghadapi imbas pandemi Covid-19,” jelas bupati yang akrab disapa IC.
Dalam perayaan Idul Adha tahun ini, kata IC terasa sedikit berbeda. Jika pada Idul Adha tahun-tahun sebelumnya masyarakat bebas berkumpul, bersilaturahmi dan bersalaman, namun saat ini tidak bisa dilakukan.
“Kita semua dianjurkan memakai masker, rajin cuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak. Protokol kesehatan memang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19,” ulasnya.
Menurut IC, Idul Adha sekaligus menjadi momen memperkecil kesenjangan sosial dengan memperluas silaturahim, berbagi daging kurban dan memberikan empati kepada kaum dhuafa. Ibadah kurban sejatinya merupakan refleksi taqwa untuk mendekatkan diri kepada Allah, serta pada saat yang sama juga memberikan manfaat sosial. Dikatakan refleksi taqwa, karena sesungguhnya inti dari ibadah kurban adalah taqwa dan ikhlas.
Esensi dari Idul Adha merupakan momentum untuk memperbaiki hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan dengan Allah SWT.
“Inilah hari besar kemanusiaan dan keimanan, yang ditandai dengan syi’ar penyembelihan hewan kurban, untuk mengenang peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail. Kurban merupakan media ritual, sama halnya dengan zakat, infak, dan sedekah.” Ujar IC.
Salat Ied dengan Protokol Kesehatan
Kabag Kesra Setdakab Agam, Surya Wendri menyebutkan, kesadaran masyarakat menerapkan protokol kesehatan saat menunaikan Salat Ied cukup tinggi.
Seperti pelaksanaan Salat Ied di halaman Kantor Bupati Agam, jumat, (31/7). Sejak pagi masyarakat yang datang memakai masker. Sebelum masuk, jemaah dengan kesadaran sendiri mencuci tangan di tempat yang sudah disediakan. Membawa sajadah sendiri dan menerapkan physical distancing.
Tempat cuci tangan, katanya, disediakan sebanyak enam unit yang ditempatkan di pintu masuk. Setelah mencuci tangan langsung pengukuran suhu oleh petugas medis RSUD dan Puskesmas Lubuk Basung.
“Kita juga menyediakan masker bagi jemaah yang lupa membawanya, serta pengaturan jarak jemaah,” ujarnya.
Kepatuhan masyarakat menerapkan protokol kesehatan juga tampak di kecamatan lain.
Camat Kamang Magek Rio Eka Putra mengatakan, pelaksanaan Salat Ied tidak terpusat di satu titik, tapi menyebar di seluruh masjid dan musala. “Salat tetap dengan protokol kesehatan. Alhamdulillah, kesadaran masyarakat cukup tinggi,” kata Rio
(AMC/BJR)

Posting Komentar

0 Komentar