Subscribe Us

header ads

Kepala Bapelitbangda: Dampak Stunting Bukan Hanya Masalah Kesehatan


Parikmalintang, CanangNews --  Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat sangat mengapresiasi Kabupaten Padang Pariaman yang berkomitmen dalam aksi kesehatan masyarakat, Komitmen ini terlihat dari kegiatan puskesmas-puskesmas yang selalu aktif dalam melakukan sosialisasi maupun pembinaan kesehatan terhadap masyarakat, program posyandu yang tetap jalan dan tingginya kepercayaan masyarakat untuk membawa balita mereka ke posyandu. 

Ungkapan ini disampaikan oleh Mismaini Noor SKM MKM, Staf Kasi KesMas Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat saat menyajikan materi dalam Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Aksi Konvergensi Stunting dalam Upaya Percepatan Penurunan dan Penanganan Stunting di Kabupaten Padang Pariaman di Ruang Rapat Setdakab,  Parikmalintang, Rabu (29/7/2020). 

Lebih lanjut, Mismaini Noor mengemukakan, stunting itu berawal semenjak ibu hamil yang bermasalah sampai masa 1.000 hari pertama kehidupan. Oleh karena itu, pencegahan stunting harus dimulai dari memperhatikan serta memenuhi gizi ibu yang sedang hamil dan menjaga keasehatan si bayi sampai dia berusia tiga tahun atau 1.000 hari pertama kehidupan. 

Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Aksi Konvergensi Stunting ini dibuka oleh Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah  (Bapelitbangda) Ir H Ali Amran MP mewakili Bupati Padang Pariaman. Dalam arahannya, ia mengingatkan, persoalan stunting ini memang sudah lama dan harus menjadi perhatian serius. 

"Kita harus punya langkah-langkah strategis untuk mengatasinya. Karena dampak dari stunting ini bukan hanya masalah kesehatan saja, pertumbuhan generasi yang mudah terkena penyakit, tetapi juga berdampak pada tingkat pertumbuhan penduduk yang berimplikasi kepada kualitas generasi penerus. Tidak terbayangkan bagaimana sepuluh atau 50 tahun yang akan datang, siapa yang akan mengelola bangsa ini jika tidak diatasi dari sekarang?" kata Ali Amran.

Lalu dampak ekonominya, lanjut dia, negara bisa dirugikan sampai triliunan rupiah pertahunnya. 

"Makanya kita perlu upaya serius dalam kasus stunting ini. Oleh karena itu, diharapkan dalam rapat koordinasi ini akan lahir komitmen yang akan menjadi rekomentasi dalam upaya pencegahan Stunting ini, khususnya di Kabupaten Padang Pariaman. Pemerintah daerah sangat serius, dan kami akan koordinasikan lebih lanjut dengan Pak Bupati terkait penganggaran dan pembiayaan untuk upaya pencegahan dan penanganan stunting ini," ulasnya menegaskan. 

Senada dengan itu, Kepala Dinas Kesehatan Padang Pariaman  Yutiardy Rivai mengungkapkan, siapapun tidak ingin keteteran dan terdesak oleh waktu saat menjalankan program ini. 

"Padang Pariaman ditetapkan sebagai kabupaten Lokus Stunting memang untuk tahun 2021, namun kita sudah star mulai dari sekarang dan kita sudah siapkan data-data yang lengkap. Karena data sudah ada, daerah lokus stunting juga sudah kita petakan. Maka, mulai januari tahun 2021 kita langsung aksi," ungkap mantan Kepala DPPKB ini. 

Yutiardy mengemukakan harapan, permasalahan stunting ini bisa diselesaikan bersama-sama dengan istilah keroyokan. Sebab, upaya akselerasi pencapaian MDGs tidak mungkin hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja, akan tetapi harus bermitra dengan stakehorders terkait yang memiliki peran dan tanggungjawab yang sama besar dan pentingnya. 

Bahkan dukungan penganggaran / pembiayaan dan regulasi dari legislatif pusat dan daerah, konsistensi implementasi di tingkat lokal sangat penting, bahkan keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan. 

"Mari kita berdayakan Rumah Desa Sehat sebagai sekretariat bersama dalam Konvergensi Pencegahan Stunting di tingkat desa atau nagari," ujarnya lagi.

Sebelumnya, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Padang Pariaman Hj  Nurhayati Mila SSiT MARS dalam laporannya menyebutkan, rapat koordinasi ini dilaksanakan untuk menindaklanjuti penetapan Padang Pariaman sebagai kabupaten lokus stunting 2021 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor Kep. 42/M.PPN/HK/04/2020 tentang Penetapan Perluasan Kabupaten / Kota Lokasi Fokus Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi tahun 2021. 

Mila menambahkan, Dinas Kesehatan Padang Pariama melakukan.gerak cepat dengan lebih awal mengadakan rapat roordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lintas sektor terkait. 

"Kita juga mengundang ketua-ketua organisasi terkait, camat 9 kecamatan lokus stunting agar kita bisa menyamakan persepsi dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di Kabupaten Padang Pariaman serta menyusun upaya strategis lainnya," ujarnya. 

*
Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi Balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6% di atas batasan yang ditetapkan WHO (20%). Tahun 2015 Indonesia tertinggi ke-2 dibawah Laos untuk jumlah anak stunting. Indonesia merupakan negara nomor empat dengan angka stunting tertinggi di dunia. Lebih kurang sebanyak 9 juta atau 37 persen balita Indonesia mengalami stunting (kerdil).

Faktor lingkungan yang berperan dalam menyebabkan perawakan pendek antara lain status gizi ibu, tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori, pola pemberian makan kepada anak, kebersihan lingkungan, dan angka kejadian infeksi di awal kehidupan seorang anak. Selain faktor lingkungan, juga dapat disebabkan oleh faktor genetik dan hormonal. Akan tetapi, sebagian besar perawakan pendek disebabkan oleh malnutrisi.

Jika gizi tidak dicukupi dengan baik, dampak yang ditimbulkan memiliki efek jangka pendek dan efek jangka panjang. Gejala stunting jangka pendek meliputi hambatan perkembangan, penurunan fungsi kekebalan, perkembangan otak yang tidak maksimal yang dapat mempengaruhi kemampuan mental dan belajar tidak maksimal, serta prestasi belajar yang buruk. Sedangkan gejala jangka panjang meliputi obesitas, penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis.

Untuk mencegah stunting , konsumsi protein sangat mempengaruhi pertambahan tinggi dan berat badan anak di atas 6 bulan. Anak yang mendapat asupan protein 15 persen dari total asupan kalori yang dibutuhkan terbukti memiliki badan lebih tinggi dibanding anak dengan asupan protein 7,5 persen dari total asupan kalori. Anak usia 6 sampai 12 bulan dianjurkan mengonsumsi protein harian sebanyak 1,2 g/kg berat badan. Sementara anak usia 1–3 tahun membutuhkan protein harian sebesar 1,05 g/kg berat badan. 

1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode kritis terjadinya Stunting. 

Dampak stunting umumnya terjadi disebabkan kurangnya asupan nutrisi pada 1.000 hari pertama anak. Hitungan 1.000 hari di sini dimulai sejak janin sampai anak berusia 2 tahun. Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun. Awal kehamilan sampai anak berusia dua tahun (periode 1000 hari pertama kehidupan) merupakan periode kritis terjadinya gangguan pertumbuhan, termasuk perawakan pendek. 

Gejala stunting pada anak di antaranya berbadan lebih pendek untuk anak seusianya; proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda / kecil untuk usianya; berat badan rendah untuk anak seusianya. pertumbuhan tulang tertunda. 
 
Antisipasi stunting pada anak dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan kehamilan secara teratur, menghindari asap rokok dan memenuhi nutrisi yang baik selama masa kehamilan antara lain dengan menu sehat seimbang, asupan zat besi, asam folat, yodium yang cukup.

Selanjutnya, melakukan kunjungan secara teratur ke dokter atau pusat pelayanan kesehatan lainnya untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu:
setiap bulan ketika anak anda berusia 0 sampai 12 bulan
setiap 3 bulan ketika anak anda berusia 1 sampai 3 tahun
setiap 6 bulan ketika anak anda berusia 3 sampai 6 tahun
setiap tahun ketika anak anda berusia 6 sampai 18 tahun. 

Selain itu, mengikuti program imunisasi terutama imunisasi dasar serta memberikan air susu ibu (ASI) secara eksklusif sampai anak berusia 6 bulan dan pemberian makanan pendamping ASI yang memadai. (MHK/ZT)

Posting Komentar

0 Komentar